Ketika satu orang baik meninggal, dunia pun muram dibuatnya. Kala si durjana meninggal, dunia pun lega. Namun, bagi orang-orang terdekat, kematian siapa pun tetaplah meninggalkan kesedihan mendalam.
Masalahnya, kematian adalah keniscayaan bagi semua makhluk hidup. Hakikatnya, setiap kita tinggal tunggu waktunya. Maka, setiap kematian mestilah menjadi pengingat setiap diri ini untuk selalu bersiap-siap. Termasuk bersiap-siap, bagi yang ditinggalkan, untuk mengelola kesedihan agar tidak berlarut-larut.
Ah, itu kan omongan orang yang masih hidup, orang yang belum merasakan kehilangan orang-orang terdekat. Continue reading
Tuhan (dengan T besar dan tanpa tanda kutip) di balik jeruji. Itu kenyataannya, bukan “Tuhan” atau tuhan. Sebab, mestinya, tuhan-lah yang kita kerangkeng atau lebih baik lagi kita lenyapkan. Bukankah kita ini sekadar hamba Tuhan yang kalaupun punya kedudukan tinggi, tak kurang dan tak lebih hanyalah sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini? Jadi, tak layaklah kita menuhan-nuhankan diri. Namun, kenyataannya? Continue reading
Kadang aku merasa telah mampu merancang-rancang wacana untuk menghadapi batas usia yang sewaktu-waktu tiba. Begitu juga bila istri atau anak-anak yang lebih dulu sampai ke sana.