you're reading...
Calon Penghuni Surga

Meraih Surga dengan Hati

hati1 Mungkin kita tak perlu dulu mengutip hadis Nabi SAW yang terkenal itu soal hati. Ada baiknya kita rasakan saja dulu “detak atau denyut” hati kita masing-masing sebagaimana kita dapat merasakan detakhatinabi jantung dan denyut nadi. Kita juga tak perlu terlalu detail memburu pengertian, definisi, atau wujud hati itu seperti apa lantaran hati bukanlah sesuatu yang dapat diraba secara fisik, bukan juga berupa jantung karena orang yang sakit jantung bukan berarti dia punya “penyakit” di “hatinya”.
Berarti hati di sini merupakan sesuatu yang abstrak, batiniah. Memang, hati lebih dekat pada perasaan yang secara fisik disimbolkan dengan jantung sebagai “rumahnya” daripada dengan akal yang memiliki kedekatan dengan pikiran yang “berumah” di otak. Namun, sebagaimana akal tidak identik dengan otak dan pikiran, hati pun tidak sama dengan jantung dan perasaan. Hati lebih dalam dan luas cakupannya daripada perasaan, sebagaimana akal juga lebih dalam dan jembar jangkauannya daripada pikiran.

“Walah, bikin bingung saja kamu. Lalu bagaimana dengan jiwa dan roh? Dijamin kau bakal nyaho!”

Ya, mbok jangan gitu Mas, jangan membuat aku kecil hati atau sempit pikiran. Aku ini kan orang awam, jadi maklumilah. Ini semua kan sebenarnya merupakan caraku saja untuk mencoba menghayati, merenungi, dan akhirnya memahami diri sendiri. Aku sedang ingin praktik langsung untuk “bicara dengan hati”. Jadi, jangan terlalu dipermasalahkanlah itu semua, hayati saja. Sebenarnya pula, pembedaan atau pemilahan tadi pun boleh saja tidak diikuti. Artinya, bisa saja bila kita hayati bahwa akal atau pikiran ya otak dan hati atau perasaan ya jantung. Dalam kamus pun “mereka” bersinonim dalam pasangan demikian. Begitu pula dari segi bahasa (Indonesia), lewat kamus atau tesaurus, kata “jiwa” juga bersinonim atau merupakan padanan kata dari “roh”. Padahal, jika bicara secara hakikat, jelaslah keduanya beda banget. Untuk jiwa (nafs), mungkin kita masih bisa berpanjang lebar mendefinisikannya berdasarkan pengertiannya dalam Alquran. Namun, untuk roh, jelas-jelas bahwa Allah menyatakan itu merupakan rahasia-Nya. Kita tidak Dia beri tahu melainkan hanya sedikit. Tentu saja yang sedikit bagi Tuhan itu sudah amat sangat banyak sekali bagi kita. Enaknya sih kita berdekat-dekat saja dengan Tuhan biar nanti kita diberi tahu oleh-Nya tentang rahasia diri kita, tentang hati, akal, jiwa, dan roh kita alias segenap rahasia kedirian kita. Kita pun jadi benar-benar mengenal diri kita. Amin.haticintaallah “Halah, itu mah ngeles namanya. Bilang saja kagak sanggup neranginnya.”

Iya deh, ngaku. Dari tadi pun aku dah bilang awam kok mengenai semua ini. Sebenarnya aku hanya ingin bilang bahwa marilah kita semua terjun langsung saja beramal sosial dengan segenap akal, pikiran, perasaan, hati, jiwa, dan roh kita. Ayo, kita nyemplung langsung sebagaimana orang-orang yang suka ditampilkan di acara Kick Andy itu lho. Ini bukan promosiin acaranya Bang Keriting Antik Kumisan itu. Acara itu kan memang udah kondang, beken bin terkenal. Sebab utama ketenaran ini menurutku ya sebagaimana disebut dalam motonya: acara ini memang berusaha “bicara dengan hati”. Orang-orang yang ditampilkan pun rata-rata mereka yang suka berjihad sosial dengan segenap hatinya. Salah satunya sudah kuprofilkan pada posting sebelum ini: bidan Eros. Selanjutnya aku bakalan sering menampilkan orang-orang seperti dia. Mungkin juga mereka yang belum sempat ditampilkan di Kick Andy. Pada umumnya mereka justru orang-orang biasa, orang awam.

view-ijo-154f
Yang pasti, merekalah orang-orang yang berhak mendapatkan surga lantaran telah memaksimalkan dorongan hatinya untuk berkarya nyata memberdayakan diri dan sesama. Jangankan orang-orang seperti mereka, yang aku anggap berhak atas surga itu, orang-orang yang “hanya” hidup terlunta-lunta dan “mati merana karena cinta” saja masih mungkin untuk mati syahid berpahala surga. Syaratnya, mereka tidak melanggar norma agama (zina)––tentu pula dengan cinta yang tulus. Itu yang aku baca dari buku Kisah-Kisah Cinta-Awal Islam (terjemahan dari Penerbit Qisti Press, 2004) karya Iqbal Barakat. Buku ini ditutup dengan kisah tentang Ali ibn Adim dari Bani Asad yang cintanya tak kesampaian dengan Munhilah, wanita sahaya milik para perempuan Bani Abbas. Penghalangnya bukan dari Munhilah, tetapi dari walinya yang justru menikahkannya dengan lelaki lain dari Bani Hasyim. Tak kuat atas derita cintanya ini, Ali pun meninggal dunia. Tak lama sepeninggal Ali, Munhilah menyusulnya, meninggal pula.

hatipatah
Yang menarik dan mengejutkanku, Iqbal Barakat mengakhiri kisahnya itu dengan ungkapan bahwa Ali ibn Adim merupakan orang terakhir yang menjadi korban kisah romantis dan menjadi syahid terakhir (pada kurun waktu awal Islam itu) dalam kisah cinta. Dia pun lalu menutup kesimpulannya itu dengan kutipan ajaran Islam: Barangsiapa jatuh cinta dan menjaga dirinya (dari hal-hal yang dilarang dalam hubungan laki-laki dan perempuan), kemudian mati, maka dia mati syahid!

aac1
Ah, jadi inget Maria di film Ayat-Ayat Cinta yang nyaris mati merana lantaran cinta tulusnya kepada Fahri “kalah” oleh “keberuntungan” Aisyah. Wallahu a’lam bissawab.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Asep Sambodja, bagiku Kau Syahid! (In Memoriam) « Awamologi - Desember 12, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: