you're reading...
Awamologi

AWAMOLOGI: CHICKEN SOUP from MADURA

“Tuhan, jangan cabut dariku roh orang awam.” (Iman Khomeini)

saterohanizawawi


APA guna orang awam fakir miskin jelata selain sebagai beban sosial tak kunjung reda? Mungkin demikian yang muncul di benak bila kita menatap mereka dengan kaca mata negatif dan menutup pintu empati serta kepedulian. Namun, bila kita sudi mengubah cara pandang kita dengan teropong positif, insya Allah akan banyak butir bernilai dari mereka. Mereka bisa menyediakan tenaga dan jasa untuk melaksanakan apa-apa saja yang tak bisa atau tak sempat kita lakukan. Seringkali juga dengan tulus mereka memberikan segenap kemampuan untuk membantu kita. Yang tak kalah berharga, mereka menjadi buku terbuka yang senantiasa menyediakan untaian bermakna yang dapat kita pungut kapan saja kita bersedia.

Dalam kerangka demikian, kiranya kita mesti berterima kasih terhadap D. Zawawi Imron yang sudi membagikan koleksi kisah para awam miliknya kepada kita. Kiai yang juga penyair dari Madura ini dengan baik hati menghimpun rangkaian cerita bermakna dari tanah kelahirannya menjadi sajian buku yang ia beri judul Sate Rohani dari Madura: Kisah-Kisah Religius Orang Jelata (Penerbit Rosda, Bandung, Cet. II 2002). Menu kisah di buku ini tak kalah daya gugahnya dari koleksi cerita di buku Chicken Soup for The Soul yang amat populer itu. Seorang Jalaluddin Rahmat yang memberi kata pengantar untuk buku ini pun mengakui daya sentuh bermanfaat itu.

Kearifan orang awam disajikan kepada kita lewat cerita-cerita “kecil” di buku ini. Setiap cerita membuat kita merenung sehingga dapat menangkap pesan mulia di dalamnya. Tak ubahnya cerita-cerita tasawuf, tapi bukan berarti isinya rumit. Bentuknya mini dan ringan. Ada suka dan duka, komedi dan tragedi, tetapi semuanya menawarkan kearifan yang mendalam. Di antaranya kita diajak agar tidak melulu mengandalkan amal-amal kita. Kita mesti menghindari sikap ujub yang dapat menggelincirkan diri dari haribaan Illahi. Kita harus senantiasa rendah hati. Kepandaian dan pendidikan atau segala kehebatan diri bisa saja meningkatkan kadar intelektual atau kedudukan kita, tetapi pada saat yang sama dapat pula merendahkan kadar kerohanian kita. Di sinilah relevansi nukilan kata-kata yang konon (mengutip Jalaluddin Rahmat) diungkapkan Imam Khomeini pada pembuka tulisan ini: “Tuhan, jangan cabut dariku roh orang awam.”

Dari Sate Rohani Zawawi ini, misalnya, kita memang bisa menemukan berbagai kearifan awam sebagaimana berikut. Ketika dalam sebuah momen ngrumpi ibu-ibu saling membanggakan hobi semisal kesukaan pada berbagi jenis musik dan koleksi album lagu mereka, termasuk koleksi audio Alquran dari qari ternama, seorang ibu yang mungkin tidak seberuntung mereka akhirnya angkat bicara setelah ditanya-tanya oleh teman-temannya itu. “Maaf ibu-ibu, barangkali saya egois. Saya sangat senang bila mendengarkan anak saya yang berumur enam tahun membaca Alquran meskipun lidahnya masih pelat. Saya seperti mendapatkan janji Allah tentang masa depan….”

Suatu kali, siang hari, seorang ustaz yang kebetulan duduk bersebelahan dengan sopir di sebuah kendaraan umum (colt) dari terminal Pamekasan ke arah Kamal bertanya kepada sopir, sudah berapa kali dia sejak pagi mengantar penumpang ke Kamal? Si sopir menjawab baru sekali, paginya ia mengajar. Ia ternyata seorang Oemar Bakri.

“Kalau pagi saya mengajar, saya seorang guru. Gaji saya tidak cukup untuk membiayai hidup keluarga dan biaya kuliah dua anak saya. Saya terpaksa lembur dengan jadi sopir seperti ini.”

“Oh, sungguh mulia hati Anda.” Sang ustaz memberi komentar. “Mengapa?” Pak guru yang sopir itu bertanya. “Karena Anda hanya suka rezeki halal. Seandainya Anda jadi pejabat, uang kantor pasti selamat.” Pak ustaz memberi alasan.

“Ah belum tentu Pak. Sebenarnya, saya ini bukan orang baik, saya tahu betul diri saya. Seandainya saya jadi pejabat mungkin sekali saya korupsi. Saya tidak melakukan itu hanya karena tak ada kesempatan. Karena itu saya bersyukur kepada Allah diberi pekerjaan yang tak punya kesempatan untuk mencuri uang negara.”

Itu baru dua contoh. Di dalam buku ini, masih banyak kisah kearifan awam yang disampaikan Zawawi melalui tokoh-tokoh dari desa seperti Mat Kacong, Dulmok, dan kawan-kawannya. Yang terpenting dari buku ini, ia mampu mengajak pembaca untuk peka tidak terutama pada materi cerita yang ada di buku, tetapi materi yang ada pada diri dan lingkungan kita sendiri. Hal-hal demikian amat banyak bertebaran di sekitar kita asalkan kita mau mengaktifkan hati nurani dan relung pikir untuk berzikir. Jalaluddin Rahmat pun mengakhiri kata pengantarnya dengan ungkapan terima kasih kepada pak kiai kita itu. Katanya, “Terima kasih, Pak Kiai Zawawi, peciku yang sudah dilusuhkan karena kepongahan intelektual telah kautegakkan kembali dengan kerendahan hati orang awam, roh awam!”

Ya, benarlah begitu. Di dunia maya ini pun kita dapat dengan mudah menemukan kisah-kisah menggugah itu. Seorang handai (sohib) blog Aa Achoey, misalnya, belum lama ini berbagi kisah serupa, yang mengantarkannya menikmati menu ”pijat-plus”. Plus karena selain mendapatkan pijatan, ia juga memperoleh bonus kisah berhikmah. Menurut penuturan sang pemijat, tangannya telah menyentuh banyak kalangan, mulai dari artis, birokrat, pengusaha hingga bule. Beberapa hari lalu, dia baru saja memijit orang Korea. Ia juga berkisah seru tentang masa lalunya. Lelaki yang mengaku kelahiran tahun 1930 ini menceritakan kehidupannya yang melewati masa pra-kemerdekaan, masa Orla, masa Orba, dan masa Reformasi ini. Wow. Yang menakjubkan, ternyata ia hanyalah seorang kakek tua kurus berusia 79 tahun dan berteduh di rumah yang boleh dikatakan nyaris rubuh. Tapi, ia masih tampak lincah. Lalu, di mana uang hasil pijat sekian banyak pelanggan hebatnya?

Agaknya kita tak perlu memburu informasi hingga ke detail itu. Insya Allah dia seorang yang tabah dan nggak mata duitan. Kang Achoey mungkin sengaja menyimpan rahasia kakek kita ini agar kita mampu menghayati lebih dalam kebersahajaan hidupnya.

“Saya memiliki jawabannya dan tak mungkin saya ungkap di sini. Tapi satu hal yang harus kuungkap di sini adalah bahwa kakek ini adalah lelaki tangguh yang tabah. Ceritanya sarat hikmah nan indah. Menjadi langganannya adalah kehormatan karena setiap sentuhan berbuah kebajikan.” Begitu simpul Kang Achoey.

Yang pasti, segenap kisah awami itu, baik dari tuturan Zawawi maupun yang kita alami dan terpapar di lingkungan kita sendiri, tidak berarti mengharuskan kita menjadi mereka. Silakan kita tetap menjadi diri sendiri. Ambillah mana-mana yang perlu dari sari pati pengalaman orang-orang lain itu. Kita tidak harus setuju dengan cara-cara hidup mereka, cukup diresapi saja untuk dipilih bagian yang paling cocok untuk diri kita tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana dikatakan Zawawi, hidup adalah pergumulan antara baik dan buruk, indah dan jelek, dan antara yang kalah dan yang menang. Karena itu, dibutuhkan kearifan dalam menghadapinya sehingga dapat memilih jalan yang paling cocok untuk menemukan diri sendiri.

Mudah-mudahan dengan itu semua kita menjadi makin peka dan bijak sehingga tetap bisa hidup nyaman dalam desing bising kota yang nyaring dan bikin pusing. Kita mungkin tidak bisa lagi menemukan ricik air dan suara daun bambu bercengkerama dengan angin. Namun, sebagai gantinya barangkali kita menjadi makin tabah dalam basah keringat yang meruah dari berjuta manusia yang hampir tumpah dari pintu-pintu, jendela, dan atap kereta Jabotabek. Di kereta api listrik (krl) ekonomi itu, setiap pagi dan sore kala orang-orang mau berangkat dan pulang kerja, kita menjadi lebih bisa meresapi dan memaklumi bahwa ternyata sesulit-sulit mencari kerja di negeri ini masih lebih sulit berebut masuk untuk sekadar mendapatkan ruang atau apalagi tempat duduk di krl legendaris itu. Namun, alhamdulillah, hingga kini belum pernah kudengar berita para penumpang stres dan kalap gara-gara itu. Yang ada malah sekumpulan humor yang terhasil dari ketabahan mereka. Barangkali ini sebuah kearifan rakyat jelata yang luar biasa.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

17 thoughts on “AWAMOLOGI: CHICKEN SOUP from MADURA

  1. Pak, benar adanya.
    Selalu ada hikmah dari kisah keseharian.
    Saya adalah salah satu orang awam yang berjalan mewarnai kehidupan.
    Dan dalam perjalanan itu terasa rugi jika kita tak mengambil apa pun saat berjalan.
    Seperti pertemuan aku denganmu saat itu.
    Dalam diam aku mengagumimu, karena kau adalah sosok rendah hati penuh ilmu
    Maka jangan sungkan bila kupanggil kau guru awamku.

    Orang-orang seperti layaknya aku, bisa berbagi tanpa harus menggurui.

    Pak, saya ijinkan Bapak mau kutip sebanyak apa pun dari blog saya, asal tetap berada di jalan keawaman, kebaikan🙂

    @Ah, Aa Achoey nih.

    Posted by achoey | April 19, 2009, 9:51 am
  2. Madura ga ada matinya pak Bah…
    apalagi soal joke-nya. Mungkin suatu saat perlu Zamawi membukukannya jg..

    @Mas Teguh aja, kan Jatim ma Madura deket.

    Posted by zenteguh | April 19, 2009, 5:10 pm
  3. cari ah bukunya

    @Silakan Mas. Moga masih tersedia di toko-toko buku. Aku sendiri pinjem di perpustakaan.

    Posted by suwung | April 19, 2009, 5:31 pm
  4. wow…. saya belum memiliki bukunya. pak zawawi memang dikenal akrab dengan dunia kaum jelata. sebagian besar tercermin pada larik2 sajaknya. jadi inget cerpen “shalawat”-nya kang tohari, mas baihaqi, hehe ….

    @Memang asyik menikmati cerita-cerita seperti itu Pak.

    Posted by Sawali Tuhusetya | April 19, 2009, 9:12 pm
  5. kalo temen gw namanya pak nawawi, orangnya sederhana padahal dia tuh kaya raya, tapi gg sombong, asal dari sampang.

    setiap kejadian pasti ada hikmahnya, asal kita mau berfikir tentang makna kehidupan.


    @Kaya-raya, sederhana, dan gak sombong. Wah, asyik tuh. Yang begitu bisa menumbuhkan kedamaian dan kebersamaan.

    Posted by gwgw | April 20, 2009, 9:37 am
  6. ini buku lama. apa masih ada di toko ya? trims infonya bos!

    @Iya, memang buku lama. Kemarin pas Pameran Buku Islam 2009 di Senayan, penerbitnya sendiri bilang stoknya dah habis. Tapi, siapa tahu, kadang di toko-toko buku yang gak ternama suka ada koleksi yang tak terduga.

    Posted by MT | April 20, 2009, 10:20 am
  7. nanti aku akan cari bukunya dech pak
    salam persahabatn

    @Moga bisa dapet. Salam juga.

    Posted by kezedot | April 20, 2009, 2:44 pm
  8. bisa nyari bukunya kemana Pak, saya suka isinya

    @Wah, memang agak susah karena buku lama. Nanti kalau kebetulan nemu, aku beri tahu Mas Narno. Aku sendiri baca dari koleksi perpustakaan Pemda Kab. Bogor.

    Posted by sunarnosahlan | April 21, 2009, 7:04 am
  9. saya teman achoey *bangga
    sedikit kata : saya bersukur hanya jadi seorang tukang ketik yang dapat honor dari tugas tambahan sebagai pengajar. kalau pegang jabatan seperti yang terlihat di sekeliling, mungkin sudah sering korupsi.

    @Alhamdulillah, moga istiqamah. Salam karib.

    Posted by komuter | April 21, 2009, 11:58 am
  10. hhhmmmm, layak menjadi referensi kalau membeli buku nanti🙂

    @Ya, ini sebatas apresiasiku saja atas buku ini.

    Posted by sibaho | April 21, 2009, 7:21 pm
  11. Saya kok bosen ngeliat kota ya pak…. hidup di kota susah banget…. budayanya ancur ancuran

    @Ya, aku pun klo boleh milih sih pilih hidup di kampung yang nyaman. Tapi, tetep bisa mengakses dunia luar, termasuk ngeblog, he he he….

    Posted by Raffaell | April 22, 2009, 5:12 am
  12. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah pilu rakyat kecil. Banyak ibroh yang bisa digali dari kisah nelangsa orang (tak) berpunya.

    @Benar Mas. Untuk kalimat yang terakhir, maksudnya “nelangsa orang tak berpunya” kan? Makanya aku tambahi kata “tak” dalam tanda kurung.

    Posted by racheedus | April 22, 2009, 10:35 am
  13. sebage keturunan madura asli, tapi awam, aku akan mengincar buku ini untuk dibaca.
    thanks infonya

    @Mba Dian, awam itu nggak harus berarti orang jelata lho. Kalaulah Mba Dian ini pengusaha kaya-raya, Mba pun tetap dikategorikan sebagai awam atau tepatnya pro-(terhadap) orang awam karena Mba tetap rendah hati dan peduli kepada mereka.
    Makasih sekali Mba Dian mau “merangkul” kami orang-orang awam. Maafkan jika kata-kataku ada yang terkesan provokatif atas keawaman. Selamat “mengincar” buku Kiai Zawawi
    .

    Posted by dian | April 22, 2009, 4:33 pm
  14. beeh, reng medhure ye. engko’ kpingin ketemu bhi’ reng medhure. tapeh ade’ sekaleh. hehe
    *padahal ngawur nulisnya saya

    @Heh, kowe orang bicara begitu adanya, bikin aku tidak mengerti. Siapa itu orang-orang bhi asli madhure?

    Posted by antown | April 22, 2009, 7:42 pm
  15. ternyata bukan sop ayam, tapi sate madura..😀
    hmm,, jadi laris bukunya nih. sy merasa keseharian sy belum ada maknanya nih, apa karena rutinitas yang membosankan ya? pengennya hidup seperti pengembara, menelusuri hidup dari satu daerah ke daerah lain.

    @He he he, iya nih. Kalau buatku, moga gagasan keawamannya (peduli pada orang2 awam) laris juga. Soal makna, justru perasaanmu itulah yang sudah mulai memberi makna, dengan mengajukan pernyataan dan pertanyaan itu kan? Untuk yang terakhir, aku juga kayaknya pengin seperti itu.

    Posted by restandpeace | April 23, 2009, 3:01 am
  16. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah pilu rakyat kecil……hehehehe salammm

    @Salam juga.

    Posted by mrpall | April 24, 2009, 7:20 pm
  17. Hi, nice post. I have been wondering about this issue,so thanks for writing. I will likely be subscribing to your site. Keep up the good posts

    @Thanks a lot.

    Posted by With This Diet I Was Able to Lose Thirty Póunds in Only a Month | Mei 6, 2009, 7:20 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: