you're reading...
Sok Spiritual

Pencarian Diri Tiada Akhir?

titiktatap

Mengenali diri sendiri, identitas diri, jati diri, hakikat diri, dan lain-lain yang jalanbawalampumerupakan bagian dari kedirian kita adalah salah satu hal penting dalam hidup. Sejak pertama kali manusia ada di bumi hingga akhir zaman pun upaya pengenalan ini akan terus dilakukan. Hal ini terutama karena memang pengenalan diri ini merupakan naluri fitrah manusia. Disadari atau tidak, kita akan selalu berusaha melihat diri kita. Jika suatu kondisi membuat kita lama melupakan diri, pada saatnya nanti akan terasa ada ketidaknyamanan. Ada sesuatu yang aneh, terasa asing atau terasing meski kita dikelilingi taburan materi, harta benda, ketenaran, kedudukan, teman-teman, kenalan, partner bisnis, dll. Semua itu akan terasa hampa jika kita tidak memiliki titik pijak pada diri, pada nilai-nilai, prinsip-prinsip yang kita yakini. Segenap pegangan hidup atau titik tumpu itu harus betul-betul kita resapi, kita hayati, dan kita yakini sebagai bagian yang memang cocok dengan diri kita. Dalam bahasa agama, itulah yang disebut sebagai keimanan.

Bila bicara mengenai iman dalam kerangka tiga-serangkai Islam-iman-ihsan, mendakijalankedudukan iman setingkat lebih tinggi dari Islam yang akhirnya pada tingkat tertinggi adalah ihsan. Orang yang baru berislam (muslimin), tidak serta-merta dapat mencapai tingkat keberimanan yang memadai (mukminin) sehingga pastilah akan sulit diharapkan bertindak sebagaimana para mukminin atau apalagi muhsinin, yaitu orang-orang yang sudah mencapai derajat keimanan bertaraf ihsan. Penggambaran keihsanan secara umum mengacu pada hadis Nabi bahwa ihsan adalah bila kita sudah mampu beribadah seolah-olah kita sedang “melihat” atau berhadapan dengan Tuhan (Allah) dan bila belum mampu berlaku demikian, yakinilah bahwa Tuhan nyata-nyata melihat kita. Dari sini terkandung pengertian bahwa kadar keihsanan pun bisa berbeda-beda: ada yang sudah seperti “melihat” Tuhan, ada pula yang baru “yakin” bahwa Tuhan itu Mahamelihat. Ada juga yang berada di kedua sisi itu. Tentu saja, keimanan dan keislaman kita pun bertingkat-tingkat. Namun, sesungguhnya, itu semua hanya perlu kita hayati sebagai sarana pengenalan diri saja: sudah pada tingkat manakah keberagamaan kita?

Ah, ya kalau aku sendiri masih terus mencari-cari pemahaman terhadap diri lampubelajarini. Maka, awamologi yang aku reka-reka di sini pun pada dasarnya merupakan sarana pengenalan diri ini. Aku berusaha melihat diriku yang awam, yang memiliki sekian keterbatasan dalam memahami dan menyerap pengetahuan untuk menjadi bekal dalam menjalani hidup ini. Begitu pula keterbatasan dalam hal-hal lain. Namun, tentu saja itu semua tidak boleh membuatku kecil hati atau apalagi putus asa. Aku mesti terus “melangkah” pelan-pelan atau cepat-cepat seperti berjalannya Nabi (berjalan dalam arti harfiah), tergantung pada tingkat kesesuaian dengan kondisi diriku. Lalu, apakah aku sudah dapat mengenali siapa diriku? Sudah sampai tingkat manakah keislamanku? Wah, aku rasa tak mampu aku memberi jawaban final. Hidupku masih terus berproses hingga ajal menjemput. Namun, memang, tiap hari pun aku terus berusaha memahami diriku, mengevaluasi diri, dan berusaha agar hari ini kualitas kedirianku bisa lebih baik dari hari kemarin. Jika tiap hari aku harus pergi pulang naik kereta ekonomi (krl) jabotabek, aku pun berusaha untuk tetap sabar, bersyukur, bertafakur. Makanya, beberapa tulisanku di blog ini menyebut-nyebut kata “kereta”. Malah semula aku berniat menumpahkannya dalam satu bentuk ungkapan tersendiri sebagaimana dapat dilihat pada posting Cintaku Tumpah di Kereta.

Tentu saja aku tidak sepenuhnya berhasil dalam upaya evaluasi diri dan bersyukur1pengenalan diri itu. Keimananku masih labil. Aku hanya bisa terus berupya memantapkannya, meluruskannya bila melenceng, dan mengistiqamahkannya. Aku memang tahu bahwa bersedekah itu sangat dianjurkan. Namun, tetap saja tanganku masih terasa berat untuk sekadar memberikan uang lima ratus rupiahan kepada para pengemis di kereta. Padahal hampir tiap hari aku melihatnya. Memang, satu dua kali aku masih suka memberi mereka. Terutama untuk yang cacat. Tapi, lebih seringnya aku diam saja. Dalam hati masih kerap timbul, “Ah, aku juga masih berkekurangan. Kalau tiap hari kalian aku kasih, minuslah pada akhir bulan.” Padahal sih jika tiap hari minimal kasih 2.000 saja, sebulan baru maksimal 60.000.

Ya, aku kerap lebih memilih beli koran seribu rupiah ketimbang bersedekah. pengamenkaPadahal, para pengemis itu sudah melakukan berbagai ragam usaha dalam “cara mengemis”. Umumnya para pengemis buta yang menyanyi, baik tanpa iringan musik maupun diiringi musik. Ada yang pakai alat musik gitar, mandolin, atau harmonika (seruling jarang), ada pula yang pakai perangkat elektronik (tape) dan ini lebih banyak. Mereka yang tak buta pun banyak pula yang melakukannya. Terutama ibu-ibu, biasanya dengan membawa anak kecil atau bayi. Ada lagi para pengemis yang berjalan ngesot, baik yang memang jelas-jelas cacat maupun yang “mencurigakan”. Kata mencurigakan aku beri tanda kutip karena bisa saja itu merupakan prasangkaku saja, tapi bisa jadi pula benar: mereka cuma berpura-pura cacat. Belum lagi mereka yang bersuara seperti orang bisu atau gagu. Dari yang pengucapannya masih agak bisa dikira-kira maksudnya maupun yang betul-betul aneh. Beberapa di antara mereka juga termasuk kategori “mencurigakan”.

Ada lagi anak-anak yang “pura-pura” menyapu kereta. Artinya, pekerjaan anakngemisdika1menyapu itu dijadikan “alat persuasi” untuk meminta-minta. Tentu saja mereka menyapu asal-asalan saja. Kebanyakan dari mereka tak cacat. Sama seperti sebaya mereka yang berjualan asongan. Nah, perbandingan ini juga memperberat tanganku untuk memberi uang kepada mereka. Mengapa mereka tidak ikut berdagang saja? Atau, mengemis sajalah nggak usah berpura-pura menyapu dan memang ada juga yang demikian. Salah satunya malah terbilang sangat agresif, lantang suaranya dan bergaya “bandel”: dia colek semua penumpang, “Assalamualaikum, Bu, Pak, minta sedekah, buat makan (padahal anaknya gendut lho, perempuan).” Begitu terus diulang-ulang ke hampir semua penumpang, terus mencolek-colek atau memegangi tangan penumpang, menungguinya cukup lama hingga yang dimintai sedekah pun malu, meski tak lantas jadi memberinya uang, termasuk aku.

Lha khaula wala quwwata illa billah. Kok, tangan ini masih terasa berat ya danpengemismobil hati serta pikiran ini masih saja mencari-cari alasan pembenaran untuk tidak bersedekah kepada para pengemis itu? Padahal, Pak Quraish Shihab pernah bilang bahwa jangan pernah mengabaikan para peminta-minta meski mereka bertabur aksesori emas. Waduh.

Akhir kata, menurutku, pencarian jati diri, pengenalan diri memang proses yang tiada akhir sampai kita mencapai khusnul khatimah kala menghadap Sang Pencipta.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

One thought on “Pencarian Diri Tiada Akhir?

  1. kren bget sering mbuat tulisan.

    Posted by toni | Oktober 16, 2009, 12:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: