Kematian adalah salah satu momen ketika setiap orang berada pada sisi keawaman, keterbatasan dan ketidakberdayaannya sebagai manusia. Sebuah keniscayaan yang siapa pun tak dapat mengelak. Paling-paling hanya bisa berharap mendapatkan khusnul khatimah.

jacko

Ya, khusnul khatimah, sebuah akhir yang baik, nama yang harum, baik di mata manusia maupun Sang Pencipta. Lantaran setiap nurani manusia mengiyakan harapan atas kebaikan itu, maka pada saat sesama kita kembali kepada Yang Mahakuasa, kita semua pun mestilah mengenang dan mendoakannya dalam segenap kebaikan. Setiap anak manusia layak mendapatkan apresiasi demikian, termasuk Michael “Jacko” Jackson, bukan lantaran kebintangannya, tetapi karena dia manusia.

Namun, sebagai sebuah postingan, tulisan ini bisa jadi pilih kasih. Kenapa kepergian Jacko (Kamis, 25 Juni 2009) yang dipilih jadi pokok renungan, bukan yang lain? Aktris Farrah Fawcett, salah satu bintang dalam serial televisi Charlie’s Angels, pun meninggal hanya terpaut beberapa jam dengan berpulangnya Jacko. Atau kematian seorang Neda di Iran, korban demonstrasi pascapemilu yang menimbulkan kontroversi politis (lihat misalnya analisis lain yang berbeda dengan media mainstream/Barat di sini). Bisa juga kematian siapa pun, orang pinggiran yang mungkin tak kita kenal, apakah kalah berarti dibandingkan dengan meninggalnya Jacko?

Ah, tentu saja tidak begitu. Tak ada kematian yang tak menyedihkan, yang menumpahkan duka-lara mengiris-iris kalbu dan jiwa. Seorang Rasulullah SAW pun tak kuasa menahan duka mendalam ditinggal orang-orang yang dikasihinya sampai-sampai Allah turun tangan menghiburnya dengan perjalanan Israk-Mikraj.

Tentu saja, selain karena keawaman diriku dengan segenap impuls pribadi, pilihan memperbincangkan perihal Jacko dengan kematiannya itu pun buah dari ketidakmampuan diri ini mengelak dari “hukum media massa”. Media telah menjadikan kematian Jacko hanya dapat diperbandingkan (setaraf) dengan kematian Elvis Presley, John Lennon, dan Lady Diana. Padahal, sebagaimana telah disebut, semua kematian meninggalkan efek yang sama, kesedihan mendalam bagi mereka yang ditinggalkan, yang masih memiliki tautan kasih.

Oleh sebab itu, pilihan atas Jacko terutama agar semakin banyak dari kita bisa bertakziah, mengingat akan kematian hingga bertaut dengan Sang Penggenggam Ajal. Kematian adalah pintu akhir bagi semua yang hidup (manusia) untuk melepaskan diri dari segenap kelemahan, keterbatasan diri, dan dosa-dosa kekhilaf-alpaan, memasrahkannya kepada Sang Kuasa. Kematian bisa menjadi sarana pensucian diri. Jacko pun berhak atas itu semua, seberapa pun persentase haknya.

Lihatlah, di segenap penjuru dunia, mereka yang merasa memiliki “ikatan moril” dengan Jacko telah secara tulus memaklumi “hitam-putih” sang bintang lantaran tak ada manusia yang sempurna, memberinya maaf atas segala kekhilafan, mengiriminya rasa kasih dan doa-doa terpilih.

Sisi hitam dan putih, buruk-baik, kekurangan dan kelebihan adalah dua sisi yang selalu ada dalam diri manusia. Mengagung-agungkan kelebihan sama buruknya dengan mengusik-usik kelemahan. Dua-duanya berpotensi menumpulkan nurani, akal sehat. Kalaulah kelebihan disebut-sebut, itu hendaklah ditujukan untuk memicu kebaikan, menularkannya kepada orang lain, paling tidak memacu mereka untuk ikut maju. Sebaliknya, bila kekurangan dirunut dan diberitakan, itu mestilah dimaksudkan sebagai cermin, pemerkokoh pemahaman atas keterbatasan diri, lalu mengikatkannya pada tambatan Illahi (laakhaula walaaquwwata illa billah).

Bisa jadi benar, Jacko kehilangan masa kecilnya. Lalu, setelah menggapai kemasyhuran, ia tetap tak dapat mendapatkan gantinya. Wujud fisik Neverland yang diciptakan untuk menjelmakan mimpinya atas kebahagiaan masa kanak-kanak, dengan memerankan diri sebagai Peter Pan yang tak mau berubah menjadi manusia dewasa rupanya harus terlepas jua dari genggamannya. Ranch mewah itu mesti dijual akibat sekian masalah yang membelitnya, termasuk masalah keuangan.

Ah, Jacko. Boleh jadi, hingga tutup usiamu, kau tetap merana. Namun, bukankah pada hakikatnya, walaupun dalam sebuah kematian massal, kita sebenarnya mati sendiri-sendiri, mempertanggungjawabkan usia hidup kita sendiri?

Jacko, aku tahu, kau pasti tak kenal Obbie Messakh. Dalam sebuah syair lagunya, Obbie menuliskan, “…dan mati pun kita sendiri.” Namun, aku yakin, Obbie dan sekian banyak warga dunia, termasuk diriku, tahu bahwa kaulah yang menciptakan syair-lagu “Heal The World”. Maka, kami semua menjadi saksi bahwa seberapa pun kecilnya, kau telah berandil dalam upaya menyembuhkan dunia yang sering sakit, bahkan hingga kini pun masih sakit. Kau nyata-nyata telah turut berupaya agar masa depan dunia menjadi lebih baik. “Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race….” Ya, heal the world  for a better future.

Updated (3 Juli 2009):

Jacko Thanks to Allah

Hingga hari ini, belum jua pasti pemakaman Jacko. Tentu saja dari segi agama, tidak baik berlama-lama “membiarkan” jasadnya telantar. Terlepas dari dia akan dikuburkan secara muslim atau dengan tata cara yang lain, mestinya lebih baik segera memakamkannya. Toh, pada akhirnya Jacko sendiri yang akan menghadapi mahkamah Illahi. Sebab itu, yang lebih penting kita “saksikan” adalah pengakuan dia atas Tuhannya, terlepas dia dilabeli muslim atau yang lain.

Berikut ini sepenggal lirik pengakuan Jacko dalam syair lagu “Give Thanks to Allah” yang dinyanyikannya bersama Zain Bhikha*:

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full*,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

*Pada bagian ini (prays in all day full)ada juga versi revisinya:
praise him all day for.  Syair lagu tadi aku kutip dari sini dan info revisinya dari sini. Versi mp3-nya dapat diunduh di sini.

Demikianlah, kiranya Jacko telah “menjawab” saran Emha Ainun Nadjib (dalam puisi Maiyah Manembah) untuk segera melakukan pengakuan. Berikut ini aku kutipkan ungkapan Emha itu (dari bait V saja) yang kuambil dari sini.

Kalau di dalam kepalamu terdapat akal
Kalau engkau mempekerjakan pikiran sehingga engkau mengerti
bahwa engkau tidak sanggup menciptakan dirimu sendiri
bahwa engkau tidak sanggup menghidupkan jantungmu sendiri
tidak sanggup menggenggam dan menjaga nyawamu sendiri
tidak sanggup menumbuhkan barang sehelai rambutmu sendiri
tidak sanggup meramu barang setetes dari darahmu sendiri
tidak sanggup menguasai nasibmu sendiri
tidak sanggup mengetahui kapan engkau mati
Sebelum tiba sesuatu yang melumpuhkan kakimu
Sebelum tiba kejadian yang mengagetkan otakmu
Sebelum tiba peristiwa yang membuntu arah langkahmu
Sebelum tiba waqi’ah yang menggelapkan hidupmu
bersegeralah mengucapkan pengakuan

***

*Koreksi (5 Juli 2009):

Mohon maaf, ternyata lagu “Give Thanks to Allah” ini bukan lagu Jacko dan dia tak menyanyikannya. Memang, suara penyanyinya rada mirip dengan suara Jacko dengan intonasi bahasa Arab/istilah agama yang terbilang fasih. Semula aku menemukan sepotong koreksian di sini (sebagai berikut):

Submitted by Waleed from Egypt, Jan 7, 2006 03:23

I am sending this as a correction to the message I sent previously. The song “Give Thanks to Allah” is not sung by Michael Jackson, but by a singer called Zain Bhikha. It was included in an album called “Towards the Light” for this singer, and in another called “Bismillah” by Yusuf Islam, which dates back to 2001. The album “Bismillah” is present on Amazon and the single is in there, for those who want to verify.

Yang lebih valid tentu pengakuan Zain Bhikha sendiri dalam blognya di myspace. Katanya, “So, to clarify, Micheal Jackson never sang this song. I wrote and recorded ‘Give Thanks to Allah’ as a simple childrens song many years ago and it has been released on various independant albums since,” yang selengkapnya bisa di baca diblognya itu.