Wah, ramai nih. Setelah beberapa waktu lalu Goenawan Mohamad (GM) ikut menyampaikan pesan-kesannya terhadap Boediono menjelang deklarasi pasangan capres-cawapres SBY-Boediono, yang dapat dibaca sebagai bentuk dukungan terhadap mereka, kini giliran W.S. Rendra ikut mendukung pasangan Megawati-Prabowo. Itu tampak dari kehadirannya pada deklarasi mereka di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Rendra bahkan secara eksplisit menyatakan dukungannya itu dan turut membacakan puisi karya Chairil Anwar  Krawang-Bekasi.

“Saya tidak masuk parpol mana pun, tapi saya mendukung Mega-Prabowo. Sebab Mega-Prabowo tidak melanjutkan pemerintah yang didominasi asing,” kata Rendra.

Dia berargumen, dengan mendukung Mega-Prabowo, ke depannya dia punya harapan atas terciptanya pemerintahan mandiri yang berbasis ekonomi kerakyatan. “Sesuai amanat pendiri negara. Karena itu saya bacakan sajak Chairil Anwar Krawang-Bekasi,” ujar Rendra.

Biar adil, saya kutipkan pula kata-kata GM tentang Boediono, yang sekali lagi bisa dibaca sebagai dukungannya atas pasangan SBY-Boedi.

“Boediono – tamu kehormatan kita sore ini — adalah seorang ekonom; ia ekonom yang bekerja dalam pengelolaan perekonomian Indonesia; ia seorang teknokrat. Ia bukan pemimpin partai. Ia bukan anggota dinasti pemimpin partai. Ia bukan tokoh terkenal dalam pasaran media seperti para bintang sinetron, komedian dan penyanyi. Ia bukan seorang vote-getter.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilihnya sebagai calon wakilnya karena Boediono memenuhi sejumlah syarat. Bagi saya, yang lebih penting ketimbang syarat-syarat itu adalah kenyataan bahwa Boediono dikenal sebagai seorang yang telah membuktikan dedikasinya untuk perbaikan kehidupan perekonomian bangsa; dan tak kurang dari itu, ia dikenal sebagai seorang pejabat dan pribadi yang bersih.”

Dukungan GM dan kawan-kawannya juga dapat dibaca dari kolom Ayu Utami di harian Seputar Indonesia (dikutip di sini) yang pada postingan sebelum ini saya sebut.

Ada yang bilang itu sebuah ketidaknetralan intelektual, bahkan pihak yang kesal dan emosional menyebut itu sebagai pelacuran intelektual. Namun ada pula yang lebih dewasa bilang bahwa boleh-boleh saja siapa pun, termasuk para intelektual, menunjukkan keberpihakan semacam itu asalkan diikuti dengan argumentasi yang jelas. Nah, bagaimana menurut teman-teman?