you're reading...
Sok Puitis, Sok Tahu

Pemilu, PKS, PDIP-Megawati hingga SBY dan Puisi

pemilu2009

Updated:

Postingan ini aku tulis jelang pemilu legislatif lalu. Intinya sih sebenarnya ingin memalingkan orang agar tidak terlalu sibuk dengan urusan politik (pemilu dan kekuasaan), lalu melupakan hal-hal penting lain. Salah satu caranya, aku mengarahkannya pada jalan puisi. Sebelum masuk ke situ, aku menyinggung sedikit tentang beberapa hal menyangkut partai-partai (PKS, PDIP, Demokrat, Golkar) dan beberapa figur di dalamnya. Beberapa hal mungkin cukup mengusik seperti menyangkut PKS dan PDIP. Mungkin itu pula yang membuat postingan ini paling banyak diliat (meskipun yang kasih komentar cuma beberapa). Kira-kira faktor apa yang terutama menjadikan postingan ini paling laku ya? Apa soal PKS yang diplesetkan menjadi Partai Komunis Sejahtera itu ya?

Gak taulah. Ini dia postingan itu, yang dah kucoret-coret karena beberapa hal di dalamnya kan dah kedaluwarsa.

Di masa jelang pemilu yang tinggal beberapa hari lagi ini (hayo, berapa hari lagi coba updated: he he he, kini memasuki hari-hari menanti pilpres), kehidupan negara dan bangsa makin ramai dengan urusan politik. Gimana gak ramai, coba liat di televisi, di jalan-jalan hingga di taman-taman, hampir tak ada yang luput dari serbuan atribut dan perihal kampanye hingga urusan cari kursi dan posisi.

Media berbasis internet pun tak mau kalah dalam soal demikian. Bahkan lebih unggul. Sebab, media ini menyatukan berbagai jenis manusia dengan beragam produk media dari yang bersifat individual dan personal hingga yang berafiliasi dalam kelompok dan bercirikan sebagaimana media massa pada umumnya. Banyak yang menarik dan lucu-lucu atau justru yang menegangkan dan menyeramkan dari produk-produk mereka. Begitu pula yang berkaitan dengan pemilu.

Hingga hari-hari ini, ketika media cetak dan elektronik ramai memberitakan perihal kelanjutan perseteruan Golkar dan Partai Demokrat akibat celetukan kader Demokrat Ahmad Mubarok––yang bilang Golkar bisa jadi hanya akan memperoleh suara 2,5 % dalam pemilu mendatang––yang lalu diikuti pemaklumatan kesiapan Jusuf Kalla (JK) menjadi calon presiden, bola politis pun bergulir liar ke mana-mana. Peta koalisi antarpartai politik yang diikuti dengan kemungkinan penduetan pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) dari tiap partai yang berkoalisi pun menjadi berkembang terus. Dari yang semula hanya didominasi kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Demokrat yang didukung mitra koalisi dari Golkar (JK), PKS, dll dengan kubu oposisi PDIP-Megawati dan mitra koalisinya, kini arahnya berubah. Ada kemungkinan Golkar (JK) berduet dengan PKS (Tifatul Sembiring/Hidayat Nur Wahid).

Baru saja kemungkinan koalisi itu bergulir, di internet lewat situs jejaring sosial Facebook (FB) yang tengah beken dan di sebuah milis yang aku ikuti bisa kubaca kabar yang bisa jadi mengusik PKS. Partai yang tengah menjajaki kemungkinan koalisi dengan Golkar itu diplesetkan menjadi Partai Komunis Sejahtera. Penggagasnya adalah Muhammad Amin yang berdasar profilnya di FB merupakan aktivis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda dengan jabatan sebagai koordinator adik asuh Belanda dan saat ini tinggal di Amsterdam, Belanda. Dengan “kreativitasnya”, Amin yang pengguna FB ini memvisualisasikan logo PKS menjadi lambang Komunis, disesuaikan dengan nama plesetannya: Partai Komunis Sejahtera. Ia mengubah sedikit bulan sabit yang mengapit kapas emas menjadi dua buah celurit. Di tengah celurit diletakkan palu, sehingga logo bulan sabit berubah menjadi palu arit. Di kotak hitam bagian atas tulisan “Partai Keadilan” diubah menjadi “Partai Komunis”, sedangkan tulisan “Sejahtera” di bagian bawah dipertahankan. Keseluruhan logo akhirnya tertulis “Partai Komunis Sejahtera” (PKS).

Beberapa komentar pengguna FB menyemarakkan sentilan (atau usilan?) atas PKS ini, “Lolos verifikasi ga nih? Kalo lolos, saya nyoblos partai ini aja … hehe,” tulis Rizal Najjara.

Yang lebih mengembalikan “nama baik” PKS dalam identitas aslinya datang dari Anto Sangaji dengan komentarnya, “Hanya PKS yang mewarisi tradisi PKI sbg partai modern dgn struktur organisasi, program, pendidikan, dan pengkaderan yng jelas. Itu maksudnya toh bung Amin? he3x.” pks-komunis

Postingan tersebut bersumber dari Sumbawanews.com yang aku ambil dari milis Mediacare. Ini link sumbernya (http://sumbawanews.com/berita/nasional/pks-digembosi-lewat-facebook-nama-berubah-menjadi-partai-komunis-sejahtera.html).

Lalu, yang belum lama kubaca lewat sebuah milis alumni, ada postingan yang sangat boleh jadi merupakan sebentuk “kampanye busuk” (black campaign) yang tidak mengenakkan bagi PDIP dan Megawati. Ada desas-desus bahwa untuk menjadi caleg PDIP, para kader mesti meminum air bekas cuci kaki Megawati. Walah, memiriskan sekali nih kabar.

Makanya, sebelum terperangkap oleh kesimpangsiuran segala hal yang bersifat politis-pemilu itu, lebih baik kita menjernihkan dan menajamkan nurani kita lewat jalan puisi saja. Berikut ini pemikiran yang pernah aku reka-reka menyangkut hal itu. Namun, sebelumnya aku kutipkan dulu catatan berbentuk puisi dari Hasan Aspahani yang diposting di halaman FB-nya. Ini dia.

KEPADA KALENDER

SUDAH berapa lama ya aku berusaha mengenalkan diri padamu,
aku selama ini ternyata hanya pura-pura kenal padamu, bukan?

Padahal yang kukenal itu hanya nama hari dan angka tanggal.

Lho, itu siapa muka palsu yang pasang senyum di wajahmu?
Tadi pagi ada petugas berseragam partai melemparkanmu
di teras rumahku. “Itu mungkin seperti selebaran ‘wanted’
dari kantor sheriff,” kata anakku yang kebanyakan nonton.

Puisi sebagai Solusi Masalah Bangsa

Berani bertaruh, judul di atas pasti terkesan aneh atau maksa. Soalnya memang banyak di antara kita yang memandang puisi sebagai hal yang kurang berguna. Kalau sekadar tahu tentang (kata) puisi, dapat dipastikan hampir semua orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar tahu perihal tentangnya. Namun, pasti banyak pula yang tidak paham mengenai (produk) puisi. Apalagi jika puisi dikatakan sebagai sarana untuk mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa ini. Mustahilkah?

Tulisan ini justru didasari atas keyakinan bahwa puisi itu memiliki manfaat yang sampai pada taraf mampu memberi sumbangan bagi pemecahan berbagai soal yang dihadapi negeri ini. Sayangnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI yang kurang lebihnya dapat disebut sebagai penyair lantaran mampu menghasilkan karya-karya puisi, hingga saat ini belum dapat dikatakan berhasil dalam pemerintahannya. Rakyat kita masih menderita. Namun, justru karena hal itu pula keyakinan atas puisi sebagai solusi ini penting untuk dikedepankan. Khususnya agar sang Presiden dan jajaran pemerintahannya dapat menggali makna puisi sebagai elan vital untuk mengatasi masalah kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Salah satu postulat yang dipercaya dipunyai oleh puisi adalah bahwa para penghayat dan pengamalnya dapat memiliki kepekaan rasa sehingga dapat lebih peduli kepada sesama untuk sekadar bersimpati atau lebih jauh untuk saling memberdayakan diri. Benarkah demikian?

Untuk dapat memahami sebuah puisi atau bahkan menciptakan puisi, pertama-tama kita memang harus menyiapkan kepekaan rasa kita. Tidak perlulah kita sampai harus berbekal teori-teori tentang puisi. Hal-hal di luar kepekaan itu baru kita perlukan kemudian ketika kita ingin meningkatkan pemahaman tentang puisi atau kemampuan kita menciptakan puisi. Itu pun lebih baik berjalan alami saja sebagi penyokong proses kita berpuisi.

Jadi, yang penting selanjutnya setelah bekal kepekaan itu adalah keberprosesan kita untuk berpuisi, baik sekadar sebagai penikmat maupun pencipta karya puisi. Kedua hal ini, kepekaan rasa dan proses atau praktik berpuisi (menikmati/membaca dan atau menulis puisi), memang merupakan satu kesatuan. Tidak akan ada kemajuan atau apalagi kebermanfaatan yang berarti jika kita hanya mengandalkan salah satunya. Peka saja tanpa keintensifan praktik niscaya akan bikin mandul. Sebaliknya, praktik saja tanpa kepekaan akan menghasilkan pemahaman ataupun karya yang dangkal.

Kerangka berpikir yang demikian pun berlaku untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Bisa jadi, Presiden SBY dan jajaran pemerintahannya baru pada taraf peka saja terhadap problem bangsa, tetapi masih kurang dalam hal praktik memecahkan soal-soal yang dihadapi rakyat. Belum lagi kehidupan perekonomian selamat dari ancaman krisis baru, eh, para elite pemerintah terus saja sibuk menyiapkan diri untuk target mengurusi nasibnya pada Pemilu 2009 yang makin dekat.

Sebelum lebih jauh terjebak kesinisan menyinggung pemerintah, ada baiknya kita simak puisi SBY berikut ini.

Wahai Rumput!

Kuingat ketika Ebiet datang dengan “Berita
kepada Kawan”
Aku terhenyak dan berkata lantang
Tidak!
Tuhan tidak pernah bosan dan
alam juga tak akan enggan
bersahabat dengan kita,
kekasih Tuhan

Di senja yang temaram bulan lalu,
kulantunkan lagi tembang manis itu
dalam hatiku

“Mungkin Tuhan mulai bosan
melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-
dosa

Atau alam mulai enggan
bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya
pada rumput yang bergoyang”

Wahai rumput, apa yang hendak kau katakan
ketika bangsaku kini hidup dalam kepasrahan
meski tak kering harapan

Engkau rumput, jawabmu adalah kehidupanku
Nuranimu adalah pengharapanku
Pesan bijakmu adalah keindahan masa depan
negeriku
Kutunggu!

Jakarta, 28 Januari 2004

(Dari buku kumpulan puisi Susilo Bambang Yudhoyono: Taman Kehidupan, Jakarta 2004 ––diambil dari situs web resmi Presiden SBY http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2006/05/28/578.html)

Puisi SBY itu ditulis kurang lebih sembilan bulan sebelum dia secara resmi dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2004. Puisi itu cukup untuk membuktikan kepekaan rasa SBY atas problem masyarakat dan bangsanya. Harapan atas kepekaan ini pula yang oleh sebagian masyarakat, bisa jadi, dijadikan salah satu alasan untuk memilihnya sebagai presiden pada pemilu lalu.

Lantas, apakah dalam masa pemerintahannya hingga kini SBY telah cukup menampakkan kepekaannya lewat program-programnya yang pro-rakyat?

Ayolah, teman-teman bisa menjawabnya sendiri-sendiri (bisa dalam bentuk puisi), lalu posting aja di sini.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

20 thoughts on “Pemilu, PKS, PDIP-Megawati hingga SBY dan Puisi

  1. nomor siji pak bah

    @Baguslah dapet nomer satu. Atau juga mo milih partai nomer satu?

    Posted by zenteguh | Februari 27, 2009, 6:10 pm
  2. kalo saya, mungkin ikut Gus Dur
    Golput ha..ha..

    @Lho, gak jadi pilih yang nomer satu? Berarti belum mantap ya.

    Posted by zenteguh | Februari 27, 2009, 6:11 pm
  3. berpuisilah sepuas hati
    janji janji mana perlu dicari bukti
    fitnah keji nanti juga pergi

    @Harusnya tak ada fitnah tuk membangun negeri
    janji pun mestilah ditepati, bukan diobral sana-sini
    Dengan berpuisi, bukan sekadar mengumbar isi hati
    tapi untuk mewujudkan yang hakiki

    Posted by sunarnosahlan | Februari 28, 2009, 12:13 pm
  4. Pemilu tahun ini sangat membingungkan diriku.
    Aku tak tahu mesti pilih yang mana, partai-partai nyaris tiada bedanya.
    Mau pilih golput, sudah diharamkan MUI.
    Bung Bahtiar bisa bantu memilihkan?

    @Setahuku tak ada yang jelek dari kampanye partai
    tak ada yang bilang bakal bikin negara dan rakyat terbengkalai
    Jika benar begitu, sesuai antara kata dan perwujudan di dunia nyata
    berarti tinggal bismillah masuk TPS, apa/siapa pun pilihan
    insya Allah beres.

    Posted by M Shodiq Mustika | Februari 28, 2009, 5:18 pm
  5. masih bingung memilih siapa

    @Jangan bingung2 kang, semua caleg dan partai bilang baik, kok. Pilih siapa atau partai apa pun insya Allah hasilnya baik. Kecuali kalau mereka semua itu tukang tipu. Gimana? Ah, kang annas yang sering turun ke lapangan pasti lebih tahu.

    Posted by annas | Februari 28, 2009, 5:48 pm
  6. makasih dah ke blog saya😀

    @Makasih juga Mas Cahyo, saya jadi bisa belajar.

    Posted by hmcahyo | Maret 1, 2009, 8:31 am
  7. SBY jelas gagal di mata saya, kang.. tapi puisi sebagai praktik politik.. setuju saya itu!!

    @Oke Prys, link-mu aku taut aja ya.

    Posted by bogorbiru | Maret 1, 2009, 2:24 pm
  8. Intrik basi yang rutin digunakan… ckckck

    tetep nyoblos jangan golput ( bikin abstain aja -nyolok asal2an- )
    😆

    @Siap, Pak, laksanakan.

    Posted by Uchan | Maret 1, 2009, 8:20 pm
  9. Saya jadi inget saat Mega menang, itu karena Mega saat itu dianggap terdzholimi.
    Begitupun ketika SBY menang, banyak orang menganggap SBY terdzholimi.
    Saat ini banyak yang menganggap PKS dizholimi, kita lihat, apakah PKS menang?

    Saya suka puisi, karena saya adalah puisi

    Maaf nih Si Speedy lgi lemot jadi jarang silaturahim🙂

    @Sama, aku juga dah lama gak berkunjung ke blogmu. Juga blum sempat lagi nge-mi janda, lagi lemot jg nih rezekinya🙂

    Posted by achoey | Maret 4, 2009, 11:46 am
  10. politic is a dirty game, you have been entered this game man… and a dirty thing will be absolutely born a dirty things too, rights?

    @Wah, pake boso londo nih. Sebener-benernya sih aku justru ingin menarik politik menjadi puitik biar gak banyak yang licik2. Tapi, mungkin, aku pun terkena intrik yang gak cantik itu, jadi terbaca ada tendensi negatif barangkali. Insya Allah sih nggak ya. Paling2 aku sebatas berharap bahwa berita2 negatif soal partai itu memicu pihak2 yang bersangkutan untuk memantapkan diri dalam kebaikan saja. Kalo memang ada yang tidak baik ya tinggal diperbaiki. Gitu aja.

    Posted by adefadlee | Maret 7, 2009, 11:38 pm
  11. PKS (Partai Keadilan Sejahtera)No. 8

    Kalau PKS (partai komunis sejahtera) no. berapa ya Pak?
    Terus kalau boleh diartikan simbolnya :
    Arit = alat untuk bertani
    Pukul = alat untuk tukang

    *_^

    @Dihya, aku sebatas “meramaikan” pasar politik itu, jadi aku sama sekali tak berkompeten memberi penafsiran lebih jauh, hehehe. Tak ada tendensi politis apa pun terhadap pihak mana pun dariku. Aku cuma ingin semua pihak menahan diri dan introspeksi aja dengan jalan “berpuisi” atau dalam ungkapan lain: muhasabah dan berzikir. Sori, kok aku jadi serius gini.

    Posted by dihya | Maret 14, 2009, 3:20 pm
  12. PKS itu Pojok Kanan Atas.. atas dasar itung-itungan awamologi hehe.. sepertinya yg menang nanti no 1 sampe no 8 aja pak. Soalnya paling mudah dicontreng🙂

    Nah berhubung sudah menjadi sifat dasarku untuk join di tim pemenang (winning team) maka sepertinya aku udah mengerucutkan mau pilih partai apa dari 38 (bener ngga?) menjadi hanya no 1,2,3,4,5,6,7,8. Kandidat terkuat adalah no 1, 5, dan 8. Sebab, secara awam (ku pinjem lagi ya istilahnya) tentu yg beriklan di tipi yang banyak orangtau hehe.. lah ya kandidat itu 1 (hanura) 5(gerindra) ama 8 (pekaes) itu yang aku nonton ditipi bersama orang2 awam laen loh pak..

    Posted by The Unggul Center | Maret 15, 2009, 8:19 pm
  13. @Pak Unggul, top dah. Aku menyimak dengan khidmat analisismu. Suatu kehormatan nih, “awam center” kedatangan sang empunya Unggul Center. Sayang, dikau gak nyaleg. Kalau nyaleg, aku jelas pilih dirimu.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Maret 15, 2009, 10:48 pm
  14. coba klu situ yang jadi “CALEG”

    @Lho, ya gpp jadi caleg. Kan aku gak anti-caleg.

    Posted by wacky.13 | Maret 28, 2009, 2:23 pm
  15. Pak Bahtiar, numpang iklan ya😀
    tentang nilai lebih kader PKS di mata kader PDI Perjuangan lihat di sini:

    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/30/kisah-kurcaca-moncong-putih-dan-kurcaci-pks/

    Posted by sofwan.kalipaksi | Maret 30, 2009, 8:09 pm
  16. @Mas Sofwan,
    silakan. Di sini gratis kok beriklan.😀
    Nanti kutengok, keknya menarik tuh.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Maret 31, 2009, 1:46 am
  17. http://megaproberaban.org

    @Smoga semua baik-baik, amanah, menepati janji.

    Posted by pastika | Juni 28, 2009, 6:00 pm
  18. Allohuakbar…
    Muslim yg baik adalah muslim yg ‘ati’ulloh wa ‘ati’urrosuul wa ulil amri minkum
    jd sdh tdk diragukan lg PKS (Para Kader Syuhada)
    menyiapkan calon Khalifah di indonesi yg SHIDIQ,AMANAH,TABLIGH,FATHONAH insyaALLOH…

    Posted by Abu izroil | September 19, 2009, 10:49 pm
  19. wah, sayangnya, dalam artikel ini, gambar logo salah satu partai sangat menyesatkan…
    apakah partai itu identik dg komunis ?
    insyaAlloh tdk..

    Posted by sakajogja.blogspot.com | Februari 5, 2010, 5:43 am
  20. smoga mnjadi balsan yg stimpal d akhirat kelak . . . . ya Allah . . . ampuni kami . . .

    Posted by ramadhan faisal | Juni 6, 2010, 12:37 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: