you're reading...
Sok Tahu

Teror Mumbai dan Mimpi Awamologi

teror

Jumat itu, 28 November 2008, aku belum dengar berita teror Mumbai. Padahal media sudah heboh mewartakannya. Salat Jumatan pun aku agak telat, jadi cuma kebagian bagian penghujung dari khotbah khatib (khotbah I). Yang dapat aku tangkap isinya dari khotbah itu, sang khatib mereviu eksekusi mati tiga terpidana kasus bom Bali: Amrozi dkk. Menurutnya, jika kita tidak cukup yakin apakah ketiga terpidana itu mati syahid atau tidak, lebih baik atau “sekurang-kurangnya” (dalam ungkapan sang khatib) kita diam saja.

Itu berarti dapat ditafsirkan bahwa sang khatib sendiri telah memiliki suatu keyakinan perihal mereka. Soal tepatnya seperti apa keyakinannya, aku sendiri tak tahu. Namun, paling tidak, hal itu masih dapat dipahami dari sepotong penjelasan yang terekam dari khotbahnya. Aku sempat mendengar dia menceritakan adanya pertanda tiga burung yang turut mengiringi prosesi pemakaman ketiga terpidana. Mulanya ketiga burung itu berada di atas kerumunan penguburan kakak beradik Amrozi dan Muklas. Lalu, setelah pemakaman keduanya selesai, satu burung terbang menuju arah tempat Imam Samudra dimakamkan. Kurang lebihnya demikian. Bisa jadi aku salah dengar karena tidak begitu menyimak betul perihal burung itu. Tapi, dapat aku pastikan, sang khatib menyebut bahwa momen isyarat burung itu sempat direkam media.

Yang penting dikemukakan, menurut sang khatib, betapa pun munculnya tiga burung beriringan itu dapat menjadi isyarat bahwa bisa jadi ketiga terpidana itu mati syahid. Alasannya, kesyahidan seseorang tidak berarti semua tindakan orang itu semasa hidupnya bebas dari kesalahan. Dalam hal Amrozi dkk, tindakan pengeboman di Bali yang mereka lakukan itu, menurut khatib, jelas keliru. Namun, kekeliruan itu tidak serta-merta menghapus semua jihad mereka yang selama ini dilakukan. Amrozi dkk itu menurutnya telah membuktikan diri berjihad di Ambon, Poso, Afghanistan dll untuk membela umat Islam yang terzalimi. Maka, menurutnya, jika pada akhirnya mereka terperosok pada kekeliruan persepsi dan tindakan pengeboman itu, “tak adil rasanya”––dalam bahasa ungkapku––mereka lantas disudutkan habis-habisan hingga tak punya kesempatan untuk membela diri. Sekurang-kurangnya, ada fakta yang dimanipulasi pengadilan (yang juga tidak diungkapkan media) soal pengakuan ketiga terpidana bahwa mereka memang mengebom di Bali, tapi itu dengan menggunakan “bom kecil”. Nah, “bom besar” setingkat “nuklir kecil” yang meledak berikutnya dan menimbulkan banyak korban, itu sama sekali bukan dari mereka. Maka, siapa yang “punya” bom jenis itu?

Itulah menurut khatib yang tidak diungkap. Pengadilan pun tidak mengizinkan Tim Pembela Muslim mengajukan soal fakta itu. Nah lho, gimana ini jika memang benar demikian? Ya, aku yang orang awam jadinya cuma bisa berucap wallahu a’lam.

Demikianlah. Sesampai di rumah sepulang Jumatan baru aku tahu kabar teror Mumbai. Masya Allah!

Selanjutnya, aku coba bersikap berdasarkan prinsip-prinsip keawaman (awamologi): mencoba menahan diri untuk tidak gegabah mencaci pihak ini itu, tidak terburu-buru memberikan vonis, mencoba berbijak-bijak, berlaku adil, toleran tapi tidak permisif, dll. Pokoknya berpositiflah.

Hal pertama yang mesti dilakukan kalau ingin “mengadili” teror Mumbai yang oleh sebagian media disebut sebagai “9/11 Mumbai” adalah cari fakta selengkap-lengkapnya dan sejujur-jujurnya mengenai hal itu. Sekurang-kurangnya seperti yang dulu pernah dilakukan Mas Farid Gaban yang coba mengumpulkan data dan fakta mengenai peristiwa “9/11” di AS. Sayang, aku sendiri tak tahu kelanjutan dari hasil penelisikan Mas Farid itu karena jarang menyimak lagi milis jurnalisme yang dikelolanya sehingga bisa menanyakannya langsung kepadanya. Tapi, intinya, selidikilah peristiwa apa pun selengkap-lengkapnya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya jika kita ingin menjatuhkan vonis atas pihak-pihak di dalamnya.

Nah, kalau kita tidak mampu berlaku demikian (melakukan penyelidikan fakta), ya sebaiknya kita diam saja. Kalaupun mau berkomentar, tentu haruslah menyesuaikan komentar kita dengan stok pengetahuan fakta yang kita miliki.

Makanya, yang aman menurutku ya bersikap sebagai orang awam saja. Dalam hal ini, menurutku, yang lebih penting kita lakukan adalah mencegah agar hal demikian (teror) tak terulang. Caranya ya terapkan prinsip-prinsip keawaman tadi: sabar/menahan diri, bijak, adil, dll itu. Insya Allah, jika kita bisa bersikap demikian, dunia ini akan damai. Inilah mimpi awamologi.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

3 thoughts on “Teror Mumbai dan Mimpi Awamologi

  1. duh, saya malah lebih awam lagi kalau bicara topik demikian, mas, hehehe …. makanya aku juga diam, dan tak bisa komen banyak2, haks.

    Posted by sawali tuhusetya | November 30, 2008, 9:34 am
  2. Assalamualaikum… salam kenal.

    Mengenai masalah awamologi diatas… mungkin saya kurang sefaham. Ada saatnya berpendapat itu perlu… tetapi tentunya bukan nafsu dan emosi yang dikedepankan, tapi rasionalitas dan pengalaman yang menjadi referensi kita. Benar atau salah bukan masalah… selama kita berpikiran terbuka dan rela dikoreksi jika logika pendapat kita tersebut ternyata salah. Yang jadi masalah adalah jika kita menutup diri dari koreksi yang datang.

    Tetap menulis mas…

    Posted by ardee | November 30, 2008, 5:43 pm
  3. Tuk Pak Sawali:
    mungkin penekanannya bukan awam atau tidak awam, tapi pada bijak atau tau diri…hiks sama aja ya. Makasih Pak dah nengok.

    Tuk Ardee:
    Waalaikumsalam. Ya, gitu deh. Berpendapat boleh, tidak juga boleh asalkan positif-positif aja atau dalam ungkapan Ardee “rasional, referensi memadai, berpikiran terbuka, dan rela dikoreksi”

    Posted by awamologi | November 30, 2008, 7:04 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: