you're reading...
Calon Penghuni Surga

Perempuan Perkasa Ahli Surga

wanita-perkasa1Aku tak habis pikir jika dunia masih setengah hati mengakui kehebatan perempuan. Lebih-lebih lagi aku nyaris tak percaya bahwa masih ada umat Nabi Muhammad SAW yang menyepelekan perempuan dan bahkan melecehkan perempuan. Buat mereka, hadis “surga di bawah telapak kaki ibu” sudah teramat usang jika tidak malah telah lama mereka buang. Mereka pun mungkin tidak terlalu menggubris bahwa salah satu golongan terbaik yang merupakan kandidat ahli surga adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik terhadap istri.

Yang lalu makin membuktikan keperkasaan perempuan adalah fakta bahwa sebesar apa pun penderitaan yang mereka terima, baik berupa “ujian tak terelakkan dari Tuhan” maupun “kejahilan laki-laki tak pernah henti”, mereka senantiasa memperlihatkan sikap bijak, lapang dada, dan berjiwa besar. Lihat fakta berikut ini.

Inilah balada Wagiyem, 52. Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang mengadu nasib di Jakarta ini menikah dengan penjual mi ayam keliling pada 1977. Mereka bekerja keras. Dalam tiga tahun, suami Wagiyem mempunyai 10 gerobak mi ayam. Tahun 1980 mereka melebarkan usaha ke pembuatan mi dan sukses lagi. Tahun 1984 juragan mi itu kawin lagi, meninggalkan Wagiyem.

Meski begitu, keduanya tetap berpatungan dalam usaha pembuatan mi di rumah mereka yang berdekatan di kampung padat di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tahun 1996 usaha mereka bangkrut akibat merebaknya isu formalin dalam produk makanan. Mantan suami Wagiyem dan istri mudanya pulang ke kampung halaman, Wonogiri. Wagiyem bertahan di Jakarta. Ia membesarkan keempat anaknya dengan melanjutkan usaha pembuatan mi.

Kegigihan Wagiyem tidak sia-sia. Dari produksi yang semula 30 kg mi basah per hari, kini Wagiyem menghasilkan 450 kg. Konsumennya pedagang mi ayam atau mi goreng di kampung Ibu Kota.

Wagiyem bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga tiga anak meraih gelar sarjana ekonomi dan seorang sarjana sastra Jepang. Ia bahkan juga menghidupi keluarga mantan suami dan istri mudanya, termasuk membiayai pendidikan anak bekas suaminya dengan mengirim sekitar Rp 5 juta tiap bulan kepada mereka. Ia bahkan memberi bantuan modal kepada bekas suami untuk membuka usaha mi di Wonogiri.

“Setiap kali mantan suami saya minta uang, pasti saya beri,” kata Wagiyem.

Rupanya, jatuh bangun dalam kehidupan dijalani Wagiyem sebagai lakon kehidupan.

“Saya cuma mensyukuri dan menikmati semua ini,” kata Wagiyem.

Balada Wagiyem itu aku kutipkan dari tulisan “Balada Wagiyem dan Perempuan Perkasa” di Kompas (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0704/22/kehidupan/3469199.htm) Minggu, 22 April 2007, dengan sedikit penyesuaian.


wanita-perkasa2

Ini juga kisah perempuan perkasa ahli surga yang aku nukilkan dari kolom “Resonansi” Republika, Jumat, 18 Januari 2008 (via: http://untaianmutiara.multiply.com/reviews/item/24) yang ditulis Zaim Uchrowi berjudul “Perempuan Perkasa”. Memang sih tidak ada unsur “disakiti laki-laki”, tapi tetaplah dia perempuan perkasa sebagaimana disebut dalam judul tulisan Zaim itu.

Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini.

“Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging dengan di beberapa bagian telah menggembung….”

Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali yang terus berpikir keras untuk menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. “Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain.” Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi.

Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik “Hiii….” Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Seusai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari.

Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi.

Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri.

Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya begitu memergoki sang suami berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil jauh dari memadai.

Itulah sepenggal penuturan Zaim. Kata dia, “Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan.”

Lalu Zaim menambahkan, “Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri dan bukan untuk bermanja menikmati (diri) menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami.”

anak3kerjasama

Jika mengikuti kata-kata Zaim, itu berarti para lelaki atau suami mesti mendorong istri, anak-anak perempuan mereka, serta perempuan pada umumnya untuk maju dan menjadi perkasa. Buka terus saja menggencet mereka lantaran tak rela bila mereka menjadi lebih hebat dari kita (laki-laki). Masak kita kalah sama Mao?

About these ads

Tentang Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

7 pemikiran pada “Perempuan Perkasa Ahli Surga

  1. permisi pak,\
    boleh saya mengambil Perempuan Perkasa Ahli Surga tulisan bapak ini untuk saya taruh di FB saya? trims

    @Silakan Mba Maya. Mungkin cuma perlu menyebutkan sumbernya saja.

    Posted by maya | April 3, 2009, 9:22 am
  2. assalamualaikum…

    pak saya ngikut ngopy artikel anda.. trimakasih pak.. artikel anda akan saya taruh di blok saya..

    trimakasih bnyak,, saya teringat akan ibu saya,,

    wassalamualaikum

    @Waalaikumsalam. Silakan Mas Bagus. Saya pun sebatas menambah-nambahi pendapat atas dua artikel yang kukutip itu.

    Posted by bagus | Mei 13, 2009, 11:02 pm
  3. Bagus banget pak. Jadi inspirasi yg oke. Kami juga ijin mengkopi ya pak untuk topik inspirasi di website kami (sumber pasti di sebutkan). Terima kasih.

    Posted by Desi | Juni 13, 2009, 2:14 am
  4. @Silakan saja mba Desi.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Juni 15, 2009, 7:04 am
  5. masih banyak di desa saya juga .perempuan yg seperti itu …

    Posted by edward baesuki | April 27, 2010, 8:04 pm
  6. semoga ini menjadi inspirasi pribadi dan semua perempuan di dunia ini

    Posted by Siti Miftahurrohmah | Desember 23, 2011, 8:20 pm
  7. Ijin share foto ya pak….

    Posted by sri sumardiyanti | April 21, 2013, 1:50 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: