you're reading...
Buku

Cara “Sinting” Menulis Buku

kambing

Hari ini, Ruang Baca Koran Tempo menampilkan bahasan utama mengenai fenomena blook atawa bluku, yaitu gabungan antara blog dan buku yang berarti produk buku yang materinya berasal dari blog––tentu setelah melalui pengembangan dan pemilihan topik-topiknya. Namun, khusus yang dibahas adalah jenis tulisan yang bersifat personal sejenis catatan harian yang “gila-gilaan”, sinting abis, ngocol “hampir tanpa kontrol” yang dimulai sejak bluku Kambing Jantan-nya Raditya Dika hingga berbagai terbitan terbaru sejenis. Isinya memang pengalaman sehari-hari penulis yang diungkapkan dengan bahasa humor kental banget. Buku-buku begini lagi tren dan rata-rata laku “keras sekali”, dicetak ulang minimal dua-tiga kali. Wah, edan. Judul utama ruang baca itu saja begini: Catatan Harian Orang Sinting.

Nah, aku jadi terpancing atau katakanlah terinspirasi untuk memungut sedikit saja (tak usah banyak-banyak) resep “kesintingan” itu untuk menuliskan apa saja, digabung dengan rem awamologi sehingga tidak jadi betul-betul sinting, tapi bisa jadi malah menjadi bergizi.

Jadi, energi “kesintingan” itu dipinjam-pakai untuk mendorong bergelontorannya ide-ide cerita atau materi penulisan sebanyak-banyaknya, lalu disaring, diperhalus dengan filter awamologi agar tidak kebablasan, tetap bernas, dll yang lebih “dewasa, normal, dan positif”. Ini bukan berarti produk “para penulis sinting” itu negatif. Hanya saja memang beberapa pihak sempat mempertanyakan manfaat dari buku-buku mereka yang semacam itu (selain dari sisi humor). Paling tidak, menurut Radit, buku-buku “pelit” (personal literature) sejenis karyanya dimaksudkan agar para pembaca yang umumnya remaja terpancing untuk jadi gemar membaca dan pada akhirnya akan mencari juga buku-buku yang lebih berisi/serius.

Memang, buku-buku mereka memiliki magnet tersendiri. Coba saja simak beberapa judul terbaru karya mereka berikut ini.

  1. Jakarta Underkompor: Sebuah Memoar Garing. Pastilah ini akan mengingatkan kita pada judul buku Jakarta Undercover-nya Moammar Emka. Sintingnya, di kover buku ditampilkan gambar anak muda berkostum singlet dan celana kolor lagi ngangkat kompor.
  2. On Tech: Derita Orang-Orang O’on Teknologi. Wah, ini sih nyindir aku, orang yang awam banget teknologi. Jadi pingin tahu isinya.
  3. Ada juga Catatan Dodol Calon Dokter (Cado-Cado, trus Banci Kalap, Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran. Yang dari Radit juga ada: Tolong, Radith Membuat Saya Bego! Ini merupakan kumpulan cerita pilihan pembaca blog Radit yang dimaksudkan untuk menjaga interaksinya dengan para penggemar.

Memang, agar dapat menarik pembaca, judul-judul buku pun harus dibuat menarik, bisa lewat ungkapan lucu, parodi, provokatif atau gabungan berbagai unsur itu dll. Aku jadi inget buku berjudul parodi: The Da Peci Code. Yang jadi landasan parodi tentu buku laris The Da Vinci Code. Aku dengar-dengar, buku parodinya itu bicara soal betapa orang suka terjebak simbol-simbol semisal menganggap orang ber-peci pasti alim dan yang tak ber-peci ya … gak taulah.

Ah, bagaimana kalau aku bikin buku berjudul: Cara Gila Mati Syahid? Walah, serem gitu. Pasti masih kepengaruh teror Mumbai. Trus tersangkut ingatan pada sejenis “mati ketawa ala Israel” eh Rusia ding. Salam awam setengah sinting.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

2 thoughts on “Cara “Sinting” Menulis Buku

  1. Saya sudah membaca beberapa blook *istilah baru ya pak? thanks atas infonya* dan menurut kesimpulan saya, memang buku tersebut meng’eksploitasi’ kegilaan alias kesintingan dalam menulis.

    Salah satu buku tersebut saya berikan kepada seorang pembaca yang beruntung dan sedikit memberikan ulasannya.

    Menurut pengamatan saya, fenomena blook tersebut seperti tenklit dan cerita² ala Saman. Nulis dengan segala kegilaan plus vulgar. Mungkin memang jamannya ya bisa menerima tulisan seperti itu.

    Posted by erander | Desember 1, 2008, 3:52 pm
  2. Ya, blook memang istilah relatif baru, terutama di negeri ini, sejak adanya fenomena itu.
    Ketika nulis posting ini, aku juga inget ulasan Mas (atau Pak juga ya) Erander karena sempat liat-liat sebelumnya.
    Makasih dah berkunjung, jadi bahagia aku.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Desember 1, 2008, 6:42 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: