you're reading...
Unek-unek awam

Bercanda dengan MB (Manusia Biasa)

bercandaNama belakangnya ada embel-embel MB. Menurut pengakuannya, itu hanyalah singkatan dari “manusia biasa”. Nama lengkapnya adalah Dwi Bagus M.B. Ia anak kedua dari pasangan Sri Handoyo dan Siti Rubiyah. Pria yang lahir di Jakarta, 8 Maret 1964 ini sudah sejak SD hingga kini sering menjadi tempat curhat bagi saudara dan teman-temannya. Ia pernah menjadi “pekarya” di salah satu stasiun TV swasta, tapi kemudian bersama teman-temannya ia memilih mendirikan usaha sendiri, PC Pro, sejenis warung naskah atau semacam depot kreatif. Ia lalu kembali “ngamen” seperti dulu, menawarkan naskah sinetron dari satu PH (rumah produksi) ke PH yang lain.

Itu sekelumit paparan riwayat hidupnya pada tahun 2006, yang aku kutip dari keterangan pada sampul belakang (bagian dalam) bukunya berjudul Nabi Aja Becanda! – Humor Rasulullah & Orang-Orang Saleh dari Penerbit Mizania (Grup Mizan), Bandung. Menurutku, salah satu keistimewaan “manusia biasa” yang satu ini adalah kemampuannya untuk memungut makna atau hikmah dari orang-orang biasa pada saat-saat tak biasa, juga dari orang-orang “tak biasa” alias istimewa atau bahkan sempurna seperti halnya Rasulullah itu, baik pada “saat-saat biasa” maupun “saat-saat tak biasa”, penting, genting, atau mungkin “langka” sehingga hasilnya menjadi “luar biasa”. Ada baiknya aku kutipkan sejumlah karya tulisnya yang dapat menjadi bukti atas hal ini. Ini dia di antaranya: Hikmah Jenaka ala Nasruddin Hoja (Penerbit Al-Bayan), Tawa Membawa Hikmah Bersama Nasruddin Hoja (Al-Bayan), Kisah dari Negeri 1001 Masalah (Al-Bayan). Tentu saja lalu “master piece” atau karya puncaknya dalam bidang “makna di balik canda” ini ada pada buku yang kebetulan aku baca itu: Nabi Aja Becanda!…(NAB). Maksudku, terutama, lantaran dari sumber manusia teragung itulah (Rasulullah) kita mesti merengkuh segenap hikmah dan kiranya, seorang “manusia biasa” (MB) dari Betawi ini salah satu yang menjadi perantaranya, lewat NAB.

bukunab

Salah satu yang “dahsyat” aku temukan dari NAB adalah soal kemampuan canda Nabi pada momen yang aku kira “tak main-main”: mau berperang. Ini jelas-jelas bukan perjalanan wisata atau tamasya. Ini jihad fisabilillah. Jihad di jalan Allah dalam pengertian harfiahnya, dalam arti pertama dan utamanya: perang secara fisik dan materi, juga batin, yang memerlukan pengorbanan jiwa dan raga. Memang sih sehabis perang jenis ini, Nabi sempat bersabda bahwa itu hanyalah “perang kecil” lantaran ada perang yang lebih besar, yaitu perang melawan hawa nafsu. Namun tidaklah dapat dimungkiri bahwa perang secara fisik tadi bukanlah perkara yang main-main. Ini urusan yang sangat-sangat serius. Tapi, rupanya, sang Nabi masih menyempatkan diri untuk bercanda.

Kisahnya begini. Menurut penuturan MB, dalam setiap perjalanan menuju perang, Rasul SAW selalu mengajak salah seorang istrinya. Kala itu yang beruntung adalah Aisyah. Saat sampai di suatu tempat, tiba-tiba Nabi berhenti dan memerintahkan pasukannya berjalan di depan. Tinggallah Nabi bersama sang istri, Aisyah, yang ketika itu agak tertinggal di belakang. Nabi pun memanggilnya, “Wahai Khumaira, ayo kita balapan lari!” Ho ho ho, rupanya ini to, maksud suamiku berhenti dan menyuruh pasukan berjalan duluan. Begitu kira-kira batin Aisyah ketika itu. Dia pun lalu menyanggupi “tantangan” itu.

“Ayo, siapa takut?” respons Aisyah.

Singkat cerita, balapan pun terjadi. Hasilnya, Nabi “keok”. Aisyah yang kala itu masih muda, bertubuh ramping, menjadi pemenang. Namun, Nabi diam saja, tak berkomentar apa pun soal ini. Beliau ngeloyor saja meneruskan perjalanan.

Nah, beberapa tahun setelah “kekalahan” itu, dalam sebuah perjalanan perang juga, Nabi pun mengulang “prosesi balap lari” bersama Aisyah. Kali ini, Aisyah yang dah mulai gemuk, mungkin juga gembrot, he he he, jadi pihak yang kalah. Rupanya, untuk yang ini, Nabi tidak terus ngacir, tapi memberi sedikit komentar, “Skor kita sekarang satu-satu. Ini balasan untuk kekalahanku yang dulu.”muhammadsaw

He he he, bisa aja Nabi. Kontan saja, wajah Aisyah pun cemberut manja. Ha ha ha.

Buku NAB karya MB ini menumpukan fokus cerita pada figur Nabi. Namun, di dalamnya tidak hanya perihal beliau saja yang dikisahkannya. Ada banyak tokoh lain, dari kerabat hingga para sahabat. Juga tentang masyarakat kebanyakan. Dari pembantu, Ummu Aiman, ibu asuh Rasul semasa kecil, hingga badui dusun, Zahir. Pokoknya lengkap deh. Paling tidak, dari satu contoh yang aku kutipkan itu,mudah-mudahan kita dapat memperoleh inspirasi. Di zaman yang makin susah ini, ngapain hidup kita dibikin susah. Kira-kira begitu pesan moralnya. Moga-moga pula para pemimpin kita juga bisa menerapkan resep canda Nabi ini. Dua kali kita menghadapi “perang melawan krisis ekonomi”. Kali ini bahkan krisis itu baru saja mulai. Sebagai orang awam alias orang atau manusia biasa juga, aku harap para pemimpin kita sungguh-sungguh berjibaku menangani krisis ini. Tapi, jangan pakai stres. Rileks aja. Nabi aja becanda!

Terakhir, untuk kali ini, baru secuil ini dulu aku kutipkan candaan dari buku karya MB ini. Tapi, agaknya aku bakal sering membahasnya. Ini serius. Postingan inibercandabayi pun tak main-main. Pasalnya, kami, sesama orang biasa (orang awam) dipersilakan untuk saling berpromosi. Daaa, sampai jumpa lagi di postingan terbaru.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: