you're reading...
Sok Berbagi

Teladan Langka dari Sunter

sunter1

Kalaupun mau disebut sebagai tokoh, kedua orang ini hanyalah tokoh tingkat kampung. Salah satunya bahkan sebatas tingkat rukun warga (RW) karena ia kebetulan ketua RW. Namun kiprah kepedulian mereka rupanya amat pantas dikedepankan sebagai model keteladanan nasional.


Hendra Jafar, salah satu tokoh utama dari duet “maut” (dahsyat) ini, hanyalah mualaf keturunan Tionghoa. Namun berkat kegigihan dan ketulusannya, warga se-RW-nya yang nonmuslim pun jadi sigap mengumpulkan “zakat” untuk dibagikan kepada para mustahik (mereka yang berhak menerima zakat) hingga wilayah di perkampungan sekitar kompleks mereka dalam berbagai bentuk semisal uang santunan, beras, atau paket bahan kebutuhan pokok.

Tanpa harus membentuk sebuah organisasi atau bernaung dalam institusi sosial, keagamaan, atau politik sekalipun (selain RT/RW), Pak RW kita itu bravo banget ternyata. Dengan hanya menjalin kerja sama dengan tokoh Betawi kampungnya, Haji Maulana Mahdum alias Haji Dudung, 59 tahun, dari Kemayoran-Sunter, Ramadan 2007 lalu ia dan warganya mampu mengumpulkan dana “zakat” Rp79.7950.000. Uang sejumlah itu terkumpul dari 68 orang dengan hanya 6 orang saja yang muslim. Mereka telah melakukan kegiatan serupa dalam lima Ramadan terakhir (terhitung dari 2007 ke belakang).

Itu sungguh sebuah keteladanan langka dari Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tepatnya kompleks Perumahan Sunter Jaya, khususnya di RW 13.

Kepada MASJID, Hendra mengaku sesungguhnya ia enggan memublikasikan aktivitas di lingkungannya itu. “Khawatir dianggap riya’,” kata pria 53 tahun ini. Namun, demi syiar keteladanan untuk kepentingan umat, akhirnya Hendra tak keberatan kiprah diri dan warganya dipublikasi.

“Sebenarnya semua ini bisa tercapai karena ada sinergi antara kami warga pendatang dengan para tokoh pemuka masyarakat asli,” ungkapnya. Ia pun meminta Haji Maulana untuk sesekali melengkapi kisahnya. Duet harmonis Hendra dengan tokoh sepuh Betawi pendiri dan Ketua Umum Persatuan Orang Betawi (POB) inilah, salah satunya, yang membuat berbagai kegiatan dari berbagai unsur warganya bisa tercapai.

Di satu sisi, Hendra sebagai ketua RW berlatar belakang Tionghoa melakukan pendekatan secara personal kepada warga kompleks perumahan yang sebagian besar beretnik Tionghoa dan nonmuslim. Di sisi lain, Haji Dudung membuka lebar ruang pembauran dengan warga muslim di sekitar Sunter Jaya. Alhasil, jembatan persaudaraan antara warga muslim dan nonmuslim di Sunter Jaya dapat kokoh didirikan.

Dengan bangunan kuat yang mereka buat itu, banyak dimensi berbeda antarwarga, selain muslim-nonmuslim, dapat dijembatani. Misalnya, antara si kaya dan si miskin, antara yang terdidik dan yang udik. Mereka semua bisa saling berasyik-asyik tanpa ada pihak yang terusik. Ini jelas bukan perkara sederhana. Terbukti, di berbagai lokasi lain hingga kini masih kerap terjadi benturan antarkelompok berbeda latar belakang.

Yang lebih membanggakan, meski baru satu dua, ada juga di antara warga kaya di RW Hendra yang telah melakukan proses pemberdayaan kepada warga miskin di sekitar mereka. “Ada beberapa warga yang sudah menjadi bapak angkat bagi anak-anak yatim dan keluarga tidak mampu,” ungkap Hendra.

Lebih jauh ke depan, duet Hendra dan Haji Dudung masih menyimpan harapan, sebuah cita-cita, untuk membuat satu manajemen pemberdayaan warga miskin oleh warga kaya berbasis lingkungan. “Rencana itu sudah ada, semoga bisa segera kami wujudkan,” ujar Haji Dudung.

Dalam mekanisme yang lebih terorganisasi itu kelak santunan dari warga kaya akan diarahkan dalam bentuk pemberdayaan, misalnya untuk modal usaha dan biaya pendidikan anak-anak dari keluarga miskin. Amin.

Demikianlah, postingan ini sebagian besar diambil secara tidak beradab dari tulisan Mas Sofwan kalipaksi.wordpress.com di sini (bertanggal 13 November 2007). Aku hanya sedikit mengacak-ngacak untuk kepentinganku sendiri dengan banyak menambahkan opini-opini ngawurku. Mohon maaf jika ada yang keliru.*

*Komentarku atas tulisan asli Mas Sofwan di blognya begini:

Aku kira model seperti ini cocok untuk diteladani dibandingkan misalnya gerakan sejenis (lantaran cita2nya relatif sama) lewat lembaga tertentu yang justru menumbuhkan eksklusivitas dan memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga sendiri. Maaf Mas Sofwan, komenku ini masih berkait dengan MAZ. Tapi, lembaga lain apa pun berpotensi sama kok. Jadi, menurutku, lebih pas yang model kayak duet tokoh dari Sunter ini. Wassalamualaikum.


MAZ itu Ma’had Al-Zaytun (NII KW9) pimpinan Abu Toto/Panji Gumilang.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

6 thoughts on “Teladan Langka dari Sunter

  1. nomor sijimologi pak bah

    @Top dah.

    Posted by zenteguh | Maret 12, 2009, 5:11 pm
  2. hebat dah! itu patut dicopy/paste oleh birokrat lainnya.

    tapi ada yang lebih bagus dari itu… dan aku naksir banget untuk memilikinya segera… itu loh…. gambar kartun sang cendikiawam ini. Siapa yg gambar mas? bisa pesan satu buat saya?🙂
    *berharap banget*

    @Welah, itu gambar juga berkat muka nekat sedikit maksa ma Mas Tyud Tahyuddin di ruang sebelah, sang empunya blog di taut sahabat: http://tyudkartun.blogspot.com/
    Coba aja jabat erat dia, rayu, mungkin bisa lewat FB-nya ini:
    http://www.facebook.com/profile.php?id=550779206
    Gitu dulu ya Bos. Kangen nih pengin ketemu.

    Posted by MT | Maret 12, 2009, 11:17 pm
  3. soal isi, wis gak perlu dikomentari lagi deh. Inspiring. Soal header, ini yang top…keliatan muda pak

    @Lho, aslinya memang muda kok. Klo kelihatan tua (pada tampang aslinya), itu mungkin gara2 “gizi” kurang.

    Posted by zenteguh | Maret 12, 2009, 11:18 pm
  4. kk blog na keren bgt
    jgn lupa silaturahmi ke blog saya yaa
    http://jamelblog.wordpress.com/

    @Makasih dah mampir. Insya Allah nanti aku berkunjung juga ke tempatmu.

    Posted by jamel virgiawan | Maret 13, 2009, 3:22 pm
  5. OOT:
    asyik, goresan mas tyud akhirnya nangkring di sini. khas bgt

    @Tinggal menunggu goresanmu yang pasti akan segera kupasang. Apa aja, banner dll. Pasti juga khas dirimu.

    Posted by antown | Maret 13, 2009, 8:13 pm
  6. wah boleh nampang tu puisi saya kak…….
    bagus ya kak
    jangan lupa kunjungi blog saya ya kak
    and kommentnya

    @Oh, maaf Yantysa, lantaran belum mengenalmu, jadi aku langsung kutip aja. Wah, kebetulan nih yang punya mampir ke sini. Insya Allah nanti aku kunjungi blogmu. Sayang, dikau menempatkan komen pada bagian ini, bukan di postingan yang mengutip puisimu, “Hujan”, pada “Dongeng Alam dari Kak Awam”. Tapi gak papa. Makasih ya.

    Posted by yantysa | Maret 14, 2009, 9:57 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: