Di tengah silang-sengkarut slogan kampanye yang amat politis sehingga menyeret bala tentara iblis, kita orang awam tak perlu ikut menanggapinya dengan sinis atau apolitis, tapi hadapilah dengan puitis. Betapapun kejam, biadab, dan absurd-tak terpahaminya dunia, kita harus dapat menghayati bahwa hidup itu indah.
Kita mungkin cuma perlu memulainya dari membaca dan/atau menuliskan baris-baris puisi, kisah fiksi atau ayat-ayat kitab suci. Atau apa pun yang tersaji telanjang di alam ini. Barangkali kita takkan memahami seluruh isinya dan memang tak perlu dipaksakan begitu. Yang penting kita mau untuk sekadar meluangkan waktu mengakrabi keseharian kita hari ini dan hari lalu, lantas bergerak maju dengan syahdu dan kata-kata merdu.
D. Zawawi Imron, penyair Madura yang juga kiai, bilang bahwa dia amat menyukai sastra dan dunia estetika lantaran memang sudah seharusnya demikian. Bahwa dalam diri setiap insan mesti ada gelora keindahan batin yang sebisa mungkin bisa menjadi samudera kedamaian dan keindahan hidup, yang mampu menampung segenap kemajemukan manusia, mengubur rasa benci, da
n mengokohkan cinta. Cinta insani dan cinta Ilahi. Bagi Zawawi, sastra dan dunia estetika amat mengasyikkannya lantaran seperti memasuki dunia misteri yang nikmat, seperti tersesat ke jalan yang benar, yang membuat kita menjadi rendah hati berhadapan dengan Sang Maha Misteri. Daripada sebaliknya, mengaku-ngaku hebat sebagaimana dalam atribut dan slogan-slogan kampanye pemilu yang berjajar di jalan-jalan, hinggap di pohon-pohon dan menyesaki bukit-bukit, padahal bisa jadi mereka termasuk golongan orang-orang yang “sesat” (penipu yang sekadar mengumbar janji)––meski tentu saja dia berharap para calon pemimpin itu tidak demikian adanya.
Jadi, kalau bukit-bukit itu jadi tercemari keindahannya oleh “gambar-gambar wajah aneh”, barangkali kita hanya perlu mendongakkan kepala mengarahkan pandangan lebih tinggi agar masih bisa menatap, “Sepasang burung bangau melayang meniti angin, berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepakkan sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya….” He he he, itu kutipan temenku Amang “Po” Suramang di Goodreads Indonesia dari novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari––bener kan Po, sori kalau salah. 









wow, dapet dari mana kata2 kayakk gnii..
inii baru kereennn..’
tapi ternyata ahmad tohari tohh yang buat?
ciakakka..
@Lho memang yang dipromosikan itu soal kekerenan atau keindahan, yang bisa ada dan berasal dari siapa saja, bukan soal diriku. Tapi komentarmu juga keren kok.
Posted by gorynig64 | Februari 5, 2009, 11:55 pmbyuh…. mumet aku mocone.
.::he509x::.
@Yo, nanti aku carikan balsem, aku olesi sirahmu sing mumet 509x jg. Makasih dah sedekah komen bos.
Posted by MaNongAn | Februari 6, 2009, 4:00 amati2 mas nabrak, mendongak terus…
@Tararengkyu mas kw fanabis yang coolabis. Maturnuwun dah diingetin tuk gak ndongak terus alias congkak. Tapi ndongak di kalimatku itu bermakna harfiah kok, memang mengarahkan tatapan ke atas dan gak perlu sambil jalan2 jadi gak nabrak. He he he serius banget ya njawabnya dan lebih banyak dari komennya.
Posted by kw | Februari 6, 2009, 9:17 amaku rindu puisi
rindu Pak Ahmad Tohari
Rindu Pak Bakhtiar mengunjungiku
@Kan kubalas rindu Mas Narno itu suatu waktu
bisa jadi tak kerap selalu, tapi insya Allah khusuk dan tawadu.
Posted by sunarnosahlan | Februari 6, 2009, 11:37 amanda ini ternyata orang yang sangat Puitis…
http://eidariesky.wordpress.com
@Lebih tepatnya sok puitis. Makasih riesky, rumah mayamu akan slalu jadi sumber taut bagiku.
Posted by eidariesky | Februari 6, 2009, 2:39 pmAku 100% sepakat dengan gagasanmu ini mas Bahtiar… “Di tengah silang-sengkarut slogan kampanye yang amat politis sehingga menyeret bala tentara iblis, kita orang awam tak perlu ikut menanggapinya dengan sinis atau apolitis, tapi hadapilah dengan puitis.”
@Makasih Amang. Bagi trus aq ma reviu bacaanmu ya.
Posted by Amang Suramang | Februari 6, 2009, 7:26 pmiya ini… setuju… setuju…
Memang lebih indah berasyik maksyuk dengan puisi daripada melihat foto-foto para caleg yang tidak pinter narsis itu… gayanya ndeso-ndeso semua… norak seperti selebritis dadakan…
@Ee, mas ardee. Klo mas ardee yang nyaleg sih gpp, soale muda, pinter tapi tawaduk.
Posted by xtraardeenary | Februari 7, 2009, 5:22 amHadapi dengan puitis?? Apa ga justru jadi dramatis?
Salam kenal kang…
@Hah, jadi dramatis, masa sih? Yang pasti jadi gak bikin jutek-lah karena cuma dirimu yang bisa…he he he. Tararengkyu dah mampir.
Posted by missjutek | Februari 8, 2009, 1:38 amwow …. sebuah postingan yang sarat renungan dan reflektif ttg hakikat seni dan estetika, mas baihaqi. konon hidup tanpa seni membuat manusia kehilangan sentuhan nurani dan kemanusiaan dalam setiap melihat permasalahan yang hadir di sekitarnya. salam kreatif dan salam budaya!
@Makasih Pak Sawali. Moga aq jadi bersemangat nulis nih.
Posted by Sawali Tuhusetya | Februari 9, 2009, 10:54 pmmantafff..
@Apanya nih Bos yang mantafff…?
Posted by riski febriansyah | Februari 10, 2009, 2:49 pmtulisannya..
@Makasih riski.
Posted by riski febriansyah | Februari 13, 2009, 6:27 amAjib nih postingan
salam
Download Mp3 Lagu Indonesia
@Salam juga. Setahuku, ajib itu buat makanan yang enak ya.
Posted by Guest Who | April 5, 2009, 5:41 pmq punya banyak puisi di UNSTATER.BLOGSPOT.COM.. tpi sayangnya yg mengunjungi tak sbanyak jumlah puisi q…..
Q:smpn 9 yogyakarta…
PUISI: PUsat InSpirasI…hehehe…..
@Oke, bila ada kesempatan, nanti ikutan mengapresiasi.
Posted by yusuf | Januari 4, 2010, 9:08 am