you're reading...
Sok Berbagi

CERDAS MAKNAWI CERDAS ISLAMI (lewat Salat)

lejitkan-kecerdasan-melalui-shalat-ok

Mampu memaknai diri dan kehidupan adalah anugerah terindah. Iman sebagai sebuah puncak kenikmatan akan terasa lezat melalui kemampuan pemaknaan ini. Karena itu, kita mesti bersyukur telah diberi sarana multidimensi yang dapat dipakai untuk melatih kemampuan ini, yaitu SALAT.

Itulah kiranya salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari buku M. Shodiq Mustika Lejitkan Semua Jenis Kecerdasan melalui Shalat (Penerbit Diva Press, Yogyakarta, Cet. I Agustus 2008). Ya, “salah satu” karena sebenarnya semua jenis kecerdasan dapat dimaksimalkan melalui salat. Sekurang-kurangnya, sembilan jenis kecerdasan sebagaimana dikemukakan Howard Gardner, sang pencetus teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences), dapat dicuatkan lewat ibadah utama para muslim ini. Salat memang tidak hanya sebagai sarana penyehat jiwa dan raga, tetapi juga pencerdas segenap sisi manusia.

Secara teknis praktis, untuk dapat mencapai hal itu, kita dapat mengikuti panduan yang tersaji di buku ini. Itu karena buku ini merupakan edisi praktis dari buku M. Shodiq Mustika terdahulu, Panduan Salat SMART (Penerbit Hikmah, Bandung, 2006), yang edisi Malaysia-nya menjadi best seller di negeri jiran itu. Ada simbol-simbol gambar yang mewakili berbagai tipe kecerdasan sebagai penanda bagi tiap hal yang berkenaan dengan salat, dari sejak langkah persiapan hingga aktivitas selepas salat, sehingga kita dapat fokus memberikan penekanan atas langkah-langkah itu sesuai dengan kebutuhan dasar yang ingin kita capai.

Menurut teori Enneagram yang merupakan teori warisan kaum sufi sejak ribuan tahun lalu dan masih diterima luas di kalangan ilmuwan psikologi, ada sembilan macam kebutuhan dasar manusia sesuai dengan tipe kepribadiannya. Ada orang yang bertipe kepribadian (1) penyempurna, (2) penolong, (3) pencapai, (4) unik/romantis, (5) pengamat, (6) antisipatif, (7) pendorong, (8) pemimpin, dan (9) pendamai. Seorang yang bertipe pendamai biasanya kebutuhan dasar yang paling sering dirasakannya adalah keinginan untuk menjadi tenteram, “mengikuti air mengalirsecara harmonis, dan menghindari konflik. Wah, yang ini “gue banget nih”, he he he.

Namun, bisa jadi juga, kebutuhan kita itu berubah-ubah. Pagi tadi perlu ini, siang maunya itu. Ya, nggak masalah. Tantangan kehidupan memang ada kalanya dinamis. Jadi, tinggal sesuaikan saja alasan salat kita dengan kebutuhan dasar saat itu sehingga salat pun terfokus dan efektif. Landasan dasarnya pun mantap, sebagaimana dikabarkan para sahabat Nabi Muhammad, Bilamana Rasulullah SAW ditimpa suatu masalah atau mengharapkan suatu hal, beliau bergegas untuk melaksanakan salat.” (HR Ahmad).

Eits, tapi tunggu dulu, jangan terburu nafsu. Jangan berlebihan dalam berfokus pada pemenuhan kebutuhan diri itu. Sebab, salat (mestinya) tetaplah merupakan penyerahan diri sepenuhnya di hadapan Tuhan yang memiliki kekuasaan atas segala-galanya. Patokannya ya sebagaimana salat Nabi karena (metode) salat beliaulah yang paling efisien dan efektif. Kaidah dasarnya, “Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku salat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Tentu saja akan banyak perbedaan dalam “rupa” salat kita karena “kesanggupan melihat” itu berpotensi melahirkan perbedaan. Namun, sejauh landasan hadis-hadis-nya dapat dipertanggungjawabkan, tak perlulah ada pertentangan antara orang per orang atau golongan.

Buku ini tidak berfokus pada ragam perbedaan itu. Kita bahkan tidak perlu merombak “skenario” salat kita sejauh itu tetap berada pada lingkup ajaran Nabi. Buku ini hanya memberi arah, menunjukkan sisi-sisi yang dapat dipakai sebagai titik pijak agar salat kita menjadi efisien dan efektif serta dapat dijadikan sarana untuk melejitkan kecerdasan dan memenuhi kebutuhan diri.

Selain beberapa yang telah disebut, tentu masih banyak hal lain berupa “petunjuk arah” salat yang diberikan buku ini, yang juga menjadi keunggulan buku ini. Semuanya itu terangkum dalam apa yang disebut sebagai metode salat SMART. Selain bisa dimaknai sebagai “smart” yang berarti “cerdas”, metode itu sesungguhnya merupakan singkatan dari lima kelompok amalan salat yang dapat menjadi pencerdas dan pemenuh kebutuhan diri. Pertama, S = siagakan pelaku salat. Kedua, M = mantapkan wujud salat. Ketiga, A = arungi makna salat. Keempat, R = rengkuh roh salat. Kelima, T = tebarkan hikmah salat.

Tentu saja, masing-masing dari kelima kelompok amalan itu ada perinciannya. Namun, dari lima pokok itu saja dapat dibayangkan bahwa buku ini mencakup wilayah pembahasan yang komplet. Banyak hal penting di dalamnya yang agaknya kerap luput dari perhatian kita. Salah satu di antaranya ada pada bagian pertama dari lima poin tadi, yaitu siagakan pelaku salat.

Bisa jadi, selama ini salat telah menjadi sekadar rutinitas sehingga nyaris tanpa persiapan dalam pelaksanaan dan bahkan tanpa penghayatan yang memadai. Wah, barangkali, saya pun termasuk kategori ini. Padahal, sebagaimana dipaparkan di buku ini, salat yang menyehatkan, mencerdaskan, dan mampu memenuhi kebutuhan diri mestilah menyertakan hal-hal itu. Apalagi kalau mengingat kutipan ini: “Barang siapa tidak mempersiapkan salat sebelum waktunya tiba, maka dia tidak menghargai salat.” (Waki’ bin al-Jarrah, seorang faqih salaf, w. 197 H).

Duh, kita (minimal saya) mesti berterima kasih kepada M. Shodiq Mustika nih, sang penulis buku ini. Pak ustaz yang dosen, ahli komunikasi dan psikologi itu rupanya telah dengan tekun merangkum berbagai sisi mengenai salat dan menyajikannya untuk kita. Jadi, daripada sekadar berpanjang kata, lebih baik segera saja mengamalkan “petunjuk arah salat” di buku ini.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

15 thoughts on “CERDAS MAKNAWI CERDAS ISLAMI (lewat Salat)

  1. Alhamdulillaah… bukuku diresensi oleh seorang pencinta buku, editor bahasa, dan sekaligus “smart blogger”.

    @Moga banyak yang tecerdaskan oleh buku Mas Shodiq.

    Posted by M Shodiq Mustika | April 23, 2009, 7:37 am
  2. Wah Guruku
    Semoga kita bisa menjadi orang yang menikmati setiap sholat kita
    Dan menjadi cerdaslah kita, bahwa hidup di dunia adalah bekal tuk kehidupan abadi di akhirat nanti
    Makasih buat M Shodiq Mustika atas buku hebatnya.

    @Sesama penganut prinsip awam (sederhana), dilarang saling “berguru-guru”, kecuali sekadar berbagi-bagi.

    Posted by achoey | April 23, 2009, 11:33 am
  3. SMART…Salat Membuat Aku Rajin (bersyukur) dan makin Tobat. he..he..Buku yang indah untuk menggugah nurani agar kian dekat dengan-Nya

    @Moga juga memberi pengaruh yang baik buat kita ya Mas Teguh.

    Posted by zenteguh | April 23, 2009, 7:07 pm
  4. salat adalah rukun islam

    @Maka, mari kita “dirikan” sebaik-baiknya.

    Posted by gwgw | April 24, 2009, 12:17 am
  5. duh… jadi nyesel abis… tadi telah meninggalkan sholat subuh😦

    @Wah, jangan2 AnKa “menyindir” diriku nih yang masih kerap kebablasan juga, entah karena tertidur atau “murni kelalaian”.

    Posted by anKa | April 24, 2009, 11:31 am
  6. Salat=Sholat…?
    Bagi saya yang slenge’an Salat=ngaSaH iLAT, artinya kecerdasannya terletak pada pinter2nya kita berdiplomasi lewat tutur kata, sedangkan Sholat adalah diplomasi spiritual antara makhluk dengan Sang Khaliq, agar Allah SWT berkenan menerima kita sebagai salah satu mahluknya yang memang patut diberi kedaulatan di wilayah kasih sayang Allah SWT.

    @Halo Mas Teguh Saja (yang mirip Hanung Bramantio ya), sebenarnya sih (sambil slengean juga) baik salat dan shalat di sini sama saja arti dan maknanya. Itu cuma perbedaan ejaan. Menurut kamus/EYD, yang baku itu salat. Tapi untuk tafsir Mas Teguh berikutnya yang serius itu, aku setuju. Sering2 mampir ya Mas. (Pedulilah pada orang awam, he he he).

    Posted by Teguh Saja | April 25, 2009, 2:58 am
  7. shalat adalah amanat yang paling mudah, yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada hambanya (kutipan Ali bin Abi Thalib), tapi paling besar manfaatnya

    @Tapi, aku masih merasa susah je, jadi mesti terus belajar nih.

    Posted by MT | April 25, 2009, 1:46 pm
  8. Semoga saya tetap bisa langgeng menunaikan shalat…..

    @Begitu juga saya, amin.

    Posted by buJaNG | April 26, 2009, 9:23 am
  9. Mudah2an gak ada lagi dikotomi2 pake kunut apa nggak dalam solat.

    Orang udah sampe ke bulan, kita masih ribut niat baca pake arab apa nggak.

    ada versi pdf nya pak?

    *) dikeplak sama author

    @Untuk poin pertama, semoga gak begitu. Poin kedua, silakan beli dulu bukunya, selami sedalam-dalamnya, trus ajak author/penerbit untuk bikin versi resmi pdf-nya (insya Allah gak dikeplak).

    Posted by Uchan | April 26, 2009, 11:43 am
  10. Bisa j Mas Awam ini, tapi memang banyak kok yg bilang aku mirip Mas Hanung hehehehe…

    nyerah deh kalo dah ngomong EYD…kalah kapabilitas.

    Ngomong2 ada berapa ya versi salat yang sesuai “EYD”?

    @Halah, yang versi EYD itu gak perlu diseriusilah. Mending Mas Teguh berbagi soal salat/shalat dari sudut pandang ilmu HI. Boleh juga keawaman (awamologi) dari sudut HI. Itu akan sangat memberi sumbangan berarti bagi orang-orang awam.😀

    Posted by Teguh Saja | April 26, 2009, 9:20 pm
  11. terima kasih Mas, selalu diingatkan, karena selalu saja teori lebih gampang dari praktek…

    @Sebenarnya yang terutama perlu diingatkan adalah diriku sendiri. Sebab, sampai kini pun aku masih lebih banyak ngomongnya daripada realisasinya.

    Posted by masjaliteng | April 26, 2009, 9:35 pm
  12. Bosen Mas ngomongin HI, cuma muter2 debat realisme, liberalisme, ama konstruktivisme…ujung2nya jadi manusia-manusia pagan, menghalalkan dosa demi kedaulatan.

    @Tapi, aku dijamin gak bosen menyimak, jadi bicaralah kapan saja Mas Tgh Sj bersedia.

    Posted by Teguh Saja | April 27, 2009, 3:14 pm
  13. semoga saya rajin shalat

    @Gitu juga daku. Amin.

    Posted by annosmile | April 27, 2009, 6:00 pm
  14. mana lagi yang baru, mas?

    @Lah, baru tau ya klo aku jenis keong/siput, lelet.

    Posted by MT | April 27, 2009, 7:25 pm
  15. Reblogged this on jonegoro13.

    Posted by zik611 | Oktober 7, 2016, 7:10 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: