you're reading...
Berita Awam

Intermezo: dari Kerupuk ke Kantuk

Semula tulisan ini akan ku-posting di blogspotku. Tapi, karena di sana belum banyak kunjungan, jadi aku posting di sini saja. Mudah-mudahan lebih bisa dinikmati.

Kerupuk

kerupukputih

Jauh sebelum MUI jadi olok-olok masyarakat gara-gara bikin blunder dengan mengeluarkan fatwa haram golput dan merokok (untuk kategori tertentu), temanku pernah memaklumatkan pernyataan bahwa makan tanpa kerupuk itu haram hukumnya. Tentu saja yang dia maksud bukan haram sebagaimana fatwa para ulama kita itu. Ia sekadar berkelakar mempertegas keharusan adanya kerupuk kapan saja ia makan. Sejenis dengan ungkapan “bagai sayur tanpa garam” yang berarti mewajibkan keberadaan garam bagi si sayur.

Namun, temanku ini juga bilang bahwa menurut istrinya, orang yang makan kerupuk itu terdengar sadis. Itu lho, bunyinya yang mak “krauuuukkkkkkk” seperti sebuah pembantaian dan si korban pun hancur tak berdaya.

Tentu saja semua itu sejenis ungkapan hiperbolis, mempersangat-lebihkan kejadian yang sesungguhnya, dalam konteks bercanda. Tapi, kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga bahwa kerupuk itu kerap mampu menambah selera makan atau dapat menyelamatkan makan kita yang mungkin nyaris gagal gara-gara kurang berselera. Namun, ada baiknya juga saat makan kerupuk, pelan-pelan saja, jangan rakus dan main embat ke mulut. Takutnya tetangga sebelah terbangun mendengar keributan yang bersumber dari mulut kita. “Krauuuuuuuukkkkkkk, krauuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkk….”

Jangan lupa pula baca doa saat hendak makan sehingga biar kata cuma kerupuk tetap mampu menularkan energi positif dalam tubuh. Terus kalau kebetulan makannya di warung, bilang yang jujur, ngembat empat kerupuk jangan bilang cuma dua. Bisa-bisa gara-gara kerupuk kita masuk neraka.

Kerupuk Sidoarjo

Kalau tadi bercanda, sekarang serius nih. Ini soal orang Jawa yang terancam kehilangan makanan favoritnya itu, kerupuk. Hal itu bisa terjadi seandainya genangan lumpur Sidoarjo kian luas dan menggenangi dapur-dapur pembuatan kerupuk di kota terkecil di Jawa Timur ini. Daerah ini memang terkenal sebagai penghasil sejati kerupuk selain Garut.

Dengan luas wilayah 634,89 km2, sekitar 23%-nya dipakai sebagai lahan perikanan. Lahan inilah yang kemudian memasok bahan untuk pembuatan kerupuk. Ada kerupuk udang, ikan bawang, kepang, kupang, dan masih banyak lagi jenis lain.

Tujuh kecamatan di Kabupaten Sidoarjo jadi daerah pengolahan kerupuk nomor satu di wilayah ini, yaitu Candi, Tulangan, Jabon, Prambon, Buburan, Porong, dan Tanggulangin. Kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan menjadi jalur pemasarannya. Bahkan sampai diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Arab Saudi.

Mengaduk tepung, mencampurnya dengan udang, menjemurnya, lalu melakukan pengemasan bukan lagi sekadar usaha sampingan di Sidoarjo. Daerah ini sudah mampu memproduksi kerupuk puli yang berbahan dasar nasi lebih dari 1,5 kuintal per hari. Dari tujuh kecamatan tadi, ada sekitar 31 pengusaha industri kecil dan menengah produsen kerupuk udang dengan total volume mencapai 9.371,5 ton (pada 1999) dan menyerap 2.114 pekerja. Tak aneh bila hingga 2004 industri pengolahan (kerupuk) menyumbang 48% ke pendapatan domestik regional bruto Sidoarjo.

Dari segi sosial, banyak hal positif bergulir berkat kerupuk. Industri kecil dalam skala rumah tangga selama bertahun-tahun telah menyelamatkan warga Sidoarjo dari pengangguran. Usaha mereka ini juga ramah lingkungan. Limbah usaha mereka hanyalah air sisa pembersihan yang tidak mengandung zat-zat kimia dan bisa langsung diserap tanah.

Demikian info soal kerupuk yang aku tulis kembali dari sajian berita di Media Indonesia, Selasa, 10 Februari 2009, halaman 7 (Nusantara) yang sumber bahannya dikutip dari situs web Kabupaten Sidoarjo. Mudah-mudahan para penggemar kerupuk tergugah semangatnya untuk menyelamatkan sumber makanan favoritnya ini, tidak justru bermental kerupuk.

Kantuk

Untuk soal kantuk-mengantuk, aku sudah bikin postingannya di blogspotku, jadi tinggal baca aja di sana ya (tepatnya di sini). Memang sih untuk yang bercanda dan rada-rada “gila” inginnya aku posting di blogspotku itu. Silakan berkomen sebebas-bebasnya di situ, insya Allah gak akan disensor (kalau gak kebangetan banget). Yang di sini (wordpress) pun bebas berkomen apa saja. Silakan gimana enaknya aja.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

12 thoughts on “Intermezo: dari Kerupuk ke Kantuk

  1. Hhhmmm..Wah ternyata kerupuk ini juga bisa mensejahterakan rakyat yaw..

    Sayang banyak yang tidak menyadarinya..

    Semoga rakyat Sidoarjo lebih cerdas dari saya sehingga bisa dengan giat mengembangkan usaha kerupuk tersebut..

    Salam Bocahbancar..

    http://bocahbancar.wordpress.com/2009/01/19/mahasiswa-untuk-negeriku/

    @Ya moga begitu seperti harapanmu mas joko bocahbancar.

    Posted by bocahbancar | Februari 17, 2009, 2:28 am
  2. Kalo saya, kerupuknya lebih suka digado aja, dicoel pake sambel… Hehehe…
    Baru tau kalo sidoarjo dan garut itu kota kerupuk… Hehehe… *emang gak gaul nih*

    @Ya, gaulilah tu kerupuk miss ismi.

    Posted by missjutek | Februari 17, 2009, 4:08 am
  3. krupuk sidoarjo emang enak…

    @Silakan dinikmati desty. Makasih dah mau beli kerupuk di sini.

    Posted by desty | Februari 17, 2009, 7:37 am
  4. jadi kangen kripik Sokaraja plus gethuknya

    @Silakan atuh ke Sokaraja, trus bagi2 ke sini, soale kangen juga.

    Posted by sunarnosahlan | Februari 17, 2009, 8:26 am
  5. saya berasal dari daerah yang produsen kerupuk terbesar di Indonesia

    @Oh gitu ya bos achoey, ciamis lebih manis laris. Kurang gaul juga aku. Makasih mi jandanya.

    Posted by achoey | Februari 17, 2009, 10:16 am
  6. cocok bener ini mas.. mesti makek krupuk.. tapi kalo saya ada beberapa menu yang ga menurut saya ga cocok dimakan bareng dengan kerupuk..

    @Iya juga sih mas ariawan. Ketika posting ini, aku inget postingan dirimu soal gorengan prancis.

    Posted by ariawan | Februari 17, 2009, 10:33 am
  7. Krupuk enak banget apalagi kalo makannya di ….wah enak banget.apalagi kalo krupuknya direndem sama kuah mia ayam atawa bumbu kecap sate dtambah bumbu kacang wah maknyosss

    @Ya, betul begitu, kawanlama-ku.

    Posted by kawanlama | Februari 17, 2009, 7:19 pm
  8. Oh jadi di sini rumahnya pa Abah😆
    Numpang liwat aja. Btw ni rumahnya Eko
    http://ekoadit82.blogspot.com/
    Maaf komentar OOT dikid😛
    Btw, industri rakyat semacam ini bisa diterpa isu kerupuk pewarna tekstil juga, atau baru sebatas digoyang lumpur siduarjo doang pak abah?

    @Walah, chan, aku juga OOT kok. Makasih dah melongok rumahku. Sering2 ke sini malah dianjurkan.

    Posted by Uchan | Februari 18, 2009, 6:25 am
  9. oalah kerupuk kerupuk, riwayatmu kini….

    Salam kenal

    @Salam diterima dengan senang hati, Mas Rudy RCO. Aku juga pengin ikutan sukses dong.

    Posted by RCO | Februari 19, 2009, 1:05 am
  10. krupuk, tiada hari tanpamu
    krupuk, kau cerminan kaum bawah Indonesia
    krupuk, enak jiga!!!!
    pa lagi krupuk goreng wedi (pasir), asli Jawa Tengah

    @Iya tuh, biar digoreng ma pasir gak jadi kotor atau ngeres. Hati dan pikiran pun jadi ceria dan insya Allah gak ngeres atau piktor.

    Posted by nurulaeni | Februari 19, 2009, 12:41 pm
  11. asal ada krupuk, makanan apa saja enaaaakkkkk … favorit ai krupuk gendar (karak) … kalo dimasukkan ke kuah bakso ato soto rasanya jadi aneh, tapi bikin nagih, heheheh …
    anyway, thanks udah mampir …🙂

    Posted by alvinpirlo | April 6, 2010, 7:37 pm
  12. Haha NgomongKerupuk Saya Jadi Minat ,Supaly Tepung Tapiokanya
    Kalau ada Yang Minat Hubungi 081615445383

    Sebagai Mitra ,Akau Dukung Usaha Anka Bangsa

    Thanks
    Salam -Magetan

    Posted by Supriyanto | Oktober 20, 2010, 11:23 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: