you're reading...
Buku, Sok Puitis

Balada Para Nabi dalam Puisi Asep Sambodja

Ini sekadar mem-posting tulisan lama, yang tak dimuat media, tentang buku puisi penyair Asep Sambodja. Mudah-mudahan berguna.

Judul               : Ballada Para Nabi
Penyusun        : Asep Sambodja
Tebal               : vi + 126 halaman
Penerbit          : bukupop Jakarta
Terbit               : I, Januari 2007

baladanabi1

Tentu saja Asep Sambodja bukan nabi. Ia hanyalah seorang penyair. Namun kali ini, kata-katanya bolehlah kita anggap sebagaimana petuah para nabi. Sebab, lewat buku kumpulan puisinya yang ketiga ini, Ballada Para Nabi (Jakarta: Buku Pop, 2007), ia banyak bertutur tentang kisah para nabi. Bahkan, ajaran bijak kitab suci pun ia nukilkan kembali dalam bentuk puisi.

Tidak semua orang mudah mengakrabi Alquran dan Hadis Nabi (Muhammad), misalnya. Maka, melalui buku kumpulan puisi ini, kita seperti disodori dua hal yang sama dalam kemasan yang lebih ngepop. Tentu saja esensinya tidak selalu sama persis. Ada sudut pandang sang penyair di sana. Namun sebagai sebuah bentuk karya fiksi, buku Asep ini menjadi punya dua makna sekaligus: sebagai sebuah hiburan dan tuntunan.

Lewat puisi “Bencong-Bencong Kota Saduum”, misalnya, pada bait pertama kita seperti dipersiapkan untuk menikmati kedua hal itu sekaligus: \laki-laki mencintai laki-lakiperempuan mencintai perempuanluth tak habis pikir,ini zaman edan!\.

Lantas, melalui puisi “Syair Lebah”, kita pun seperti disodori “sepotong roti diolesi madu” dari Alquran. Sampai pada bait terakhir, kita pun diajaknya berpikir, menimbang-nimbang nikmat Tuhan dan kekuasaan-Nya atas diri kita: \dan dari perut lebah keluar madu yang beraneka warnadan mengandung obatbagi manusiasebagai tanda kebesarannyabagi yang berpikir\.

Bagi sebagian penikmat puisi atau penyair lain, puisi-puisi Asep dalam buku ini bisa saja dianggap kurang puitis sebagaimana Goenawan Mohamad kurang bisa merasakan syair-syair Taufik Ismail yang dinyanyikan Grup Bimbo sebagai puisi (paling tidak dibandingkan dengan karya-karya Taufik terdahulu seperti dalam kumpulan Tirani dan Benteng). Kebetulan corak puisi Asep dalam kumpulan ini juga mirip dengan syair lagu-lagu Bimbo tentang 25 nabi. Namun, buku puisi Asep justru punya kelebihan. Kita seperti sedang mendengarkan lagu-lagu pada kaset itu dan membaca buku sekaligus. Kemungkinan untuk elaborasi atas hal-hal yang dipaparkan di dalamnya jadi lebih dapat dilakukan. Untuk berkritis-kritis, bercengar-cengir atau justru menolak sudut pandang penyair (Asep) di sini lebih dimungkinkan. Coba saja simak puisi pertamanya pada buku ini, “Manusia Pertama”: \hingga kini adam tak pernah tahusiapa yang membuatnya terlempar dari sorgaiblisatau perempuan itu\.

Terlepas dari apakah kita setuju atau tidak, keberadaan sudut pandang penyair di dalam puisi-puisi Asep ini justru membuat keasyikan tersendiri. Kita menjadi tertantang untuk menunggu kejutan-kejutan yang ditampilkan Asep melalui sudut pandangnya. Kira-kira, misalnya, seperti apa “sikap dan pandangan” Asep ketika bertutur tentang Nabi Isa? Apakah sama seperti Amir Hamzah atau Subagyo Sastrowardoyo yang juga pernah membuat puisi tentang sang nabi?

Dari segi bentuk, puisi Asep tentang Nabi Isa jelas berbeda dengan karya kedua penyair itu. Struktur puisi Asep lebih mirip syair-syair lagu Bimbo gubahan Taufik Ismail, sebagaimana telah disebutkan. Secara garis besar alur pikirannya tidak banyak berbeda dengan sumber rujukannya, Alquran dan Hadis Nabi, juga sumber-sumber lain yang lebih banyak berasal dari khazanah Islam, sebagaimana disebutkan dalam daftar pustaka. Namun, sebagai penyair, Asep tetap punya kebebasan untuk bersikap atas sumber-sumber itu. Hasilnya dapat kita simak sebagai berikut (puisi “Keajaiban Isa”).

\Isa adalah keajaibandunia–\datangnyadan perginyasenantiasa menyisakantanda tanya\dalam kebimbanganorang-orang harus percayatentang maryam,…\dalam kekalutanorang-orang harus percayaisa diangkat oleh allahsebelum penangkapan itu…\lalu siapa yang disiksatentara kolonial romawi itu?\perginya isasenantiasa menyisakanpertanyaan bagi siapa sajakarena isaadalah keajaibanduniaakhirat\.

Asep memang sudah lama menulis puisi. Ini buku kumpulan puisi tunggalnya yang ketiga (2007). Dua yang pertama adalah Menjelma Rahwana (1999) dan Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006). Selain itu, beberapa puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi dari Graffiti Gratitude (2001) hingga Legasi: Antologi Puisi ASEAN (2006). Tak pelak, buku Ballada Para Nabi ini memperlihatkan kelenturan urat kepenyairan Asep. Ia tidak lagi sekadar bermain-main dengan kata-kata, tetapi tidak juga lantas memaksa kata-kata untuk hanya menyampaikan ide atau petuah-petuahnya. Ia, misalnya, tidak sekadar bermain-main dengan tema yang digarapnya sebagaimana penyair Binhad Nurrohmad banyak ngoceh tentang seks, tapi tanpa konsep yang jelas tentang apa yang ingin dikemukakannya kecuali sekadar mengobral kata-kata. Asep lebih baik dan jelas dalam hal ini. Bukan karena pilihan temanya adalah tema agama, tetapi karena memang kenyataannya demikian. Dua puisi berikut dapat membuktikan hal itu. Yang pertama “Pada Sebuah Kata”: \rahasia yang tak pernah terungkapadalah katayang melahirkan kita ke bumi jelata\. Yang kedua “Seperti Laba-Laba”: \seperti laba-laba yang membuat rumahbegitulah orang-orang yang menyekutukan allahdan sungguhrumah yang paling lemahadalah rumah laba-labakalau kau tahu\perumpamaan inidibuat untuk manusiatapi tak ada yang memahamikecuali yang berilmu\.

Singkat kata, bagi yang mencintai kata-kata, peduli pada bahasa (Indonesia) dan agama, buku Asep ini layak dibeli, dinikmati, dan diapresiasi. Sungguh, ini bukan promosi. Wassalam.

kakbahBahtiar Baihaqi, Penikmat kata-kata, pencinta bahasa Indonesia

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

One thought on “Balada Para Nabi dalam Puisi Asep Sambodja

  1. Terima kasih Bachtiar. Sungguh terharu….

    =>Ah, si Bos, jadi malu nih. Makasih dah mampir.

    Posted by Asep Sambodja | Desember 13, 2008, 9:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: