Orang awam/miskin tapi sombong? Itu jenis yang dilarang dalam hadis Nabi SAW. Unsur pelarangannya ada pada poin kesombongan, bukan pada sisi keawaman/kemiskinan––untuk selanjutnya disebut sebagai kemiskinan/miskin saja. Sebab, mereka yang miskin masih bisa meraih derajat mulia bila mampu sabar dan bersyukur.

Ini dia hadisnya. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tiga kelompok orang yang nanti pada hari kiamat Allah tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka, dan Allah tidak akan memandang mereka, serta mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja (penguasa) yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).

Namun, apa mungkin orang miskin itu sombong? Ya, mungkin saja, makanya ada hadis Nabi tadi. Miskin di sini lazimnya merujuk pada sisi materi, miskin harta, tetapi (menurut hemat saya) bisa pula mengacu pada kemiskinan yang lain semisal miskin ilmu. Atau bisa juga kedua jenis kemiskinan itu berkombinasi. Adapun kesombongan dalam kriteria Nabi adalah “merendahkan (meremehkan) pihak lain dan tak mau menerima kebenaran dari sesama”. Hal itu sejalan dengan hadis riwayat Muslim dan Abu Daud dari sahabat Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah yang artinya, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan atau merendahkan manusia.”

Jadi, kalau “sekadar” tidak mau dianggap rendah dengan meninggikan diri sendiri, tanpa ada target merendahkan orang lain dan tak sampai menutup diri atas kritik, nasihat, atau sebatas pengingat dari orang lain (mengenai perihal kebenaran), insya Allah itu belum termasuk yang tercela sebagaimana dimaksudkan hadis di atas. Namun, bisa jadi, itu sudah termasuk dalam kategori tak terpuji, berada dalam zona bahaya alias mesti dihindari pula.

Dalam ungkapan lain, kesombongan orang miskin jenis kedua itu adalah sebagaimana sering kita ucap dan lakukan: biar nggak punya asal bangga (sehingga tampak bengah)––sebagaimana terungkap dari postingan seorang sohib blogger (MT) “Bangga walau Benga”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI), “bengah” termasuk kata kuno (arkais) yang dapat bermakna sombong, angkuh, congkak, pongah, jemawa, tinggi hati, besar cakap/mulut. Adapun “benga” yang tak tercantum dalam KBBI maupun TBI merupakan kata slang Medan yang berarti bego, bodoh. Namun, agaknya, jika dilihat dari isi postingan MT tadi, baik “bengah” maupun “benga” sama-sama mengacu pada perilaku yang suka besar cakap membangga-banggakan sesuatu (meski bukan kepunyaan sendiri) sehingga tampak bodoh (benga) dan sombong (bengah).

Untuk mudahnya, saya kutip saja sepenggal ilustrasi dari postingan MT. Suatu pagi dia berada dalam sebuah angkot menuju terminal. Dua penumpang di depannya asyik berbicara. Yang satu membanggakan kehebatan handphone (HP) kakaknya yang memiliki fasilitas terkini. Temannya menjelaskan fungsi BlackBerry (BB), fasilitas yang membedakannya dengan handset lain, dan tentang provider yang menyediakan paket paling murah. Ia menjelaskan perihal BB milik saudara sepupunya sambil menggenggam HP monokrom yang bentuknya seperti ulekan mini di tangan kirinya. MT pun tersenyum melihat mereka. Bukan tentang handset yang mereka reviu, tapi soal membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya.

Ya, “kesombongan” jenis demikianlah yang dominan diungkapkan dalam buku Miskin tapi Sombong: Kisah-Kisah Menggelitik Wong Cilik karya Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan (Penerbit Ufuk Press, Jakarta, Cet. I April 2009). Salah satu fiksi mini dalam buku ini memang bertajuk “Miskin tapi Sombong” yang lalu dijadikan sebagai judul utama buku ini. Isinya berupa kisah seorang lelaki yang hendak datang ke reuni bersama istri dengan “mati-matian” mempertahankan gengsi meski kantong tak cukup berisi. Ia memaksa diri naik taksi meski sang istri telah mengingatkannya dengan bijak bestari. Ternyata di dalam taksi cuma putaran argo yang terus ia awasi. Lantaran macet tak bisa dihindari, sedangkan argo terus berlari, terpaksa turunlah mereka dari taksi (dengan dalih malu pada sang sopir mau belanja dulu) dan jalan kaki. Padahal jarak masih menyita waktu, tempat reuni masih satu kiloan. Tak pelak, mereka sampai di tujuan dengan ngos-ngosan. Saat seorang teman bertanya serasa melihat mereka di tikungan, si lelaki bilang terpaksa meninggalkan Mercy-nya di bengkel langganan. Huahaha, padahal belum tentu ongkos mereka cukup buat pulang.

miskinsombong

Judul buku ini memang bisa mengelirukan perkiraan orang sebagaimana diakui oleh Jaya Suprana sang pakar empunya kelirumologi yang menuliskan kata pengantar untuk buku ini. Paling tidak ada yang langsung merujuknya pada pengertian sebagaimana dalam hadis Nabi tadi, termasuk saya. Namun, alhamdulillah, saya tersesat ke jalan yang benar. Sebagai orang awam penggagas awamologi, saya tak sampai dibuat kecewa oleh iming-iming gagasan “kemiskinan wong cilik” (sebagai bagian keawaman) dari buku ini. Memang, tak semua isinya melulu mengungkap yang miskin-miskin dan yang sombong-sombong dalam pengertiannya sebagaimana telah diuraikan. Secara keseluruhan, isi buku ini merupakan ramuan humor, materi cerita koran kuning, dan warna-warni kisah kaum kelas bawah yang diungkapkan dalam bentuk puisi atau cerita mini. Namun, sebagaimana diakui oleh seorang pemberi endorsement Rita T. Budiarti, penulis Di Balik Layar Laskar Pelangi, Bung Kelinci (sang penulis buku ini) mampu memotret realitas sosial layaknya judul headline koran kuning yang berhuruf tebal dan merah dengan cara yang berbeda, langka tapi nyata. Karena itu, isinya tidak lagi “kuning” yang memperbodoh syahwat, tetapi sebaliknya mampu memperbijak naluri rendah kita itu. Paling tidak, cerita-cerita yang terpapar dalam buku ini mampu mengaktifkan pikiran kita, suatu mekanisme yang dapat menjadi modal pengendali nafsu dan emosi kita. Kita jadi disadarkan untuk tidak main embat tanpa pertimbangan nalar sehat.

Simak ini, “Tanah Merah” (hlm. 19–20). Kisah yang diungkapkan dalam bentuk puisi ini dibuka dengan larik-larik berikut: “\\Di pemakaman istrimu\wajahmu kelihatan mengelabu\roman getir menerima salam duka\mulai keluarga dan tetangga\sampai kenalan dan rekan sekerja\…sempat limbung tubuhmu\nampak tak kuat menahan pilu\”. Dari paparan itu, kita pun jadi trenyuh ikut terharu hingga kemudian kisah berlanjut dengan “\lalu datang Jeng Titi\tubuh sintal gitar mahoni\janda cerai mati Kang Husni\sahabatmu di es-em-pe negeri\di balik kerudung hitam tak bisa sembunyi\dua bibir penuh nan manis\dalam polesan lipstick Prancis\’Turut berduka cita, Mas Arman.’\’Terimakasih, Titi Sofyan.’\”. Hemm, mulai terendus gelagat “bahaya” nih. Yap, kita lanjut saja: “\yang lain luput memperhatikan\ada yang bersetuju di hati kalian\belum kering itu gundukan tanah merah\tak sabar hendak kau pagut bibir merekah\\”.

Lalu, satu kisah yang menurut saya paling “mengusik” sisi keawaman (awamologi) adalah ini: “Jablai Sejati” (hlm. 16–18). “\\Kuberitahu kau kini\tentang siapa sebenarnya jablai sejati:\kilau bening mata-mata kecil anak-anak panti\yang menyambutmu sepenuh hati\langkah-langkah mungil terhuyung menghampiri\mengulurkan tangan dengan tatapan kosong\berharap kau sudi ‘tuk menggendong\\…\\Anak-anak panti\adalah jablai sejati\jarang dibelai dalam arti hakiki\…\\Ayolah, ayolah…..\lakukan sesuatu mumpung harimu masih cerah\bukankah kepada mereka kita wajib bersedekah?\atau kau hanyut dalam aneka kenduri duniawiyah?\atau kau menganggap ini cuma fardhu kifayah?\kalau begitu kau ini memang payah!\\….”