you're reading...
Sok Tahu

Ilmu Dulu (No 1), Baru (No 2) Politik

buku-ilmu gedung-dpr1

Setelah menerbitkan postingan soal ”Nabi, DPR, dan Politik” di blog ini, aku mendapatkan komentar dari Mas Shodiq Mustika sebagai berikut. “Aku pernah dengar cerita––tolong koreksi kalau salah––Nabi Sulaiman pernah ditawari tiga pilihan oleh Tuhan: harta, tahta, atau ilmu, lalu Nabi Sulaiman memilih ilmu. Hasilnya, ilmu diperoleh, demikian pula harta dan tahta. Bagaimana dengan kita (termasuk DPR)? Sepertinya, semangat mengejar harta dan tahta lebih tinggi daripada semangat mengejar ilmu.”

Dalam postingan itu, aku memang mengungkapkan bahwa berpolitik itu sesuatu yang niscaya, tak bisa dielakkan meskipun kita memilih menjadi golput. Di dalamnya aku juga sedikit menyentil para elite pemimpin bangsa, termasuk DPR, dan mengaitkannya dengan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Nah, rupanya komentar Mas Shodiq itu tidak saja menyindir DPR dan teman-temannya, tetapi juga dengan telak menjitak kita semua. Maka, aku pun membuat postingan khusus ini untuk menggarisbawahi pentingnya menomorsatukan ilmu itu dibandingkan dengan harta dan tahta, sekalian pula ini menjadi sebentuk pengakuan diri bahwa rasanya memang ada kecenderungan untuk lebih memilih dulu harta dan tahta, baru kalau sempat: ilmu. Bagaimana dengan Anda?

Jelaslah bahwa ilmulah yang mesti didahulukannomorsatukan (diutamakan), baru kemudian peringkat keduanya harta dan tahta. Ini berarti pula bahwa carilah (bekal) ilmu politik yang cukup dulu, baru terjun ke dunia politik praktis mencalonkan diri untuk jadi pemimpin atau wakil rakyat (DPR). (Hehehe, bagian ini merupakan koreksi alias tambahan untuk mengurangi kekecewaan Pry; bahwa sebenarnya yang saya maksud adalah mengutamakan ilmu dan pelaksanaanya, agar bisa memperoleh ilmu yang cukup, ya bisa saja sambil terjun praktik berpolitik). Hal demikian sebenarnya juga menjadi tujuan postingan pertama meski tidak secara eksplisit disebutkan. Sebab, kurangnya ilmu akan dapat membentuk persepsi politik yang keliru sehingga dapat melahirkan perilaku politik yang keliru pula.

Bayangkan saja jika politik praktis dijadikan alat untuk mencari rezeki pribadi (harta dan tahta), bukan pertama-tama untuk memperjuangkan kepentingan bersama (masyarakat). Kacaulah negara ini jadinya. Orang-orang demikian hanya akan menjadi pintar mencari segala cara untuk menyukseskan dirinya sendiri, tetapi tetap malas dan bodoh dalam hal substansi (ilmu) politik untuk menyejahterakan bangsa. Mereka tak akan memiliki visi dan misi jauh ke depan untuk memajukan bangsa. Sialnya, jika persentase orang-orang demikianlah yang mendominasi panggung politik kita, ya ampuuun deh, amit-amit.

Memang sih, blog ini adalah blog awamologi yang berarti pemiliknya (aku) adalah orang awam (yang dapat dimaknai sebagai orang bodoh). Namun, justru dengan pemahaman atas kondisi keawaman atau kebodohan diri inilah aku bertitik tolak untuk giat mencari ilmu. Keistiqamahan untuk selalu berada dalam kesadaran atas kebodohan diri inilah yang dijadikan bekal untuk juga senantiasa istiqamah menuntut ilmu.

Tak usah jauh-jauh kita meneladan kepada para tokoh luar negeri atau merunut hingga masa silam kepada para sahabat di zaman Nabi. Di negeri sendiri pun banyak contoh orang-orang yang mementingkan ilmu daripada harta dan tahta. Dari Bung Hatta, Syahrir hingga Muhammad Natsir, cukuplah kiranya para politikus kita menjejakkan pikir. Teladanilah mereka dan jadikanlah kalian para pendekar ilmu pembela kaum fakir.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

11 thoughts on “Ilmu Dulu (No 1), Baru (No 2) Politik

  1. tersanjung rasanya dilink dalam tulisan ini. terima kasih ya, salam kenal🙂

    setuju banget nih dengan “ilmu dulu baru harta dan tahta”, meski godaan untuk menomordua/tigakan ilmu itu guede juga😉

    Posted by nadya | April 6, 2009, 10:25 am
  2. ilmu kan munculnya dari praktik, kang.. gimana dong? ditambah lagi, ilmu haree genee mahal kang, cuma yang berduit doang yang bisa menimba ‘ilmu berkualitas’. daya kritis pendidikan kita sudah mati, yang ada adalah menimba ilmu untuk keperluan perut, jadi pelacur intelektual.

    wuah baru kali ini saya kecewa sama kang Bachtiar.

    Posted by bogorbiru | April 6, 2009, 10:39 am
  3. @Nadya,
    seneng juga aku, dikau langsung mengeceknya ke sini.

    Buat teman-teman lain peselancar dunia maya, link tulisan Nadya itu tepat berada pada nama “Bung Hatta” karena memang isinya memaparkan keteladanan Bung Proklamator Wapres I RI itu.

    Makasih ya Nadya.😀

    Posted by Bahtiar Baihaqi | April 6, 2009, 10:46 am
  4. setuju Pak, dengan ilmu kita tidak akan tersesat, tapi jangan sampai menyesatkan

    Posted by sunarnosahlan | April 6, 2009, 10:55 am
  5. @Halo Pry,
    langsung kukoreksi tuh postingannya. Sebab, sebenar-benarnya yang kumaksud adalah bahwa kita mesti mengutamakan ilmu, baru peringkat berikutnya harta dan tahta (politik).
    Soal praktiknya (untuk mendapatkan ilmu dan berpolitik), bisa saja dengan sambil jalan alias terjun langsung berpolitik praktis (learning by doing). Tapi, nggak selalu harus begitu kan? Misalnya Indra Pilliang, kan jadi pengamat/peneliti dulu, baru sekarang ikut nyaleg. He he he.
    Btw, kekecewaanmu (yang mungkin gak bisa terobati dengan koreksi ini) tetap aku hargai.😀

    Posted by Bahtiar Baihaqi | April 6, 2009, 11:17 am
  6. @Mas Narno,
    ya memang gak boleh sampai menyesatkan. Mestinya kan jadi penerang dan penuntun di jalan yang benar.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | April 6, 2009, 11:26 am
  7. ilmu yg bermanfaat akan menjadi syafaat qta kelak…

    @Moga kita bisa meraihnya, amin.

    Posted by mfier | April 6, 2009, 2:05 pm
  8. mas bahti, ilmu njenengan itu sudah dhuwur… (berarti awam +++)🙂

    @Klo seorang guru memberi pujian, itu berarti untuk membesarkan hati sang murid…🙂

    Posted by khairul | April 6, 2009, 4:27 pm
  9. ilmu adalah harta yang paling berharga

    @Wah, itu ungkapan bagus yang mungkin sering kita lupakan.

    Posted by annosmile | April 6, 2009, 6:39 pm
  10. Maka tak heran kalau kemudian Rasulullah meminta umatnya (perumpamaan) belajar hingga ke negara China. Maka tak heran ilmu yang bermanfaat adalah (salah satu) amalan yang tak akan putus hingga ruh meninggalkan badan. Ilmu…dimana engkau….

    @Weleh, blum pulang to, masih berolah ilmu. Atau ngomen dari mana nih, dari peraduan sumber ilmu ya?

    Posted by zenteguh | April 7, 2009, 1:00 am
  11. minta tulisan ini ya buat blogor!
    terima kasih😀

    @Silakan aja. Tapi apa ya cocok, orang ngaco gitu.

    Posted by MT | Januari 6, 2010, 2:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: