you're reading...
Curhat Awami

Memaknai “Oh Yes Oh No” yang Melulu Porno?

ohyesohno

Mohon maaf bila harus jujur kukatakan bahwa membaca atau mendengar ujaran “oh yes oh no” sebagaimana di atas, asosiasiku langsung tertuju pada aktivitas khusus yang satu itu. Persebadanan atau aktivitas seksual. Tapi tentu saja sumber referensi yang menjadi rujukanku bisa dibilang produk “pornografi/pornoaksi” atau konten porno-ilegal karena kan hampir mustahil pertama kali aku mengenal atau mendapatkannya dari “aktivitas orang tua”. Kalaupun itu bisa terjadi, berarti pihak orang tua terbilang ceroboh lantaran membiarkan kebocoran “info aurat” tidak pada saat yang tepat. Lagipula, menurutku ujaran persebadanan itu tidak universal. Lha wong kokok ayam aja bisa beda-beda ungkapannya. Ada yang bilang berkokok (antara lain di Tanjung Pinang), kluruk (Magelang), kongkorongok (Sumedang), bakuku (Amurang), kukuyu (Nanking), crow (Oxford), kraaien (Nijmegen), krahen (Bonn), cacareo (Cordoba), chant du coq (Montpellier). Ayamnya sama, tapi kuping manusia yang “salah urus”. Demikian menurut Remysylado dalam puisi mbelingnya, “Masalah Menara Babil”.

Memang, ujaran semacam kokok ayam yang dalam bahasa disebut onomatope itu relatif memiliki kemiripan. Adapun ungkapan “oh yes oh no” itu mungkin tidak tepat dikatakan sebagai onomatope karena sudah merupakan rangkaian kata yang memiliki ciri kearbitreran, manasuka tergantung pada konvensi masyarakat pengguna bahasa masing-masing.

Halah, kenapa sih yang beginian aja diomongin?

Itu, gara-gara temen di Facebook (FB) laki-laki, Heru, memperbarui status aktivitas kesehariannya dengan mengisikan “oh yes oh no” itu. Apalagi dia pilih foto dirinya dengan ekspresi seperti orang terjepit kesakitan atau justru kenikmatan, entahlah. Untungnya salah satu temen dia meresponsnya dengan komen cerdas begini.

“Heh, Ru, yang jelas dong, kalau iya bilang iya, kalau enggak bilang juga enggak. Jangan bilang yang enggak-enggak.”

Menurutku itu komen yang top karena langsung memupus kita dari asosiasi kepornoan dan menggantinya dengan sodoran candaan. Energi kreatif dalam benak kita langsung diajak untuk berpikir memberi respons positif pula. Bandingkan misalnya apabila komen kita bergaya langsung sikat sasaran begini.

“Heh, Ru, doyan banget sih ma yang porno-pornoan gitu. Haram tahu.”

Aku rasa agak susah bereaksi dari sodoran komen seperti itu. Lha memang nggak boleh berporno-porno, maka lalu aku (jika telanjur melontarkan ide nakal jenis “oh yes oh no” itu) harus berkelit untuk menutupi itu dengan … seperti apa ya menurut teman-teman?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

10 thoughts on “Memaknai “Oh Yes Oh No” yang Melulu Porno?

  1. hahaha…ulasan yg menarik kang…
    emang persepsi kebanyakan orang (termasuk saya mungkin) sudah “terkontaminasi” bahwa “oh yes oh no” itu ya ke arah aktivitas khusus itu…jadi bukan kupingnya yang salah urus..hanya pikirannya yang nggak diupgrade..
    (jangan dibilang pornoaksi dong ah..itu kan ekspresi..hehe)

    @Iya, Des, ayo kita upgrade sama2.

    Posted by desty | Februari 19, 2009, 8:49 am
  2. sama…:) kesannya gimana gitu kalo denger kata itu…hehehe…(*ngeres.com)

    @Iya, *ngeres.com itu situs jualan pasir ya Diajeng? Haha ha.

    Posted by DIAJENG | Februari 19, 2009, 11:47 am
  3. buang ah fikiran yg ngeres-ngeres gini….:)

    @Oke, yok kita buang bareng2.

    Posted by DIAJENG | Februari 19, 2009, 11:48 am
  4. kunjungan balik nih mas bach. tapi saya lagi dengerin oh yes oh no itu. heheheh

    @Oke, makasih Ko. Tapi, kau ini pasti gak cuma denger, liat juga kan? Kau kan penggemar sinema; semua sinema ya, termasuk yang OYON itu?

    Posted by ekoadit | Februari 19, 2009, 4:46 pm
  5. 😆 itu kan tergantung topik pembicaraan dan situasinya aja. Dan gak menutup kemungkinan kalau intonasinya juga mempengaruhi..:mrgreen:
    Kalau “oh-oh”annya itu gak diucapin, singkatnya ditulis ya tergantung yang baca😆
    “kata-kata tidak bermakna, oranglah yang memberi makna”😉

    @Iya, betul Mew.

    Posted by Mew da Vinci | Februari 19, 2009, 11:52 pm
  6. btw, artikelnya asik dan ringan mas…😀 seneng saya kesasar disini..

    @Duh, kesasar ya. Tapi, nanti jadi bisa ke sini lagi tanpa kesasar ya. Makasih Mew.

    Posted by Mew da Vinci | Februari 19, 2009, 11:55 pm
  7. Wah wah wah..

    Saya kok membaca Oh Yes Oh no ini yaw he he he..

    mampir saja Kang seraya memperkenalkan diri..

    Salam Bocahbancar…

    http://bocahbancar.wordpress.com/2009/01/19/mahasiswa-untuk-negeriku/

    @Oke, kirain mau ngebantu ngerjain PR-ku biar bisa (cepet) kaya. Ha ha ha.

    Posted by bocahbancar | Februari 20, 2009, 7:06 am
  8. huahahaha..

    apalagi kalo dengernya malem2..😛

    @Lho, jadi suka dengerin tho mas. Awas, nanti keterusan jadi yang nggak-nggak, wuakakak.

    Posted by Billy Koesoemadinata | Februari 20, 2009, 9:51 am
  9. hehe
    komentatornya cerdas tuh…

    salam kenal pak Bahtiar
    sudah saya link pak bisa cek di http://www.ibnuanshari.com/2008/01/blogroll.html

    @Ya, salam juga. Makasih Mas. Blog sampeyan dah aku link juga.

    Posted by Rusa Bawean | Februari 23, 2009, 12:12 pm
  10. ahahaha iya emang bener, pikirannya langsung larinya ke sana😀

    Posted by properti semarang | Mei 28, 2013, 1:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: