you're reading...
Awamologi

Lebaran, Pelacur, Surga, dan Anjing

lebaran11

Ah, sayang sekali, curhatku soal perjalanan mudik Lebaran dua tahun lalu raib entah ke mana. Meski tak bagus-bagus amat sebagai sebuah tulisan, paling tidak buatku ada gunanya. Ya, semacam jejak-jejak sejarah buat anak cucu. Halah gaya betul ngomongnya. Tapi, ya uwislah (ya udahlah), mending aku reka-reka ulang saja jejak-jejak kejadian perkara (JKP)-nya. Wah, kayak polisi aja.

Tapi, lha kok sampeyan suka banget sih sama pelacur? Juga sama anjing? Kan kemaren baru sampeyan omongin di Bermodal Dengkul Saja Bisa Masuk Surga.sepatu-pelacurkah

Wah, ya nggak gitu. Kalau ama surga sih memang itu dambaannya. Aku ini kan orang awam. Mungkin kalau dah setingkat sufi-wati macam Rabiah al-Adawiah sih gak peduliin lagi tuh surga. Yang penting berkhusuk-cinta saja dengan Sang Maha Pencipta.

Dah, jangan tanya-tanya lagi, mending aku mulai saja rekonstruksi perkaranya. Ceritanya begini. Poin-poin intinya saja ya.lebaran4mudik1

Ya, dua tahun lalu itu aku mudik Lebaran dari Bandung ke Purwokerto––nah lho ketahuan dah orang ngapak-ngapak Banyumasan (biarin, Jenderal Sudirman aja dari kampungku, kok; persis dari desaku malah, tapi versi sejarah resmi sih disebutkan dari kota kecamatan lain di Banyumas). Pokoknya waktu itu aku naik bus Budiman, soalnya mau naik kereta api kagak ada yang ke Purwokerto, tidak seperti dari Gambir ada kereta khusus ke tempatku itu.

Bus (AC) Budiman ini rupanya satu-satunya terfavorit para pemudik ke daerahku. Yang lain gak ada yang lebih bagus. Lagipula relatif tertib administratif, tak seperti bus-bus lain yang suka nggetok alias naikkin tarif semaunya. Ternyata, saat Lebaran itu, Budiman pun agak sedikit tak disiplin. Maksudku, para awak busnya ketika itu juga naikkin tarif di atas kenaikan tarif resmi Lebaran dari perusahaan bus yang bersangkutan. Memang sih hanya selisih lima ribu, masih lebih kecil atau bahkan terkecil dibandingkan bus-bus lain. Ya, sudah, aku berusaha menikmati perjalanan saja. Kemacetan tentu saja pasti ada karena entah akan sampai kapan bisa diatasi. Bahkan saat ini pun pembangunan Lingkar Nagrek diprediksi belum akan sanggup maksimal mengatasi hal itu meski jadinya akan dibikin terowongan.

Bus pun melaju juga. Hampir sepanjang perjalanan aku dan keluarga (istri plus dua anak) disuguhi hiburan lewat video rekaman lagu-lagu. Lumayan enak-enak juga. Di antaranya tembang-tembang lawas yang dinyanyikan Yuni Shara.

Yang lebih menghibur adalah bodoran (lawakan) khas Sunda dan Cirebonan. Salah satunya yang aku inget menampilkan pelawak yang rasa-rasanya kemudian sering nongol di TV. Kalau gak salah namanya Ohan K. Anaknya kecil, pendek, gigi ompong bergaya Kabayan. Yang dominan sih lawakan mereka pakai bahasa Sunda. Aku cukup terhibur juga meski hanya sedikit tahu kosakata bahasa Sunda. Catatanku untuk sajian sejenis ini, aku betul-betul angkat topi: layaklah dilestarikan. Lagian secara keseluruhan, dari bahasa tubuh mereka tak ada materi yang menjurus ke porno-pornoan.

Namun, tiba-tiba, saat petang mulai beranjak ke malam, ketika perjalanan tinggal sepertiga lagi, kala anak-anak dan istri terlelap dalam mimpi, muncullah kedahsyatan produk ala Indonesia: musik koplomasya-allah1 superporno sontoloyo bikin melongo, ho ho ho… Kalau dangdut diklaim sebagai salah satu identitas musik Indonesia meski asalnya dari India lewat saringan dan percampuran dengan musik Melayu, maka musik koplo ini aku rasa betul-betul khas Indonesia. Ini jenis musik nggragas aliasserakah” yang jenis musik lain apa saja bisa dicaplok diaduk dijadikan sajian koplo. Jangan kata cuma kasidahan, nasyid atau lagu rohani gereja pun aku rasa bisa di-koplo-in. Bravo dah, kalo dari sisi ini. Tapi, dari sisi yang lain, meski sebenarnya bukan dari sisi musikalitasnya, tetapi dari sisi penyajian atau penampilan para penyayinya, seperti yang tersaji di perjalanan mudik Lebaranku ini, walah nauzubillah. Amat sangat dahsyat memang, tapi itu dari sisi yangjangan-koploan amat sangat negatif sekali. Aku rasa negara mana pun takkan ada yang mampu menandingi “kehebatan” kreasi orang Indonesia ini. Di negara yang masyarakatnya penganut free-sex sekalipun, tidak akan mampu mengalahkan capaian para koplo-er ini. Sebab, ini produk massal, yang disajikan di tempat umum, publik, dan siapa saja bisa menikmatinya, termasuk anak-anak. Untung saja anak-anakku terlelap cukup lama.

Yang juga mengagetkanku, dalam beragam sajian lagu-lagu koplo itu, terpapar iklan tulisan berjalan (running-text) berisi alamat produsen rekaman musik koplo ini. Memang ini cuma salah satunya saja. Tapi, masalahnya, alamat yang tertera itu menyebutkan nama jalan di daerah Rembang, Jawa Tengah: Jalan KH Bisri Mustofa (maaf kalau salah tulis). Aku ingat betul ada “Mustofa”-nya. Pokoknya pastilah itu kerabatnya Gus Mus alias KH Mustofa Bisri yang beken pula sebagai penyair atau budayawan dan memang Gus Mus berasal dari Rembang. Dalam batinku ketika itu, “Oalah Gus, Gus, sadis betul mereka mencoreng namamu.”

Aku gak tega mengulang deskripsiku soal sajian “porno abis” ini. Kalau saja tulisan asliku dulu dapat kutemukan, mungkin bisa kukutipkan “kesaksian mata kepalaku waktu itu” yang “lebih polos dan jujur tanpa sensor”. Pokoknya kalau adegan bersebadan dengan pakaian minim diperagakan di muka umum, adakah yang lebih “raja-tega” dari ini?

Tapi kala itu aku tetap berusaha bersabar, tetap “bijak” dengan gaya “filosofis” merenung-renung menariknya dalam hamparan hikmah dan makna. Ceilah. Tapi bener, makanya lalu aku ketemu sama rombongan “pelacur dan anjing” itu––sama seperti yang telah disebut dalam posting terdahulu soal modal dengkul untuk masuk surga itu. Intinya aku tetap mencoba memberi ruang “pertobatan” bagi para koplo-er ini. Yah, siapa tahu, selama hayat masih dikandung badan, pintu hidayah dan ampunan kan takkan pernah ditutup Tuhan.

Ya, intinya begitu. Memang, saat itu hingga lalu kutuliskan dalam curhatku, terlontar umpatan juga sejenis “bangsat”. Tapi, itu tetap dalam nada sebagaimana orang Jawa bilang “Assuuu” (anjing) dalam jangkauan makna yang tidak selalu berarti sebagai makian, tetapi bisa pula mewadahi makna keakraban antarteman yang di dalamnya bisa juga tertampung permakluman.

Nah, pelacur dan anjing yang mendapatkan hadiah surga dari Tuhan itu, ya memang begitu. Tapi, kemarin saat googling di internet, aku temukan juga sudut pandang yang menafsiri bahwa hadiah Tuhan buat sang pelacur itu bukan (hanya) karena kemurahan Tuhan begitu saja, tetapi terutama karena sang pelacur sendiri telah sampai pada taraf menyadari keberadaan dirinya, mengenali dirinya hingga: “Ternyata aku ini gak lebih mulia atau sebaliknya lebih hina dari anjing yang kerap dianggap hina oleh manusia.” Lalu, sang pelacur itu pun tergerak untuk “hijrah” dari kesadaran itu menuju “pengamalan” berupa (perlambang) “memberi minum anjing” itu.waterinthedark2

Demikianlah. Namun, harus kukatakan pula bahwa awamologi pun antara lain aku gunakan sebagai sarana pengenalan diri ini. Motonya juga: kenali diri, berdayakan diri dan sesama. Akhirnya, maafkan diriku teremans jika ada kekhilafan. Wassalamualaikum.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

One thought on “Lebaran, Pelacur, Surga, dan Anjing

  1. Hmmmm dnagdut koplo porno juga videoya beredar dimana-mana
    padahal itu tanggapan lho pak
    tanggapan acara nikahnya *** dengan *** putra pak Haji **** besan haji ****

    @Iya, bener. Kok bisa ya?

    Posted by Maskur® | September 7, 2010, 10:57 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: