AKU SESUAP NASI
Aku mungkin hanya ingin menjadi sesuap nasi yang mengenyangkanmu
namun agaknya kau lebih suka bakso. Baiklah Continue reading

sekadar ilustrasi
Teh tawar dan ketupat sayur beradu pandang
senyam-senyum melirikku begitu dihidangkan
Mereka sebenarnya iba padaku semenjak kupesan
tapi tak mampu mengusir geli melihatku belingsatan
sejak tadi: tampang boleh trendi tapi nyali
tak kuasa dikendali, grogi
Itu sejenis kegelisahan akut khas orang miskin
dan pada akhirnya mereka merasa berdosa
karena gagal bersolider padaku:
menu begitu sederhana kok mahal juga
(huahaha)
–St. Gambir, 7 Mei 2009–
SYAIR MARTUBI

Martubi terbunuh pagi tadi
Sang pelaku kerdil tak bernyali
Cuma berani tikam kaum sendiri
Sama-sama manusia pinggir kali
Martubi bukan orang pintar
Sehari-hari hanya berputar-putar
Mengemudi taksi menahan lapar
Anak bini di rumah sudah tak sabar
Tunggakan aneka rupa belum terbayar
Walah, di mana alumni mimbar spiritual
Bersufi-sufi di rumah ber-ac berbalut dolar
Menikmati surga sendiri tak kelar-kelar
Di luar sana banyak saudara kita terkapar
Jangan pula dianggap sekadar buah ingkar
[12 Agustus dini hari 2006]
GELAK
Tak ada kiamat di sini
Juga bencana atau huru-hara
Hanya gelak beraroma arak

Bahkan, jelang subuh
orang-orang masih riuh
sehabis peluh, juga lenguh,
tanpa keluh
Taksi-taksi mengangkang
partner setia demi penumpang
para pramuria bersiap pulang
Tak terdengar desir ajal di sini
Hanya tatap nanar, juga binal
Alam pun luluh oleh peluh
dari diri yang rela jadi pesuruh
oleh gelora gairah tubuh
Cuma sakit bisa mengusiknya
Atau dengki memorak-porandakannya
Juga selingkuh sanggup menggoyahkannya
Atau musuh pembunuh yang lantas mengakhirinya
Bukan ajal yang tertahan oleh dajjal
[12 Agustus 2006, jelang subuh]