you're reading...
Sok Berbagi

Duo Cemerlang dari Tangerang dan Trio Shihab Satu Mazhab

rumah1pesawat-terbang

Cerita menarik ini aku dapatkan di harian SINDO (14 Desember 2008) yang aku baca lewat versi online di situsnya: http://www.seputar-indonesia.com/. Tepatnya pada rubrik Periskop. Pengantarnya ada pada halaman utama: Kisah Para Penuai Sukses. Ini bahasan mengenai kisah sukses anak-anak dalam satu keluarga. Cerita tentang perjalanan sebuah keluarga dalam membesarkan anak-anaknya sehingga semua anak dapat sukses. Dua hingga tiga atau lebih di antaranya bahkan menorehkan pencapaian monumental. Dari bidang olahraga (bulutangkis) misalnya ada keluarga Mainaky. Di pemerintahan ada dua bersaudara dari Tangerang. Yang satu kini jadi Wali Kota Tangerang (Wahidin Halim), yang kedua jadi menteri luar negeri (Hassan Wirajuda). Yang juga terkenal adalah trio yang beken di bidang keagamaan: Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Umar Shihab (kini di Majelis Ulama Indonesia). Yang lain masih banyak. Di antaranya yang disebut di sini adalah duo Mallarangeng (Andi Alfian dan Rizal), duo Supandji (Hendarman dan Hendardji), serta anak-anak keluarga Soemarmo yang salah satunya pernah jadi menteri: Rini Soemarmo Suwandi. Juga ada keluarga Firmansyah yang salah satunya kini menjadi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia: Erry Firmansyah.

Secara umum, semua paparan kisah mereka bagus dan menarik, juga berhikmah. Namun, yang secara personal menempel di benakku adalah kisah dua keluarga sebagaimana disebutkan dalam judul postingan ini: duo Tangerang dan trio agamawan keluarga Shihab. Mungkin karena dua judul khusus mengenai mereka di Periskop SINDO cukup menggelitik. Mengenai Hassan Wirajuda dan Wahidin Halim, SINDO mengisahkannya dalam Bocah Gembala, Pesawat Terbang,dan Doa Ibu. Lalu tentang keluarga Shihab, serupa dengan postingan ini: Trio Shihab Satu ”Mazhab”.

Berikut ini beberapa kutipan menarik dari kisah mereka.

SINDO membuka kisahnya tentang duo Tangerang itu begini. “Tinggal di lingkunganwahidin-halim1 keluarga Betawi dengan kondisi perekonomian seadanya membuat kedua bocah gembala harus berbahassan-wirajuda2gi tugas membantu orangtuanya.” Ya, kedua bocah lelaki kakak beradik yang masih duduk di sekolah dasar itu asyik menggembalakan kerbau sambil menenteng buku di sepanjang perjalanan dari Kampung Pinang, Cipondoh, Kota Tangerang hingga Batuceper-Benda (sekarang Bandara Soekarno-Hatta).

Menggembala kerbau adalah pekerjaan rutin mereka selepas pulang sekolah. Di sela-sela menggembala kerbau, keduanya kerap bersenang-senang, mandi di Kali Angke yang kala itu airnya masih bening dan bersih. Namun, siapa sangka kedua bocah gembala kini menjadi orang yang sukses dalam kariernya. Sang kakak adalah Nur Hassan Wirajuda yang kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) dan adiknya,Wahidin Halim, adalah Wali Kota Tangerang.

Kebiasaan lain yang juga sering dilakukan dua bersaudara itu ketika kecil adalah mengejar arah pesawat terbang yang tengah melintas di atas rumah mereka sambil melambai-lambaikan tangan. ”Kapal, minta duit! Aku minta kueee,” teriak Wahidin. Lantas, Hassan menimpali, ”Kapal, tungguuu! Aku mau ikut!”

Melihat tingkah laku kedua anaknya, sang ibu tak kuasa menahan tawa. Ibu mereka pun berujar, ”Gue doain moga-moga elu, San (Hassan Wirajuda), bisa naik pesawat terbang ke luar negeri dengan ongkos gratis. Elu juga Din (Wahidin Halim), emak doain nanti banyak makanan.”

Ternyata, dahsyat nian doa sang ibu. Kini, doa itu terkabul: Hassan yang berkarier sebagai diplomat di jajaran Departemen Luar Negeri menjadi Menlu sejak 2001. Sebagai diplomat, keinginan masa kecilnya “untuk naik pesawat gratis” pun terkabul.
Sementara Wahidin yang menjabat Wali Kota Tangerang sejak 2003 hingga sekarang tentu tidak kekurangan makan dan uang sebagaimana keinginannya dulu ketika mengejar-ngejar pesawat terbang.

Lalu soal trio Shihab, SINDO menuturkannya begini. “Tiga Shihab bersaudara sejak remaja terpisah dari orangtua. Mereka harus menuntut ilmu agama di Mesir. quraish-shihab1Kini, ketiganya sukses sebagai tokoh religius moderat.”ketua-mui-umar-shihab

alwi-shihab

Aku tidak tertarik soal mereka disebut moderat atau apalah. Yang jelas, sejak belia mereka mesti hidup prihatin, kerja keras, dan terpisah jauh dari orang tua. Memang ayah mereka adalah seorang guru besar bergelar profesor: Prof. Abdurrahman Shihab, guru besar tafsir Alquran dan salah satu pendiri Universitas Muslimin Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, dalam hal biaya sekolah, keluarga Shihab ini juga menghadapi situasi yang tak mudah. Sebagaimana dituturkan Alwi, ayahnya mengirim anak-anaknya bersekolah hingga ke Mesir bukan lantaran bergelimang harta. Walaupun sebagai salah satu tokoh pendidikan di Makassar, bukan berarti dia mampu memberikan bekal harta untuk pendidikan mereka. Shihab bersaudara hanya mengandalkan beasiswa yang jumlahnya hanya cukup untuk biaya hidup seadanya.


Tak pelak, untuk menambah uang saku di Mesir, Shihab bersaudara harus bekerja. Alwi misalnya pada musim panas harus ke Jerman untuk bekerja. Ayahnya memang tidak memberikan bekal uang cukup. Yang rutin dikirimkan kepada anak-anaknya adalah bekal nasihat lewat surat.


Menurut Quraish, ayahnya selalu menekankan tiga hal, yaitu kejujuran, kerja keras, dan rendah hati. ”Ayah pada waktu saya dan Alwi akan berangkat berpesan, ’jangan pulang sebelum menyelesaikan gelar doktoral’,” kenang Quraish. Di Mesir, sebagai anak tertua, selain berperan sebagai saudara, Quraish juga berperan sebagai teman dan ayah bagi adik-adiknya. Itu sebabnya, dia tak segan-segan menegur Alwi jika melakukan sesuatu yang dinilainya salah. Seperti ketika Alwi memilih bekerja pada musim panas ke Jerman. Quraish ragu Alwi bisa menyelesaikan pendidikannya. Dia khawatir pekerjaan akan mengganggu aktivitas pendidikan Alwi. Quraish pun menegur Alwi, tetapi Alwi bisa menjawabnya dengan prestasi gemilang.
Dia menjadi salah satu lulusan terbaik Al-Azhar, bahkan mendapat penghargaan langsung dari Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser.

Bagi Alwi, bekerja sambil kuliah adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Jika hanya berbekal beasiswa, baginya sulit untuk menambah ilmu lewat pendidikan di luar kampus karena biayanya cukup mahal. Menurut dia, selain pendidikan formal, dia juga membutuhkan pendidikan lain di luar kuliah. Bagi Quraish, adiknya itu (Alwi) memang sosok yang suka tantangan. Hal itu pula yang terjadi pada Umar. Kini, masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sangat mengenal sosok keluarga Shihab sebagai keluarga religius. Quraish jadi ahli tafsir Indonesia ternama.
Sementara Alwi di kalangan cendekiawan dan pemikir Islam Amerika Serikat (AS), namanya tidak asing lagi. Alwi adalah salah seorang ahli Islam pertama yang duduk dalam Board of Trustee pada Centre for the Study of World Religions, lembaga pengkajian yang berafiliasi dengan Harvard Divinity School. Di bidang akademis Alwi dibekali dua gelar doktoral, salah satunya diambil di AS.
Dia bahkan masih menambahnya dengan program postdoktoral di Universitas Harvard. Selanjutnya, dia mengajar di berbagai universitas di AS, termasuk di Universitas Harvard. Lalu, Umar, kini ia berkiprah di MUI.

Yang pasti, kini tiga Shihab bersaudara dapat dikatakan merupakan pilar agamawan di Indonesia. ”Guru saya adalah guru Alwi dan Umar karena kita adalah alumni Al-Azhar. Mungkin hanya untuk beberapa hal kita berbeda guru,” ungkap Quraish. Menurut Alwi, jika ada masalah-masalah terkait keagamaan, mereka bertiga seringkali berdiskusi.
Quraish, sebagai kakak tertua, tetap dijadikan anutan dan guru tempat bertanya. ”Quraish sering tanya kepada saya masalah Barat dan Umar bertanya tentang agama-agama kepada saya. Begitu juga saya, bertanya kepada Umar tentang berbagai hal yang dibahas di MUI,” tutur Alwi kepada SINDO.

Dari secuil nukilan paparan kisah para penuai sukses itu, agaknya benar apa yang disebutkan oleh ACE Greenberg, partner senior dan CEO Bear Stearns, bahwa kesuksesan sering diraih oleh orang-orang yang bergelar PSDs (poor, smart, with a deep desire to become wealthy). Mereka adalah orang-orang miskin, tapi pintar dan terutama punya hasrat yang kuat untuk menjadi orang yang berhasil. Artinya, kesuksesan sejati itu bisa diraih oleh siapa pun tanpa harus ada unsur genetis atau keturunan. Setujukah?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

2 thoughts on “Duo Cemerlang dari Tangerang dan Trio Shihab Satu Mazhab

  1. “Mereka adalah orang-orang miskin, tapi pintar dan terutama punya hasrat yang kuat untuk menjadi orang yang berhasil.”
    Aku setuju…! Sesuai visi blog-q: female power is her desire..!

    =>Iya. Makasih Bu Cantik.

    Posted by Blog Cantik | Desember 15, 2008, 9:28 am
  2. Cing Doain ya supaya nti gede’y sukses ky encing..

    @Iye, Encing doain, (he he he, bergaya sebagai encingnya mr. ius).

    Posted by Mr.Ius | Mei 14, 2009, 3:35 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: