Astagfirullahalazim. Aku nyata-nyata masih hidup, tetapi tak tahu apakah aku memahami hidup. Saat kata-kata ini dituliskan, aku hanya sedang mencoba berpikir dan berupaya menjawab segenap pertanyaan yang nongol begitu saja tanpa diminta atau sekadar menuliskan apa yang aku rasakan. Atau, entahlah, kucoba menuliskannya saja.

Tuhan? Insya Allah aku termasuk orang yang meyakini keberadaan dan kekuasaan-Nya. Lembaga agama yang menampung keyakinanku itu bernama Islam. Tapi, aku rasa hidup tak sesederhana itu meski kita mestinya tetap dapat berpikir sederhana. Lalu, di mana letak ketidaksederhanaan itu? Apakah itu ada dalam diriku saja, dalam pikiran dan kalbuku? Atau itu ada pada orang-orang lain, pada keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, perusahaan, masyarakat pada umumnya, pemerintah, dll?

Ya, aku ingin sekadar hidup layak, tapi kok susah. Apa karena aku yang bodoh, malas atau karena lingkungan yang tak peduli? Atau karena gabungan berbagai unsur internal maupun eksternal? Lalu, jika dipersentase, unsur mana yang lebih dominan? Jika unsur luar yang lebih berperan, apa aku cukup menanti pergantian pemimpin dalam Pilpres 2009 saja yang semua kandidatnya menjanjikan kesejahteraan rakyat?

Ah, entahlah. Sebagai pribadi, tentu saja, seberapa pun sedikitnya, aku tetap berupaya mandiri meski harus tahan hidup prihatin. Tapi, jangan-jangan malah negara yang nggak mandiri, amat tergantung pada pihak lain, pada bantuan dan pinjaman pihak asing. Padahal, konon, negeriku subur. Kok, pesawat TNI saja kuno-kuno dan amat sering tertimpa kecelakaan yang bikin hati hancur lebur? Kok, orang-orang saling ribut soal utang negara yang tak kunjung menyusut, bahkan BLT saja berkomponen utang?

Namun, jangan khawatir. Di negeriku ini banyak orang kaya raya kok. Biarpun krisis, mobil sport Ferrari terbaru berharga sampai 5 miliar pun langsung 8 terpesan. Eits, orang awam dilarang nyengir pertanda iri hati! Cukup menelan ludah saja.

Mohon maaf buat yang belum nikah. Soalnya, kala beban pikiran mulai mendekati zona merah alias berada di ambang batas kekuatan, aku kerap melampiaskannya kepada keluarga. Kepada anak-anak dan istri. Bukan aku marah-marahi, tapi aku mesrai. Hehehe, jangan ngiri yang masih hidup sendiri.

Betulkan semulus itu? Tak ada konflik?

Ya, ada-lah. Pastilah ada marah-marahnya. Sering malah. Tapi, alhamdulillah, di balik tiap bentrok, aku masih bisa berkatarsis (halah, istilah apa ini) dalam surga kasih sayang bersama anak-anak dan istri.

Sayangnya, setiap kali keluar dari “pintu surga”, karena memang surga dunia itu tak bisa dinikmati lama-lama (mungkin karena dunia bukan wujud yang kekal), angin neraka kerap bertiup menyambut. Memang, ada kalanya bisa langsung kutepis. Tapi, sering pula amat mengganggu kenyamanan. Bahkan, kerap ada yang menghanguskan bagian-bagian dari diri kami.

Ya, angin neraka itu kerap menyambar kami bersama soal-soal bernama harta. Lain kali ia datang bersama makhluk bernama seks. Sekonyong-konyong pula ia bisa nongol lewat iklan rokok di televisi, lalu melebar dengan menyeret sesosok peran wanita (lewat pemicu bintang iklannya), seks pun dibawa-bawa-serta, dan seterusnya. (Bersambung).

*Keterangan tambahan:

Aku berharap ada yang sudi berbagi komentar atas curhatku ini. Untuk lima komentator pertama, aku memberi bonus award yang pernah kuterima atau paling tidak namaku ikut disebut di dalamnya. Ada tiga. Yang pertama dan terbaru aku dapat secara estafet dari Mas Apria-Omblog.   Dua sebelumnya aku peroleh estafet juga dari Mas M. Shodiq Mustika dan  Mas RCO via blogspotku. Yah, aku baru bisa kasih tiga bonus itu buat kalian teman-teman. Gak papa ya.