you're reading...
Curhat Awami

Tuhan, Galau, Kecewa, dan Kelahiran Anak

bayibarulahir1Judul di atas sebenarnya hanya cermin ketidakmampuanku saja untuk mengungkapkan banyak hal sekaligus yang sudah menumpuk sejak sepuluh hari terakhir ini. Beberapa hari setelah dirundung kasus asuransi (Asuransi Bikin Lara Hati), aku memang berusaha ikhlas dan tabah atas “musibah ganda” itu––meminjam komentar Mas Shodik Mustika pada postingan tersebut.

Selanjutnya, aku mendapat hiburan ketemu temen-temen baru dari komunitas Bunderan Hotel Indonesia (BHI)––tautannya bisa dilihat di blogspotku. Jumat malam, 16 Januari 2009 hingga dini hari aku kumpul-kumpul dengan mereka. Saat pulang aku sempat kehujanan dengan hanya berlindung pada jaket, pepohonan dan papan reklame. Tapi, aku enjoy saja.

Siang harinya, Sabtu, 17 Januari, aku menghadiri peluncuran buku Menerbitkan Buku Itu Gampang! karya Bung Jonru di Perpustakaan Depdiknas Jakarta. Sampai di kantor sepulang dari acara ini, aku menerima kabar bahwa istriku di Bandung akan segera melahirkan. Aku pun langsung ambil cuti sepekan dan segera menuju ke Bandung.

mo-melahirkan

Masih di hari Sabtu ini pula, sekira pukul 20.20 WIB, anak ketigaku lahir. Perempuan lagi sehingga aku punya grup “AB Three”. Alhamdulillah proses kelahiran lancar, normal, anak dan istri sehat.

Memang, aku gak bisa menyaksikan langsung kelahiran anakku. Baru beberapa jam setelah itu aku menunggui istri dan bayiku sampai dua hari hingga mereka diperbolehkan pulang. Namun justru dua harian itulah aku seperti berada di neraka. Ini gara-gara rumah sakit pemerintah yang menjadi tempat rawat istriku menerapkan sistem administrasi yang aneh. Keluarga pasien mesti menebus obat-obatan dan keperluan medis lain sendiri ke sana-ke mari setiap kali pasien memerlukannya. Setiap kali itu pula kami mesti membayar langsung tunai. Mengapa tidak diberlakukan sistem paket saja? Baru setelah semua perawatan selesai, keluarga pasien tinggal bayar semua biayanya.

Yang bikin tambah menjengkelkan, ternyata pasien kelas VIP diservis dengan sistem paket. Di luar kelas ini, baik kelompok keluarga miskin (gakin) maupun pasien umum yang bayar sendiri atau memakai jasa asuransi mesti mengurus langsung penebusan obat-obatan dan keperluan medis lain itu. Yang gakin dan pemakai jasa asuransi tentu mesti menyiapkan semua persyaratan dan siap selalu menebus semua keperluan itu. Yang bayar sendiri ya mesti selalu siap dengan uang tunai. Tidak ada toleransi untuk yang gak siap. Tidak ada semacam mekanisme kesepakatan penjaminan tertulis baik dengan alat-alat bukti penjaminan semisal KTP, SIM atau surat-surat berharga lain semisal STNK. Hemm, memang orang awam (miskin) “dilarang” sakit, canda Mas Shodiq. Betapa orang susah makin dibikin susah, tapi orang berada (pasien kelas VIP) makin dibikin senyaman-nyamannya. Sebuah kebebalan administratif dari rumah sakit pemerintah. Kukatakan demikian karena aku juga punya pengalaman serupa di RSU di Cibinong. Padahal, seorang tukang tambal ban saja dengan mudah mengizinkanku meninggalkan SIM gara-gara duitku gak cukup untuk bayar ban dalam baru. Jangan-jangan kecerdasan spiritual para tukang tambal ban jauh lebih baik daripada para awak medis rumah sakit pemerintah ini yang notabene lebih “makan sekolahan”. Mereka lebih beralasan simpel: memang prosedurnya dah begitu. Ini berarti kebebalan demikian punya kemungkinan bakal terus berlangsung hingga kiamat––kecuali mereka mendapat pelatihan sejenis ESQ-nya Pak Ary Ginandjar Agustian.

Belum lagi soal-soal menyangkut pelayanan akomodasi dan perawatan pasien yang kurang memuaskan. Udah hari gini, misalnya, keluarga pasien mesti bawa-bawa termos berisi air panas/hangat dari rumah untuk sekadar bikin air teh. Habisnya kami dalam dua hari itu selalu diberi dua buah teh celup tanpa diberi air panas untuk menyeduhnya.

Yang pasti, sepekanan lebih aku jadi gak bisa blogging lantaran mesti mengurus kelahiran anak ketigaku. Tak bisa mengunjungi temen-temen di dunia maya.

Namun, apa pun yang terjadi, kiranya Tuhan hanya akan menilai apakah kita memilih jalan kebaikan (bereaksi/bersikap dengan baik) atau jalan keburukan (bersikap negatif). Jadi, mesti tetap tabah dan sabar sambil tetap ber-amar makruf nahi munkar.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

10 thoughts on “Tuhan, Galau, Kecewa, dan Kelahiran Anak

  1. kebanyakan rumah sakit modelnya seperti itu, mau minum obat yang bayar dulu obatnya. Bisa jadi tiap hari harus bayar. Meskipun apotiknya ya disitu juga

    Posted by sunarnosahlan | Januari 27, 2009, 10:06 am
  2. Makasih Mas Narno dah berkunjung balik. Soal rumah sakit (RS), pengalaman di beberapa RS swasta kok bisa pakai sistem paket itu. Ini jelas lebih memudahkan pasien dan keluarganya. Padahal, klo alasannya “takut tagihan macet”, fakta-fakta sahih menunjukkan “orang-orang miskin” lebih “taat akad” (perjanjian kredit) seperti kasus grameen bank-nya Mohammad Yunus di Bangladesh daripada “orang-orang kaya” (seperti kasus BLBI di Indonesia–he he he, nyambung gak sih ilustrasi faktanya).

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Januari 27, 2009, 3:21 pm
  3. Memang negara kita negara birokrasi.

    @Ya, gitulah Mas. Maturnuwun dah mampir, moga iso dadi sedulur.

    Posted by traju_krakal | Januari 29, 2009, 10:22 am
  4. Selamat ya pak atas kelahiran anak yang ke-3..

    Semoga menjadi anak yang sholihah, berbakti pada kedua orang tua, agama, dan negara …

    Semoga bahagia selalu….dunia dan akhirat🙂

    @Amin. Makasih atas komennya dan kesediaannya berkunjung. Insya Allah aku berkunjung balik.

    Posted by rayearth2601 | Januari 29, 2009, 4:29 pm
  5. Hmmmm….yang sabar ya pak. Hal kaya gini emang udah lumrah, apalagi yang menyangkut pelayanan pasien. Yang penting kita ambil hikmahnya aza deh. Dan bersyukur atas rezeki yang sudah di kasih Allah SWT. Selamat ya…

    Posted by dhima | Januari 30, 2009, 3:15 am
  6. yang sabar pak pemerintah dan hukum di negara kita ini lebih mementingkan orng2 yang kaya dari pada kita rakyat yang miskin ini gmn mau di bil pak hukum di negara kita ini ja bsa di beli

    ohh yahhh slamat yahhh pak atas lahirnya anak ke 3 bpk smoga menjadi anak yng soleh dan berbakti pada orng tua serta berguna bagi bangsa dan negara dan sehat selalu.

    sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.

    http://geryhutabarat.blogspot.com/

    @Amin. Makasih juga gery.

    Posted by gery | Januari 30, 2009, 11:19 am
  7. Salam kenal mas…selamat ya…dapat momongan baru,moga jadi anak soleh.tentang birokrasi Rumah sakit…ya begitulah..tp, yang penting istri dan anak mas sehat dan mas bahagia.

    @Amin. Salam kenal juga. Makasih ya dah berkunjung.

    Posted by Ahmad jazi | Februari 1, 2009, 5:38 pm
  8. sy jg pernah mengalami dan menyaksikan sendiri, bagaimana orang yg penampilannya ‘kere’ malah dipermainkan dan dipersulit.
    oh Indonesia-ku….

    @Ya, gitulah. Jadi malu, aku jarang berkunjung ke tempatmu mas fajar. Lain waktu inysa Allah aku sempatkan. Makasih ya.

    Posted by masfaj | Februari 20, 2009, 4:17 pm
  9. saya tidak pernah mendapatkan perlakuan hina dari rumah sakit seperti di bogor. selama di Jakarta, saya selalu ke rs islam. pernah satu ketika saya harus membawa ibu dg ambulan ke RSIJ, sampai di UGD, ibuku langsung ditangani dengan baik. baru setelah ibuku mau digiring ke ruang perawatan, mereka memintaku mendaftarkan ibuku di ruang pendaftaran. di sana, aku hanya diminta bayar 5 ribu perak untuk administrasi (plus kartu pasien). selain itu, aku boleh membayar semua tagihan, pada saat ibuku mau pulang. bahkan, temanku pernah meninggalkan jaminan KTP karena saat anaknya selesai dirawat, ia masih kekurangan uang untuk melunasi semua tagihan.

    andai semua RS seperti ini, rakyat kecil seperti kita akan merasa terbantu, dan selalu mendoakan orang2 yang membantu kita itu.

    @Ya, semestinya begitu.

    Posted by MT | Maret 10, 2009, 9:17 pm
  10. salam.sy jg prnh mraskn hal spt itu.ktk sy drawt di RSIJ cmpk pth tim UGD mnanyakn pd sy ada jaminan ga n sy blg ada.trs

    @Ya, begitulah.

    Posted by tisnalf@ | April 12, 2010, 11:31 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: