archives

Calon Penghuni Surga

This category contains 8 posts

Kepasrahan Amva Berbuah Produktivitas Karya

Diriku dan Amva

Diriku dan Amva

Aku kira tamu kita kali ini pantas diteladani. Paling tidak, ia pahlawan terbaruku, pelipur lara penggerak jiwa kaum awam, cocok dengan nilai-nilai keawaman, awamologi.

Lho, bicara apa ini?

Ya, awamologi memang berangkat dari kesadaran atas keawaman, keterbatasan atau kelemahan diri. Lalu dari sana kita bergerak, sesuai dengan kedirian atau kemampuan diri masing-masing, menggapai cita-cita.

Nah, tamu kita ini, Masriyah Amva, pun demikian. Setelah melalui banjir peluh dan air mata mencurhatkan galau kelemahan diri kepada Sang Kekasih, kini dia menuai produktivitas karya. Dalam rentang waktu yang hanya tiga tahunan hingga 2009 ini, Amwa telah menulis tidak kurang dari lima buku. Di antaranya ada tiga buku kumpulan puisi dan satu buku prosa (nonfiksi). Buku-buku puisinya adalah Ketika Aku Gila Cinta (2007), Setumpuk Surat Cinta (2008), dan Ingin Dimabuk Asmara (2009). Ketiganya diterbitkan oleh Nuansa Cendekia yang juga menerbitkan buku nonfiksi (memoar) Amva, Cara Mudah Menggapai Impian (2008). Ia juga sedang menulis buku bertema “Matematika Allah” dan “Umrah Tiap Tahun”. Satu bukunya lagi tengah dalam proses cetak di Mizan, yaitu “Cara si Miskin Naik Haji”. Padahal, ia seorang nyai* (sebutan untuk pengasuh pondok pesantren perempuan) yang pasti sibuk mengurus santri-santrinya. Ia juga seorang janda, orang tua tunggal, yang tentu menanggung beban yang tidak ringan lantaran mesti berjibaku sendirian.

Tidak cukup satu atau dua paragraf untuk memaparkan sederet masalah dan keterbatasan diri Amva dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan kehidupannya. Khususnya dalam sisi batin. Sebagai perempuan, ia sempat dilanda konflik nurani kala cinta insaniahnya kepada lelaki mesti berhadapan dengan realitas sosial sehingga ia mesti memilih untuk menuruti ego cinta dirinya atau melandaskan segenap rasa itu pada cinta Ilahiah? Ini suatu hal yang sulit untuk direalisasi, dilematis. Riwayat hidupnya yang secara kasatmata tampak memiliki keunggulan pun semisal sebagai anak kiai, bersuamikan kiai, dan sempat lama hidup di luar negeri (Tunisia) tidak mampu menolong sejuta keterbatasan Amva sebagaimana diakuinya sendiri.

“Sebagai perempuan, istri, dan ibu dari anak-anak, aku mempunyai kekurangan dan kelemahan yang begitu banyak. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan sebagai ibu, istri, dan perempuan. Aku tidak bisa memasak, pemalas, selalu bangun siang, keras kepala, sulit makan, (suka) pergi ke restoran, hobi belanja, jalan-jalan, pemboros dan lain-lain.” (Cara Mudah Menggapai Impian/CMMI, hlm. 7)

Semua itu tentu membuat Amva mesti mencari penopang agar hidupnya menjadi ringan. Ia pun mengomunikasikannya kepada orang lain dan berharap orang lain akan bisa memahami dan membantunya. Katakanlah ia mesti mencari sosok yang baik, kuat, dan kaya. Namun, tentu saja, sebagaimana yang sudah sama-sama kita maklumi bahwa tidak mudah memperoleh kecocokan dan kekokohan topangan orang lain meski itu dari keluarga dan orang-orang terdekat. Bukan tidak mungkin kita justru menuai respons negatif berupa ketiadaan simpati, caci maki atau sekadar iri hati. Bahkan kalaupun orang-orang lain itu baik-baik semua, kekurangan pastilah ada. Jadi, bersandar kepada sesama manusia tetaplah rapuh.

Alhamdulillah, setelah melewati perjalanan yang panjang, bahkan amat panjang (dalam ukuran rentang waktu pergulatan batin tentu saja), akhirnya Amva menemukan “sosok” yang luar biasa, maha-luar biasa. Dialah Allah SWT. Ternyata segenap kelemahan yang kerap dia kutuk dan sesali memberi hikmah yang besar dan bisa dijadikan tangga untuk menggapai kekuatan diri dari Sang Kuasa. “Kelemahan dan kekuranganku itu ternyata berjasa dalam mengenalkanku dengan Sang Pencipta. Dan di sanalah aku ‘bertemu’ Tuhanku.” (CMMI, hlm. 9)

Berikut ini aku akhiri tulisanku dengan mengutip salah satu puisi Amva yang kiranya dapat mewakili uraianku itu, menyarikan proses penemuan Amva pada Tuhan. Dengan ini pula mudah-mudahan semua saudaraku sesama orang awam (termasuk aku sendiri) takkan pernah tercetus dalam hatinya rasa putus asa karena kita telah memiliki tempat berpasrah diri yang sejati: Sang Maha Kuasa.

AKU MENGENALMU

Sejuta tanya kulontarkan

Sejuta tangis histeris mengiris

Namun Engkau tetap diam

Membiarkanku didera cercaan

Kau cipta aku dengan kekurangan

Kau cipta aku dengan kelemahan

Kutanya mengapa?

Namun Engkau selalu diam.

Engkau terus bersembunyi

Walau aku terus mencari

Kau selalu membiarkanku

Terus dilecehkan dan dinistakan

Aku lelah

Aku jera

Aku benci dengan diriku

Aku bosan dengan mereka

Aku jera dengan semua

Dan di ambang putus asa

Aku pasrah… Aku pasrah…

Namun Dirimu yang selalu kucari

Tetap saja bersembunyi

Lalu…

Kebencian kutinggalkan

Penderitaan kuhancurkan

Rasa penasaran kukubur dalam-dalam

Dan kubiarkan hinaan dan nistaan terus menghantam

Kubiarkan aku tenggelam

Dan terus tenggelam

Lalu aku menyelam

Menyelam…

Terus menyelam

Di dasar lautan itu

Tiba-tiba saja

Engkau menampakkan Dirimu

Betapa…

Aku sangat terkesima

Betapa…

Aku sangat terpana

Sebuah kesadaran baru lalu menjalar-jalar

Sebuah pengakuan baru lalu menyatu

Betapa…

Kini aku tahu

Bahwa Engkau adalah Sang Mahamulia

Dan aku adalah si hina-dina

Bahwa Engkau Sang Mahasempurna

Dan aku adalah si lemah

Di dasar lautan itu

Aku pertama kali mengenal-Mu

Dan aku pertama kali mengenal diriku

(dari buku Ingin Dimabuk Asmara)

*Nyai Hj. Masriyah Amva kini mengasuh hampir 1.000 santri di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islami, Desa Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Perempuan Perkasa Ahli Surga

wanita-perkasa1Aku tak habis pikir jika dunia masih setengah hati mengakui kehebatan perempuan. Lebih-lebih lagi aku nyaris tak percaya bahwa masih ada umat Nabi Muhammad SAW yang menyepelekan perempuan dan bahkan melecehkan perempuan. Buat mereka, hadis “surga di bawah telapak kaki ibu” sudah teramat usang jika tidak malah telah lama mereka buang. Mereka pun mungkin tidak terlalu menggubris bahwa salah satu golongan terbaik yang merupakan kandidat ahli surga adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik terhadap istri.

Yang lalu makin membuktikan keperkasaan perempuan adalah fakta bahwa sebesar apa pun penderitaan yang mereka terima, baik berupa “ujian tak terelakkan dari Tuhan” maupun “kejahilan laki-laki tak pernah henti”, mereka senantiasa memperlihatkan sikap bijak, lapang dada, dan berjiwa besar. Lihat fakta berikut ini.

Inilah balada Wagiyem, 52. Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang mengadu nasib di Jakarta ini menikah dengan penjual mi ayam keliling pada 1977. Mereka bekerja keras. Dalam tiga tahun, suami Wagiyem mempunyai 10 gerobak mi ayam. Tahun 1980 mereka melebarkan usaha ke pembuatan mi dan sukses lagi. Tahun 1984 juragan mi itu kawin lagi, meninggalkan Wagiyem.

Meski begitu, keduanya tetap berpatungan dalam usaha pembuatan mi di rumah mereka yang berdekatan di kampung padat di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tahun 1996 usaha mereka bangkrut akibat merebaknya isu formalin dalam produk makanan. Mantan suami Wagiyem dan istri mudanya pulang ke kampung halaman, Wonogiri. Wagiyem bertahan di Jakarta. Ia membesarkan keempat anaknya dengan melanjutkan usaha pembuatan mi.

Kegigihan Wagiyem tidak sia-sia. Dari produksi yang semula 30 kg mi basah per hari, kini Wagiyem menghasilkan 450 kg. Konsumennya pedagang mi ayam atau mi goreng di kampung Ibu Kota.

Wagiyem bisa menyekolahkan keempat anaknya hingga tiga anak meraih gelar sarjana ekonomi dan seorang sarjana sastra Jepang. Ia bahkan juga menghidupi keluarga mantan suami dan istri mudanya, termasuk membiayai pendidikan anak bekas suaminya dengan mengirim sekitar Rp 5 juta tiap bulan kepada mereka. Ia bahkan memberi bantuan modal kepada bekas suami untuk membuka usaha mi di Wonogiri.

“Setiap kali mantan suami saya minta uang, pasti saya beri,” kata Wagiyem.

Rupanya, jatuh bangun dalam kehidupan dijalani Wagiyem sebagai lakon kehidupan.

“Saya cuma mensyukuri dan menikmati semua ini,” kata Wagiyem.

Balada Wagiyem itu aku kutipkan dari tulisan “Balada Wagiyem dan Perempuan Perkasa” di Kompas (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0704/22/kehidupan/3469199.htm) Minggu, 22 April 2007, dengan sedikit penyesuaian.


wanita-perkasa2

Ini juga kisah perempuan perkasa ahli surga yang aku nukilkan dari kolom “Resonansi” Republika, Jumat, 18 Januari 2008 (via: http://untaianmutiara.multiply.com/reviews/item/24) yang ditulis Zaim Uchrowi berjudul “Perempuan Perkasa”. Memang sih tidak ada unsur “disakiti laki-laki”, tapi tetaplah dia perempuan perkasa sebagaimana disebut dalam judul tulisan Zaim itu.

Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini.

“Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging dengan di beberapa bagian telah menggembung….”

Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali yang terus berpikir keras untuk menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. “Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain.” Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi.

Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik “Hiii….” Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Seusai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari.

Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi.

Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri.

Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya begitu memergoki sang suami berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil jauh dari memadai.

Itulah sepenggal penuturan Zaim. Kata dia, “Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan.”

Lalu Zaim menambahkan, “Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri dan bukan untuk bermanja menikmati (diri) menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami.”

anak3kerjasama

Jika mengikuti kata-kata Zaim, itu berarti para lelaki atau suami mesti mendorong istri, anak-anak perempuan mereka, serta perempuan pada umumnya untuk maju dan menjadi perkasa. Buka terus saja menggencet mereka lantaran tak rela bila mereka menjadi lebih hebat dari kita (laki-laki). Masak kita kalah sama Mao?

Mereka yang Miskin tapi Kaya

tukangbaksoTentu saja orang kaya yang baik hati, dermawan alias pandai bersyukur akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan orang yang miskin meski si miskin ini juga baik hati dan suka menolong. Namun, insya Allah si miskin yang demikian akan jauh lebih memberikan inspirasi bagi orang lain lantaran tidak mudah untuk istiqamah dalam kebaikan, kedermawanan atau kepedulian terhadap sesama pada saat kondisi kita sendiri terbelit keterbatasan.

Jadi, kalau ada orang kaya dermawan, jelas itu bukan sesuatu yang mengherankan. Selain karena memang seharusnya demikian, kedermawanan mereka pun relatif mudah dilakukan. Lha memang harta berlimpah, kan tinggal menjentikkan jari saja untuk mendermakan sebagian darinya. Gak bakalan jadi miskin karena itu, malah agama menjamin jadi tambah berlimpah. Udah gitu, namanya pun makin termasyhur sebagai sosok penderma yang baik hati. Jelas, dengan begitu, mestinya ganjaran yang makin melimpah itu akan memudahkan dia untuk terus istiqamah dalam kebaikan dan kedermawanannya.

Lain halnya dengan orang miskin, rakyat kecil biasa atau orang awam. Mereka jelas lebih susah untuk menolong sesama lantaran diri mereka sendiri sebenarnya masih layak ditolong. Karena itu, jika ada orang-orang dari kalangan ini yang dengan ketulusan dan keikhlasannya mampu menolong orang lain, sanggup untuk istiqamah memberdayakan diri dan sesama, itu jelas sebuah keteladanan yang mengagumkan.

Coba saja simak dua dari mereka ini.

gurungaji

Yang pertama tentang sosok sederhana yang biasa disapa dengan panggilan Mang Endan. Ia orang kebanyakan sehingga sangat boleh jadi kita tidak mengenalnya dan nyaris takkan pernah kita kenal jika saja profilnya tidak muncul dalam reality show di stasiun televisi swasta pada Ramadan 2006 lalu. Ia mendapat kesempatan ibadah haji gratis untuk tahun yang akan datang (2007). Ia juga memperoleh ”hadiah” uang tunai dalam reality show lain dari stasiun televisi berbeda. Lalu, apa keistimewaan dia yang pantas kita apresiasi?

Yang pasti faktor kepribadiannya. Jika kita renungi, hadiah-hadiah yang ia terima itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa ada penyebabnya. Insya Allah semua itu merupakan karunia Allah SWT sebagai balasan atas ketakwaannya yang tecermin dari akhlak dan perilakunya. Sebab, Allah telah berjanji akan memberikan rezeki kepada siapa saja yang Ia kehendaki, melalui pintu yang tidak diduga sebelumnya, sebagaimana yang Ia firmankan dalam QS At-Thalaq: 2–3.

Mang Endan adalah pribadi sederhana. Sosok yang memiliki nama asli Toyibal Ardani ini tinggal di daerah Kabupaten Bogor, di tengah-tengah kampung yang 90% masyarakatnya terkategorikan sebagai warga miskin yang layak mendapatkan dana kompensasi BBM. Memang, ia dikenal warga sebagai ustaz yang terbiasa mengajar ngaji anak-anak dan membimbing pengajian majelis taklim ibu-ibu. Namun, ia tidak pernah meminta bayaran tertentu, semuanya diserahkan pada kemampuan tiap warga binaannya itu. Bahkan tidak sedikit yang tidak mampu memberikan apa pun dalam bentuk materi kepadanya.

Pendek kata, jiwa sosialnya luar biasa. Ia tidak segan-segan membantu tetangganya yang sakit. Jika ada yang meninggal, dialah yang pertama mengurus jenazahnya hingga ke pemakaman, termasuk ikut menggali kubur. Sungguh, dia seorang dai sederhana yang keihklasannya mampu mengayomi masyarakatnya.

Jika ada yang harus ditandaskan lagi dari sisi kepribadiannya, ia merupakan orang yang tidak merasa takut atas rezeki yang bakal didapatnya. Ia selalu merasa yakin akan kebesaran Allah dan selalu merasa cukup atas apa yang telah Allah berikan kepadanya meskipun untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari ia hanya berjualan bubur. Itu dilakukannya selepas salat subuh hingga menjelang waktu zuhur setiap harinya. Sisa harinya kemudian ia habiskan untuk berdakwah kepada masyarakat. Yang mengagumkan, setiap hari ia selalu menabung 5.000 rupiah dengan tujuan agar pada bulan Ramadan ia tidak perlu berjualan bubur sehingga bisa berkonsentrasi penuh untuk ibadah.

Merasa cukup, itulah sikap mental yang dimilikinya, yang patut dijadikan contoh. Sebuah sikap mental yang langka dalam kehidupan yang serbamaterialistis sekarang ini. Seorang tukang bubur dengan seorang istri dan empat anak memiliki perasaan yang demikian luhur. Inilah sesungguhnya makna kaya yang hakiki dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda : “Yang dikatakan kaya itu bukanlah (semata-mata) pada banyaknya harta, tetapi pada kekayaan batin (merasa cukup dengan haknya).” (HR Bukhari-Muslim).

Yang tidak kurang mengagumkan, Mang Endan pun mengembalikan kartu kompensasi BBM yang diterimanya. Alasannya sederhana, ia melihat banyak yang lebih miskin darinya yang tidak mendapatkan kartu tersebut sehingga ia merasa tidak patut memanfaatkannya. Padahal, menurut petugas survei BPS, ia termasuk yang berhak menerimanya.

Luar biasa! Sementara pihak lain berebut untuk mendapatkan dana kompensasi BBM, Mang Endan malah merelakannya buat orang lain. Kerelaan untuk mendahulukan orang lain (itsar) ini merupakan salah satu akhlak yang selalu dipraktikkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Hasyr: 9.

Ah, andai saja dalam seluruh level kehidupan, para pejabat, birokrat, politisi, alim ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, dan rakyat secara keseluruhan memiliki mental dan jiwa seperti Mang Endan, berbagai problem bangsa, insya Allah, akan dapat diatasi.

Demikianlah paparan mengenai Mang Endan ini aku ringkaskan dari tulisan KH Didin Hafidhuddin di www.republika.co.id. Wallahu a’lam bi ash-shawab. ***

Kisah berikutnya mengenai seorang perempuan sederhana yang juga memiliki kepedulian tinggi. Perihal dirinya aku sarikan dari sumber-sumber Metro TV-Oasis, Kompas online (Juli 2006), dan Republika online (Oktober 2007) yang aku dapatkan di blog ini.

kiswantipustakawankelilingwarabal

Di tengah adanya komersialisasi pendidikan dan demonstrasi berbagai pihak yang menolak disahkannya UU BHP, aku justru menemukan sepenggal kisah tanpa pamrih dari seorang ibu rumah tangga sederhana bernama Kiswanti, 45. Ia yang tinggal di Kampung Lebak Wangi, Desa Pemagarsari, Parung, Bogor dengan ikhlas membantu warga kurang mampu untuk mengakses buku. Bahkan, untuk jangka panjang, Kiswanti ingin membangun pendidikan murah, tapi bukan murahan.

Padahal, ia bukan orang kaya, suaminya hanya kuli bangunan. Kiswanti juga bukan dari kalangan pendidik dan berpendidikan tinggi. Namun, kecintaannya membaca dan mengkoleksi buku membuat perempuan dua anak ini memiliki koleksi buku hingga 2.500 judul. Lalu, melalui buku-bukunya itu, ia tularkan minat baca kepada masyarakat di sekitarnya.

Saat ini, penyampaian minat baca dilakukan Kiswanti melalui kelompok pengajian yang terdiri atas 25 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 25 orang, tersebar di tiga desa di Kecamatan Pemagarsari. Di samping itu, Kiswanti juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warabal (Warung Baca Lebak Wangi) seluas 40 meter persegi di areal rumahnya.

TBM berlokasi di samping kiri rumahnya di Jalan Kamboja RT 01/RW 01 No. 17 Kampung Lebak Wangi, Desa/Kecamatan Pemagarsari. Setiap hari, pagi hingga sore, TMB Warabal didatangi warga mulai anak usia 3 tahun hingga 50 tahun untuk membaca. Ada juga yang meminjam buku untuk dibaca di rumah. “Saya senang atas perubahan sikap masyarakat itu walaupun belum seluruh warga menerima program yang saya tawarkan. Saat ini, baru ada 155 anak usia 3–15 tahun dan 110 orang dewasa usia 16–50 tahun menjadi anggota TBM,” lanjut Kiswanti.

Hampir setiap hari masyarakat dari kelompok umur berbeda mendatangi rumah Kiswanti. Pagi, rumahnya dipakai untuk mengenalkan huruf dan angka kepada anak usia 3,5–5 tahun, petang giliran anak usia sekolah (6–10 tahun) belajar agama dan belajar kelompok, malam tempat berkumpul remaja 11–18 tahun belajar berkelompok. Ibu-ibu mendatangi tempat ini di sela-sela waktu mereka. Ruang baca dibuka 24 jam, tidak dikunci.

TBM yang ia dirikan sejak 2003 itu tidak langsung memiliki tempat tersendiri. Di rumahnya yang tak seberapa besar tipe 36, ia bikin sarana perpustakaan yang lalu menjadi tumpuan masyarakat sekitar untuk mendapatkan buku bacaan. Di waktu lain, ruangan di rumahnya ini juga menjadi tempat pertemuan komunitas Lebak Wangi.

Ruang tamu yang juga berfungsi sebagai warung kelontong berimpitan dengan meja makan sekaligus tempat belajar serta tempat menjahit di ruang dalam. Ujung meja berbatas dengan sebuah rak buku yang kemudian disebut sebagai perpustakaan. Kursi dan meja sepertinya tidak lengkap satu set, semua dalam motif yang berbeda. Keramik di lantai juga tidak “kompak” lantaran dipungut dari reruntuhan tempat kerja suaminya, Ngatimin, seorang buruh bangunan.

Perpustakaan yang ia maksud adalah sebuah rak yang tersandar di dinding, penuh dengan beragam buku. Mulai dari buku bacaan anak, resep masakan, tanaman, buku cerita hingga majalah berbahasa Jawa Joko Lodang. Maklum, meski sudah berada di Jakarta sejak 1980-an dan pindah ke Bogor sekitar 1994, Kiswanti tetaplah perempuan Jawa yang lahir di Bantul, Yogyakarta, 4 Desember 1962 (63 atau 65)–sumber-sumber rujukan menyebutnya berbeda-beda.

Meski telah menyediakan sarana perpustakaan, Kiswanti ternyata masih menambahnya dengan terjun langsung menyambangi masyarakat. Dengan sepeda onthel (kayuh)-nya, Kiswanti secara rutin berkeliling dari kampung ke kampung meminjamkan buku koleksinya secara gratis. ”Saya punya dendam sejak kecil, kemiskinan bukan halangan untuk pinter. Saya tidak ingin anak-anak di sekitar saya mengalami nasib (seperti) saya di masa kecil,” katanya.

Ya, kala matahari baru saja terbit di ufuk timur, tetesan embun masih membasahi dedaunan, Kiswanti mulai sibuk berbenah. Bukan untuk berangkat ke kantor seperti layaknya seorang karyawan atau ke kebun untuk bertani, tapi perempuan ini membenahi buku-buku di atas sepeda onthel (sepeda kumbang) warna merah. Sebagian buku itu dikemas dalam keranjang yang diikatkan di jok belakang, sebagian lagi terbungkus kantong plastik yang bergelayut di setang sepeda.

Sepeda dan buku beraneka judul itu dibawa Kiswanti berkeliling desa dan ditawarkan untuk penduduk sebagai bahan bacaan. Tidak saja buku pelajaran bagi siswa, tapi juga buku pertanian, menu masakan, novel, dan lain-lain. Buku itu dipinjamkan kepada warga tanpa memungut bayaran. Tidak aneh kalau akhirnya warga menjuluki Kiswanti sebagai “Perpustakaan Keliling Sepeda Onthel”.

Sejak 21 April 2003 kegiatan rutin ini dilaluinya, tapi Kiswanti—yang akrab dipanggil Bude—tidak pernah menyerah. “Baca dan tulis itu adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Orang yang gemar membaca akan memperoleh pengetahuan seluas-luasnya serta bisa mengembangkan hidup mandiri,” kata ibu dua anak ini.

Kiswanti mengungkapkan, banyak warga desa yang beranggapan bahwa membaca dan menulis hanya penting bagi anak sekolah, sedangkan bagi yang putus sekolah apalagi ibu rumah tangga tidak bermanfaat lagi. Pemahaman seperti inilah yang ingin dihilangkan wanita kelahiran Yogyakarta ini.

Keuletannya ternyata sering dicibir sejumlah warga. Ada yang menyebut pekerjaan Kiswanti yang mengabaikan urusan keluarga lalu keluar-masuk kampung dengan seabrek buku sambil mengayuh sepeda itu sebagai pekerjaan orang gila. “Pemahaman warga itu sangat merugikan. Membaca itu penting bagi siapa saja. Apa pun yang dibaca akan memberikan ilmu pengetahuan bagi kita. Dengan membaca, kita bisa mengembangkan pemikiran baik terhadap dunia usaha, pertanian, kesehatan, lingkungan maupun harapan ke masa depan,” tambahnya.


Gagal Sekolah/Melawan Kemiskinan

Kesadaran Kiswanti pada pentingnya membaca sudah tumbuh sejak usia dini. “Dari kecil saya senang membaca apa saja,” ujarnya.

Pengenalannya pada buku diperoleh dari sang ibu, almarhumah Tumirah, seorang penjual jamu–sumber lain tak menyebutkan profesinya. Buku adalah satu-satunya hal yang bisa dibeli Tumirah dengan harga murah, tetapi cukup “menenggelamkan” Kiswanti.

Sang ayah Trisno Suwarno pun ikut menyumbang kegemaran Kiswanti pada bacaan–meski sumber rujukan lain hanya menyebut sang ibu yang mengenalkannya pada buku sebagaimana di atas. Trisno yang tukang becak berteman dengan penjual koran di tepi jalan. Trisno rupanya juga gemar membaca. Ia kerap membawa koran bekas ke rumah. Huruf-huruf besar dari koran itu ia gunting, ia susun huruf demi huruf lalu dikenalkan kepada anaknya. Dari koran bekas itulah Kiswanti bisa membaca. ”Umur delapan tahun baru saya bersekolah,” ujar sulung dari lima bersaudara ini.

Lalu apa yang membuat Kiswanti rela berkorban untuk mewujudkan program ”Gemar Membaca” buat sesama?

Semuanya berawal dari ketidakmampuan orangtua untuk menyekolahkannya. Ia memang berasal dari keluarga tidak mampu. Maka, anak pertama dari pasangan Trisno Suwarno-Ny. Tumirah ini ketika masih bersekolah di SD pernah dibuat tinggal kelas karena tidak mampu membayar uang sekolah. Padahal ia selalu menduduki peringkat pertama di kelas. Jika pada akhirnya ia mampu lulus SD, lalu mencicipi jenjang berikutnya, itu pun dengan serbakebetulan dan riwayat berliku. Ya, secara formal, ia hanya mampu mengenyam pendidikan tingkat menengah ini. Ia mampu menggondol ijazah madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), tapi lalu tak mampu meneruskannya selain ikut program belajar kejar paket C, itu pun tak sampai selesai.

Gagal dan geram pada dunia pendidikan membuat Kiswanti mengandalkan buku sebagai gudang ilmu paling berharga. Pengalaman itu pula yang membuatnya mantap menularkan pentingnya membaca di kalangan masyarakat sekitar. Modal mendirikan perpustakaan ia awali dengan menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Filipina di Jakarta. Saat usia masih remaja sekeluar dari sekolah sekitar tahun 1987, Kiswanti memang nekat pergi ke Jakarta. Ia melakukannya saat kedua orangtuanya tidak berada di rumah. Di Jakarta, tepatnya di Cipete Selatan, Jakarta Selatan, ia jadi pembantu rumah tangga di rumah orang Filipina dengan gaji Rp 40 ribu per bulan.

Majikannya punya perpustakaan pribadi di rumah. Kiswanti senang. Semula ia minta imbalan dibayar dengan buku, tapi majikannya membawa Kiswanti ke Kwitang membeli buku senilai gajinya sebulan. ”Tujuan saya menambah koleksi buku,” katanya.

Ketika majikannya ingin kembali ke negaranya, dia diberi pesangon Rp 50 ribu. Kiswanti melangkah ke stasiun, ingin kembali ke desa. Di stasiun ia bertemu Ngatimin, seorang tukang batu yang sedang mengantar pembantu majikannya. Tawaran pekerjaan dari Ngatimin mengurungkan niat Kiswanti pulang kampung. Sebulan bekerja, keduanya menikah. ”Syaratnya, saya suka buku,” kata Kiswanti. Pria itu tidak keberatan.

Setelah berpindah dari satu proyek ke proyek lain, pasangan ini membeli sebidang tanah sebuah kampung di daerah Parung, Bogor. Kiswanti memboyong koleksi buku-bukunya. Di kampung itu ia melihat masyarakat masih jauh dari kebiasaan membaca. Kiswanti membuka warung di rumahnya, buku-buku digelar di situ. Anak-anak yang datang berbelanja juga melihat-lihat buku.

Kabar banyak buku di rumah Kiswanti menyebar di seluruh warga kampung. Peminat bertambah. Ia mulai berkeliling dengan bersepeda dari satu kampung ke kampung lain membawa sejumlah buku. Buku boleh dipinjam bergantian, gratis. ”Banyak anak-anak yang tidak bisa datang ke sini, jadi saya menjemput bola,” katanya.

Kegiatan Kiswanti bersepeda keliling terdengar oleh pejabat di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Kiswanti diminta mengajukan proposal untuk bantuan dana, tapi ia tak mau. ”Saya hanya tamatan SD, tidak tahu buat proposal,” kata dia. Dia kemudian dijemput, proposal dibuat di kantor Depdiknas. ”Dikasih dana Rp 10 juta, saya pakai beli rak buku, sebagian buat beri honor pengajar,” ujarnya.

Kini, Kiswanti memang tak harus setiap hari mengayuh sepeda onthel-nya. Namun, ia menyatakan takkan pernah lelah mengajak warga berkunjung ke taman bacaannya demi seteguk ilmu. “Saya bilang ke mereka, kalau anak-anak saya bisa pintar dan masuk sekolah favorit, itu karena saya membiasakan membaca buku,” ujar ibu dari Afief Priadi (16), siswa terbaik SMK II Ciluar, Bogor; dan Dwi Septiani (12), siswa kelas V SD Lebak Wangi.


Narasumber

Selain upayanya mulai membuahkan hasil, Kiswanti kini sering pula dipanggil untuk menjadi pembicara pada acara diskusi atau kegiatan lain yang berhubungan dengan dunia pendidikan, baik itu di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) maupun di Solo dan Surabaya. Lulusan sekolah menengah itu terkadang harus berdampingan dengan dosen, pejabat pemerintah maupun istri menteri untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca.
“Saya sering merasa risih berdampingan dengan dosen atau pejabat tinggi ketika menjadi narasumber dalam suatu acara. Tapi semua itu tertolong karena ketekunan saya membaca selama ini,” jelas Bude.

Yang pasti, Kiswanti memang memiliki jiwa pendidik sejati. Selain memasyarakatkan program gemar membaca melalu taman bacaan atau perpustakaan, ia juga tak lupa menanamkan pendidikan moral yang baik kepada anak-anak dan para orang tua. Baik lewat forum resmi pertemuan, diskusi atau mengaji di rumahnya, atau forum tak resmi di mana saja, termasuk lewat warung jualannya. Ia misalnya memperlihatkan sikap tegasnya menolak barang dagangan yang tidak bermanfaat di warungnya. Misalnya, makanan ringan berpengawet tinggi atau mainan tiup yang konon mengandung racun. “Saya kira tidak adil kalau kita hanya berbicara keuntungan,” ujarnya tegas.

Untuk mengajarkan disiplin, ia pun menjual permen hanya kepada anak- anak yang sudah mandi, suka minum air putih, atau sudah makan. He he he, bijak sekali Bu Kiswanti ini.

Yang juga tak boleh dilupakan adalah dukungan suami ibu kita ini, Ngatimin atau Ngatmin–wah, sumber-sumber rujukan kok beda-beda sih nyebutnya. Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta ini mendukung penuh aktivitas sang istri. Untuk itu, ia pun kerap membantu mencuci pakaian atau memasak nasi.

“Hanya dukungan yang bisa saya berikan kepada istri. Saya tidak bisa membahagiakan dengan makanan yang enak atau perhiasan yang gemerlap. Kalau dengan kegiatan itu istri saya bahagia, saya akan terus mendukungnya,” tutur bapak dua anak itu.

Salutlah Pak, Bu. Biarpun keluarga sederhana tapi kompak.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.