Kematian adalah salah satu momen ketika setiap orang berada pada sisi keawaman, keterbatasan dan ketidakberdayaannya sebagai manusia. Sebuah keniscayaan yang siapa pun tak dapat mengelak. Paling-paling hanya bisa berharap mendapatkan khusnul khatimah.

jacko

Ya, khusnul khatimah, sebuah akhir yang baik, nama yang harum, baik di mata manusia maupun Sang Pencipta. Lantaran setiap nurani manusia mengiyakan harapan atas kebaikan itu, maka pada saat sesama kita kembali kepada Yang Mahakuasa, kita semua pun mestilah mengenang dan mendoakannya dalam segenap kebaikan. Setiap anak manusia layak mendapatkan apresiasi demikian, termasuk Michael “Jacko” Jackson, bukan lantaran kebintangannya, tetapi karena dia manusia.

Namun, sebagai sebuah postingan, tulisan ini bisa jadi pilih kasih. Kenapa kepergian Jacko (Kamis, 25 Juni 2009) yang dipilih jadi pokok renungan, bukan yang lain? Aktris Farrah Fawcett, salah satu bintang dalam serial televisi Charlie’s Angels, pun meninggal hanya terpaut beberapa jam dengan berpulangnya Jacko. Atau kematian seorang Neda di Iran, korban demonstrasi pascapemilu yang menimbulkan kontroversi politis (lihat misalnya analisis lain yang berbeda dengan media mainstream/Barat di sini). Bisa juga kematian siapa pun, orang pinggiran yang mungkin tak kita kenal, apakah kalah berarti dibandingkan dengan meninggalnya Jacko?

Ah, tentu saja tidak begitu. Tak ada kematian yang tak menyedihkan, yang menumpahkan duka-lara mengiris-iris kalbu dan jiwa. Seorang Rasulullah SAW pun tak kuasa menahan duka mendalam ditinggal orang-orang yang dikasihinya sampai-sampai Allah turun tangan menghiburnya dengan perjalanan Israk-Mikraj.

Tentu saja, selain karena keawaman diriku dengan segenap impuls pribadi, pilihan memperbincangkan perihal Jacko dengan kematiannya itu pun buah dari ketidakmampuan diri ini mengelak dari “hukum media massa”. Media telah menjadikan kematian Jacko hanya dapat diperbandingkan (setaraf) dengan kematian Elvis Presley, John Lennon, dan Lady Diana. Padahal, sebagaimana telah disebut, semua kematian meninggalkan efek yang sama, kesedihan mendalam bagi mereka yang ditinggalkan, yang masih memiliki tautan kasih.

Oleh sebab itu, pilihan atas Jacko terutama agar semakin banyak dari kita bisa bertakziah, mengingat akan kematian hingga bertaut dengan Sang Penggenggam Ajal. Kematian adalah pintu akhir bagi semua yang hidup (manusia) untuk melepaskan diri dari segenap kelemahan, keterbatasan diri, dan dosa-dosa kekhilaf-alpaan, memasrahkannya kepada Sang Kuasa. Kematian bisa menjadi sarana pensucian diri. Jacko pun berhak atas itu semua, seberapa pun persentase haknya.

Lihatlah, di segenap penjuru dunia, mereka yang merasa memiliki “ikatan moril” dengan Jacko telah secara tulus memaklumi “hitam-putih” sang bintang lantaran tak ada manusia yang sempurna, memberinya maaf atas segala kekhilafan, mengiriminya rasa kasih dan doa-doa terpilih.

Sisi hitam dan putih, buruk-baik, kekurangan dan kelebihan adalah dua sisi yang selalu ada dalam diri manusia. Mengagung-agungkan kelebihan sama buruknya dengan mengusik-usik kelemahan. Dua-duanya berpotensi menumpulkan nurani, akal sehat. Kalaulah kelebihan disebut-sebut, itu hendaklah ditujukan untuk memicu kebaikan, menularkannya kepada orang lain, paling tidak memacu mereka untuk ikut maju. Sebaliknya, bila kekurangan dirunut dan diberitakan, itu mestilah dimaksudkan sebagai cermin, pemerkokoh pemahaman atas keterbatasan diri, lalu mengikatkannya pada tambatan Illahi (laakhaula walaaquwwata illa billah).

Bisa jadi benar, Jacko kehilangan masa kecilnya. Lalu, setelah menggapai kemasyhuran, ia tetap tak dapat mendapatkan gantinya. Wujud fisik Neverland yang diciptakan untuk menjelmakan mimpinya atas kebahagiaan masa kanak-kanak, dengan memerankan diri sebagai Peter Pan yang tak mau berubah menjadi manusia dewasa rupanya harus terlepas jua dari genggamannya. Ranch mewah itu mesti dijual akibat sekian masalah yang membelitnya, termasuk masalah keuangan.

Ah, Jacko. Boleh jadi, hingga tutup usiamu, kau tetap merana. Namun, bukankah pada hakikatnya, walaupun dalam sebuah kematian massal, kita sebenarnya mati sendiri-sendiri, mempertanggungjawabkan usia hidup kita sendiri?

Jacko, aku tahu, kau pasti tak kenal Obbie Messakh. Dalam sebuah syair lagunya, Obbie menuliskan, “…dan mati pun kita sendiri.” Namun, aku yakin, Obbie dan sekian banyak warga dunia, termasuk diriku, tahu bahwa kaulah yang menciptakan syair-lagu “Heal The World”. Maka, kami semua menjadi saksi bahwa seberapa pun kecilnya, kau telah berandil dalam upaya menyembuhkan dunia yang sering sakit, bahkan hingga kini pun masih sakit. Kau nyata-nyata telah turut berupaya agar masa depan dunia menjadi lebih baik. “Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race….” Ya, heal the world  for a better future.

Updated (3 Juli 2009):

Jacko Thanks to Allah

Hingga hari ini, belum jua pasti pemakaman Jacko. Tentu saja dari segi agama, tidak baik berlama-lama “membiarkan” jasadnya telantar. Terlepas dari dia akan dikuburkan secara muslim atau dengan tata cara yang lain, mestinya lebih baik segera memakamkannya. Toh, pada akhirnya Jacko sendiri yang akan menghadapi mahkamah Illahi. Sebab itu, yang lebih penting kita “saksikan” adalah pengakuan dia atas Tuhannya, terlepas dia dilabeli muslim atau yang lain.

Berikut ini sepenggal lirik pengakuan Jacko dalam syair lagu “Give Thanks to Allah” yang dinyanyikannya bersama Zain Bhikha*:

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full*,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

*Pada bagian ini (prays in all day full)ada juga versi revisinya:
praise him all day for.  Syair lagu tadi aku kutip dari sini dan info revisinya dari sini. Versi mp3-nya dapat diunduh di sini.

Demikianlah, kiranya Jacko telah “menjawab” saran Emha Ainun Nadjib (dalam puisi Maiyah Manembah) untuk segera melakukan pengakuan. Berikut ini aku kutipkan ungkapan Emha itu (dari bait V saja) yang kuambil dari sini.

Kalau di dalam kepalamu terdapat akal
Kalau engkau mempekerjakan pikiran sehingga engkau mengerti
bahwa engkau tidak sanggup menciptakan dirimu sendiri
bahwa engkau tidak sanggup menghidupkan jantungmu sendiri
tidak sanggup menggenggam dan menjaga nyawamu sendiri
tidak sanggup menumbuhkan barang sehelai rambutmu sendiri
tidak sanggup meramu barang setetes dari darahmu sendiri
tidak sanggup menguasai nasibmu sendiri
tidak sanggup mengetahui kapan engkau mati
Sebelum tiba sesuatu yang melumpuhkan kakimu
Sebelum tiba kejadian yang mengagetkan otakmu
Sebelum tiba peristiwa yang membuntu arah langkahmu
Sebelum tiba waqi’ah yang menggelapkan hidupmu
bersegeralah mengucapkan pengakuan

***

*Koreksi (5 Juli 2009):

Mohon maaf, ternyata lagu “Give Thanks to Allah” ini bukan lagu Jacko dan dia tak menyanyikannya. Memang, suara penyanyinya rada mirip dengan suara Jacko dengan intonasi bahasa Arab/istilah agama yang terbilang fasih. Semula aku menemukan sepotong koreksian di sini (sebagai berikut):

Submitted by Waleed from Egypt, Jan 7, 2006 03:23

I am sending this as a correction to the message I sent previously. The song “Give Thanks to Allah” is not sung by Michael Jackson, but by a singer called Zain Bhikha. It was included in an album called “Towards the Light” for this singer, and in another called “Bismillah” by Yusuf Islam, which dates back to 2001. The album “Bismillah” is present on Amazon and the single is in there, for those who want to verify.

Yang lebih valid tentu pengakuan Zain Bhikha sendiri dalam blognya di myspace. Katanya, “So, to clarify, Micheal Jackson never sang this song. I wrote and recorded ‘Give Thanks to Allah’ as a simple childrens song many years ago and it has been released on various independant albums since,” yang selengkapnya bisa di baca diblognya itu.

Salah satu yang lagi beken hari-hari ini adalah sosok misterius Mbah Surip dengan lagu “Tak Gendong”-nya yang menjadi lagu tema iklan produk operator seluler. Tak tahu apakah produk yang diiklankan itu jadi tambah laku atau tidak, tetapi sang bintang iklannya langsung tenar.

Aku rasa tak ada formula pasti untuk mendapatkan ketenaran. Ia bisa mendadak sontak kita dapat dan bisa pula langsung lenyap. Mungkin kita masih ingat ingar-bingar Manohara. Bisa jadi juga perempuan belia itu masih akan lama menikmati kebekenan dengan berbekal kisah pilu dan reaksi latah sebagian dari kita yang antara lain menyinetronkan kisahnya, baik yang akan diperani oleh Mano sendiri maupun yang dibintangi artis-artis lain. Namun, biasanya, yang instan tidak lama bertahan. Beberapa nama produk kontes idola di TV misalnya cuma bisa menikmati “kedahsyatan ketenaran” nyaris hanya pada momen pengumuman pemenang. Segera setelah itu, mereka lenyap ditelan waktu.

Lalu, faktor apa yang sanggup membikin tenar Mbah Surip lewat lagu “Tak Gendong”-nya? Aku tak dapat mantap menjawab dan tak harus memaksakan diri memberikan jawaban. Namun, aku mendapati bahwa ternyata “mbah” kita satu ini bukan termasuk jenis yang instan. Ia atau bahkan semestinya “beliau”, ternyata, bukan termasuk jenis yang instan. Ia sudah lama berkarya dan berkiprah di dunianya, dunia yang menjadi pilihan hidupnya. Maka, tak aneh buatku saat dia dapat memikat semua orang yang secara langsung menyaksikannya ketika sebuah stasiun TV swasta, Jumat (19/6), menampilkannya. Para artis semisal Cathy Sharon, Indra Bekti, serta si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata pun dibuatnya kesengsem.

Mbah di TV

Mbah di TV

Bagi mereka yang biasa bersinggungan dengan komunitas seniman di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta mungkin nggak aneh lagi dengan sosok satu ini. Ia memang antara lain sering muncul dan mangkal di kedua tempat itu. Aku sendiri baru satu kali secara langsung menyimak sosok dan penampilan Mbah Surip Jumat pekan kedua Mei 2009 pada acara Kenduri Cinta (KC) di TIM. Soal KC yang merupakan acara rutin bulanan tiap Jumat minggu kedua ini sebelumnya pernah aku tulis . Hanya saja ketika itu soal Mbah Surip tidak sempat aku singgung. Bukan karena saat itu iklannya belum nongol di TV yang kini membuatnya beken. Itu semata-mata karena fokus tulisan/postinganku ketika itu “tidak memungkinkan” untuk menampilkannya. Padahal ia menjadi salah satu bintang acara KC saat itu meski ia tampil bukan pada “prime time”, sebatas sebagai pengisi “check sound” dan penyeling kala para pembicara utama (Emha Ainun Nadjib dkk) serta audiens penat. Mungkin juga pada setiap KC ia jadi bintang (karena memang baru sekali itu pula aku lihat). Namun, harus diakui ia menjadi penyegar dan pengaya suasana.

Ketawa “hah hah hah hah”-nya yang khas, ungkapan “I love you full”-nya yang ternyata legendaris, dan syair-syair lagunya yang kocak membuatnya pantas mendapatkan apresiasi lebih. Aku ingat ketika dini hari itu ia maju kembali ke panggung menyelingi acara saat Emha dkk istirahat, ia menjadi semacam kopi hangat yang mampu menyegarkan stamina. Kebetulan, kopi juga menjadi salah satu “nyawa”-nya selain rokok. Konon, ia mampu bergelas-gelas menghabiskan kopi dan menandaskan tiga bungkusan rokok per hari. Sebuah penikmatan “seruput buss” khasnya yang terus mempertahankan kreativitasnya.

Ia tampak sangat menguasai panggung dan audiens serta jago berimprovisasi. Bisa jadi karena jam terbangnya yang sudah sangat tinggi atau bahkan telah menjadi seperti hidupnya sehari-hari. Ia menjadi sangat komunikatif dengan audiens. Sambil menyanyi, ia bisa langsung merespons celetukan penonton melalui penampilannya dan tiba-tiba bereaksi kala melihat ada salah seorang hadirin membawa segelas kopi. Ia berhasil memaksanya merelakan kopi itu diseruputnya, hah hah hah hah.

Dalam hal improvisasi berlirik dan bermusik, Mbah Surip bahkan mampu “mengalahkan” Dick Doang yang kala itu menjadi pemberi hiburan utama (menyanyi dan bermusik) bersama anak-anak asuhnya. Saat tampil bareng menyanyi dengan saling menimpali secara spontan, Dick agak sedikit tergagap seperti harus berpikir dulu, tetapi Mbah Surip tampak mulus-mulus saja dengan kekocakannya.

Ketika pada rehat selingan itu ada seorang ibu yang tampil membacakan puisinya dan meminta iringan dari Mbah Surip dkk, suasana jadi tetap menggairahkan meski agaknya pembacaan puisi itu sedikit bikin kening berkerut. Apalagi ketika si Mbah kejatuhan rezeki selembar uang 50 ribuan yang dilemparkan sang ibu pembaca puisi dalam ekspresi pembacaannya, kekocakan pun pecahlah. Mbah tampak begitu gesit memungut uang itu. “Lumayan, 50 ribu,” ucap Mbah seusai pembacaan puisi.

Sungguh, melihat Mbah Surip dengan aksinya adalah seperti melihat dan merasakan keceriaan, kedamaian, serta kebahagiaan dalam rupa yang bersahaja. Ia tetap perlu duit seperti kesigapannya menyambar uang 50 ribuan itu, tapi sama sekali ia tak tampak mata duitan.

Sebelum iklan yang dibintanginya meledakkan ketenarannya, ia hanyalah seorang seniman jalanan dengan (menurutku) isi dompet yang pas-pasan saja, padahal album rekaman telah banyak ia hasilkan. Di antaranya (sebagaimana dikutip dari sini dan siniIjo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003), Barang Baru (2004). Jadi, lagu “Tak Gendong” itu merupakan karya lama. Barangkali industri rekaman sejak 1997 itu kurang serius mempromosikan Mbah Surip sehingga baru sekarang ini ia menuai ganjaran setimpal.

Namun, aku percaya senang-susah, kaya-pas-pasan, atau beken-gurem tidak akan mengubah “keistiqamahan” pribadi Mbah Surip. Tak salah kiranya bila seorang Emha Ainun Nadjib mengatakan sosok Mbah Surip merupakan gambaran “manusia Indonesia sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa; meskipun sering diledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa, tidak pernah dendam atau membalas ledekan tersebut.

Menurutku, kualitas “kesejatian” itu dimungkinkan karena Mbah Surip tak termasuk dalam kategori “jiwa-jiwa instan”. Ia merupakan sosok yang matang oleh tempaan hidup. Simak misalnya betapa di balik penampilannya yang bersahaja, perjalanan hidup lelaki yang di KTP-nya tertulis bernama Urip Aryanto kelahiran Mojokerto 1963 ini (seperti yang disebut di sini dan sini terbilang kaya warna sebagaimana dikisahkan Mas Jodhiyudono.

Mbah saat muda

Mbah saat muda

Mbah Surip ternyata pernah menjadi pekerja di perusahaan pengeboran minyak (1975–1986). Pada saat itu, ia pun sempat singgah di Texas, Brunei, Singapura, dan tempat-tempat penghasil minyak lain.
Ia juga pernah menghabiskan dua celana saat naik sepeda dari Mojokerto menuju Jakarta pada akhir tahun 80-an. Tujuannya cuma satu, ingin menantang panco petinju Ellias Pical. Sayang, niatnya itu tak kesampaian. Alhasil, ia terdampar di Bulungan. Hidup bersama para seniman. Berbagai cabang kesenian pun ia geluti, mulai dari teater, lukis hingga menyanyi. Waktu akhirnya menjawab, Mbah Surip ternyata memilih nyanyi sebagai jalan hidupnya kini.

Untuk ukuran seorang penyanyi, sebagaimana diutarakan Mas Jodhi, prestasinya menelurkan sekurang-kurangnya lima album itu tentu cukup meyakinkan. Namun, apa boleh buat, industri rekaman negeri ini nyatanya lebih memilih artis-artis “wangi” ketimbang memilih Mbah Surip yang cuma beraroma parfum murahan dan wangi rinso yang meruap dari rambutnya nan gimbal sehabis keramas tiga hari sekali. Lagipula, nyatanya, penikmat musik negeri ini lebih suka mendengar kecengengan-kecengengan hidup ketimbang syair-syair lagu milik Mbah Surip yang telanjang dan bersahaja.

Untuk urusan syair lagu dan tafsirnya dari sosok Mbah Surip, tulisan Mas Ray Asmoro agaknya juga dapat mewakili meski tentu tak lepas dari subjektivitas dirinya.

Menurutnya, Mbah Surip yang pertama kali dikenalnya pada akhir 2002 ketika dia menjadi ketua panitia event “Menjemput Tahun Tanpa Kekerasan” yang diadakan oleh Jaringan Pekerja Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), kemudian makin sering diakrabinya kala secara rutin tampil di acara KC (Kenduri Cinta) di TIM, merupakan sosok yang periang. Ia selalu menghadirkan kegembiraan dalam setiap tarikan napasnya. Bahkan ia tidak sakit hati terhadap setiap olok-olok yang ditujukan kepadanya. Semua ditanggapi dengan tawa, hah..hah..hah..hah…. Malah lalu ia akan katakan, ”I love you full… hah..hah..hah..hah….” Lebih jauh menurut Mas Ray, Mbah Surip merupakan manusia yang selalu diliputi cinta, bahkan ia menjelma cinta. Seharusnya lebih banyak lagi manusia seperti Mbah Surip itu di negeri ini, manusia yang penuh cinta. Memandang segala sesuatu bukan berdasarkan nafsu dan kepentingan pribadi semata, tetapi memandang dan memperlakukan segalanya dengan sesuatu yang paling hakiki: cinta. Dialah pejuang cinta, manusia cinta. Hah..hah..hah..hah… I love you full!

Lagu-lagu Mbah Surip begitu spontan dan sederhana, tetapi selalu kontekstual dan mengena. Coba simak syair lagu “Tak Gendong” itu (yang aku kutip lengkap dari sumber lain ini atau bisa juga dicari di http://liriklaguindonesia.net):

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. ke mana

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha…ha…

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taksi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. mau ke mana

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

// Ha.. ha…

Tak gendong ke mana-mana
Enak tau
Ha.. ha…
Ha.. ha…
Ha.. ha……

Capek…..



Dalam lagu itu, menurut Mas Ray, tergambar betapa Mbah Surip menyediakan dirinya untuk “menggendong”, menolong yang lemah dan butuh tumpangan, membantu yang jatuh, mengangkat yang nista, untuk kemudian memanusiakannya.

Simak juga syair lagu Mbah Surip berikut (“Bangun Tidur”):
Hey bangun kerja
Ha ha ha ha ha
Ha ha ha ha ha
Ok I love you full

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Barang siapa yang ingin hidup
Awet muda, bahagia di dunia ini
Kurangi tidur banyakin ngopi
Ha ha ha ha
I love you full

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha



Ini sebuah sindiran tentang “kita” yang terlelap dalam tidur berkepanjangan. Seharusnya kita sudah bangkit dan berbuat sesuatu yang berguna, tetapi kita memilih tidur.

Mbah Surip menyadari sepenuhnya bahwa perubahan tidak akan tercipta dengan kemalasan, sedangkan kemalasan telah menjadi karib kita. Mbah Surip gelisah. Namun tetap saja di akhir lagu ia tertawa, hah..hah..hah..hah… I love you full…!

Akun FB Mbah ada lho: id-id.facebook.com/people/Mbah-Surip/1067065967

Akun FB Mbah ada lho: id-id.facebook.com/people/Mbah-Surip/1067065967

Astagfirullahalazim. Aku nyata-nyata masih hidup, tetapi tak tahu apakah aku memahami hidup. Saat kata-kata ini dituliskan, aku hanya sedang mencoba berpikir dan berupaya menjawab segenap pertanyaan yang nongol begitu saja tanpa diminta atau sekadar menuliskan apa yang aku rasakan. Atau, entahlah, kucoba menuliskannya saja.

Tuhan? Insya Allah aku termasuk orang yang meyakini keberadaan dan kekuasaan-Nya. Lembaga agama yang menampung keyakinanku itu bernama Islam. Tapi, aku rasa hidup tak sesederhana itu meski kita mestinya tetap dapat berpikir sederhana. Lalu, di mana letak ketidaksederhanaan itu? Apakah itu ada dalam diriku saja, dalam pikiran dan kalbuku? Atau itu ada pada orang-orang lain, pada keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, perusahaan, masyarakat pada umumnya, pemerintah, dll?

Ya, aku ingin sekadar hidup layak, tapi kok susah. Apa karena aku yang bodoh, malas atau karena lingkungan yang tak peduli? Atau karena gabungan berbagai unsur internal maupun eksternal? Lalu, jika dipersentase, unsur mana yang lebih dominan? Jika unsur luar yang lebih berperan, apa aku cukup menanti pergantian pemimpin dalam Pilpres 2009 saja yang semua kandidatnya menjanjikan kesejahteraan rakyat?

Ah, entahlah. Sebagai pribadi, tentu saja, seberapa pun sedikitnya, aku tetap berupaya mandiri meski harus tahan hidup prihatin. Tapi, jangan-jangan malah negara yang nggak mandiri, amat tergantung pada pihak lain, pada bantuan dan pinjaman pihak asing. Padahal, konon, negeriku subur. Kok, pesawat TNI saja kuno-kuno dan amat sering tertimpa kecelakaan yang bikin hati hancur lebur? Kok, orang-orang saling ribut soal utang negara yang tak kunjung menyusut, bahkan BLT saja berkomponen utang?

Namun, jangan khawatir. Di negeriku ini banyak orang kaya raya kok. Biarpun krisis, mobil sport Ferrari terbaru berharga sampai 5 miliar pun langsung 8 terpesan. Eits, orang awam dilarang nyengir pertanda iri hati! Cukup menelan ludah saja.

Mohon maaf buat yang belum nikah. Soalnya, kala beban pikiran mulai mendekati zona merah alias berada di ambang batas kekuatan, aku kerap melampiaskannya kepada keluarga. Kepada anak-anak dan istri. Bukan aku marah-marahi, tapi aku mesrai. Hehehe, jangan ngiri yang masih hidup sendiri.

Betulkan semulus itu? Tak ada konflik?

Ya, ada-lah. Pastilah ada marah-marahnya. Sering malah. Tapi, alhamdulillah, di balik tiap bentrok, aku masih bisa berkatarsis (halah, istilah apa ini) dalam surga kasih sayang bersama anak-anak dan istri.

Sayangnya, setiap kali keluar dari “pintu surga”, karena memang surga dunia itu tak bisa dinikmati lama-lama (mungkin karena dunia bukan wujud yang kekal), angin neraka kerap bertiup menyambut. Memang, ada kalanya bisa langsung kutepis. Tapi, sering pula amat mengganggu kenyamanan. Bahkan, kerap ada yang menghanguskan bagian-bagian dari diri kami.

Ya, angin neraka itu kerap menyambar kami bersama soal-soal bernama harta. Lain kali ia datang bersama makhluk bernama seks. Sekonyong-konyong pula ia bisa nongol lewat iklan rokok di televisi, lalu melebar dengan menyeret sesosok peran wanita (lewat pemicu bintang iklannya), seks pun dibawa-bawa-serta, dan seterusnya. (Bersambung).

*Keterangan tambahan:

Aku berharap ada yang sudi berbagi komentar atas curhatku ini. Untuk lima komentator pertama, aku memberi bonus award yang pernah kuterima atau paling tidak namaku ikut disebut di dalamnya. Ada tiga. Yang pertama dan terbaru aku dapat secara estafet dari Mas Apria-Omblog.   Dua sebelumnya aku peroleh estafet juga dari Mas M. Shodiq Mustika dan  Mas RCO via blogspotku. Yah, aku baru bisa kasih tiga bonus itu buat kalian teman-teman. Gak papa ya.

Orang awam/miskin tapi sombong? Itu jenis yang dilarang dalam hadis Nabi SAW. Unsur pelarangannya ada pada poin kesombongan, bukan pada sisi keawaman/kemiskinan––untuk selanjutnya disebut sebagai kemiskinan/miskin saja. Sebab, mereka yang miskin masih bisa meraih derajat mulia bila mampu sabar dan bersyukur.

Ini dia hadisnya. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tiga kelompok orang yang nanti pada hari kiamat Allah tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka, dan Allah tidak akan memandang mereka, serta mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja (penguasa) yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).

Namun, apa mungkin orang miskin itu sombong? Ya, mungkin saja, makanya ada hadis Nabi tadi. Miskin di sini lazimnya merujuk pada sisi materi, miskin harta, tetapi (menurut hemat saya) bisa pula mengacu pada kemiskinan yang lain semisal miskin ilmu. Atau bisa juga kedua jenis kemiskinan itu berkombinasi. Adapun kesombongan dalam kriteria Nabi adalah “merendahkan (meremehkan) pihak lain dan tak mau menerima kebenaran dari sesama”. Hal itu sejalan dengan hadis riwayat Muslim dan Abu Daud dari sahabat Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah yang artinya, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan atau merendahkan manusia.”

Jadi, kalau “sekadar” tidak mau dianggap rendah dengan meninggikan diri sendiri, tanpa ada target merendahkan orang lain dan tak sampai menutup diri atas kritik, nasihat, atau sebatas pengingat dari orang lain (mengenai perihal kebenaran), insya Allah itu belum termasuk yang tercela sebagaimana dimaksudkan hadis di atas. Namun, bisa jadi, itu sudah termasuk dalam kategori tak terpuji, berada dalam zona bahaya alias mesti dihindari pula.

Dalam ungkapan lain, kesombongan orang miskin jenis kedua itu adalah sebagaimana sering kita ucap dan lakukan: biar nggak punya asal bangga (sehingga tampak bengah)––sebagaimana terungkap dari postingan seorang sohib blogger (MT) “Bangga walau Benga”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI), “bengah” termasuk kata kuno (arkais) yang dapat bermakna sombong, angkuh, congkak, pongah, jemawa, tinggi hati, besar cakap/mulut. Adapun “benga” yang tak tercantum dalam KBBI maupun TBI merupakan kata slang Medan yang berarti bego, bodoh. Namun, agaknya, jika dilihat dari isi postingan MT tadi, baik “bengah” maupun “benga” sama-sama mengacu pada perilaku yang suka besar cakap membangga-banggakan sesuatu (meski bukan kepunyaan sendiri) sehingga tampak bodoh (benga) dan sombong (bengah).

Untuk mudahnya, saya kutip saja sepenggal ilustrasi dari postingan MT. Suatu pagi dia berada dalam sebuah angkot menuju terminal. Dua penumpang di depannya asyik berbicara. Yang satu membanggakan kehebatan handphone (HP) kakaknya yang memiliki fasilitas terkini. Temannya menjelaskan fungsi BlackBerry (BB), fasilitas yang membedakannya dengan handset lain, dan tentang provider yang menyediakan paket paling murah. Ia menjelaskan perihal BB milik saudara sepupunya sambil menggenggam HP monokrom yang bentuknya seperti ulekan mini di tangan kirinya. MT pun tersenyum melihat mereka. Bukan tentang handset yang mereka reviu, tapi soal membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya.

Ya, “kesombongan” jenis demikianlah yang dominan diungkapkan dalam buku Miskin tapi Sombong: Kisah-Kisah Menggelitik Wong Cilik karya Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan (Penerbit Ufuk Press, Jakarta, Cet. I April 2009). Salah satu fiksi mini dalam buku ini memang bertajuk “Miskin tapi Sombong” yang lalu dijadikan sebagai judul utama buku ini. Isinya berupa kisah seorang lelaki yang hendak datang ke reuni bersama istri dengan “mati-matian” mempertahankan gengsi meski kantong tak cukup berisi. Ia memaksa diri naik taksi meski sang istri telah mengingatkannya dengan bijak bestari. Ternyata di dalam taksi cuma putaran argo yang terus ia awasi. Lantaran macet tak bisa dihindari, sedangkan argo terus berlari, terpaksa turunlah mereka dari taksi (dengan dalih malu pada sang sopir mau belanja dulu) dan jalan kaki. Padahal jarak masih menyita waktu, tempat reuni masih satu kiloan. Tak pelak, mereka sampai di tujuan dengan ngos-ngosan. Saat seorang teman bertanya serasa melihat mereka di tikungan, si lelaki bilang terpaksa meninggalkan Mercy-nya di bengkel langganan. Huahaha, padahal belum tentu ongkos mereka cukup buat pulang.

miskinsombong

Judul buku ini memang bisa mengelirukan perkiraan orang sebagaimana diakui oleh Jaya Suprana sang pakar empunya kelirumologi yang menuliskan kata pengantar untuk buku ini. Paling tidak ada yang langsung merujuknya pada pengertian sebagaimana dalam hadis Nabi tadi, termasuk saya. Namun, alhamdulillah, saya tersesat ke jalan yang benar. Sebagai orang awam penggagas awamologi, saya tak sampai dibuat kecewa oleh iming-iming gagasan “kemiskinan wong cilik” (sebagai bagian keawaman) dari buku ini. Memang, tak semua isinya melulu mengungkap yang miskin-miskin dan yang sombong-sombong dalam pengertiannya sebagaimana telah diuraikan. Secara keseluruhan, isi buku ini merupakan ramuan humor, materi cerita koran kuning, dan warna-warni kisah kaum kelas bawah yang diungkapkan dalam bentuk puisi atau cerita mini. Namun, sebagaimana diakui oleh seorang pemberi endorsement Rita T. Budiarti, penulis Di Balik Layar Laskar Pelangi, Bung Kelinci (sang penulis buku ini) mampu memotret realitas sosial layaknya judul headline koran kuning yang berhuruf tebal dan merah dengan cara yang berbeda, langka tapi nyata. Karena itu, isinya tidak lagi “kuning” yang memperbodoh syahwat, tetapi sebaliknya mampu memperbijak naluri rendah kita itu. Paling tidak, cerita-cerita yang terpapar dalam buku ini mampu mengaktifkan pikiran kita, suatu mekanisme yang dapat menjadi modal pengendali nafsu dan emosi kita. Kita jadi disadarkan untuk tidak main embat tanpa pertimbangan nalar sehat.

Simak ini, “Tanah Merah” (hlm. 19–20). Kisah yang diungkapkan dalam bentuk puisi ini dibuka dengan larik-larik berikut: “\\Di pemakaman istrimu\wajahmu kelihatan mengelabu\roman getir menerima salam duka\mulai keluarga dan tetangga\sampai kenalan dan rekan sekerja\…sempat limbung tubuhmu\nampak tak kuat menahan pilu\”. Dari paparan itu, kita pun jadi trenyuh ikut terharu hingga kemudian kisah berlanjut dengan “\lalu datang Jeng Titi\tubuh sintal gitar mahoni\janda cerai mati Kang Husni\sahabatmu di es-em-pe negeri\di balik kerudung hitam tak bisa sembunyi\dua bibir penuh nan manis\dalam polesan lipstick Prancis\’Turut berduka cita, Mas Arman.’\’Terimakasih, Titi Sofyan.’\”. Hemm, mulai terendus gelagat “bahaya” nih. Yap, kita lanjut saja: “\yang lain luput memperhatikan\ada yang bersetuju di hati kalian\belum kering itu gundukan tanah merah\tak sabar hendak kau pagut bibir merekah\\”.

Lalu, satu kisah yang menurut saya paling “mengusik” sisi keawaman (awamologi) adalah ini: “Jablai Sejati” (hlm. 16–18). “\\Kuberitahu kau kini\tentang siapa sebenarnya jablai sejati:\kilau bening mata-mata kecil anak-anak panti\yang menyambutmu sepenuh hati\langkah-langkah mungil terhuyung menghampiri\mengulurkan tangan dengan tatapan kosong\berharap kau sudi ‘tuk menggendong\\…\\Anak-anak panti\adalah jablai sejati\jarang dibelai dalam arti hakiki\…\\Ayolah, ayolah…..\lakukan sesuatu mumpung harimu masih cerah\bukankah kepada mereka kita wajib bersedekah?\atau kau hanyut dalam aneka kenduri duniawiyah?\atau kau menganggap ini cuma fardhu kifayah?\kalau begitu kau ini memang payah!\\….”

Tentu saja aku setuju ajakan SBY “lanjutkan!” Namun, itu pastilah untuk hal-hal plus, bukan minus-minusnya. Masalahnya, seberapa jauh kita tahu plus-minus dia, pemerintahannya. Itu pun harus diperinci lagi, mana yang betul-betul “hanya” menjadi bagian kesuksesannya, mana pula yang termasuk bagian bareng-bareng bersama JK, atau bisa jadi mana yang “khusus” buah inisiatif JK.

Wah, nyerah deh. Apalagi kalau harus menimbang-nimbang juga buah pemerintahan Mega. Harus jujur kukatakan bahwa aku tak sanggup mendapatkan jawaban soal plus-minus mereka (termasuk kiprah para pasangannya, Boediono, Wiranto, Prabowo) hingga ke detail-detailnya. Betapapun paparan analisis ekonomi, politik, dll atas “prestasi” para capres-cawapres itu sempat kubaca, pada akhirnya aku hanya sanggup mengapresiasi mereka atas dasar rabaan perasaanku saja, berpatokan pada kenyataan yang hingga kini kurasakan.

Memang, bagaimanapun kondisi kehidupanku dan keluargaku kini, aku mesti tetap bersyukur kepada Tuhan. Namun, ini murni urusanku dengan Sang Maha Pemberi Rezeki itu. Nah, dengan kalian para elite pemimpin dan calon pemimpin negara, aku punya hak untuk tidak membawa-bawa kewajiban bersyukurku itu. Aku punya hak untuk meminta tanggung jawab kalian. Apalagi kalian kini saling klaim atas kesuksesan memakmurkan negara dan menawarkan formula kesuksesan pula untuk memimpin negara. Yakinkah kalian dengan klaim itu? Sungguh-sungguhkah kalian dengan tawaran itu? Betul-betulkah kalian akan menepati janji, melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban kalian?

Jika jawaban kalian semua adalah “Ya”, berarti kalian benar-benar dikuasai nafsu besar untuk segera berkuasa, dengan kecenderungan yang hanya akan menguntungkan diri kalian saja. Memang, untuk kesungguh-sungguhan tawaran, pemenuhan janji, tanggung jawab, dan kewajiban, semua jawabannya mestilah “Ya”. Namun, untuk klaim kesuksesan atau paling tidak klaim andil kalian menyejahterakan masyarakat di sekitar kalian atau rakyat kalian (bagi incumbent atau eks eksekutif), tunggu dulu. Lihat dulu buah karyamu, karya kalian. Aku dan keluargaku, sekian persen hidupnya, adalah buah karya kalian. Kami semua rakyat Indonesia, sebagian besar kehidupannya, adalah buah karya kalian wahai para pemimpin dan calon pemimpin kami, capres-cawapres.

Kini, lihat kenyataan yang ada pada diri kami. Aku salah satunya. Meski beruntung memperoleh gelar sarjana, hidupku bisa dibilang masih merana. Apalagi saudara-saudaraku yang nggak sampai mengenyam bangku kuliah. Jangan kalian tunjuk satu dua orang yang tanpa bersekolah pun bisa hidup mewah. Bisa jadi mereka mendapat berkah. Namun soal berkah jelas tak berhak diklaim sebagai hasil usaha kalian bersusah payah.

Lihatlah, secara umum penghasilan kami tidak jauh-jauh dari UMR yang tak seberapa dan itu pastilah tak mudah untuk sekadar memenuhi standar kelayakan kesehatan dan pendidikan. Kami masih kelimpungan menyekolahkan anak-anak kami meski telah kalian hibur dengan “iklan sekolah gratis”. Kami juga masih kebingungan jika anak-anak kami atau kami sendiri menderita sakit lantaran biaya rumah sakit masih amat mahal buat kami. Apalagi kalau kami terkena jenis penyakit khas orang melarat. Sebutlah TB/TBC. Itu sungguh-sungguh hidup kami seperti sekarat, terasa amat berat. Belum lagi sekian banyak kebutuhan lain mendera-dera hebat bikin hidup kami tambah gawat-darurat.

Cukuplah ini curhatku. Mestinya kalian tahu, paham atas kehidupanku, sehingga tak perlu aku berbanyak-banyak menelanjangi kesengsaraanku. Bila akhirnya aku mendedahkan semua itu, tak lain itu hanya atas keinginan memberikan kunci surga untuk kalian: keawaman, kesengsaraan, kemelaratan atau kemiskinan kami. (“Segala sesuatu ada kuncinya dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin”––HR Ad-Daruquthni dan Ibnu Hiban).

Terima kasih bila hari-hari ini kalian membuai kami dengan angin surga. Mudah-mudahan tak bikin kami masuk angin. Karena itu, kami tetap berharap kalian tak sekadar berbasa-basi kepada kami. Sekadar sebagai pencatat dan pengingat, izinkan kami menorehkan salah satu momen deklarasi kalian (mewakili kalian semua) lewat kata-kata penyair kami.

DEKLARASI BANTAR GEBANG

pada mega-mega yang mengangkasa, kami titip harapan
akan tangis dan derita kami sebagai sampah-sampah di Bantar Gebang
ubahlah kami menjadi pupuk kesuburan!

di sana, di atas gedung-gedung bertingkat
mereka yang membawa tongkat, seolah seorang nabi yang hebat
bila bertemu di jalan dengan kami, merasa jijik dan berjingkat
karena takut celananya yang mahal itu kotor terciprat

lalu kau datang dan hinggap di hati kami
di hati sampah-sampah yang beraroma basi
yang bau dan kotor ini

kau yang menjelma sayap…
malaikatkah dirimu
atau seekor lalat yang hinggap, hisap, lalu pergi
meninggalkan basa yang basi

(puisi Mbah Kuntet Dilaga, 24 Mei 2009)
***

Wah, ramai nih. Setelah beberapa waktu lalu Goenawan Mohamad (GM) ikut menyampaikan pesan-kesannya terhadap Boediono menjelang deklarasi pasangan capres-cawapres SBY-Boediono, yang dapat dibaca sebagai bentuk dukungan terhadap mereka, kini giliran W.S. Rendra ikut mendukung pasangan Megawati-Prabowo. Itu tampak dari kehadirannya pada deklarasi mereka di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Rendra bahkan secara eksplisit menyatakan dukungannya itu dan turut membacakan puisi karya Chairil Anwar  Krawang-Bekasi.

“Saya tidak masuk parpol mana pun, tapi saya mendukung Mega-Prabowo. Sebab Mega-Prabowo tidak melanjutkan pemerintah yang didominasi asing,” kata Rendra.

Dia berargumen, dengan mendukung Mega-Prabowo, ke depannya dia punya harapan atas terciptanya pemerintahan mandiri yang berbasis ekonomi kerakyatan. “Sesuai amanat pendiri negara. Karena itu saya bacakan sajak Chairil Anwar Krawang-Bekasi,” ujar Rendra.

Biar adil, saya kutipkan pula kata-kata GM tentang Boediono, yang sekali lagi bisa dibaca sebagai dukungannya atas pasangan SBY-Boedi.

“Boediono – tamu kehormatan kita sore ini — adalah seorang ekonom; ia ekonom yang bekerja dalam pengelolaan perekonomian Indonesia; ia seorang teknokrat. Ia bukan pemimpin partai. Ia bukan anggota dinasti pemimpin partai. Ia bukan tokoh terkenal dalam pasaran media seperti para bintang sinetron, komedian dan penyanyi. Ia bukan seorang vote-getter.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilihnya sebagai calon wakilnya karena Boediono memenuhi sejumlah syarat. Bagi saya, yang lebih penting ketimbang syarat-syarat itu adalah kenyataan bahwa Boediono dikenal sebagai seorang yang telah membuktikan dedikasinya untuk perbaikan kehidupan perekonomian bangsa; dan tak kurang dari itu, ia dikenal sebagai seorang pejabat dan pribadi yang bersih.”

Dukungan GM dan kawan-kawannya juga dapat dibaca dari kolom Ayu Utami di harian Seputar Indonesia (dikutip di sini) yang pada postingan sebelum ini saya sebut.

Ada yang bilang itu sebuah ketidaknetralan intelektual, bahkan pihak yang kesal dan emosional menyebut itu sebagai pelacuran intelektual. Namun ada pula yang lebih dewasa bilang bahwa boleh-boleh saja siapa pun, termasuk para intelektual, menunjukkan keberpihakan semacam itu asalkan diikuti dengan argumentasi yang jelas. Nah, bagaimana menurut teman-teman?

Sebagai orang awam, aku agak sedikit senang mendapati kenyataan bahwa kini para pasangan capres-cawapres beserta tim suksesnya saling menyatakan diri membela rakyat kecil dengan mengusung program ekonomi kerakyatan. Ketika Boediono disudutkan sebagai antek asing proekonomi neoliberal yang nggak ramah terhadap rakyat kecil, para koleganya pun memberikan testimoni bahwa Pak Boed merupakan sosok sederhana yang rendah hati dan prorakyat (ekonomi kerakyatan). Lihat misalnya penuturan ekonom Faisal Basri di harian Kompas. Juga Ayu Utami melalui kolomnya di harian Seputar Indonesia (atau bisa lihat kutipannya di sini).

Pak Boed sendiri menepis anggapan atas dirinya itu melalui pidatonya saat deklarasi pencalonan dirinya bersama SBY sebagai capres-cawapres di Bandung. Menurutnya, harus ada intervensi negara dalam hal mengelola ekonomi (sesuatu yang mungkin dipinggirkan neolib). Lagipula, persoalan ekonomi Indonesia harus dilepaskan dari label-label. Hal yang lebih penting, kata dia, pembangunan ekonomi Indonesia harus berorientasi pada peningkatkan kesejahteraan rakyat.

Tentu saja lalu tiap pihak pasangan capres-cawapres berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai pihak yang lebih prorakyat. Pada 24 Mei nanti tim pasangan Megawati-Prabowo akan mendeklarasikan pencalonannya sebagai capres-cawapres di Bantar Gebang, daerah yang terkenal sebagai “sarang” pemulung yang berpusat pada tempat pembuangan akhir sampah di sana. Pilihan itu tentu untuk semakin memantapkan gambaran bahwa mereka sangat peduli pada nasib wong cilik.

Tim sukses Jusuf Kalla (JK)-Wiranto pun tak mau kalah. Mereka mengusung strategi pemenangan berupa tawaran program ekonomi kerakyatan yang berfokus pada pada usaha kecil dan menengah. Menurut ketua tim pemenangan mereka, Fahmi Idris, timnya akan menyusun program untuk menguatkan sektor usaha kecil itu. Begitu juga sektor industri menengah.

Duet JK-Wiranto bahkan berjanji akan lebih cepat dalam melaksanakan program-program untuk rakyat seperti menuntaskan pengangguran dan kemiskinan. Menurut Kalla, selama ini Indonesia selalu tertinggal dibandingkan bangsa lain karena lambat mengambil keputusan.

“Negara mutiara di khatulistiwa ini tidak dipoles dengan baik karena selalu terlambat dibandingkan bangsa lain, terutama dalam program dan keputusan,” ujarnya.

Menurut Kalla, tidak perlu terlalu banyak rapat untuk mengatasi krisis keuangan saat ini. Hal yang perlu dilakukan adalah terjun langsung ke lapangan dan melakukan manajemen yang baik. “Tidak perlu terlalu banyak rapat untuk mengatasi krisis,” selorohnya.

Hemmm, rasanya gak sabar nih rakyat menanti kesejahteraan.

Halaman Berikutnya »