OM-ku seorang polisi. Akan tetapi mesti kukatakan bahwa sejak “zaman dahulu kala” dan entah hingga kapan polisi itu memiliki nama yang tercela. Tanya saja rakyat, hampir mustahil menemukan warga bangsa ini yang tak punya catatan tentang ketercelaan polisi.

Maka, aku heran, kok masih saja mereka para polisi itu melakukan perbuatan buruk. Yang teranyar dan hingga hari-hari ini ramai diperbincangkan ya soal kriminalisasi KPK hingga dua petingginya, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, ditahan. Padahal, kalaulah saja semua polisi selama 40 hari berturut-turut tak melakukan keburukan, hal itu tak cukup untuk serta-merta mengubah nama polisi menjadi terpuji.

Tentu, siapa saja yang menyetujui hal buruk itu terus berlangsung atau membiarkannya begitu saja atau justru merestuinya atau apalagi merancangnya, terkutuklah ia. Coba saja jika hal itu dilakukan oleh seorang presiden pilihan rakyat. Sungguh hal itu akan membuat rakyat kecewa.

Kini, mari kita lihat, siapa yang akan memilih menjadi tercela atau terpuji. Yang pasti, kita tak harus menjadi Syech Puji untuk menjadi terpuji atau malah tercela. Mungkin cukup menjadi Pujiono atau Pujiastuti. Oalah, edan tenan lakon “cicak vs buaya (dibekingi gozila)” ini. Bisa jadi ini gara-gara para petinggi dengan amat mudah meraup pundi-pundi lewat “modus Bank Century”.

Kabut sutra ungu lindap dalam sendu. Aku termangu menunggumu tak lagi mengabarkan gempa. Berganti dengan berita ceria karena semua korban mendapatkan haknya.

“Ah, tak usah sedih, kawan. Ayolah kita menggeliat lagi bersama-sama. Amunisi kita masih cukup untuk hidup seribu tahun lagi. Kita juga masih bugar. Bahkan, kita punya cadangan energi baru dalam diri para wakil kita yang baru saja dilantik. Pasangan pemimpin eksekutif kita pun bakal menyusul ditahbiskan dan kita tak berkekurangan anggaran untuk merayakannya dengan mewah.”

Sudah dua tiga bulan ini aku tak aktif mengisi blog ini. Selain karena keterbasan akses online, aku pun mesti mengakhiri “masa membujang”, berkumpul lagi dengan keluarga yang beberapa waktu lalu terpisah jarak di kota lain, kembali berbagi tugas dan peran mengurus anak. He he he, paling tidak itulah alasan yang dapat kutemukan untuk menutupi ketidakmampuanku terus ngeblog.

Namun, aku juga tetap berusaha untuk menulis, memosting tulisan ke blog. Baru ada dua postingan “cerita” dan satu profil tokoh (yang bisa dianggap sebagai cerita juga ‘kali ya).  Tetapi aku memostingnya di Shodiq.com. Ini karena situs yang bermula dari blog pribadi itu kini beralih menjadi situs umum, berisi berita, cerita, dan segala macam lain-lainnya, termasuk info lowongan kerja.

Nah, yang berminat membagikan ceritanya di sana, bisa kok. Caranya, kirim lewat aku dulu ya via e-mail: awamologi@ymail.com.

Berikut ini ketiga postinganku di Shodiq.com itu.

Fondasi Nilai-Nilai Anton Medan

Si Kabayan Jadi Pembantu

Mengantar Ginjal ke Surga

***

Inilah momen keberpulangan paling mengesankan yang saat ini kuhayati. Seorang seniman besar (dan sekian predikat kebesaran yang lain) menghadap Sang Illahi dengan terlebih dulu merangkul dan menerima sejawatnya, seorang seniman kecil Mbah Surip, dalam tanah pemakaman yang sama.

Kamis malam, 6 Agustus 2009, sekitar pukul 22-an sekian, Mas Willy––begitulah kalangan yang dekat dengannya biasa menyapa pemilik nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang belakangan berganti kepanjangannya dengan Wahyu Sulaiman Rendra dengan sama-sama disingkat menjadi W.S. Rendra––memenuhi panggilan Illahi untuk tak kembali. Namun, segenap karya dan kepeduliannya di berbagai wilayah kehidupan tetap lestari di bumi pertiwi ini. Di saat-saat terbaring sakit menjelang berpulang, Rendra pun masih sempat memikirkan masalah bangsa dan rakyat Indonesia.

