you're reading...
Sok Berbagi

Bijak Bercinta dengan Ayat-Ayat Mesra

lk-pp

Sebagai manusia, pastilah kita tak bisa mengelak dari interaksi antarlawan jenis. Ada banyak kemungkinan ragam interaksi dan di dalamnya selalu terdapat potensi tumbuhnya cinta serta dorongan syahwat. Lalu, bagaimanakah caranya agar kita bisa memaksimalkan interaksi sehingga bisa menuai banyak manfaat dan dapat membangun cinta yang sehat sesuai syariat?

Ada satu nilai yang menjadi batas dari semua ragam interaksi itu: zina. Ya, sejauh tidak mendekat-dekat pada zina atau apalagi melakukannya, nikmatilah sepuas-puasnya jalinan silaturahmi itu. Tak terkecuali jalinan cinta pria-wanita. Lho, praktiknya bagaimana?

Tak dapat dimungkiri, kerap timbul kegamangan atau bahkan pertentangan batin terus-menerus bahwa jangan-jangan kita telah mengarah pada zina atau bahkan terjerumus pada kategori itu. Dari situ lalu ada yang berusaha menghindari pergaulan antarlawan jenis dengan konsekuensi, yang mungkin tidak disadari, kehilangan banyak peluang positif yang bisa dipetik dari kerja sama laki-laki dan perempuan. Ada pula yang sekadar membatasi diri, mencoba menundukkan atau mengalihkan pandangan mata terhadap lawan jenisnya. Padahal, itu tak mungkin berlangsung tanpa sekali pun beradu tatapan. Jika mesti menunduk terus, pastilah komunikasi bakal tak mulus. Terus, bagaimana sebenarnya detail aturan syariat mengenai hal ini?

Bersyukurlah kita bahwa ada hamba Allah yang telah dengan tekun merangkum segenap jawaban atas persoalan tersebut dari sumber-sumber autoritatif, yang layak dijadikan rujukan. Ia mencoba merunutnya antara lain dari M. Quraish Shihab (melalui bukunya Perempuan), Ibnu Hazm al-Andalusi (Thauq al-Hamaamah) hingga Ibu Qoyyim al-Jauziyah (Taman Jatuh Cinta). Dari situ ia lalu mengemasnya dalam sajian buku menawan Ayat-Ayat Mesra (AAM).

AAM memang mengkhususkan diri pada pokok bahasan mengenai cinta dan pengekspresiannya hingga selamat menuju jenjang pernikahan. Katakanlah sebagai panduan pacaran Islami. Namun, berbagai aturan pokok di dalamnya dapat pula dijadikan landasan interaksi antarlawan jenis secara luas sebagaimana telah disinggung sejak awal tulisan ini. Hal tersebut juga menjadi nilai lebih dari buku ini.

Sebagaimana tertera dalam kutipan pada kover, AAM memulai titik tolak penelusuran seluk-beluk ekspresi cinta syar’i ini dengan ungkapan dari Quraish Shihab (pada buku Perempuan): “Silakan bercinta dan luapkanlah cinta kepada kekasih selama tidak melanggar norma agama.”

Tentu saja, “bercinta” itu mengacu pada makna “menjalin cinta-asmara dengan kekasih”, bukan dalam arti make love karena persebadanan demikian hanya bisa dilakukan antarsuami-istri. Sayang, buku Pak Quraish itu belum memberikan penjelasan yang cukup tentang cara mengekspresikan cinta-asmara yang tidak melanggar norma agama.

Untungnya, ketika membahas persoalan cinta di dalam bukunya itu, Pak Quraish merekomendasikan literatur tentang ekspresi cinta romantis secara Islami. Itu tak lain kitab (buku) buah karya Ibnu Hazm (994-1064 M) Thauq al-Hamaamah (Kalung Merpati). Ini buku cinta yang kali pertama ditulis ulama secara terperinci sehingga menjadi rujukan kitab-kitab yang ditulis sesudahnya mengenai persoalan cinta. AAM pun ditulis dengan menggunakan sudut pandang Ibnu Hazm dalam kitabnya ini, sebuah kitab cinta yang sangat klasik dan monumental. Kitab ini juga merupakan salah satu kitab favorit Kang Abik (Habiburrahman el-Shirazy), penulis novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta, yang agaknya juga menjadi rujukan novelnya itu.

Pencapaian penting dari AAM adalah bahwa buku ini bukan saja mampu memunculkan kembali mutiara cinta klasik Ibnu Hazm, tetapi juga sanggup menampilkan versi mutakhir dari mutiara itu, lengkap dengan berbagai aksesori penyempurna dari sumber rujukan lain, sehingga menjadi relevan dengan konteks masyarakat Indonesia (Melayu) pada era teknologi informasi (TI).

Hingga sejauh ini terbayang bahwa dengan rentang cakupan sumber rujukan dari warisan klasik Andalusia zaman Abad Pertengahan hingga khazanah Melayu Nusantara mutakhir (era TI), banyak “hal tak terduga” dalam AAM yang mengasyikkan dan dapat memperkaya wawasan kita. Salah satunya dinukilkan dari kitab Ibnu Hazm tentang penuturan seorang perempuan yang menunjukkan bahwa dalam soal berahi, baik laki-laki maupun perempuan memiliki dorongan yang sama. Ibnu Hazm sendiri berpendapat, “Baik lelaki maupun perempuan memiliki kecenderungan yang sama terhadap akal dan nafsu. Seorang lelaki yang lemah imannya, manakala ditawari cinta oleh perempuan cantik, niscaya akan terjerumus dalam rayuan setan. Ia akan melakukan maksiat dan mengikuti gejolak nafsu berahinya. Begitu juga sebaliknya. Perempuan juga sama. Tak ada bedanya.”

Mengenai penuturan seorang perempuan tadi, kisahnya terjadi di sebuah kapal selepas perjalanan haji. Setelah melalui “serentang proses”, terjadilah pelepasan berahi itu. Bagian ini mungkin mengingatkan kita pada judul roman N.H. Dini Pada Sebuah Kapal. Bagi yang penasaran bisa mengeceknya sendiri.

Yang paling penting dari AAM (menurut saya), ia mampu memberikan “titik putus” alias solusi jitu bagi kegamangan kita selama ini dalam praktik berinteraksi antarlawan jenis. Batasnya adalah bukan pada soal pilihan kita untuk menarik diri, menghindar, atau sebatas seberapa tahan kita menundukkan pandangan terhadap lawan jenis, tetapi pada “alarm” syahwat yang begitu ia “berbunyi”, segeralah kendalikan diri. Bisa saja tetap beradu tatap, tetapi fokus perhatian tidak lagi pada pemicu dorongan nafsu. Jika gejolak tak mau reda, bisa dicoba dengan menundukkan atau mengalihkan pandangan. Kalau energi syahwati terus saja menari-nari, mungkin memang mesti segera menyudahi komunikasi. Lain kali, kalau akal dan nurani telah sehat kembali, interaksi bisa disambung lagi.

Mohon maaf kalau kali ini bicara soal berahi. Pasalnya, awam atau nggak awam sama-sama tak bisa mengelak dari hal ini.

Selamat mengelola libido dengan bijak. Bagi mereka yang belum berumah tangga, selamat berpacaran secara syar’i dengan menyimak secara saksama buku AAM karya M. Shodiq Mustika ini (Penerbit Madania Prima, Bandung, Cet. I Agustus 2008).

aam

Allahu a’lam bissawab. Wassalamualaikum.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

16 thoughts on “Bijak Bercinta dengan Ayat-Ayat Mesra

  1. jujur Pak, saya membaca buku-buku yang semacam itu lama kelarnya, bahkan sering tak selesai. Entah apa yang menghalangi, rasanya berat untuk mencernanya

    @Gak apa-apa kok Mas, kan minat baca itu beragam. Lagipula juga bisa berubah-ubah mood-nya. Kalau saya malah semau-maunya saja, baik dalam jenis buku maupun kesanggupan untuk menyelesaikan membaca. Ngomong-ngomong, yang paling suka baca buku apa Mas Narno?

    Posted by sunarnosahlan | Mei 2, 2009, 11:59 am
  2. oh itu judul buku ya?
    sepertinya sangat menarik juga …
    satu buku yang pernah saya baca dan selalu menarik untuk saya baca setiap ada waktu sampai sekarang ini adalah buku “Kado Pernikahan” dari Syaikh Hafidz Ali Syuasyi’ … sedangkan buku-buku lain hanya sering membaca ulasannya terlebih dahulu …

    @Menurutku sih gak ada ruginya jika membacanya. Malah, insya Allah untung. Buku ini pun bisa jadi “kado pernikahan”.

    Posted by nomercy | Mei 2, 2009, 1:17 pm
  3. kalo yang sudah berumah tangga masih perlu baca buku ini ndak Mas?

    @Perlu, Mas. Biar lebih khusyuk, gak tergoda daun muda atau rumput tetangga. Bisa juga untuk persiapan mendidik generasi penerus kita.

    Posted by masjaliteng | Mei 2, 2009, 8:04 pm
  4. waduh ini kayanaya belm layak gw baca niehhh…
    bahayun bahayun….
    AAM – ayat ayat mesra..
    kalo gue butuh juga
    AAM — tapi artinya
    ayam- ayam murah…
    hahahahahaha😛🙂

    @Murah, tapi tetep yang berkualitas kan? Biar mi JanDa-nya juga tetep manstap! Maaf nih, blum sempat berkunjung lagi, ke kedai maupun ke blog dirimu.

    Posted by siafa | Mei 3, 2009, 9:41 am
  5. salam pak
    tks kunjunganya
    wah buku2 semacam ini memang menarik, sekalian menumbuhkan banyak inspirasi spirutual-kosmopolit
    tks pak

    @Sama-sama, Mas. Moga terus bisa bersilaturahmi.

    Posted by shalimow | Mei 3, 2009, 10:15 am
  6. saya sukanya baca-baca buku sastra dan sains, kalau dua topik itu berjam-jam tetap bertahan

    @Moga saya juga bisa seperti Mas Narno, bisa menyerap dua khazanah itu.

    Posted by sunarnosahlan | Mei 3, 2009, 10:56 am
  7. Apa postingan ini untuk Antasari Azhar pak…??? kekek…
    Semoga sya tidak terjerumus dalam interaksi cinta yang dilarang agama itu, amiin….

    @Kebetulan aja, sih. Tapi memang memiriskan ya kasus itu. Duh, sedih jadinya. Doaku pun seperti doa Mas Teguh, amin.

    Posted by zenteguh | Mei 3, 2009, 6:45 pm
  8. Wah, M. Sodiq Mustika memang penulis produktif ya😀

    @Ya, betul. Suka baca bukunyakah?

    Posted by sangjaka | Mei 3, 2009, 9:40 pm
  9. pak..serasa gw membaca sebuah tausiyah…bagi gw gg harus ngebeli tuh buku, tapi membaca tulisan bapak, serasa hati mau menerima…:-)
    thx atas pencerahannya…

    @Sama-sama.

    Posted by gwgw | Mei 4, 2009, 4:40 pm
  10. libidopun perlu manajemen yaaah?

    @Ya, begitulah. Eh, Mas RCO, tautnya ditukar dengan yang di WP ini aja ya. Jadi, Mas sering2 ke sini aja, yang di blogspot jarang di-apdet soalnya.

    Posted by rco | Mei 4, 2009, 9:23 pm
  11. T3T4P 53M4N64T & 514P 4CT10N
    http://www.coolk45.blogdetik.com
    http://www.symb4h3.blogspot.com

    @Wah, keknya pernah denger di tv ada iklannya nih.

    Posted by coolk45 | Mei 5, 2009, 1:12 pm
  12. pacaran islami ala m.shodiq? saya sudah mengunjungi blog beliau. keren!!

    @Segeralah menikah.

    Posted by antown | Mei 5, 2009, 3:02 pm
  13. wah baru tahu empunya blog laris manis itu penulis produktif
    he he he emang ketinggalan sepur aku

    @Sepur apa Mas?

    Posted by om-blog | Mei 6, 2009, 4:26 pm
  14. BAGUS ARTIKELNYA

    @Makasih, sering mampir ya Mas Ikhsan.

    Posted by ikhsan | Mei 6, 2009, 8:23 pm
  15. yg diajak pacaran blm ketemu pak.😀

    @Bener nih? Ya moga lekas nemu yang cocok.

    Posted by masfaj | Mei 7, 2009, 8:00 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Pesantren Cinta » Blog Archive » Buku Wajib untuk Mendalami Ilmu Cinta Islami - November 28, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: