you're reading...
Sok Spiritual

Islam dan Kepasrahan

sujud

Makna utama dari kata “Islam” adalah “menyerahkan diri, tunduk, patuh, atau taat” yang dapat dipersingkat dalam satu kata: kepasrahan. Tentu saja yang dimaksud adalah kepasrahan total hanya kepada Allah. Prinsip atau nilai Islam ini berlaku untuk semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Ini pula yang membuat kita disuruh Allah untuk memperhatikan alam raya ini, merenunginya, mempersaksikan bahwa ada sunnatullah di sana berupa ketundukan atau kepasrahan semesta terhadap hukum-hukum alam yang merupakan ketentuan Allah. Alam selalu bergerak pada orbitnya, bergerak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada pada dirinya yang merupakan perwujudan dari ketundukan alam untuk bersujud dan bertasbih kepada-Nya.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti mereka. Sesungguhya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS 17:44)

Lantas, mengapa kita tidak meniru saja kepatuhan alam itu, bukankah kita juga disuruh berislam? Memang, Tuhan menganugerahi kita kehendak bebas berupa karunia akal dan hati yang dengannya kita diberi kemampuan untuk melawan atau beriman. Namun, anugerah itu diberikan Allah justru untuk menguji kita sebagai manusia di dunia, agar dengan demikian tampak jelaslah siapa yang benar-benar patuh, pasrah, siapa pula yang selalu berkelit menolak kepasrahan?

Sikap tunduk, patuh, atau pasrah itulah yang dari sudut awamologi cocok buat orang awam. Coba saja perhatikan, anak-anak atau bahkan bayi, dengan posisi “pasrah” saat terjatuh justru “lebih selamat” dibandingkan orang-orang dewasa yang “sok bereaksi” sehingga malah jadi “banyak cedera”, bahkan mungkin lebih fatal. Anak-anak/bayi dengan “keawaman”-nya memang jauh lebih bersikap pasrah kala mengalami hal-hal semacam jatuh itu alias segala marabahaya atau masalah yang ditemui dalam kehidupannya memang jauh lebih lugu. Keluguan ini pula yang membuat anak-anak, meski kerap berantem sekalipun, akan mudah saling akrab kembali. Intinya, mereka jauh dari kecenderungan sikap bermusuhan atau melawan hal-hal di luar dirinya. Karena itu, kedirian mereka pun jadi mudah patuh.

Mengapa kita tidak meniru anak-anak itu selagi kita belum mampu meniru kepatuhan alam? Sebenarnya, tubuh atau aspek lahiriah kita pun bagian dari alam juga yang tentu dengan demikian pada dasarnya bersikap patuh pula kepada sunnatullah. Namun, karunia akal dan pikiran rupanya dapat menahan kita dari kepatuhan otomatis itu. Apalagi jika ditambah dengan belenggu hawa nafsu, pastilah penyimpangan langkah kita dari jalan yang diridai Illahi pun terjadi. Karena itu, mekanisme zikir sebagai sarana untuk menajamkan “suara hati Illahi” harus selalu kita amalkan. Inilah cara yang dapat kita lakukan untuk menuntun kita pada kepasrahan kepada Sang Pencipta.

Prinsip lain dari Islam adalah bahwa agama ini merupakan agama fitrah. Artinya nilai-nilai atau ajaran yang terkandung dalam Islam itu sesuai dengan kecenderungan hakiki manusia. Makna lain yang dapat diturunkan dari kata “Islam”, misalnya, adalah “selamat”. Karena itu, Islam adalah agama yang dapat menyelamatkan umat manusia. Para penganutnya pun, dengan demikian, mestilah saling menyelamatkan sesamanya. Secara manusiawi (fitrah manusia) pun setiap orang ingin selalu hidup aman, nyaman, tanpa permusuhan. Jadi, akan sangat bertentangan dengan kefitrahan Islam dan manusia itu sendiri jika kita selalu menebarkan sikap bermusuhan, mementingkan diri sendiri, mencelakakan orang lain. Kalau kita benar-benar berperilaku demikian, kita sendiri juga akan celaka. Tentu saja masih banyak nilai Islami yang manusiawi alias sesuai dengan fitrah manusia. Maka, menjadi tugas kita untuk selalu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu.

Kepasrahan itu pun sebuah fitrah. Inilah prinsip yang cocok dengan hakikat ketidakberdayaan manusia tanpa diberdayakan oleh Sang Maha Pemberdaya. Lihat saja saat kita terserang flu atau bersin-bersin melulu. Atau bisa pula menderita jenis-jenis sakit fisik lainnya. Semakin kita mengeluh, mengaduh, meronta-ronta melawan rasa sakit itu, kita justru akan makin menderita. Tapi, coba saja, saat kita tertidur, rasa sakit itu akan sirna, paling tidak untuk sementara. Tidur adalah sebentuk “kepasrahan” tubuh kita terhadap penyakit tersebut. Untuk sementara mekanisme gerak fisik kita beristirahat, tidak lagi memberontaki si penyakit. Coba saja sepanjang hari kita tak tidur-tidur, pastilah kita amat menderita. Meski dalam kondisi sehat sekalipun, jika tak kunjung tidur, tubuh pun akan lelah dibuatnya. Jadi, mengalah sajalah kita, pasrah. Apalagi untuk pasrah kepada iradah (kehendak) Sang Pencipta, masa kita masih mau memprotesnya?

Lantas, apa lagi yang tersisa buat kita jika semua yang ada diri kita harus diarahkan kepada-Nya. Ada, banyak. Malah tak kurang sedikit pun. Bahkan bertambah. Bukankah dengan memberikan kepasrahan, kita mendapat kekuatan dan keselamatan? Artinya memberi satu (pasrah), memperoleh dua (kuat dan selamat). Bahkan bisa lebih. Mungkin karena kita saja yang belum dapat mengenali atau mengidentifikasi balasan-balasan dari sikap pasrah itu.

Dari sini pun jelas bahwa pasrah bukan berarti berhenti bergerak, beraktivitas, atau berikhtiar. Kepasrahan tidak menutup pintu bagi keaktifan dan kekreatifan kita. Hanya saja, kita harus selalu menyesuaikan diri dengan keadaan. Berbijak-bijaklah menyikapinya. Ariflah selalu. Prinsip ini tidak hanya berlaku pada penyikapan atas hal-hal yang bersifat fisik lahiriah, tetapi berlaku pula untuk hal-hal batiniah. Misalnya kalau kita dilahirkan dengan kecenderungan sebagai pemarah, ya jangan dilawan, cukuplah diredam. Arahkan ke hal-hal yang positif atau siasati secara Islami. Yang pasti ada tuntunan tersendiri soal ini semisal tetaplah bersabar, berwudu, dan bersalatlah––dengan kata lain: zikir, zikir, dan zikirlah selalu.

Singkat kata, seluruh aktivitas kita mestilah dilakukan dalam kendali kepasrahan dan ketundukan terhadap kekuasaan dan kehendak Yang Maha Kuasa. Teruslah kita belajar mencari ilmu, menjemput rezeki, menebarkannya buat sesama, tetapi semua itu hendaklah dilakukan dengan ketaatan pada batas-batas Illahi, batas-batas keawaman diri. Mustahillah kita mampu melampaui batas-batas itu. Ilmu Allah teramat sangat luas sekali (mahaluas), begitu pula rezeki-Nya. Kita pasti hanya memerlukan keduanya sebatas kebutuhan kita. Jangan pongah, jangan pula serakah. Nauzubillah (minzalik).

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

One thought on “Islam dan Kepasrahan

  1. terimakasih..
    salam jiwa..

    @Sama-sama, salam juga.

    Posted by mishbah@jalanikhtiar | Desember 17, 2009, 1:38 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: