you're reading...
Sok Tahu

KALAU KAMI GOLPUT, KALIAN MAU APA?

partai-golput

Dini hari, 8 April, sehari menjelang Pemilu 2009.

Sama sekali saya tidak sedang mengampanyekan golput dan membela mereka. Saya cuma ingin semua pihak mendudukkan permasalahan dengan baik dan membuat persoalan jadi mudah. Kalaulah hasilnya nanti justru jadi tambah ruwet, itu kecelakaan namanya, hehehe.

Semisal kita tinggal di sebuah RT (adakah yang nggak kenal RT-RT-an), oleh suatu sebab (apa pun itu), kita tidak bisa ikut rapat untuk memilih pengurus ini itu atau untuk bikin program ini itu, apakah lalu kita (yang nggak ikut rapat) berhak dicueki, disewenang-wenangi, bahkan dibikin mampus? Apakah bapak-bapak para pengurus RT atau pengurus program berhak berbuat demikian?

Sudah tentu kita yang nggak ikut rapat mesti bersedia menerima apa pun keputusan rapat, tetapi apakah isi keputusan itu boleh menjadi semau-maunya menzalimi warga? Tentu saja akan selalu ada “nilai-ukuran kebaikan bersama” yang mesti menjadi patokan dan hal itu sebenarnya sudah sama-sama diketahui para pemilik hati nurani.

Jadi, jangan sudutkan golput (yang diumpamakan sebagaimana orang-orang yang nggak ikut rapat tadi) seolah-olah mereka kelompok pengacau kehidupan bangsa dan negara. Bukankah tanggung jawab terbesar ada pada para “pengurus RT” (baca: wakil rakyat, para pengurus negara) untuk mengurus kehidupan warganya agar berlangsung sebaik-baiknya?

Simpulan gampangnya: ada atau tidaknya golput, bukankah kita semua mesti berbuat terbaik untuk bangsa dan negara ini?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

35 thoughts on “KALAU KAMI GOLPUT, KALIAN MAU APA?

  1. pertamaxx nih..
    judulnya serem om.. tapi menurut ku yang mereka lakukan adalah kebohongan2 lagi supaya orang2 bisa menjadi mau milih..

    @Hehehe, serem ya. Tapi isinya gak kan, menyejukkan… *halah.

    Posted by gilang mahardika | April 8, 2009, 1:05 am
  2. golput itu juga termasuk pilihan politik, mas baihaqi. jadi, mau digunakan atau nggak ke tps, itu juga menjadi hak personal ybs.

    Posted by sawali tuhusetya | April 8, 2009, 3:57 am
  3. golput itu adalah bagian dari demokrasi, ketika keadaan memaksa atau memang tidak ada pilihan yang layak

    Posted by seorangdiri | April 8, 2009, 4:52 am
  4. @Pak Sawali dan “seorangdiri”,
    betul, saya pun mengakui hal itu meski analisis lain (terutama yang gak pro-golput) bilang: golput gak menyelesaikan masalah, tapi malah merugikan diri sendiri, dll.

    Postingan saya ini hanyalah untuk menepiskan anggapan bahwa pilihan golput itu pasti salah dan (yang lebih parah) layak dijadikan sasaran kesalahan dari produk “salah urus” pengurus negara; juga anggapan bahwa para golput gak berhak mengkritik salah urus itu.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | April 8, 2009, 5:53 am
  5. tadinya aku mau golput karena muak lihat perilaku anggota legislatif hasil pemilu 2004 baik pusat maupun daerah yang kebanyakan uud(ujung-ujungnya duiiiiit) tapi eh ada tetangga yg nyaleg orangnya baik, yah gak jadi golput, harapanku mudah2han hasil pemilui 2009 ini lebih baik

    @Syukurlah tlah menemukan yang baik. Aku pun berharap sepertimu, amin.

    Posted by starzoom | April 8, 2009, 7:29 am
  6. golput itu kan pilihan diri masing2, dari pada memilih orang2 yang tidak saya kenal (dan tidak peduli pada saya), mending golput lah🙂

    @Ya, berarti para caleg/partai itu kurang dalam memperkenalkan diri. Lah, klo memperkenalkan diri saja susah, keknya mewujudkan janji2 bakal lebih susah.

    Posted by KanjengRagil | April 8, 2009, 7:47 am
  7. Golput termasuk demokrasi. hanya saya jadi bingung kenapa demokrasi di Indonesia malah disamakan dengan voting? Trus kalo ga mau milih dianggap tidak berdemokrasi….*sigh*

    @Em, desty, baiknya kau ngobrol ma Pry, sesama blogor, soal ini. Dia keknya lebih mumpuni soal ini. Klo aku sebatas mendasarkan diri pada “insting” keawaman.

    Posted by desty | April 8, 2009, 7:53 am
  8. mau dukung

    @silakan.

    Posted by awan_clickerz | April 8, 2009, 8:24 am
  9. kok bapak tahu isi hati gw ya….:-)
    bagi gw, gg salah menjadi golput, tapi yang salah adalah gg ada orang (caleg atau pimpinan) yg dapat merayu para voters untuk tidak menjadi golput…
    karena gg ada alasan yg masuk akal para voters untuk menjadi tidak golput…
    terlalu banyak alasan para voters untuk menjadi golput.
    para voters kehilangan kepercayaan terhadap para caleg.
    kemudian, alasan yg lain kalo kita dipaksa milih trus yg kepilih ternyata pimpinan busuk, maka kita secara moral sangat berdosa terhadap diri kita sendiri , orang banyak maupun anak-2 kita….

    salam kenyal pak…dan silahkan monggo mampir ke rumah gw…🙂

    @Komenmu “kenyal” jg nih keknya. Lam kenyal jg. Aq dah mampir tuh.

    Posted by gwgw | April 8, 2009, 8:25 am
  10. golput atau memilih adalah hak masing-masing, mari saling menghormati

    @Iya, selain itu mesti saling berbagi kebaikan.

    Posted by sunarnosahlan | April 8, 2009, 8:26 am
  11. Seyogyanya kita saling menghormati pilihan seseorang, bukankah demokrasi ( bagi mereka yang meng-agung-agungkan demokrasi ) juga saling menghormati hak orang lain.

    Bagi yang mau golput…monggo,
    bagi yang mau nyontreng, nyoblos, nyoret kanan-kiri juga silahkan.

    untuk berbuat kebaikan dan dapat bermanfaat bagi banyak orang tidak harus golput atau tidak golput.

    @Hehe, aku suka kalimat terakhirmu.

    Posted by investonyouth | April 8, 2009, 8:33 am
  12. Memilik yang paling sedikit jeleknya diantara yg jelek2 pantaskah karena belum ada memilih yg terbaik diantara yang baik2…..

    Itu jika kita harus memilih namun..,Tidak memilih juga sebuah pilihankah?

    Besok kayaknya juga gak nyoblos karena keadan jadi terpaksa golput jdi pilihanya!

    @Yang penting tetap berbagi kebaikan buat sesama.

    Posted by Wh | April 8, 2009, 11:44 am
  13. mau makan.:mrgreen:
    jadi teringat lirik lagunya Efek Rumah Kaca, kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

    @Oo gitu ya. Tapi aku malah gak tau soal lagu itu. Klo mo berbagi donlotannya boleh tuh.:mrgreen:

    Posted by denologis | April 8, 2009, 1:25 pm
  14. wuah, mantap..

    @Yang bener nih. Wah, sori Pry, mungkin kesannya diriku agak berseberangan dengan kampanya tolak golputmu. Gak gitu sih Pry. Cuma sedikit mo “meluruskan” aja.

    Posted by bogorbiru | April 8, 2009, 2:33 pm
  15. Saya juga Golput!

    @Kenapa?

    Posted by sanjisan | April 8, 2009, 3:15 pm
  16. golput itu fakta ketidakberesan sistem dan penguasa di negeri ini. jadi harusnya para penguasa itu belajar dr yg golput, menjadikannya sebagai conrol, bukan malah melarangnya. Kalau golput nggak boleh, sekalia saja demokrasinya diganti

    @Ya, yang bersangkutan pantas mempertimbangkan saranmu.

    Posted by bocahkureng | April 8, 2009, 3:40 pm
  17. aku setuju persoalan demi bangsa… itu aja entah wujudnya apa.. salam perjuangan *sip!*

    @Sip juga.

    Posted by S.A | April 8, 2009, 3:56 pm
  18. betul pak, setuju ituh, tapi klo kasusnya kita dah diajak untuk memilih erte dah didata dan dah diberitahu, dan pada masa nya pemilihan kita ada waktu dan luang untuk datang tapi kita tidak datang, tentu kasusnya berbeda kan?

    tapi untuk pemilu saat ini, emang golput seolah dipola karena proses penyusunan DPT yg nggak beres

    @Ya, tentu, kita kan juga mesti jadi warga RT yang baik. Klo soal DPT, yang kali ini memang bikin bete. Itu juga yang membuatku gak bisa milih, bukan gak mau milih.

    Posted by dobelden | April 8, 2009, 5:43 pm
  19. Di negara demokrasi golput juga pilihan yang layak dihormati. Tidak ada paksaan dalam menentukan pilihan. Salam.🙂

    Artikel terbaru dari Murid Baru: Cerdas Bermedia dan Cerdas dari Media

    @Salam jg.🙂

    Posted by Murid Baru | April 8, 2009, 8:22 pm
  20. Mungkin stigma orang2 yang golput itu orang yg skeptis kali yah…

    Jadi mereka yg gak golput justru sebel sama perasaan skeptis para golputers
    “udah tau gak bener, pilih yg bener kek? jgn diem aja”

    Kira-kira bagaimana pak abah?

    @Lah, aku siap milih, tapi yang bikin DPT gak mendaftarku. Lagipula, klo taun lalu ada petugas pendaftar yang dateng ke rumah, kasih kartu pemilih, sekarang boro2. Mending kalau DPT-nya bisa diakses di internet. Setahuku gak ada pengumuman resmi soal ini.
    Kedua, pihak2 yang mencalonkan diri mestinya maksimal dalam memasarkan diri. Aku rasa gak perlu biaya banyak. Bisa dipakai mekanisme antarkenalan atau tetangga. Utchan misalnya bisa kasih info ke aku tentang mereka2 yang baik. Yang pasti, sampai kini untuk caleg di lingkup kampungku aja gak ada yang aku kenal. Padahal, untuk selebaran semisal tukang servis atau jasa ini itu, produk ini itu sering banget hinggap di depan pintu. Tapi, selebaran caleg kok gak ada?
    Aku merasa gak dibutuhkan oleh mereka (sekalipun untuk sekali contrengan).

    Posted by Uchan | April 8, 2009, 9:49 pm
  21. kalau saya tetap saja seperti dulu. karena golput ada yang bilang haram, saya pilih laskar pelangi… ekh, salah. Golongan pelangi maksudnya🙂

    @Sebenernya yang “lebih haram” adalah mereka yang bikin orang2 jadi golput semisal mereka yang gak becus ngurus DPT, mereka (para caleg dan parpol) yang gak peduli sama pemilih (gak gencar bersosialisasi dari hati ke hati), dll seperti itulah.
    Lah, klo ada orang kelaparan yang menjadi maling, pihak yang mampu menolong tapi membiarkan dia bertindak demikian tentulah lebih biadab. He he he, maaf klo perbandingannnya gak begitu nyambung.

    Posted by bodrox | April 8, 2009, 10:47 pm
  22. the best conclusion..
    tak harus milih pun kita bisa berbuat yang baik untuk negeri ini…begitukah pak..?

    @Iyo Mas. Manstab konklusinya.

    Posted by zenteguh | April 8, 2009, 11:21 pm
  23. masih ingat beberapa saat lalu saat saya berkunjung ke sebuah rumah dimana seisi rumah memperbincangkan soal pemilu, dari sekian orang yang hadir jujur iklas golput aja, namun ada seorang bilang”anak muda kalo kalian ingin bangsamu ini maju berikan suaramu jangan malah merintangi bangsamu yang hendak maju, kamu rela bangsamu dipimpin sama pengamen?”
    Saya ngengkel golput masa saya dibilang mecederai bangsa? untuk berbuat baek demi kemajuan bangsa rasanya otak kita yang aktive masih lebih berguna to, kemiskinan, sekolah2 alternative kan lebih membutuhkan kesadaran diri kita untuk membantu mereka, untuk memajukan bangsa berawal dari hati diri sendiri bukan berawal dari caleg toh, lha caleg dan sepak terjangnya aja ga mudeng, maap saya golput aja😀

    @Lho, klo yang mimpin ternyata pengamen, itu bisa juga karena begini: (1) ada caleg/calon pemimpin yang pengamen, (1) lebih banyak pemilih yang demen sama calon yang pengamen itu (daripada yang bukan pengamen). Padahal dalam kampanya setahuku gak ada yang ngaku2 sebagai pengamen. Ngakunya ya calon pemimpin bangsa yang layak memimpin.
    Jadi, yang golput gak (otomatis) salah.

    Posted by babynda | April 8, 2009, 11:52 pm
  24. Guruku,
    Maaf sepertinya anda melihat dari satu sisi.
    Tidakkah anda melihat sahabat-sahabat kita yang pro golput jutru seringkali menganggap semua parpol dan caleg adalah sampah. Tidak ada yg bisa dipercaya. Apakah ini tidak melukai hati mereka?

    Guruku,
    Saya punya banyak sahabat yang tidak tercantum di DPT dan mereka sangat sedih. Dan ini sangat banyak sekali. Karena mereka punya masih punya kepercayaan bahwa maih ada orang baik di negeri ini.

    Guruku,
    Saya punya sahabat yang golput secara idiologis. Dan saya menghormati keyakinan mereka bahwa demokrasi berbeda dengan kekhalifahan. Saya sendiri merindukan kekhalifahan tegak.

    Guruku,
    Saya punya teman yang golput gara-gara dia tidak bisa pulang kampung untuk nyontreng. Karena mereka berada di rantau sedang menjemput rejekinya. Saya adalah bagian dari ini.

    Jadi, kita saling menghargai saja.

    Selamat mencontreng saudara-saudaraku.

    @Maafkan aku sobat jika terasa aku condong ke satu sisi. Barangkali karena aku sendiri tak kuasa menghindari, sebuah kelemahan yang manusiawi. Sudah tentu kita mesti saling menghormati. Selamat mencontreng juga teman-teman semua. Izinkan aku hari ini ber-solilokui.

    Posted by achoey | April 9, 2009, 8:12 am
  25. Hidup adalah pilihan … tugas kita menghormati pilihan siapa pun

    @Ya, selain saling menghormati, kita juga bisa saling berbagi pendapat dengan bijak atas pilihan2 itu.

    Posted by Ersis Warmansyah Abbas | April 9, 2009, 5:20 pm
  26. Betul…that is a choice, peran serta kita sebagai warga negara saya rasa nggak cuman menjadi seorang pemilih pada PEMILU. Berapa banyak anggota legislatif yang justru memakan uang rakyat setelah dipilih? coba bandingkan dengan wirausahawan, besar atau kecil yang punya karyawan, justru mereka berperan besar membuka lapangan kerja dan memberi makan rakyat sesuai kemampuan mereka.

    @Ya ya, jalan untuk berbuat dan berbagi kebaikan ada di mana-mana.

    Posted by Ferdian Adi | April 9, 2009, 5:47 pm
  27. Ya, sepakat dengan Pak Ersis. Negara kita demokratis bukan, jadi tidak masalah kalau ada golput

    @Komenku juga serupa dengan jawabanku ke komen Pak Ersis, he he he. Pokoknya mah tetap berbuat baik buat sesama.

    Posted by syafwan | April 10, 2009, 3:25 am
  28. Kemarin pas hari pemilihan, saya sebenarnya agak bimbang antara golput atau datang ke TPS guna memilih. Saya tanya ke orangtua apa sudah memilih, mereka jawab sudah. Saya bergumam ke mereka, partai apa yang saya mesti pilih. Mereka spontan menjawab, pilih yang partai beraliran Islam aja, terserah mau partainya yang mana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak golput pada pemilu kali ini, padahal kemarin-kemarin itu kepikiran untuk golput.

    Yang membuat saya berubah untuk tidak golput adalah bahwa memang benar perubahan bisa dilakukan tidak mesti melalui jalur pemilu tapi saya sendiri beranggapan untuk dapat memulai perubahan itu dari pemilu kali ini.

    Yang membuat saya berubah untuk tidak golput adalah bahwa memang benar saya tidak mengenal baik mereka-mereka yang saya pilih, tapi saya berkhusnudzan bahwa mereka-mereka yang ada disana adalah orang-orang yang mampu dan sudah melalui seleksi dari partainya masing-masing sama seperti kita tidak mengenal baik siapa sopir angkot dari kendaraan yang kita tumpangi, nakhoda dari kapal yang kita tumpai atau pilot dari pesawat yang kita tumpangi.

    Yang membuat saya berubah untuk tidak golput adalah saya lihat betapa besar dana negara yang harus dikeluarkan untuk membiayai pemilu kali ini dan seandainya saya yang sudah mendapatkan kesempatan untuk memilih tapi tidak menggunakan hak pilih saya maka bukankah ‘sayang’ dan ‘sia-sia’ uang yang besar itu tidak diserap dengan baik. Akan dikemanakan surat-surat suara, tinta yang semestinya sudah menjadi jatah saya. Apakah akan terbuang begitu saja sehingga mubadzir jadinya.

    Bagi mereka yang golput karena permasalahan administrasi memang tidak bisa berbuat apa-apa. Ketidaksiapan KPU pada pemilu kali ini terlihat begitu kentara. Banyak mereka yang karena salah urus administrasi tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

    Tapi secara pribadi saya pun menghormati mereka yang golput, karena itu adalah hak dan sudah menjadi pilihan bagi mereka.

    Semoga pemilu kali ini dapat membawa bangsa ini berubah ke arah yang lebih baik.

    @Siplah, Pak. Amin.

    Posted by Jafar Soddik | April 10, 2009, 7:34 am
  29. Selamat golputers. Selamat juga buat Partai Demokrat. Oh ya, baca juga tentang mengapa demokrat menang pemilu kali ini, di sini:

    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/04/09/beda-kemenangan-partai-demokrat-di-amerika-dan-partai-demokrat-di-inonesia/

    @Selamat buat kita semua.

    Posted by sofwan.kalipaksi | April 10, 2009, 10:01 am
  30. pengalaman saya pemilu kemaren kebingungan di kertas pemilu yang segede koran(udah kyk golput kan pak tapi nggak).Pemilu tahun ini nggak efektif ada beberapa partai di diskualifikasi menjelang hari H.Kesimpulanya inilah pemilu paling KATROK di Republik Indonesia.

    @Bisa jadi gitu, paling katrok. Tapi, kita tunggu para pengamat memberikan alasan detailnya.

    Posted by sttdb | April 10, 2009, 5:28 pm
  31. Curhat sedikit😉

    Saya golput karena dipaksa.

    1. Dipaksa oleh kesedihan saya atas begitu banyaknya caleg-caleg yang menghamburkan uang untuk membuat baliho, stiker, banner dan juga buat kaos plus sedikit amplop. Membuat saya berpikir, berapa lagi uang saya yang akan mereka sedot nanti untuk mengembalikan modal mereka..

    2. Dipaksa oleh kebingungan saya atas banyaknya caleg-caleg yang tidak saya kenal, partai yang tidak saya tahu, dan visi-misi yang tidak pernah saya saya dengar.

    3. Dipaksa oleh rasa sayang saya kepada keluarga, yang tidak akan saya korbankan demi misi politik segelintir orang yang mengatasnamakan rakyat dalam kampanye, untuk kemudian disantap hidup-hidup saat mereka berkuasa.

    4. Dipaksa oleh rasa rindu saya akan adanya dewan perwakilan yang mewakili suara saya dan tidak cuma mewakili suara partai (banyak loh, yg ngakuin “saya ini kan wakil partai..”)

    5. Dipaksa oleh kegeraman saya atas skandal seks, kolusi, “main-main”, tidur-tiduran / ngobrol / sms-an / mencaci maki / berkelahi saat sidang, padahal mereka itu sudah merebut tiga jam waktu saya mengantre dan mencoblos dulu waktu 2004

    6. Dipaksa oleh kekesalan saya atas arogansi dan nafsu elit-elit politik yang berlomba-lomba untuk kembali berkuasa dan bukan berlandaskan keinginan untuk memajukan bangsa.

    Akhirnya… saya Dipaksa golput oleh Perempatfinal Liga Champion yang sangat seru, fair, sportif, dan membuat saya teler pagi harinya dan akhirnya malas mencontreng.

    @Huahaha…. Jadi, dari semua “paksaan” itu, yang benar “cuma” yang terakhir (perempat final Liga Champion)?
    Enggak kan? Menurutku, semua poin “curhat”-mu itu layak dicamkan oleh pihak2 bersangkutan.

    Posted by JW | April 13, 2009, 9:11 pm
  32. hehehe maap baru bisa ol…pak!

    golput seperti om JW yang paksaan sy kira nggak etis,karena menurut sy golput itu ideologi yang terdalam dlm hati kita.Karena sy pernah mengalami menjadi golput 3 kali…baru pemilu kmarin sy putuskan sy harus berubah.sy cerita sedikit tentang golput sy,sebagian keluarga sy kerja sbg PNS. Di masa orba pertama kali nyoblos,sy di dikte untk menyoblos salah satu partai terbesar waktu itu.Tetapi sy menolak karena nggak sesuai dengan hati nurani sy(ideologi),sy lebih tertarik salah satu partainya anak muda waktu itu.kmudian kita di giring…hehehe biasa nginep smaleman pak,so ga jadi nyoblos..sampai 3X golput.tapi klo topik diatas di umpamain kyk urusan RT-RTan kyknya di RT ga se ekstrim itu loh pak,orang sekarang pada ga mau jadi RT kok.Jd ga tepat kayaknya topiknya di kaitkan dengan RT.oh…iya mas JW saya juga nonton liga champion waktu itu trus paginya nyambung jadi KPPS sampai penghitungan suara selesai jam 11 malem……huuh chelsea kebobolan 2 gol menit 35(pertemuanII).

    @Wah, baguslah semangatmu untuk berkontribusi dalam pemilu. Klo poin terakhir dari JW itu mungkin cuma bercanda. Tapi, dari semua poin yang dia ungkapkan itu, sebenarnya dia masih punya kepedulian (minimal harapan) agar kehidupan berpolitik dan bernegara kita makin baik. Seburuk-buruk golput adalah mereka yang dah benar2 apatis sehingga tidak punya kepedulian sama sekali (bahkan untuk sekadar berharap).
    Soal perbandingan RT-RT-an itu, tentu saja nggak bisa menjelaskan semua sisi golput vs non-golput. Klo sederhananya mah aku cuma ingin bilang bahwa tetaplah peduli ma perbaikan masyarakat dan bangsa ini meski pilih golput (jadi gak apatis sama sekali). Sebaliknya, yang gak golput pun gak perlu memojokkan yang golput seolah-olah pasti para golputers itu semua keblinger. Para golputers pun bisa berhimpun menjadi kekuatan penekan pemerintah semisal paling gampangnya dengan berdemonstrasi. Gitulah kira2.
    Makasih ya dah sudi berbagi. Eh, tapi, gak adakah alamat blogmu, juga nama “bagus”-mu?😀

    Posted by sttdb | April 15, 2009, 2:26 am
  33. saya golput karena bolpennya di ambil ichanx mas…heee

    @Emang tuh si ichanx, politikus sesa(A)t, jadinya antara kata (anjuran gak golput) dan perbuatannya (ngembat bolpen penyontreng) gak sinkron. Makanya, dia gak berani kasih komen di sini … huihihihiiiii.

    Posted by boyin | April 21, 2009, 6:12 pm
  34. Hi, interesting post. I have been wondering about this topic,so thanks for sharing. I’ll definitely be subscribing to your site.

    @Really? Thanks.

    Posted by How I Lost Thirty Pounds in Thirty Days | Mei 4, 2009, 12:44 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Kalau Kami Golput, Mau Apa? « comotan - April 8, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: