you're reading...
Unek-unek awam

“Golput”, Keteladanan Para “Liliput”

Maafkan beribu maaf bila judul postingan ini rada kacau dan golput1nanti isinya pun tak selalu sesuai. Terus terang, saat tulisan ini dibuat, di media massa menjelang Pemilu 2009 ini memang lagi ramai diberitakan soal pilihan menjadi “golongan putih” alias golput dikaitkan dengan sudut agama. Pak Hidayat Nur Wahid, misalnya, mendesak MUI untuk mengharamkannya lantaran ini berkaitan dengan memilih pemimpin negara. Namun, Pak Amin Rais tak setuju dengan pengaitan seperti itu alias golput tak ada hubungannya dengan agama (soal halal-haramnya).

Masalahnya, menurutku, kalaupun perkara ikut pemilu itu menjadi wajib hukumnya, nah lalu kalau yang mau kupilih kagak ada, nggak ikut menjadi calon presiden atau ikut tapi lewat jalur independen yang belum tentu nanti lolos dll semacam itu, apa aku tetap wajib memilih calon yang nggak pas dengan pilihan nuraniku? Lagipula sosialisasi soal pemilu juga kacau dan gak tau apa aku ini dah terdaftar sebagai pemilih atau belum. Padahal, pada pemilu yang lalu ada petugas tersendiri yang datang ke rumah mendaftarku, kok kali ini gak ada ya?

Kemudian, yang paling penting justru para calon pemimpin dan partai/pihak pengusungnya itulah yang mesti mewajibkan diri mereka untuk betul-betul berjuang demi rakyat banyak, tidak sekadar mengumbar janji-janji angin surga kesejahteraan dll. Hal demikian pun mestinya selalu dilakukan kapan saja sehingga orang-orang tahu bahwa mereka semua peduli sesama.

Etos pemberdayaan sesama atau jihad sosial ini sebenarnya juga berlaku buat semua warga bangsa ini, sebab bukankah semuda dari kita ini kan berhak untuk dipilih (mencalonkan diri) dan memilih pemimpin? Lalu, jihad sosial ini juga tidak harus lewat partai politik. Ya, tiap pribadi masing-masing saja mesti selalu sigap tergerak untuk melakukan kebaikan kapan pun dan di mana pun. Fastabiqul khairat gitulah, berlomba-lomba melakukan kebaikan jihad sosial ini. Tentu saja, orang-orang yang secara sosial punya kapasitas lebih alias termasuk dalam kategori “bukan awam” semisal para ahli, pejabat, birokrat, elite pemimpin, politikus, dan sejenisnya harus lebih terpanggil lebih dulu untuk menunjukkan keteladanan dalam soal ini. Jangan kebalik, orang awam dulu yang memberi contoh. Nanti apa gak malu kalau para awam dulu yang maju memberdayakan sesamanya? Lalu apa kalian para orang hebat mau kalau para awam saja yang memimpin kalian? Bukankah kesigapan dan kesungguhan untuk berjihad sosial ini merupakan “kampanye” paling nyata yang akan menjadi magnet dahsyat yang akan menggerakkan kami dengan sendirinya untuk memilih kalian sebagai pemimpin?

Ah, mungkin kami, para liliput, orang-orang kecil awam ini harus bisa mandiri, saling memberdayakan diri kami sendiri dan saling memberikan keteladanan. Lalu, kami juga harus selalu menyediakan diri kami, harta dan jiwa kami, untuk kalian apa sajakan. Mungkin kami harus melahirkan banyak “Hanzalah”, pemuda yang amat sangat sigap memenuhi panggilan jihad ke medan laga Perang Uhud. Padahal, dia baru saja menikmati malam pertama perkawinannya. Belum sempat pula mandi junub, ia bergegas lekas-lekas melakukan keteladanan yang bikin takjub.jihad

Kami juga mesti tetap sabar dan tegar karena ternyata medan jihad itu ada di mana-mana di negeri kami. Di sepanjang rel Jabotabek saja yang tiap hari kami lalui, panggilan jihad itu masih saja menanti. Entah sampai kapan ketimpangan di tiap jengkal “jalur kereta” ini tertangani. Terutama untuk yang kelas ekonomi, kelas kaum awami.kajabotlagi

Gedegraakkk, masya-Allah, barusan ternyata aku tertidur di kereta. Kalau saja kereta tak berhenti mendadak, mungkin aku akan keterusan tertidur sampai Bogor, padahal mesti turun di Stasiun Citayam, stasiun keempat kalau perjalanan dimulai dari Stasiun Bogor. Wah, ternyata tadi itu aku mimpi soal golput dan liliput itu toh. Kok mimpinya sampai memelas banget gitu ya.

Wah, masih ngantuk nih. Tapi, ngomong-ngomong, nanti pemilu ikut milih gak ya. Ah, kayaknya mending jadigolput-putih golput aja deh. Golongan yang benar-benar putih, putih hatinya, pikirannya, dan kelakuannya. Ayo, para awamers, orang-orang awam, kita saling berbagi cerita soal keteladanan jenis golput ini. Misalnya kayak cerita kepahlawanan atau keteladanan yang dilakukan Endang Aripin (almarhum) yang sampai mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Jepang itu, termasuk Kaisar juga memberikan penghormatan. Lha, Kang Endang yang asal Cirebon itusyukurmembantu memang layak mendapat penghargaan dan diteladani. Dua remaja putri Jepang ia selamatkan saat mereka terseret arus laut meski ia sendiri kehilangan nyawa karena memang tidak bisa berenang. Film dokumenter tentangnya pun lalu dibuat oleh sutradara Jepang Takahiro Murasawa yang diberi judul Mas Endang (2008). Wah, apresiatif betul mereka ya. Ayo, kita pun bisa terus saling berbagi.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: