you're reading...
Curhat Awami

Asuransi Bikin Lara Hati

asuransi-hariSebenarnya aku sudah bertekad untuk tidak mengungkapkan keburukan pihak lain, tetapi berusaha mengingatkan pihak bersangkutan untuk memenuhi kewajibannya agar tetap berada dalam kebaikan bersama. Namun, rupanya proses untuk menuju kebaikan itu memakan waktu berlarut-larut dan melelahkan. Bahkan sebenarnya, pihak yang bersangkutan itu (asuransi kesehatan) tidak sepenuhnya memenuhi kewajibannya. Mereka memang akhirnya bersedia melakukan pembayaran klaim asuransi, tetapi dengan telah merugikan pihak-pihak lain, dalam hal ini klien (aku dan keluarga/pasien serta institusi tempat kerjaku). Mereka membuatku harus sibuk menghubungi pihak-pihak rumah sakit, asuransi, kantorku dll. Pihak asuransi pun pada akhirnya meminta kesepakatan penjaminan baru dari kantorku. Maka, jika kemudian aku tetap menuliskan keburukan mereka (asuransi), itu semata-mata untuk mengingatkan mereka saja agar kembali pada “jalan yang benar”. Aku pun tidak menyebutkan identitas asli mereka.

Asuransi (sebut saja) Cahaya Logam Mulia itu memang menjalin kerja sama dengan tempatku kerja hanya dalam klaim rawat inap, tidak meliputi urusan kehamilan dan kelahiran. Oke, aku pun paham. Maka, untuk semua urusan kehamilan istri, aku menempuh mekanisme penggantian biaya langsung dari kantor. Namun, ketika kebetulan istri terkena penyakit lain (paru-paru) di luar urusan kehamilan dan perlu perawatan, aku pun memakai fasilitas asuransi itu.

askes-cek-pasien

Sialnya, setelah dua harian istri dirawat, keluar penolakan penanggungan biaya dari asuransi. Katanya gara-gara istriku hamil sehingga dianggap termasuk dalam urusan kehamilan/kelahiran. Padahal, diagnosis dokter menyatakan istri positif terkena sakit paru-paru. Tentu saja aku terus berusaha meyakinkan pihak asuransi untuk memenuhi tanggung jawabnya karena secara logika awam saja penyakit itu tidak disebabkan oleh kehamilan. Artinya orang tidak terkena sakit paru-paru gara-gara dia hamil. Meski begitu, aku akhirnya mengalah saja kepada pihak asuransi untuk meminta bagian HRD tempat kerjaku menjaminkan kembali istriku pada pihak asuransi. Lalu, setelah hal itu dilakukan, pihak asuransi secara lisan (via Ibu A yang mewakili pihak asuransi pusat) menelepon istriku bahwa asuransi menanggung kembali biaya perawatan. Namun, ketika kemudian aku cek ke rumah sakit, tak kunjung ada pemberitahuan kesediaan tertulis yang diberikan pihak asuransi. Alasannya masih menunggu laporan data medis/perawatan istriku.

Sialnya lagi, ketika ada pemberitahuan dokter bahwa istri tengah diperiksa lewat laboratorium untuk diketahui sistem kekebalan tubuhnya, pihak asuransi kembali mengirimkan pemberitahuan tidak dapat memenuhi tanggungan biaya perawatan istriku. Sebab, adanya pemeriksaan itu mengindikasikan kasus penyakit istriku masuk dalam wilayah “abu-abu”. Jawaban ini pun mereka keluarkan setelah aku sibuk menghubungi mereka dan memberitahukan bahwa istri berniat pulang saja. Artinya, asuransi terkesan terus mencari atau menunggu celah baru untuk menghindari kewajibannya membayar biaya perawatan istriku.

Sampai surat ini ditulis, aku masih harus sibuk menghubungi pihak-pihak terkait agar asuransi mau membayar biaya perawatan istriku. Harapannya sih mereka membayar tanpa ada syarat-syarat lain atau mereka bukan cuma menalangi pembayaran saja, lalu menagih balik ke kantorku. Kalau begitu, asuransi sebenarnya telah mengelak dari “kontrak perjanjian semula” dan sengaja memilih “kesepakatan kontrak (penjaminan) baru” yang telah mereka “paksakan untuk dibuat” dan tentu saja lebih menguntungkan mereka, tapi merugikan kantor dan diriku karena nanti bisa saja kantor lalu memotong gajiku.

Ah, tentu saja aku tahu bahwa perusahaan asuransi memang bukan institusi keagamaan. Namun, apakah itu berarti bahwa “kebenaran nurani” mesti dienyahkan dari sana? Bukankah ide corporate social responsibility mengindikasikan adanya “pertimbangan nurani” di dalam perusahaan? Apakah kata “social” di situ mesti diubah menjadi “spiritual” agar pertimbangan nurani bisa lebih diakomodasi? Atau semua asuransi mesti diubah menjadi asuransi takaful atau asuransi syariah?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

6 thoughts on “Asuransi Bikin Lara Hati

  1. Orang awam dilarang sakit!😀
    *bercanda*

    Aku turut prihatin atas “musibah ganda” ini. Semoga Kang Bahtiar & istri dapat bersabar menjalani ujian dari Tuhan ini. Aamiin.

    Oh ya, aku mau numpang “jual diri” di sini. Boleh, ya? Aku cuma mau beritahu informasi:
    Lowongan Kerja: Asisten Pribadi seorang Penulis Buku

    Posted by M Shodiq Mustika | Januari 11, 2009, 12:18 pm
  2. Wah, silakan Mas. Soal “musibah” ini memang jadi merintangi kerjaku. Yang pasti jadi gak sempet-sempet nulis di blog ini.
    Makasih atas dukungan dan doanya.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Januari 11, 2009, 1:34 pm
  3. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com%3c/a>. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://dunia-bisnis.infogue.com/asuransi_bikin_lara_hati

    @Silakan aja Mba. Habisnya aku gak tau caranya, gaptek, jadi ya silakan didaftarkan aja.

    Posted by nun1k04a | Januari 12, 2009, 10:11 am
  4. tulisane apik2 …🙂
    @Nah trus biar bisa masuk agregator warga BHI piye Mas? (He he, trus ngrayu).

    Posted by Pemulung | Januari 15, 2009, 8:44 pm
  5. PENGALAMAN BURUK ASURANSI KENDARAAN DI PT. ASURANSI WAHANA TATA

    Semoga Anda tidak pernah mengalami pengalaman yang pernah menimpa saya ini. Singkatnya, kendaraan yang saya asuransi secara TLO di perusahaan Asuransi Wahana Tata, hilang dicuri. Dan setelah menjalani proses yang super berbelit, akhirnya PT. Asuransi Wahana Tata mencairkan klaim. Anehnya, pencairan dilakukan 2 (dua) tahap, tanpa melakukan negosiasi apapun dengan Pemilik kendaraan yang hilang. Tahap pertama (jumlahnya tidak jelas), dicairkan kepada Perusahaan Finance tempat saya melakukan kredit. Tahap kedua, dicairkan Rp. 5,4 jt kepada Finance, guna memfasilitasi gratifikasi pengurusan surat-surat keterangan polisi. Akhirnya dari seluruh jumlah klaim, saya hanya mendapat pengembalian lk. Rp. 3,5 jt ; yang artinya tidak lebih besar dari premi asuransi yang telah saya bayarkan; dan juga tidak lebih besar dari sebulan angsuran kredit yang telah 14 kali dibayar, dengan DP sekitar 25% harga ‘on the road’. Inilah pengalaman saya menjadi nasabah PT. Asuransi Wahana Tata. Semoga bermanfaat.

    David, HP. (0274) 9345675
    Pemegang Polis No.03-24-18000197

    @Makasih dah mau berbagi cerita. Memang suka gitu, kenapa ya. Padahal kan klo mereka menjalankan prosedur yang benar, gak bakal rugi, malah untung. Karena akan makin kukuh nama baiknya. Sekali lagi, terima kasih.

    Posted by David Pangemanan | Maret 10, 2009, 9:08 pm
  6. awal masuk UGD RSIJ cmpaka pth sy dbantu ptugas ugd n tanya bpk adajaminan ga bl ada ntar sy urusin n mana kartunya.lalu

    @Mestinya sih petugas itu betul-betul membantu, bukan jadi calo/perantara.

    Posted by tisnalf@ | April 12, 2010, 11:46 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: