you're reading...
Sok Spiritual

Perihal Keikhlasan

airikhlas

Erbe Sentanu booming dengan Quantum Ikhlas-nya. Yang dia jual sebenarnya adalah metode aktivasi keikhlasan dalam diri dengan bantuan “teknologi gelombang otak DigitalPrayer Alphamatic”. Produk-produk gelombang alfa itulah yang berusaha dicekokkan ke dalam diri kita untuk menginstal kepribadian ikhlas. Bisakah?

Rasanya mustahil tanpa terlebih dulu memahami apa itu keikhlasan dan apa pentingnya atau manfaatnya buat kita. Rupanya, Erbe pun tak dapat mengelak dari keharusan itu. Bahkan dia memulainya dari hal yang lebih mendasar dulu: kenali diri sendiri (“Siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya”~Muhammad SAW). Baru kemudian dia melangkah dengan pernyataan: keikhlasan adalah fondasi atau unsur pokok untuk mewujudkan kebahagiaan sejati yang merupakan kebutuhan fitrah manusia yang paling utama.

Nah, lalu pertanyaan dasarnya: bagaimanakah cara menumbuhkan keikhlasan? Jika harus memakai produk Erbe, berarti ya tiap hari mesti dialiri dengan gelombang prayer digital alfa itu. Caranya, tentu, selalu mengikuti pelatihan dari Erbe atau minimal beli buku dan VCD-nya (yang berisi gelombang prayer itu).

Namun, menurut hemat aku, akan lebih bermanfaat jika kita mengetahui rupa-rupa kebahagiaan menurut Islam sehingga dapat menyeret keinginan kuat kita untuk menumbuhkan keikhlasan sehingga segala rupa kebahagiaan itu teraih; dan memahami pilar-pilar pembangun keikhlasan. Menurut Erbe, pilar-pilar itu adalah (sikap) syukur, sabar, fokus, tenang, dan bahagia (itu sendiri). Khusus pilar terakhir (bahagia) itu menurutku agak rumit untuk memahaminya. Masalahnya, yang ingin kita tuju kan mewujudkan kebahagiaan, kok caranya harus bisa bahagia dulu? Kalau sudah bahagia sih berarti sudah sampai di tujuan alias sudah tercapai. Mungkin yang dimaksud adalah menumbuhkan etos, semangat, dambaan, dan sejenisnya untuk memunculkan atmosfer kebahagiaan dalam proses kita menuju kebahagiaan sejati atau rupa-rupa kebahagiaan yang kita tuju. Nah, lo, masih ruwet juga kan untuk dapat dipahami? Tapi, aku kira sudah lebih bisa dibayangkan soal “pilar bahagia” untuk mendirikan kebahagiaan itu. Lagipula, kan masih ada empat pilar yang lain: syukur, sabar, fokus, dan tenang.

Sekarang kita tengok pendapat ahli soal keikhlasan ini. Salah satunya aku dapat dari Harun Yahya. Menurutnya, untuk memperoleh keikhlasan, (1) pahami pentingnya, yaitu bahwa keikhlasan itu menguntungkan kita orang mukmin, (2) tumbukan rasa takut kepada Allah, (3) tak usah takut kepada siapa pun selain Allah, (4) berjuang sekuat mungkin demi rida Allah, (5) berharap balasan hanya dari Allah, (6) bebaskan diri dari “perkataan” (baca: gunjingan) orang lain, cari saja rida Allah, (7) perkuat hati nurani, (8) pahami bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, (9) pikirkan kematian dan hari pembalasan, (10) camkan bahwa kita dapat meninggal kapan saja dan di mana saja. Rupanya Harun Yahya tak merasa perlu menjelaskan ciri-ciri atau pengertian ikhlas, tetapi langsung menyebutkan cara-cara untuk menumbuhkannya. Artinya ikhlas itu bakal bisa dirasakan dan dipahami keberadaannya jika kita telah mendirikan ke-10 pilar penopangnya.

Meski demikian, kita sebenarnya bisa mendefinisikan ikhlas berdasarkan pilar-pilar pembangunnya itu. Dengan demikian, ikhlas menurut Erbe adalah sebentuk kondisi batin yang terlahir dan dapat dirasakan dalam rupa kebersyukuran, kesabaran, kefokusan, dan ketenangan yang secara akumulatif menghidupkan atmosfer rasa bahagia. Lantas, ikhlas menurut Harun Yahya berarti sebentuk karakter mukmin yang selalu merasakan (1) keberuntungan, (2) takut kepada Allah, (3) berani berhadapan dengan sesama manusia atau sesama makhluk, (4) dambaan hati pada rida Allah, (5) dambaan pada balasan hanya dari Allah, (6) rasa bebas dari pengaruh gunjingan orang lain berkat pertautan kuat hati kita pada rida Allah saja, (7) kekuatan hati nurani, (8) hakikat kesementaraan kehidupan dunia, (9) keniscayaan kematian dan hari pembalasan, (10) kondisi diri yang senantiasa “ready” menyambut kematian kapan saja dan di mana saja.

Inti dari kedua versi ikhlas itu adalah kepasrahan total kita pada sunnatullah dan kehendak Allah. Pasrah dengan penghayatan hakikat kehambaawaman diri kita, dengan keterbatasan diri kita, untuk kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan segenap ketentuan yang Allah berikan buat kita (berupa sunnatullah dan buah dari kehendak-Nya), berupaya kreatif dan solutif. Artinya, ketotalpasrahan itu tidak melenyapkan kebebasan ikhtiar kita. Inilah landasan keikhlasan awami-Islami yang aku pahami berdasarkan pendekatan awamologi yang aku temukan.tarianzikir

Berdasarkan pengertian ikhlas yang demikian, maka benar saja yang dikatakan Erbe bahwa keikhlasan itu tidak akan melahirkan sikap lemah atau berefek pada kurang dihargai orang, tidak tercukupi secara materi, tidak tercapainya tujuan karena ketiadaan ambisi. Sebaliknya benar pula pernyataan Erbe bahwa dalam kondisi ikhlas––yang kini telah terbukti secara ilmiah––, manusia akan menjadi sangat kuat, cerdas, dan bijaksana. Lantas, kita jadi bisa berpikir jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan, serta membuat hubungan kita dengan sesama pun menjadi semakin menyenangkan.

Sampai di sini masihlah tersisa pertanyaan: bagaimana metode atau cara-cara aplikatif, praktis, yang mudah, sederhana, efektif, efisien, dan (menurut Erbe) “otomatis” mampu mendirikan pilar-pilar keikhlasan itu sehingga rumah keikhlasan terbangun dan kesuksesan serta kebahagiaan pun terwujudkan?

Erbe menawarkan satu cara (metode “pengaliran energi”) untuk dua sasaran, yaitu “menyala” atau hidupnya (1) mekanisme manajemen gelombang otak (brainwave management) “spiritual Islami” agar menjadi “otak rabbani” dan (2) mekanisme manajemen gelombang hati (heartwave management) “spiritual Islami” agar menjadi “hati rabbani” pula. Metode “pengaliran energi” dari Quantum Ikhlas ini dilandasi paradigma yang menyinergikan sisi spiritual (hati nurani/kinerja jantung) dengan sisi akal-pikiran atau sains (kinerja otak) dengan titik fokus pada sisi spiritual yang dalam praktiknya juga menggeser penekanan (melakukan transformasi) dari positive thinking ke positive feeling, dari goal setting ke goal praying, dan dari basis force (berlandaskan kekuatan diri sendiri saja) ke basis power (sinergi komprehensif integratif antara kekuatan diri dan Tuhan).lautsenja

Menurut Erbe, metodenya itu dapat dipakai untuk mengukur, melatih, dan menaikkan tingkat keikhlasan dari dasar hati hingga tercapai zona ikhlas dan terakseslah kekuatan dahsyat hati nurani yang memancarkan kompetensi (skill) keikhlasan yang mampu mewujudkan kejayaan yang seimbang.

Waduh, masih terasa abstrak. Apakah setelah metode quantum dialirkan ke dalam otak dan hati kita lalu otomatis hati dan otak kita berproses-bersikap-berperilaku-bergerak menuju ke arah zona ikhlas hati nurani? Lantas, gerak otak-hati itu bisa diukur, dilatih, dan ditingkatkan kecepatannya alias ditambah tingkat keikhlasannya? Wah, belum kebayang nih.

Apa malah tidak membuat ruwet? Bagaimana bisa ya orang-orang zaman zikirlagidulu, terutama Nabi SAW, melatih keikhlasan? Rasanya dari dulu cuma ada mekanisme zikir, zikir, doa (yang juga termasuk zikir), doa, baca Quran/taklim/mengaji-menuntut ilmu yang juga termasuk zikir, beramal atau beraktivitas apa saja yang Islami yang juga termasuk zikir. Ah, jangan-jangan zikir ini satu-satunya prosedur yang benar untuk menginstal keikhlasan dalam diri kita. Kalau menurutku sih insya Allah memang demikian. Tentu saja sarana lain bisa disinergikan dengan zikir karena zikir dalam arti luasnya adalah senantiasa memautkan gerak lahir batin kita dengan keberadaan Yang Maha Kuasa. Karena itu aku menawarkan formula zikir dan puisi atau berpuisi dan berzikir alias berpuizkir untuk mengarahkan diri kita pada pencapaian kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Inilah yang kemudian aku niatkan untuk merangkumnya dalam sebuah buku: Zikir-Puisi: Cerdas Maknawi Cerdas Islami. Sebelumnya, aku sudah berupaya merangkum perihal awamologi untuk menggapai kesuksesan yang di dalamnya juga menyertakan zikir sebagai alat pencapaian kesuksesan (dan kebahagiaan) itu.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

4 thoughts on “Perihal Keikhlasan

  1. Assmlkm
    subhanallah,tulisan mas Bahtiar begitu menyentuh hati saya, Saya sudah mencoba mengaplikasikan semua, termasuk mendekatkan diri pada Allah SWT.Tp masih sulit hati saya menerima, semua nya, pdhal mslhnya sepele mas, cinta. Kalau saya boleh meminta nasihat mas Bahtiar.. Terima kAsih

    Wss.

    Posted by Muhamad Nurul Ardi | Agustus 2, 2010, 5:00 pm
  2. Waalaikumsalam. Mas Muhammad, tulisan ini sebenarnya juga merupakan rangkuman agar aku sendiri paham soal ikhlas dan dapat mudah mengingat serta mengamalkannya.
    Agaknya masih rumit, maka ya kita permudah sendiri saja. Intinya, tetap tautkan segala yang menimpa kita kepada Tuhan. Analisis juga seberapa besar andil kesalahan kita pada hal-hal yang menimpa kita itu, lalu perbaiki.
    Khusus untuk soal cinta antarlawan jenis (bila aku tak salah menyimpulkan), kiranya film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 layak disimak. Di situ terkisahkan betapa tokoh utama (Abdullah) Muhammad Azzam berkali-kali gagal mendapatkan jodoh, tapi dia tetap tak putus asa (dengan terus berusaha) dan ikhlas “menerima takdirnya”. Dia juga jadi penasihat buat temannya yang asal Aceh (saya lupa namanya) yang tak sanggup mengungkapkan cintanya kepada Tiara dan akhirnya “memilih” melepaskan orang yang dicintainya itu kepada sahabat sendiri.
    Mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin.

    Posted by Awam | Agustus 2, 2010, 11:43 pm
  3. semoga sukses selalu
    untuk blognya…

    Posted by Nuraeni | Agustus 23, 2011, 11:33 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: