Hemm, takdir akhirnya membawaku menghadiri Kenduri Cinta (KC) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 15 Mei 2009. Setelah sekian lama cuma menikmatinya lewat media massa, kini aku bisa hadir langsung.

Acara yang bermagnetkan pada figur sentral Emha Ainun Nadjib (EAN) atau Cak Nun (CN) itu menurutku banyak manfaatnya. Soal keberadaan acara ini, dari muasalnya di Padhang Mbulan (Padang Bulan) Jombang hingga Maiyah di Yogyakarta atau sekian acara serupa di berbagai tempat dengan nama berbeda, termasuk tanggapan fans, lebih baik dicari di internet saja karena tak cukup kesempatan untuk didedahkan di sini. Ini beberapa link yang dapat disimak: http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=1412, http://id.wikipedia.org/wiki/Jamaah_Maiyah, http://kenduricinta.multiply.com/notes/item/2.

Kini, izinkan aku untuk menuliskan beberapa poin yang dapat aku petik dari KC kemarin itu. Dari orasi CN, aku jadi tahu betapa kita mesti memiliki anatomi hidup, anatomi berpikir dll yang intinya untuk memetakan mana hal yang mesti dipentingkan, yang cukup penting, agak penting, kurang penting dan sejenisnya atau yang dalam terminologi fikih disebut wajib, sunah, mubah, makruh, haram. Begitu pula spektrum pemikiran juga harus diperluas, tidak terkungkung oleh kotak-kotak bikinan manusia yang kerap mempersulit pikiran kita dan merugikan kita.

Dari situ, kita jadi tahu, seberapa penting sebenarnya institusi negara bagi kita? Apakah makan-minum kita, kerja kita, ibadah kita dll hingga ngeblog kita tergantung oleh keberadaan negara? Apakah jika negara tak ada, semua itu otomatis berhenti kita lakukan? Minimal, seberapa besar peran/fungsi negara memberikan pengaruhnya pada sekian aktivitas kita itu? Ya, melalui KC, kita diajak untuk berpikir ulang tentang itu semua. Lalu juga, seberapa pentingkah partai politik (dengan para anggota legislatifnya) dibandingkan institusi sosial-budaya kemasyarakatan semisal KC sendiri atau salah satu penampil malam itu, komunitas Kandank Jurang Doank pimpinan Dick Doank?

Dick yang menyelenggarakan pendidikan gratis buat anak-anak kurang mampu (dan yang mampu juga untuk saling memberdayakan) justru jauh lebih bermanfaat daripada partai politik itu. Dick dan komunitas serupa asuhannya itu yang mestinya diperbanyak, diberi dukungan, subsidi, bukannya malah partai yang diperbanyak dan menghabiskan subsidi negara. Amerika saja cukup dua partai untuk melangsungkan demokrasinya, sementara Indonesia berpartai-partai. Di lain pihak, kita masih memerlukan lebih banyak aktivis dan institusi pemberdaya sesama untuk menghimpun sebanyak mungkin anak-anak bangsa ini meraih cita-citanya.

Tentu masih banyak poin bermanfaat lain yang bisa dipetik dari KC itu, yang diselenggarakan rutin Jumat malam, mulai pukul 20.00 WIB, pekan kedua tiap bulan di TIM. Tajuk acara malam itu adalah “Tautan Hati, Martabat Negeri” dengan misi (tagline) KC yang tertera pada spanduk di panggung adalah “Menegakkan Cinta Menuju Indonesia Mulia” (makasih Mas Agus Setiawan atas koreksi/infonya). Intinya ya semua yang hadir pada KC mesti menautkan hati, membangun cinta antarsesama untuk mempererat solidaritas sebangsa setanah air sekemanusiaan, se-Islam. Nah lho, seislam? Primordial dong.

Tak dapat dimungkiri, mayoritas jamaah KC ya orang Islam karena CN pun orang Islam. Namun prinsip dasar yang dihamparkan adalah pluralitas yang menampung semua unsur warga bangsa, apa pun suku dan agamanya. Ya, agama (Islam) dan negara diteropong dengan cara pandang yang lebih luas dan hakiki. Kita diajak untuk memperbarui pemikiran dengan merunut jauh ke belakang sejak zaman Adam, Ibrahim dan membaca ayat-ayat qauniyah (alam semesta) hingga ayat qauliyah (teks kitab suci). Dari situlah lalu kita baru dapat mengenali sosok Islam yang jauh lebih hakiki daripada sekadar lembaga agama atau yang lebih sempit dari itu semisal NU, Muhammadiyah, atau sejumlah partai politik yang kerap disebut sebagai partai Islam. Perilaku lembaga agama/keagamaan atau politik itu bisa saja tidak Islami, sementara yang non-Islam bisa saja Islami. Inti pesannya di sini, janganlah kita mudah terjebak pada pemikiran sempit ini-itu tanpa terlebih dulu memastikan bahwa kita telah benar-benar berpikir secara hakiki.

Itu dulu deh. Mohon maaf kalu ada kekurangakuratan pemahamanku atas KC. Mohon dikoreksi ya, terutama untuk teman-teman yang juga mengikuti acara itu.

Sebagai penutup, marilah kita berusaha mewujudkan harapan CN. Ada baiknya kita tidak terus menjadi anak-anak manja yang tergantung pada orang per orang, termasuk kepada CN. Dia sekadar membuka cakrawala kita dan kita pula yang mesti serius untuk mengisi dan melanjutkannya dengan benar. Kita misalnya telah dibuatnya untuk menyucikan hati dan pikiran lebih dari sekadar bersuci dengan air wudhu sehingga segeralah menautkan hati dan pikiran dengan Alquran yang sebenarnya, bukan saja pada mushafnya atau huruf-huruf yang tercetak di dalamnya. Ayolah, iqra bersama-sama.