Salah satu yang lagi beken hari-hari ini adalah sosok misterius Mbah Surip dengan lagu “Tak Gendong”-nya yang menjadi lagu tema iklan produk operator seluler. Tak tahu apakah produk yang diiklankan itu jadi tambah laku atau tidak, tetapi sang bintang iklannya langsung tenar.

Aku rasa tak ada formula pasti untuk mendapatkan ketenaran. Ia bisa mendadak sontak kita dapat dan bisa pula langsung lenyap. Mungkin kita masih ingat ingar-bingar Manohara. Bisa jadi juga perempuan belia itu masih akan lama menikmati kebekenan dengan berbekal kisah pilu dan reaksi latah sebagian dari kita yang antara lain menyinetronkan kisahnya, baik yang akan diperani oleh Mano sendiri maupun yang dibintangi artis-artis lain. Namun, biasanya, yang instan tidak lama bertahan. Beberapa nama produk kontes idola di TV misalnya cuma bisa menikmati “kedahsyatan ketenaran” nyaris hanya pada momen pengumuman pemenang. Segera setelah itu, mereka lenyap ditelan waktu.

Lalu, faktor apa yang sanggup membikin tenar Mbah Surip lewat lagu “Tak Gendong”-nya? Aku tak dapat mantap menjawab dan tak harus memaksakan diri memberikan jawaban. Namun, aku mendapati bahwa ternyata “mbah” kita satu ini bukan termasuk jenis yang instan. Ia atau bahkan semestinya “beliau”, ternyata, bukan termasuk jenis yang instan. Ia sudah lama berkarya dan berkiprah di dunianya, dunia yang menjadi pilihan hidupnya. Maka, tak aneh buatku saat dia dapat memikat semua orang yang secara langsung menyaksikannya ketika sebuah stasiun TV swasta, Jumat (19/6), menampilkannya. Para artis semisal Cathy Sharon, Indra Bekti, serta si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata pun dibuatnya kesengsem.

Mbah di TV

Mbah di TV

Bagi mereka yang biasa bersinggungan dengan komunitas seniman di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta mungkin nggak aneh lagi dengan sosok satu ini. Ia memang antara lain sering muncul dan mangkal di kedua tempat itu. Aku sendiri baru satu kali secara langsung menyimak sosok dan penampilan Mbah Surip Jumat pekan kedua Mei 2009 pada acara Kenduri Cinta (KC) di TIM. Soal KC yang merupakan acara rutin bulanan tiap Jumat minggu kedua ini sebelumnya pernah aku tulis . Hanya saja ketika itu soal Mbah Surip tidak sempat aku singgung. Bukan karena saat itu iklannya belum nongol di TV yang kini membuatnya beken. Itu semata-mata karena fokus tulisan/postinganku ketika itu “tidak memungkinkan” untuk menampilkannya. Padahal ia menjadi salah satu bintang acara KC saat itu meski ia tampil bukan pada “prime time”, sebatas sebagai pengisi “check sound” dan penyeling kala para pembicara utama (Emha Ainun Nadjib dkk) serta audiens penat. Mungkin juga pada setiap KC ia jadi bintang (karena memang baru sekali itu pula aku lihat). Namun, harus diakui ia menjadi penyegar dan pengaya suasana.

Ketawa “hah hah hah hah”-nya yang khas, ungkapan “I love you full”-nya yang ternyata legendaris, dan syair-syair lagunya yang kocak membuatnya pantas mendapatkan apresiasi lebih. Aku ingat ketika dini hari itu ia maju kembali ke panggung menyelingi acara saat Emha dkk istirahat, ia menjadi semacam kopi hangat yang mampu menyegarkan stamina. Kebetulan, kopi juga menjadi salah satu “nyawa”-nya selain rokok. Konon, ia mampu bergelas-gelas menghabiskan kopi dan menandaskan tiga bungkusan rokok per hari. Sebuah penikmatan “seruput buss” khasnya yang terus mempertahankan kreativitasnya.

Ia tampak sangat menguasai panggung dan audiens serta jago berimprovisasi. Bisa jadi karena jam terbangnya yang sudah sangat tinggi atau bahkan telah menjadi seperti hidupnya sehari-hari. Ia menjadi sangat komunikatif dengan audiens. Sambil menyanyi, ia bisa langsung merespons celetukan penonton melalui penampilannya dan tiba-tiba bereaksi kala melihat ada salah seorang hadirin membawa segelas kopi. Ia berhasil memaksanya merelakan kopi itu diseruputnya, hah hah hah hah.

Dalam hal improvisasi berlirik dan bermusik, Mbah Surip bahkan mampu “mengalahkan” Dick Doang yang kala itu menjadi pemberi hiburan utama (menyanyi dan bermusik) bersama anak-anak asuhnya. Saat tampil bareng menyanyi dengan saling menimpali secara spontan, Dick agak sedikit tergagap seperti harus berpikir dulu, tetapi Mbah Surip tampak mulus-mulus saja dengan kekocakannya.

Ketika pada rehat selingan itu ada seorang ibu yang tampil membacakan puisinya dan meminta iringan dari Mbah Surip dkk, suasana jadi tetap menggairahkan meski agaknya pembacaan puisi itu sedikit bikin kening berkerut. Apalagi ketika si Mbah kejatuhan rezeki selembar uang 50 ribuan yang dilemparkan sang ibu pembaca puisi dalam ekspresi pembacaannya, kekocakan pun pecahlah. Mbah tampak begitu gesit memungut uang itu. “Lumayan, 50 ribu,” ucap Mbah seusai pembacaan puisi.

Sungguh, melihat Mbah Surip dengan aksinya adalah seperti melihat dan merasakan keceriaan, kedamaian, serta kebahagiaan dalam rupa yang bersahaja. Ia tetap perlu duit seperti kesigapannya menyambar uang 50 ribuan itu, tapi sama sekali ia tak tampak mata duitan.

Sebelum iklan yang dibintanginya meledakkan ketenarannya, ia hanyalah seorang seniman jalanan dengan (menurutku) isi dompet yang pas-pasan saja, padahal album rekaman telah banyak ia hasilkan. Di antaranya (sebagaimana dikutip dari sini dan siniIjo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003), Barang Baru (2004). Jadi, lagu “Tak Gendong” itu merupakan karya lama. Barangkali industri rekaman sejak 1997 itu kurang serius mempromosikan Mbah Surip sehingga baru sekarang ini ia menuai ganjaran setimpal.

Namun, aku percaya senang-susah, kaya-pas-pasan, atau beken-gurem tidak akan mengubah “keistiqamahan” pribadi Mbah Surip. Tak salah kiranya bila seorang Emha Ainun Nadjib mengatakan sosok Mbah Surip merupakan gambaran “manusia Indonesia sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa; meskipun sering diledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa, tidak pernah dendam atau membalas ledekan tersebut.

Menurutku, kualitas “kesejatian” itu dimungkinkan karena Mbah Surip tak termasuk dalam kategori “jiwa-jiwa instan”. Ia merupakan sosok yang matang oleh tempaan hidup. Simak misalnya betapa di balik penampilannya yang bersahaja, perjalanan hidup lelaki yang di KTP-nya tertulis bernama Urip Aryanto kelahiran Mojokerto 1963 ini (seperti yang disebut di sini dan sini terbilang kaya warna sebagaimana dikisahkan Mas Jodhiyudono.

Mbah saat muda

Mbah saat muda

Mbah Surip ternyata pernah menjadi pekerja di perusahaan pengeboran minyak (1975–1986). Pada saat itu, ia pun sempat singgah di Texas, Brunei, Singapura, dan tempat-tempat penghasil minyak lain.
Ia juga pernah menghabiskan dua celana saat naik sepeda dari Mojokerto menuju Jakarta pada akhir tahun 80-an. Tujuannya cuma satu, ingin menantang panco petinju Ellias Pical. Sayang, niatnya itu tak kesampaian. Alhasil, ia terdampar di Bulungan. Hidup bersama para seniman. Berbagai cabang kesenian pun ia geluti, mulai dari teater, lukis hingga menyanyi. Waktu akhirnya menjawab, Mbah Surip ternyata memilih nyanyi sebagai jalan hidupnya kini.

Untuk ukuran seorang penyanyi, sebagaimana diutarakan Mas Jodhi, prestasinya menelurkan sekurang-kurangnya lima album itu tentu cukup meyakinkan. Namun, apa boleh buat, industri rekaman negeri ini nyatanya lebih memilih artis-artis “wangi” ketimbang memilih Mbah Surip yang cuma beraroma parfum murahan dan wangi rinso yang meruap dari rambutnya nan gimbal sehabis keramas tiga hari sekali. Lagipula, nyatanya, penikmat musik negeri ini lebih suka mendengar kecengengan-kecengengan hidup ketimbang syair-syair lagu milik Mbah Surip yang telanjang dan bersahaja.

Untuk urusan syair lagu dan tafsirnya dari sosok Mbah Surip, tulisan Mas Ray Asmoro agaknya juga dapat mewakili meski tentu tak lepas dari subjektivitas dirinya.

Menurutnya, Mbah Surip yang pertama kali dikenalnya pada akhir 2002 ketika dia menjadi ketua panitia event “Menjemput Tahun Tanpa Kekerasan” yang diadakan oleh Jaringan Pekerja Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), kemudian makin sering diakrabinya kala secara rutin tampil di acara KC (Kenduri Cinta) di TIM, merupakan sosok yang periang. Ia selalu menghadirkan kegembiraan dalam setiap tarikan napasnya. Bahkan ia tidak sakit hati terhadap setiap olok-olok yang ditujukan kepadanya. Semua ditanggapi dengan tawa, hah..hah..hah..hah…. Malah lalu ia akan katakan, ”I love you full… hah..hah..hah..hah….” Lebih jauh menurut Mas Ray, Mbah Surip merupakan manusia yang selalu diliputi cinta, bahkan ia menjelma cinta. Seharusnya lebih banyak lagi manusia seperti Mbah Surip itu di negeri ini, manusia yang penuh cinta. Memandang segala sesuatu bukan berdasarkan nafsu dan kepentingan pribadi semata, tetapi memandang dan memperlakukan segalanya dengan sesuatu yang paling hakiki: cinta. Dialah pejuang cinta, manusia cinta. Hah..hah..hah..hah… I love you full!

Lagu-lagu Mbah Surip begitu spontan dan sederhana, tetapi selalu kontekstual dan mengena. Coba simak syair lagu “Tak Gendong” itu (yang aku kutip lengkap dari sumber lain ini atau bisa juga dicari di http://liriklaguindonesia.net):

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. ke mana

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha…ha…

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taksi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. mau ke mana

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

// Ha.. ha…

Tak gendong ke mana-mana
Enak tau
Ha.. ha…
Ha.. ha…
Ha.. ha……

Capek…..



Dalam lagu itu, menurut Mas Ray, tergambar betapa Mbah Surip menyediakan dirinya untuk “menggendong”, menolong yang lemah dan butuh tumpangan, membantu yang jatuh, mengangkat yang nista, untuk kemudian memanusiakannya.

Simak juga syair lagu Mbah Surip berikut (“Bangun Tidur”):
Hey bangun kerja
Ha ha ha ha ha
Ha ha ha ha ha
Ok I love you full

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Barang siapa yang ingin hidup
Awet muda, bahagia di dunia ini
Kurangi tidur banyakin ngopi
Ha ha ha ha
I love you full

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi
Bangun lagi tidur lagi
Bangun… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi
Jangan lupa senam pagi
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha
Kalau lupa… tidur lagi
Ha ha ha ha



Ini sebuah sindiran tentang “kita” yang terlelap dalam tidur berkepanjangan. Seharusnya kita sudah bangkit dan berbuat sesuatu yang berguna, tetapi kita memilih tidur.

Mbah Surip menyadari sepenuhnya bahwa perubahan tidak akan tercipta dengan kemalasan, sedangkan kemalasan telah menjadi karib kita. Mbah Surip gelisah. Namun tetap saja di akhir lagu ia tertawa, hah..hah..hah..hah… I love you full…!

Akun FB Mbah ada lho: id-id.facebook.com/people/Mbah-Surip/1067065967

Akun FB Mbah ada lho: id-id.facebook.com/people/Mbah-Surip/1067065967