Maklumat Pengakuan Kealpaan dan Prinsip Kerendah-hatian

Hari ini, saat tulisan ini diposting, aku menyatakan diriku telah membuat pernyataan yang berlebihan. Pernyataan itu berupa maklumatku tentang kesuksesan (dalam AWAMOPEDIA dan Maklumat Kesuksesan).
Melalui maklumat itu aku telah melanggar prinsip-prinsip keawaman (awamologi) itu sendiri, dalam hal ini prinsip ketahudirian atau tepatnya kerendah-hatian. Melalui maklumat itu pula bisa jadi aku telah membodohi teman-teman pembaca sekalian, memberi gambaran yang menyesatkan atau mengelirukan, bukan mencerahkan. Untung saja aku sempat membaca nasihat lembut dari Mas Shodiq Mustika tentang ini (dalam Penulis Yang TIDAK Membodohi Pembaca). Makasih, Mas.
Mungkin ada baiknya aku susun dulu poin-poin awamologi ini secara lengkap di sini, terutama prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menjadi dasar pijakannya, sehingga aku tidak lupa dan teman-teman pun jadi paham dan sudi mengingatkanku kala aku melakukan kekeliruan. Secara umum, awamologi berbijak pada dua prinsip utama: (1) berpijak pada diri sendiri dan (2) berpositif diri atau mendasarkan diri pada semua hal positif (seluruh nilai kebaikan) sesuai dengan ajaran agama.
Prinsip pertama (berpijak pada diri sendiri) gak perlu diperinci dan aku rasa dah jelas. Tapi, prinsip kedua pastilah mencakup berbagai hal praktis yang lebih khusus sifatnya sebagai perincian. Salah satu poin perinciannya adalah kerendah-hatian tadi. Mengenai hal itu, aku pernah mengungkapkannya begini.
Dari Sebermula, Muasal Kita
Ya, pada mulanya kita ini bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Hanya karena Tuhan Yang Kuasa berkehendak, Adam pun tercipta. Dari segumpal tanah, tak perlu pongah.
Memang, malaikat pun mesti bersujud pada kita. Iblis juga. Tapi Iblis jumawa. Malaikat saja yang bersedia, cuma bertanya: bukankah manusia berpotensi jadi sang angkara murka penebar bencana? Namun Tuhan Mahatahu. Dia pun beri kita ilmu. Ilmu kata-kata, ilmu nama-nama. Tapi bukan berarti kita jadi tahu segala-galanya. Sekadar yang diperkenankan-Nya.
Itulah muasal awamologi. Sebagaimana sang Nabi SAW ditekankan-Nya untuk tahu diri. Sejak belia cuma yatim belaka. Lalu Dia melindunginya. Pada mulanya hanya sebagai seorang yang bingung, lantas petunjuk diberikan-Nya. Kekasih Ilahi Rabbi ini juga berkekurangan, Dia memberinya kecukupan. (QS 93).
Itulah landasan ketahudirian, kerendah-hatian. Kesederhanaan, kebersahajaan, lantas ke-qanaah-an.
Namun, dari yang serba-pas-pasan dari Tuhan itu, ketiadataraan nikmat dapat kita rasakan. Potensinya bahkan bisa kita maksimalkan untuk menggenggam dunia dan memakmurkannya sebagai khalifah-Nya. Hanya, di dalam diri yang satu ini, mesti kita sadari status kehambaan kita: hamba awam. Lantas, kau mau jadi apa, wahai hamba?
Aku mau jadi orang biasa saja
Sebagaimana nabi, eh, seperti Muhammad saja
Yang mungkin saudagar ternama, tapi pasti bersahaja
Yang mungkin kaya-raya, tapi pasti penderma
Yang barangkali berlimpah rezeki, tapi pasti bersyukur tanpa henti
Yang barangkali banyak istri, tapi pasti berdimensi ukhrawi
Ya, aku mau jadi orang biasa saja, jadi diri sendiri
Tanpa banyak teori, tapi mesti penuh arti
Krl jabotabek sore 9.03.08