“Dia (Rendra) salah satu tonggak sejarah kebudayaan dan kesenian. Dia bukan saja budayawan atau seniman, melainkan cara berpikirnya sudah seperti negarawan. Waktu saya ke RS (Kelapa Gading) dia masih bicara tentang bangsa, tentang keprihatinan (terhadap) rakyat. Dia sudah tidak lagi menggubris puisi dan karya-karyanya, tetapi lebih peduli tentang bangsa dan rakyat. Bahkan ia juga tidak setuju dengan neolib,” ungkap Deddy Mizwar, aktor dan sineas Indonesia yang pernah turut mengajukan diri sebagai calon presiden pada Pemilu 2009 demi kebaikan bangsa (Media Indonesia, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Tentu saja yang lebih mengharukanku sebagai penghayat keawaman atau kekaumkecilan adalah kekonsistenan Rendra untuk terus peduli terhadap mereka yang bernasib marginal, pinggiran, atau yang memang dipinggirkan alias tertindas. Tentu saja Rendra mengarahkan saran, kritik, dan protesnya kepada pemerintah atau negara lantaran menurut undang-undang kan “fakir miskin dan anak-anak telantar (mestilah) dipelihara (dirawat dan dipenuhi kebutuhannya oleh) negara”. Namun ia sempat dimasukkan tahanan oleh pemerintah Orde Baru. Meski begitu, hingga akhir hayatnya, Rendra tetap saja tak bisa dilepaskan dari kepeduliannya kepada nasib bangsa dan kaum kecil lemah. Rupanya Tuhan pun “mengabadikan” kiprahnya itu dengan menyatukannya bersama Mbah Surip. Rendra dimakamkan di bagian petak atas, Mbah Surip di petak bawahnya di area Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Bogor. Meski berada di petak bawah, area makam Mbah justru lebih rapi dan rindang lantaran persis berada di bawah pohon jengkol. Kulihat pada nisan kayu yang tertancap di tanah yang masih merah tulisan ini: Urip Achmad Riyanto, bin Soekotjo, lahir Mojokerto, 06-05-1957, wafat 04-08-2009. (Ini sekaligus bisa menjadi ralat atas data-data pada postinganku “Magnet Mbah Surip”).

Jadi, sebenarnya, Rendra lebih mbah daripada Mbah Surip lantaran penyair besar ini dilahirkan pada 1935. Namun bukan cuma rentang usia itu yang pantas diperingati dari seorang Rendra. Apalagi kalau sekadar dengan menyelenggarakan pergelaran kenang-kenangan seperti yang dilontarkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Sebab, ada sekian gagasan besar Rendra yang perlu diwujudkan bangsa ini.

Rendra memang penghayat kehidupan sejati. Dua puluh tiga tahun sebelum wafatnya, ia sudah menulis artikel “Daya Hidup” (1986). Menurutnya, sebelum ada daya ekonomi, politik, sosial, filsafat, agama, ilmu pengetahuan, seni, dan daya-daya lainnya, daya yang pertama dan utama dari manusia adalah daya hidup. Tanpa ada daya hidup, daya-daya lainnya akan lesu, beku, atau bahkan sirna. Mengolah daya hidup menjadi sangat penting dalam membina hidup manusia dan ancaman terhadap daya hidup amat merugikan manusia. “Orang yang menghayati daya hidup akan paham terhadap kematian. Orang yang tidak menyia-nyiakan hidupnya akan lebih paham menghadapi kematian…,” demikian tulis Rendra (dikutip dari opini A.R. Loebis “Burung Merak Itu pun Terbang” di harian Terbit, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Penghayatan atas daya hidup itu rupanya yang membuat Rendra begitu menghargai kehidupan dan peduli atas kehidupan orang banyak, masyarakat dan bangsanya. Kebetulan aku sempat menyimak tulisannya di Media Indonesia, 23 hari sebelum meninggalnya, tepatnya edisi Selasa, 14 Juli 2009 berjudul “Merenungkan Mutu Kebudayaan”. Ada baiknya aku kutipkan beberapa bagiannya (pembuka) berikut ini.
“Membangun kebudayaan pada hakikatnya meningkatkan budi dan daya manusia di dalam mengembangkan mutu dan kesejahteraan hidupnya. Kesejahteraan hidup manusia harus mengandung mutu untuk kepuasan batin dan pikiran. Sebaliknya idealisme mutu harus ada kaitannya dengan kenyataan kesejahteraan.

Kesejahteraan yang diperoleh dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan mana bisa menimbulkan ketenteraman? Mana mungkin kesejahteraan dibangun dengan merusak kehidupan kaum lemah dan memorak-porandakan lingkungan alam?”

Begitulah, dengan menghayati dan menghargai kehidupan, menjalani sepenuh-penuhnya hidup, Rendra jadi waskita tentang hidup dan mati. Rendra tidak hanya mampu membaca zaman. Dia ternyata mampu “membaca” hidupnya sendiri. Sebelum berjumpa Tuhan, tampaknya Rendra telah bersiap diri. Sesaat sebelum kematian Mbah Surip, Rendra meminta keluarganya untuk membersihkan Bengkel Teater, hal yang jarang dimintanya. (Seputar Indonesia, 7 Agustus 2009). Itu semacam pertanda yang, misalnya dalam kepercayaan Jawa, dapat dimaknai sebagai kesiapan untuk menjemput kematian dengan damai, ikhlas. Beberapa pihak bahkan percaya, kemampuan membaca diri dan zaman semacam itu hanya dimiliki orang yang telah menjalani sepenuh-penuhnya hidup.

Yang lebih otentik tentang penghayatan dan penghargaan Rendra atas hidup dan kehidupan tentu saja karya-karya sosial dan karya tulisnya. Dalam sebuah puisinya, Rendra misalnya pernah menuliskan ungkapan seperti ini:

Kemarin dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar
Langit di badan
Bersatu dalam jiwa.

Maka, tak aneh bila Mbah Surip yang mewakili orang kecil dan meninggal pada pagi hari (pukul 10-an) dapat bersanding dalam satu area pemakaman dengan Rendra yang meninggal pada malam hari pukul 22-an dan mewakili orang besar. Rupanya, malam dan pagi, yang besar dan yang kecil telah menyatu dalam penghayatan Rendra, bersatu dalam jiwanya.

Kemudian, enam hari (31 Juli 2009) sebelum wafat (6 Agustus 2009), dari ranjang rumah sakit (Mitra Keluarga Depok), Rendra pun menuliskan larik-larik puisi berikut ini (Media Indonesia dan Koran Tempo, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak napas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal
dan wajar
Aku pengin membersihkan
tubuhku dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan
alam
Aku ingin meningkatkan
pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta pada-Mu

Ya, semoga Tuhan membalas cintamu, penyair besar.

Tak dapat dimungkiri, Mbah Surip memang telah jadi fenomena lewat lesatan ketenaran dan “hujan rezeki” yang dialaminya dalam bilangan waktu singkat (minus perjalanan hidupnya sebelum itu yang penuh perjuangan). Maka, ia layak mendapatkan predikat sang fenomena. Namun, hingga kemarin pagi (Selasa, 4 Agustus 2009 sekitar pukul 10.30 WIB) saat mengembuskan napas terakhir, Mbah Surip tetaplah sosok sederhana, bahkan bersahaja, penuh rasa syukur. Maka, ia pun pantas dikenang sebagai sang sahaja.

Rupanya, gelimang harta “mendadak” itu tak serta-merta mengubah sikap hidupnya menjadi lupa diri. Sejak semula hingga akhirnya tiada, Mbah Surip tetap konsisten dengan ungkapan “menyegarkan dan menggetarkan” ini: gue nggak ngiler sama harta, gue ngiler kalo tidur miring. Hah hah hah hah….

Kesahajaan atau kesederhanaan itu memang sikap luhur ajaran para nabi. Ia bukan kelemahan atau sesuatu yang layak disepelekan karena dianggap tak punya gengsi. Sikap hidup seperti itu justru merupakan kekuatan yang lahir dari nilai dasar “bukan harta yang menyetir atau menjadi penentu hidup kita, tetapi kitalah yang mesti mampu mengemudikannya”. Perwujudan tiap orang atas hal itu bisa saja tak sama secara teknis, tetapi tentu saja tetap tidak bisa keluar dari lingkup nilai yang mendasarinya itu. Lantas, semua itu mesti dijiwai dengan kebersyukuran. Buah dari ikatan nilai ini, kita tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam konteks dan kondisi apa pun.

Orang-orang demikianlah yang masih bisa berbagi meski tengah merugi. Mereka tak melangkah dengan serakah dan tetap tergerak untuk bersedekah walau hidup susah. Ketika berada di puncak karier tertinggi, mereka tak kehilangan kendali, tak lupa diri, dan tetap peduli. Merekalah orang-orang yang sukses di bidang apa pun tanpa mengeksploitasi dan menepikan orang lain. Mereka tulus dalam kebersamaan dan kebersahajaan.

Menurutku, Mbah Surip telah tumbuh dan sukses dalam konteks seperti itu. Hanya orang-orang dengan jiwa bersahajalah yang dapat mengapresiasi dan merangkul orang lain dengan segala keterbatasannya, baik yang ada pada diri mereka atau diri orang lain, secara tulus. Berbekal sikap sederhana dengan karya-karya lagu sederhana (merakyat), Mbah Surip bisa diterima dengan tangan terbuka oleh segenap anggota masyarakat yang memiliki mekanisme hidup bermasyarakat yang sederhana pula.

Atau dalam pandangan Arswendo Atmowiloto dalam artikelnya bulan Juli lalu di koran Seputar Indonesia, Mbah Surip telah hidup dan dihidupi oleh orang-orang kecil. Mbah telah melahirkan karya yang merakyat lantaran telah ditopang oleh mereka, rakyat kecil. Mereka, persisnya, adalah “Masyarakat ‘miskin’ yang ternyata mempunyai apresiasi tinggi, mempunyai toleransi mengagumkan. Masyarakat atau komunitas yang menampung, mendengarkan, memberi sesuatu ketika lagu itu (karya Mbah Surip) diperdengarkan pada awalnya.”

Hal itu, menurut Arswendo, “Tak berbeda jauh dengan kehidupan para pengamen musik atau pengamen doger atau pengamen penari yang mendapatkan nafkahnya dari warung-warung kaki lima, dari warga di kampung-kampung, menerima pemberian ‘dari yang berkekurangan’, yang bisa menghargai. Bukan dari fasilitas negara, bukan hasil bimbingan proyek khusus. Mbah Surip, sebagaimana para seniman lain, menemukan gagasan kreatif, juga kelangsungan kehidupan seninya, dari masyarakat kecil.”

“Mereka ini sesungguhnya jumlahnya banyak sekali, yang terus berkreasi. Melalui sanggar pas-pasan dengan bentuk perkumpulan lenong atau wayang orang atau keroncong atau apa saja—yang bahkan untuk mencari tempat latihan pun susah karena sering tergusur. Mereka ini tak memiliki lobi, tak punya waktu berbagai antara mencari makan dan berkreasi, tak punya prioritas—dan tak diprioritaskan. Mereka menggendong hidup dan nasibnya sendiri secara full, tanpa gerutu, tanpa malu, tanpa bantuan tunai langsung. Dalam bahasa religius di kalangan mereka, modalnya adalah BLT dalam arti ‘Bantuan Tuhan Langsung’.”

Ya, jadi tak perlu kecil hati untuk hidup dalam kesederhanaan, kesahajaan. Banyak orang-orang sukses yang ditopang oleh orang-orang yang sederhana, orang-orang kecil, orang-orang awam miskin, kok. Memangnya siapa yang memberikan suara terbanyak buat para wakil rakyat terhormat (anggota legislatif) atau orang nomor satu di republik ini (eksekutif)?

Maka, memang pantas seorang presiden memberikan apresiasi atas dirimu, Mbah. Selamat jalan. ‘Kan selalu kukenang kebaikan dan ketulusanmu meski itu “sekadar” berupa “hahahah dan I love you, full”-mu, Mbah. Semoga Allah membalas semua amal baikmu dan mengampuni kekhilafanmu. Amin.

Di saat kita semua “terlena” selepas pemilu presiden (pilpres), terutama mungkin mereka yang merasa diri sukses meraih kemenangan, tiba-tiba petaka itu membahana, mengguncang Indonesia. Dua lokasi di Jakarta, tepatnya di Hotel JW Marriot dan Hotel The Ritz Carlton, kawasan Mega Kuningan, diteror dua ledakan bom dahsyat, Jumat (17 Juli 2009).

Segenap doa dan belasungkawa mesti kita berikan bagi mereka yang menjadi korban ledakan itu. Mereka yang tewas dan luka-luka, keluarga masing-masing, dan untuk kita semua yang masih memiliki hati, yang tentu saja ikut terluka (berduka).

Mungkin aku termasuk yang terlena itu meski bukan termasuk kelompok yang jagoannya menang dalam pilpres karena akhirnya nggak nyontreng lantaran mesti berlibur ke luar kota. Ya, paling tidak aku terlena menikmati keterkejutan bahwa ternyata berita-berita seputar Michael “Jacko” Jackson dengan kematiannya, yang berlarut-larut, tak mampu menggeser menanjaknya kepopuleran nama Mbah “Hahahahah-Tak Gendong” Surip. Bahkan di blogku, postingan soal si Mbah meng-KO postingan soal Jacko. Baik dalam jumlah pembaca maupun komentar, postingan Mbah Surip lebih berkibar. Semula aku pun akan bikin postingan untuk memaknai itu, tetapi keburu kena ledakan bom. Sebuah aksi teror yang langsung membatalkan kedatangan tim sepak bola Manchester United (MU) ke Indonesia. Para pihak yang terlibat dalam acara duel MU vs tim Indonesia All Star dan segenap MU-mania Indonesia pun dibikin merugi dan kecewa. Media bahkan memberitakan, panitia kedatangan MU ke Jakarta terancam rugi Rp50 miliar. Padahal, sebelumnya, segepok keuntungan sudah di depan mata mereka.

Ya, sesuap nasi yang sudah dikunyah mulut atau bahkan telah masuk ke perut pun bisa termuntahkan. Begitu pula rezeki, kesuksesan, kemenangan yang telah kita raih bisa terlepas dari genggaman atau tergantikan dengan musibah kemalangan. Inilah yang paling tidak membuatku selalu ingat pada ayat kitab suci bahwa ketika kita berada dalam nikmat keberhasilan atau kemenangan, Tuhan tetap wewanti-wanti kita untuk segera bertasbih, memuji-Nya, dan memohon ampunan (beristigfar) kepada-Nya (QS An-Nasr).

Tak ada tempat buat keterlenaan dan kejumawaan. Ketika tertimpa musibah, kita mesti tetap bersabar dan meneruskan ikhtiar. Sebaliknya, ketika mendapatkan kenikmatan, kita pun mesti tetap bersyukur. Termasuk berempati, menenggang mereka yang kurang beruntung atau kalah atau bahkan terkalahkan oleh struktur, sistem, dll, lalu turut memberdayakan mereka. Sebab, selain ada keniscayaan kekuasaan Tuhan dalam kesuksesan kita, ada pula peran sesama. Kita nyata-nyata tak bisa berhasil hanya atas andil tangan kita sendiri.

Akhirnya, kita semua mesti mengutuk kebiadaban teror bom itu, sebuah aksi yang bisa kita kategorikan tak masuk akal, tak sesuai dengan nalar sehat, tak rasional, bodoh, dll. Namun, kita juga mesti merunut sekian ketidakrasionalan perilaku kita selama ini, yang bisa jadi berkait dan bersebab-akibat satu sama lain melahirkan ketidakmasukakalan baru dari pihak lain, terutama bagi mereka yang diamanahi menjadi pemimpin, pengurus negara dan bangsa ini.

Selamat menempuh hidup baru bagi kita semua untuk lima tahun mendatang, semoga kita semua bisa belajar dari segenap kekhilafan dan perilaku dungu yang telah lalu.

Kematian adalah salah satu momen ketika setiap orang berada pada sisi keawaman, keterbatasan dan ketidakberdayaannya sebagai manusia. Sebuah keniscayaan yang siapa pun tak dapat mengelak. Paling-paling hanya bisa berharap mendapatkan khusnul khatimah.

jacko

Ya, khusnul khatimah, sebuah akhir yang baik, nama yang harum, baik di mata manusia maupun Sang Pencipta. Lantaran setiap nurani manusia mengiyakan harapan atas kebaikan itu, maka pada saat sesama kita kembali kepada Yang Mahakuasa, kita semua pun mestilah mengenang dan mendoakannya dalam segenap kebaikan. Setiap anak manusia layak mendapatkan apresiasi demikian, termasuk Michael “Jacko” Jackson, bukan lantaran kebintangannya, tetapi karena dia manusia.

Namun, sebagai sebuah postingan, tulisan ini bisa jadi pilih kasih. Kenapa kepergian Jacko (Kamis, 25 Juni 2009) yang dipilih jadi pokok renungan, bukan yang lain? Aktris Farrah Fawcett, salah satu bintang dalam serial televisi Charlie’s Angels, pun meninggal hanya terpaut beberapa jam dengan berpulangnya Jacko. Atau kematian seorang Neda di Iran, korban demonstrasi pascapemilu yang menimbulkan kontroversi politis (lihat misalnya analisis lain yang berbeda dengan media mainstream/Barat di sini). Bisa juga kematian siapa pun, orang pinggiran yang mungkin tak kita kenal, apakah kalah berarti dibandingkan dengan meninggalnya Jacko?

Ah, tentu saja tidak begitu. Tak ada kematian yang tak menyedihkan, yang menumpahkan duka-lara mengiris-iris kalbu dan jiwa. Seorang Rasulullah SAW pun tak kuasa menahan duka mendalam ditinggal orang-orang yang dikasihinya sampai-sampai Allah turun tangan menghiburnya dengan perjalanan Israk-Mikraj.

Tentu saja, selain karena keawaman diriku dengan segenap impuls pribadi, pilihan memperbincangkan perihal Jacko dengan kematiannya itu pun buah dari ketidakmampuan diri ini mengelak dari “hukum media massa”. Media telah menjadikan kematian Jacko hanya dapat diperbandingkan (setaraf) dengan kematian Elvis Presley, John Lennon, dan Lady Diana. Padahal, sebagaimana telah disebut, semua kematian meninggalkan efek yang sama, kesedihan mendalam bagi mereka yang ditinggalkan, yang masih memiliki tautan kasih.

Oleh sebab itu, pilihan atas Jacko terutama agar semakin banyak dari kita bisa bertakziah, mengingat akan kematian hingga bertaut dengan Sang Penggenggam Ajal. Kematian adalah pintu akhir bagi semua yang hidup (manusia) untuk melepaskan diri dari segenap kelemahan, keterbatasan diri, dan dosa-dosa kekhilaf-alpaan, memasrahkannya kepada Sang Kuasa. Kematian bisa menjadi sarana pensucian diri. Jacko pun berhak atas itu semua, seberapa pun persentase haknya.

Lihatlah, di segenap penjuru dunia, mereka yang merasa memiliki “ikatan moril” dengan Jacko telah secara tulus memaklumi “hitam-putih” sang bintang lantaran tak ada manusia yang sempurna, memberinya maaf atas segala kekhilafan, mengiriminya rasa kasih dan doa-doa terpilih.

Sisi hitam dan putih, buruk-baik, kekurangan dan kelebihan adalah dua sisi yang selalu ada dalam diri manusia. Mengagung-agungkan kelebihan sama buruknya dengan mengusik-usik kelemahan. Dua-duanya berpotensi menumpulkan nurani, akal sehat. Kalaulah kelebihan disebut-sebut, itu hendaklah ditujukan untuk memicu kebaikan, menularkannya kepada orang lain, paling tidak memacu mereka untuk ikut maju. Sebaliknya, bila kekurangan dirunut dan diberitakan, itu mestilah dimaksudkan sebagai cermin, pemerkokoh pemahaman atas keterbatasan diri, lalu mengikatkannya pada tambatan Illahi (laakhaula walaaquwwata illa billah).

Bisa jadi benar, Jacko kehilangan masa kecilnya. Lalu, setelah menggapai kemasyhuran, ia tetap tak dapat mendapatkan gantinya. Wujud fisik Neverland yang diciptakan untuk menjelmakan mimpinya atas kebahagiaan masa kanak-kanak, dengan memerankan diri sebagai Peter Pan yang tak mau berubah menjadi manusia dewasa rupanya harus terlepas jua dari genggamannya. Ranch mewah itu mesti dijual akibat sekian masalah yang membelitnya, termasuk masalah keuangan.

Ah, Jacko. Boleh jadi, hingga tutup usiamu, kau tetap merana. Namun, bukankah pada hakikatnya, walaupun dalam sebuah kematian massal, kita sebenarnya mati sendiri-sendiri, mempertanggungjawabkan usia hidup kita sendiri?

Jacko, aku tahu, kau pasti tak kenal Obbie Messakh. Dalam sebuah syair lagunya, Obbie menuliskan, “…dan mati pun kita sendiri.” Namun, aku yakin, Obbie dan sekian banyak warga dunia, termasuk diriku, tahu bahwa kaulah yang menciptakan syair-lagu “Heal The World”. Maka, kami semua menjadi saksi bahwa seberapa pun kecilnya, kau telah berandil dalam upaya menyembuhkan dunia yang sering sakit, bahkan hingga kini pun masih sakit. Kau nyata-nyata telah turut berupaya agar masa depan dunia menjadi lebih baik. “Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race….” Ya, heal the world  for a better future.

Updated (3 Juli 2009):

Jacko Thanks to Allah

Hingga hari ini, belum jua pasti pemakaman Jacko. Tentu saja dari segi agama, tidak baik berlama-lama “membiarkan” jasadnya telantar. Terlepas dari dia akan dikuburkan secara muslim atau dengan tata cara yang lain, mestinya lebih baik segera memakamkannya. Toh, pada akhirnya Jacko sendiri yang akan menghadapi mahkamah Illahi. Sebab itu, yang lebih penting kita “saksikan” adalah pengakuan dia atas Tuhannya, terlepas dia dilabeli muslim atau yang lain.

Berikut ini sepenggal lirik pengakuan Jacko dalam syair lagu “Give Thanks to Allah” yang dinyanyikannya bersama Zain Bhikha*:

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full*,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

*Pada bagian ini (prays in all day full)ada juga versi revisinya:
praise him all day for.  Syair lagu tadi aku kutip dari sini dan info revisinya dari sini. Versi mp3-nya dapat diunduh di sini.

Demikianlah, kiranya Jacko telah “menjawab” saran Emha Ainun Nadjib (dalam puisi Maiyah Manembah) untuk segera melakukan pengakuan. Berikut ini aku kutipkan ungkapan Emha itu (dari bait V saja) yang kuambil dari sini.

Kalau di dalam kepalamu terdapat akal
Kalau engkau mempekerjakan pikiran sehingga engkau mengerti
bahwa engkau tidak sanggup menciptakan dirimu sendiri
bahwa engkau tidak sanggup menghidupkan jantungmu sendiri
tidak sanggup menggenggam dan menjaga nyawamu sendiri
tidak sanggup menumbuhkan barang sehelai rambutmu sendiri
tidak sanggup meramu barang setetes dari darahmu sendiri
tidak sanggup menguasai nasibmu sendiri
tidak sanggup mengetahui kapan engkau mati
Sebelum tiba sesuatu yang melumpuhkan kakimu
Sebelum tiba kejadian yang mengagetkan otakmu
Sebelum tiba peristiwa yang membuntu arah langkahmu
Sebelum tiba waqi’ah yang menggelapkan hidupmu
bersegeralah mengucapkan pengakuan

***

*Koreksi (5 Juli 2009):

Mohon maaf, ternyata lagu “Give Thanks to Allah” ini bukan lagu Jacko dan dia tak menyanyikannya. Memang, suara penyanyinya rada mirip dengan suara Jacko dengan intonasi bahasa Arab/istilah agama yang terbilang fasih. Semula aku menemukan sepotong koreksian di sini (sebagai berikut):

Submitted by Waleed from Egypt, Jan 7, 2006 03:23

I am sending this as a correction to the message I sent previously. The song “Give Thanks to Allah” is not sung by Michael Jackson, but by a singer called Zain Bhikha. It was included in an album called “Towards the Light” for this singer, and in another called “Bismillah” by Yusuf Islam, which dates back to 2001. The album “Bismillah” is present on Amazon and the single is in there, for those who want to verify.

Yang lebih valid tentu pengakuan Zain Bhikha sendiri dalam blognya di myspace. Katanya, “So, to clarify, Micheal Jackson never sang this song. I wrote and recorded ‘Give Thanks to Allah’ as a simple childrens song many years ago and it has been released on various independant albums since,” yang selengkapnya bisa di baca diblognya itu.

Halaman Berikutnya »