you're reading...
Calon Penghuni Surga

Bermodal Dengkul Saja Bisa Masuk Surga

salatkhusuk

Temen-temen pasti tahulah soal “dengkul” itu. Maksudnya serupa dengan pas-pasan atau cukup sedikit saja, tapi ikhlas. Soal banyak-sedikit memang relatif, tapi kita masing-masing pasti tahu ukurannya. Namun, sungguh, jangan abaikan yang cuma sedikit itu. Jangan terus menggerutu pada apa-apa saja yang tampak terbatas atau minim pada diri kita. Syukuri saja, manfaatkan sebaik-baiknya, insya Allah hasilnya akan luar biasa. Jangan takut meski cuma orang awam. Orang awam pun bisa sukses, bahagia, dan masuk surga. Padahal hanya bermodal “sedengkul” itu.

Lah, lalu apa buktinya? Siapa saja contoh orang-orang seperti itu?

Sabar, sabar. Soalnya, kesabaran juga salah satu jenis “modal dengkul” ini yang dapat mengantarkan kita ke surga, selain keikhlasan yang tadi dah disebut. Aku kasih contoh yang bermodal dengkul ikhlas ini saja dulu ya. Yang ini soalnya sudah terkenal banget. Sosoknya sih anonim alias tanpa ada keterangan jelas mengenai namanya. Tapi, profesinya terang-terangan disebutkan: pelacur. Nah lho, pelacur kok bisa masuk surga? Ya, bisalah, masa bisa-dong. Kan Nabi sendiri yang ngomong. Maksudku, keterangan mengenai hal itu ada di hadis Nabi Muhammad SAW.

Ya, di dalam hadis itu dikisahkan bahwa ada seorang pelacur yang merasa iba melihat seekor anjing yang kehausan. Lalu, sang pelacur memberinya minum dengan memakai sepatunya. Kemudian, dari hadis itu disebutkan pula bahwa dengan amalan ikhlasnya itu, dia pun lantas masuk surga. Hadisnya sahih, lho. Sejauh ini belum aku temui kontroversi tentang hadis menyangkut kisah pelacur ini. Kajian lebih lanjut soal ini biar menjadi bagian para ahli hadis.tangismata

Hadis-hadis lain juga sering mengungkap soal keikhlasan ini atau dalam ungkapan lain kerap disebut sebagai amal salih, saleh atau soleh (sama aja maksudnya). Misalnya ada hadis yang menyebutkan perihal seseorang yang akan berhaji, tapi lalu mengurungkan niatnya lantaran tergerak hatinya untuk memberikan pertolongan kepada tetangganya yang tengah amat membutuhkan bantuan. Dia pun lalu memberikan sebagian ONH-nya untuk menolongnya. Namun, justru dialah yang lalu mendapatkan ganjaran dari Allah sebagai haji mabrur. Nah, haji mabrur tentu saja balasannya ya masuk surga. Serba-sedikit mengenai hal ini pernah aku singgung pada posting Antara Poligami dan Haji.sedekah1

Dua itu dulu cukup untuk mewakili orang yang bermodal dengkul keikhlasan (amal saleh) bisa masuk surga. Selanjutnya, kita coba ambil contoh sosok yang lebih jelas lantaran disebutkan namanya, meski masih tetap dari zaman Nabi. Sebab, yang dari zaman modern kan tidak ada jaminan dalam hadis bahwa dia masuk surga. Namun, kita bisa menjadikan mereka yang disebutkan dalam hadis itu sebagai contoh dan alat pengukur sehingga dapat dirasakan figur-figur seperti apa, bagaimana, atau siapa-siapa gerangan yang dapat meraih surga sedemikian.

Kini kita teladani sosok orang awam di zaman Nabi bernama Julaibib. Ia cuma orang awam, orang biasa saja. Bahkan miskin. Kalau zaman sekarang mungkin ia dapat disepadankan dengan para kuli atau pekerja kasar, tukang gali jalan dan sejenisnya. Dalam bahasa “jangkung”-nya, ia hanya orang berkategori “nobody”, bukan siapa-siapa sehingga nyaris tak ada yang mengenalinya (di masyarakat saat ia hidup kala itu). Nyaris tak ada catatan mengenainya “di kantor kelurahan setempat” alias “zero”, nol, kosong belaka. Namun, ternyata, di akhir hidupnya, ia betul-betul menjadi pahlawan, “hero”, alias menorehkan catatan harum. (Duh, jadi inget lagu Ibu Kita Kartini yang harum namanya itu). Pokoknya bisa dikatakan ia telah menjadikan dirinya dari “zero to hero”. Tapi, jelas, ini bukan seperti ungkapan yang sering dipakai di berita atau ulasan-ulasan sepakbola yang kerap berlebih-lebihan untuk sekadar menjuluki seorang pemain yang berhasil membuat gol sehingga dapat menyelamatkan klubnya dari kekalahan. Ini benar-benar gambaran tentang seseorang awam yang lalu menjadi pahlawan sejati bagi diri dan keluarganya. Bahkan mungkin bagi semua orang awam. Aku sendiri ngiri, tapi juga terinspirasi. Namun, pahlawan di sini harap diartikan sebagai sosok pemberi pencerahan atau inspirasi itu, pelipur lara penguat hati, peneguh kesabaran dan iman untuk terus istiqamah di jalan Tuhan.

Nah, lalu apa sebabnya kok Julaibib jadi istimewa? Inilah kisahnya. Memang cuma sepotong aja dari momen akhir hidupnya. Dikisahkan bahwa si Julaibib yang orang biasa miskin-papa ini dengan senang hati ikut berjihad membantu Nabi dalam sebuah peperangan. Tak ada yang mengenalinya waktu itu, termasuk para sahabat Nabi. Tak ada pula dia dalam daftar para punggawa perang. Ya, iyalalah, ia memang bukan siapa-siapa. Terbukti setelah selesai perang dan semua orang di pihak Nabi yang selamat coba mengecek keadaan, mencatat siapa saja yang selamat dan yang wafat dan lain-lain, tak jua ada yang menanyakan Julaibib. Namun, tiba-tiba saja Nabi angkat bicara. Beliau bertanya-tanya di mana gerangan Julaibib. Yang mengharukan, setelah ditemukan bahwa Julaibib meninggal dalam perang, ternyata Nabi begitu menghargainya, memperlihatkan perhatian dan rasa kasih kepadanya. Nabi membersihkan wajah dan badan Julaibib dari debu dan kotoran lain yang melekatinya. Sambil mengusap-usap wajah Julaibib, Nabi pun mengucapkan kata-kata yang amat menyentuh untuknya. “Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Nabi bahkan mengulang-ulang kata-kata itu hingga tiga kali.gunduklautsenja2

Aku kira dahsyat betul penghargaan Nabi kepada Julaibib. Itu setara dengan penganugerahan gelar pahlawan dari presiden atau pemerintah dalam konteks di tanah air kita ini. Bahkan lebih mulia dari itu. Ya, ini sekadar sebagi pembanding saja. Coba saja kalau tiba-tiba Presiden SBY datang secara pribadi, dengan tergopoh-gopoh, ke rumah kita lalu merangkul kita dengan sangat-sangat tulus, mengucapkan ungkapan kasih mendalam dan syahdu, dijaminlah pasti kita akan sangat terharu. Nah, apresiasi Nabi atas Julaibib pun demikian. Bahkan lebih dahsyat daya getar dan inspirasinya. Yang juga penting, semua itu tercatat dalam lembar sejarah, menjadi bagian dari hadis Nabi. Aku sendiri membaca kutipan perihal kisahnya itu dari buku Be Your Self (terjemahan Penerbit Grafindo Jakarta, cetakan III, April 2007) karya Syekh Aidh Abdullah Al-Qarni. Dia adalah pengarang buku La Tahzan yang terkenal itu.

Kisah-kisah keteladanan tentang orang awam atau mereka yang tetap istiqamah berada di jalan Tuhan meski hidup miskin atau cukup sederhana saja ini banyak sekali. Salah satunya yang terkenal adalah kisah sahabat bernama Abu Dzar. Lengkapnya Abu Dzar al-Ghifari. Ia “pendekar pembela orang miskin (awam)” yang tak takut untuk menegur para penguasa lalim di mana saja berada. Jadi, kalau saja dia ada di Indonesia saat ini, bakal keder-lah para pejabat yang suka tak amanah di negeri ini. Tapi, perihal detailnya lain kali aja ya diceritakan. Atau mungkin teman-teman dah hafal tentang dia ya. Kalau belum, untuk sementara, coba cari lewat mesin pencari google dulu. Sekarang mending aku kasih “bonus” (tambahan) curhat lamaku yang menyebut-nyebut pula soal pelacur dan anjing (kayaknya ditulis sehabis Lebaran dua tahun lalu––heh, lama betul), berikut ini. Eh, nggak jadi ding. Naskahnya dicari-cari gak ketemu. Mungkin nanti aja, pada posting lain. Soalnya bakal sering bahas perihal orang awam bermodal dengkul lalu sukses, bahagia, dan masuk surga ini. Kan memang ini blog awamologi. Dah dulu ya.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Lebaran, Pelacur, Surga, dan Anjing « Awamologi - September 6, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: