you're reading...
Unek-unek awam

Muhammad SAW Bukan Rasul? Bercanda Kamu!

muhammadsaw1Memang bukan. Tapi itu kalau ditanyakan kepada anak-anak sekolah di Tajikistan. Muhammad itu bukan Rasulullah, dia adalah kreator atau pencipta agama Islam. Aku gak lagi bercanda lho. Itu benar-benar fakta sejarah yang terjadi saat ini di negara eks jajahan Uni Soviet (kini Rusia) itu. Sumbernya aku baca di tabloid Dialog Jumat, suplemen Koran Republika, edisi Jumat, 26 Desember 2008.

Kenapa bisa demikian? Pasalnya, buku-buku sejarah Islam untuk anak-anak sekolah di sana memang mengajarkan demikian. Buku-buku itu memang dibuat serampangan.

“Penulis buku itu benar-benar orang yang sangat tidak profesional, irasional, dan tidak memahami Islam berikut nilai-nilainya,” ujar aktivis muslim Tajikistan, Hoji Akbar Turajonzoda.

Para tokoh muslim Tajikistan pun membenarkan ucapan Turajonzoda. Mereka semua juga sudah berusaha menyeru pihak yang berkompeten untuk meluruskan hal itu. Turajonzoda memutuskan untuk menulis surat terbuka buat Menteri Pendidikan Tajikistan. Para tokoh itu juga sudah menandatangani petisi bersama yang disampaikan kepada sang menteri.

Sayang, pihak kementerian bilang belum menerima surat (petisi) itu. Untungnya, pada kesempatan lain, sang menteri, Abdujabbor Rahmonov, menyatakan pihaknya berencana menulis ulang buku-buku teks pelajaran itu.

Ya, semoga bisa lekas dilaksanakan, tidak tertunda-tunda oleh “prioritas” lain sebagaimana disebut sang menteri. “Kami memang akan melakukan revisi, tetapi tidak sekarang karena kami memiliki prioritas lain saat ini. Pada waktu yang tepat, semua akan diperbaiki,” ujarnya.

Walah, padahal bukan soal Rasul itu saja penyimpangannya. Di buku-buku itu, ibadah haji juga tidak diakui sebagai rukun Islam kelima. Begitu pula Makkah, tak diakui sebagai kota suci.

Numpang soal Beda Aliran

Berita tadi menarik bagiku karena hal itu anak-anakngajisama sekali tak terjadi di Indonesia. Coba saja tanya sama anak-anak SD di negeri kita, siapa Muhammad SAW, jawabannya insya Allah: utusan Allah (Rasulullah). Hal ini pun diakui oleh tabloid Dialog Jumat-Republika. Bahkan pernyataan itu jadi pembuka berita.

Kenyataan di Indonesia yang demikian itu mestinya tidak membuat sebagian pihak di negeri ini mudah tersulut bila ada kelompok-kelompok beda aliran seolah-olah akan serta-merta menulari atau meracuni umat Islam kebanyakan. Bahkan, kalaupun ada kelompok tertentu yang kurang atau tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW pun kita mestinya tetap bijak. Bukankah urusan iman atau tidak iman itu dijamin kebebasannya oleh Allah SWT?

Lagipula, kalau kasusnya udah sampai pada status Nabi Muhammad sih rasanya gak perlu “ngundang” MUI untuk melabeli sesat atau tidak. Lha wong anak SD aja dah tahu kok. Namun memang soal tahu dan iman-gak iman itu dua hal yang berbeda. Kan memang orang yang berilmu tidak menjamin dia beriman.

Tentu saja jika kasusnya seperti yang terjadi di Tajikistan, kita umat Islam mesti protes keras dan berusaha “mati-matian” sampai pemerintah meluruskan kekeliruan demikian. Nah, terhadap “penyimpangan” di luar yang resmi atau pemerintah, sikap kita mestilah berbeda. Upaya untuk mengingatkan dan meluruskan tentu harus ditempuh juga. Tapi, pada akhirnya, terserah saja nanti apa mereka mau kembali pada keimanan yang benar atau tetap pada pilihannya.

Pada kasus Ahmadiyah, misalnya, ada atau tidak adanya SKB tiga menteri aku pikir gak akan banyak berpengaruh bagi kehidupan beragama di masyarakat. Kalau cuma gembar-gembor di mimbar atau di media massa, apalagi ditambah dengan mengerahkan massa untuk keroyok sana-sini, aku jamin (insya Allah) aliran-aliran “sesat” akan terus lahir.

Ah, maafkan aku saudara seiman se-Islam jika agak “emosional” begini. Namun bila antara yang diagung-agungkan (Muhammad SAW) dan yang mengagung-agungkan (yang kerap terlalu “murah” mengumbar “Allahu Akbar”) berbeda amat sangat jauh sekali akhlaknya, akibatnya malah jadi buruk: memberi api bagi musuh-musuh Islam untuk mengolok-olok Islam, Nabi SAW, dan ajaran yang disampaikannya.

Alangkah lebih baik jika energi “jihad Allahu Akbar” itu begitu membara, dengan niat ingin meluruskan keimanan orang-orang Islam dan menjaganya agar tetap lurus, terjunlah berdakwah gaya Rasul ke daerah “orang-orang pinggiran” yang rawan dimasuki para juru dakwah dari “kelompok aliran tanpa nama”. Aku punya fakta sahih soal ini.

“Kisahnya” terjadi di daerah sentra pabrik-pabrik di sekitar Cimanggis-Depok-Citeureup-hingga Cibinong (CDCC). Mungkin juga di daerah lain se-Jabotabek juga atau bahkan se-Jawa atau se-Indonesia. Tapi, yang betul-betul aku tahu persis adalah yang di daerah CDCC itu. Dua adikku jadi korbannya. Sejauh penelusuranku, mereka bukan kelompok Ahmadiyah. Jadi, kalaupun “sesat”, hal itu tidak sampai pada taraf “mengubah syahadat”, khususnya terkait status Nabi Muhammad SAW. Namun, tetap ada yang bikin aku gak sreg, gak nyaman di hati: mereka berdakwah dengan bergerilnya amat sangat penetratif dan intensif, tetapi dengan “sembunyi-sembunyi”, gak mau terang-terangan, berbohong malah. Menurut logikaku, kalau memang mereka yakin dengan kebenaran ajaran dakwahnya, kenapa gak terang-terangan aja? Kenapa aku juga gak mereka dakwahi? Ketika itu dan hingga kini pun aku tinggal di wilayah CDCC.

Aku rasanya dah “mati-matian” meniru “gaya Nabi” dengan lemah lembut, persuasif, tulus agar mereka mau terbuka dan mengajariku tentang dakwah mereka sehingga aku pun bisa menjadi bagian dari mereka, tetapi aku tetap gagal. Kedua adikku pun akhirnya bersuamikan para juru dakwah kelompok tanpa nama itu. Yang hingga kini bikin aku sedih sebenarnya bukan terutama pada perbedaan aliran mereka, tetapi pada terganggunya keeratan silaturahmi di antara kami. Terasa ada yang menghalangi keakraban di antara kami, tidak sebagaimana hubunganku dengan adik-adikku yang lain meski mereka tinggal jauh di kota lain, sedangkan kedua adikku itu sama-sama tinggal di CDCC.

Nah, untuk menyikapi perbedaan keyakinan dan pilihan hidup itu apakah aku harus memutuskan persaudaraan dengan kedua adikku? Haruskah aku damprat mereka, aku usir jauh-jauh mereka, aku ancur-ancurin tempat tinggal mereka?

Mudah-mudahan temen-temen sudi memberikan pencerahan kepadaku. Sebelum itu, aku ingin menikmati kutipan puisi dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) berikut ini.


Allahu Akbar!

A Mustofa Bisri

Allahu Akbar!
Pekik kalian menghalilintar
Membuat makhluk-makhluk kecil tergetar

Allahu Akbar! Allah Maha Besar
Urat-urat leher kalian membesar
Meneriakkan Allahu Akbar
Dan dengan semangat jihad
Nafsu kebencian kalian membakar
Apa saja yang kalian anggap mungkar

Allahu Akbar, Allah Maha Besar!
Seandainya 5 miliar manusia
Penghuni bumi sebesar debu ini
Sesat semua atau saleh semua
Tak sedikit pun memengaruhi
Kebesaran-Nya

Melihat keganasan kalian aku yakin
Kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman
Yang kasih sayang-Nya meliputi segalanya

Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakan-Nya
Ketika dengan pongah kau melibas mereka
Yang sedang mencari jalan menuju-Nya?

Mengapa kalau mereka
Memang pantas masuk neraka
Tidak kalian biarkan Tuhan mereka
Yang menyiksa mereka
Kapan kalian mendapat mandat
Wewenang dari-Nya untuk menyiksa dan melaknat?

Allahu Akbar!
Syirik adalah dosa paling besar
Dan syirik yang paling akbar
Adalah menyekutukan-Nya
Dengan mempertuhankan diri sendiri
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri

Laa ilaaha illallah!

2005

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

3 thoughts on “Muhammad SAW Bukan Rasul? Bercanda Kamu!

  1. Setelah membaca “Soal Numpang Beda Aliran”, saya justru heran kepada anda. Kenapa anda membela Ahmadiyah ketimbang membela Ajaran Allah yg dibawa Rasulullah SAW?

    @Bukan membela “ahmadiyah”-nya, tapi “membela” sisi manusianya dengan tetap memberi ruang hidup dan dialog atau terus memberikan penemanaan agar tersisa kemungkinan tobat bagi yang alpa. Lihat misalnya tulisan Emha tentang Lia Aminudin yang alamat link-nya ada di bagian taut blog ini.

    Posted by Randy | Januari 27, 2009, 5:15 pm
  2. Quote:
    @Bukan membela “ahmadiyah”-nya, tapi “membela” sisi manusianya dengan tetap memberi ruang hidup dan dialog atau terus memberikan penemanaan agar tersisa kemungkinan tobat bagi yang alpa. Lihat misalnya tulisan Emha tentang Lia Aminudin yang alamat link-nya ada di bagian taut blog ini.

    jawab:
    apa benar itu? kenapa anda berkata demikian “rasanya gak perlu “ngundang” MUI untuk melabeli sesat atau tidak”?
    Juga apa semua anak SD tahu ttg kesesatan ahmadiyah? Sekedar tahu hanya label sesatnya saja ataukah mengetahui seluruh ajaran ahmadiyah yg menyimpang?

    Posted by Randy | Januari 30, 2009, 12:33 am
  3. Ops, maaf Rendy, soal MUI dan anak SD, itu mungkin ungkapanku yang agak emosional. Maksud sebenarnya sih lebih baik MUI menerjunkan banyak pendakwah saja yang dapat menenteramkan umat, bukan cuma aktif memberi fatwa sesat atau haram-haraman dalam konteks terbaru sekarang ini.

    Soal sesat-tidaknya Ahmadiyah misalnya, kan terbukti Rendy tampak tak kalah jago dari MUI. Artinya, klo udah sampe menduakan atau bahkan menggantikan status kerasulan Muhammad, rasanya sejak SD kita dah diberi tahu soal itu kan?

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Januari 30, 2009, 1:27 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: