you're reading...
Curhat Awami

Capres, Curhat Awam, dan Kunci Surga

Tentu saja aku setuju ajakan SBY “lanjutkan!” Namun, itu pastilah untuk hal-hal plus, bukan minus-minusnya. Masalahnya, seberapa jauh kita tahu plus-minus dia, pemerintahannya. Itu pun harus diperinci lagi, mana yang betul-betul “hanya” menjadi bagian kesuksesannya, mana pula yang termasuk bagian bareng-bareng bersama JK, atau bisa jadi mana yang “khusus” buah inisiatif JK.

Wah, nyerah deh. Apalagi kalau harus menimbang-nimbang juga buah pemerintahan Mega. Harus jujur kukatakan bahwa aku tak sanggup mendapatkan jawaban soal plus-minus mereka (termasuk kiprah para pasangannya, Boediono, Wiranto, Prabowo) hingga ke detail-detailnya. Betapapun paparan analisis ekonomi, politik, dll atas “prestasi” para capres-cawapres itu sempat kubaca, pada akhirnya aku hanya sanggup mengapresiasi mereka atas dasar rabaan perasaanku saja, berpatokan pada kenyataan yang hingga kini kurasakan.

Memang, bagaimanapun kondisi kehidupanku dan keluargaku kini, aku mesti tetap bersyukur kepada Tuhan. Namun, ini murni urusanku dengan Sang Maha Pemberi Rezeki itu. Nah, dengan kalian para elite pemimpin dan calon pemimpin negara, aku punya hak untuk tidak membawa-bawa kewajiban bersyukurku itu. Aku punya hak untuk meminta tanggung jawab kalian. Apalagi kalian kini saling klaim atas kesuksesan memakmurkan negara dan menawarkan formula kesuksesan pula untuk memimpin negara. Yakinkah kalian dengan klaim itu? Sungguh-sungguhkah kalian dengan tawaran itu? Betul-betulkah kalian akan menepati janji, melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban kalian?

Jika jawaban kalian semua adalah “Ya”, berarti kalian benar-benar dikuasai nafsu besar untuk segera berkuasa, dengan kecenderungan yang hanya akan menguntungkan diri kalian saja. Memang, untuk kesungguh-sungguhan tawaran, pemenuhan janji, tanggung jawab, dan kewajiban, semua jawabannya mestilah “Ya”. Namun, untuk klaim kesuksesan atau paling tidak klaim andil kalian menyejahterakan masyarakat di sekitar kalian atau rakyat kalian (bagi incumbent atau eks eksekutif), tunggu dulu. Lihat dulu buah karyamu, karya kalian. Aku dan keluargaku, sekian persen hidupnya, adalah buah karya kalian. Kami semua rakyat Indonesia, sebagian besar kehidupannya, adalah buah karya kalian wahai para pemimpin dan calon pemimpin kami, capres-cawapres.

Kini, lihat kenyataan yang ada pada diri kami. Aku salah satunya. Meski beruntung memperoleh gelar sarjana, hidupku bisa dibilang masih merana. Apalagi saudara-saudaraku yang nggak sampai mengenyam bangku kuliah. Jangan kalian tunjuk satu dua orang yang tanpa bersekolah pun bisa hidup mewah. Bisa jadi mereka mendapat berkah. Namun soal berkah jelas tak berhak diklaim sebagai hasil usaha kalian bersusah payah.

Lihatlah, secara umum penghasilan kami tidak jauh-jauh dari UMR yang tak seberapa dan itu pastilah tak mudah untuk sekadar memenuhi standar kelayakan kesehatan dan pendidikan. Kami masih kelimpungan menyekolahkan anak-anak kami meski telah kalian hibur dengan “iklan sekolah gratis”. Kami juga masih kebingungan jika anak-anak kami atau kami sendiri menderita sakit lantaran biaya rumah sakit masih amat mahal buat kami. Apalagi kalau kami terkena jenis penyakit khas orang melarat. Sebutlah TB/TBC. Itu sungguh-sungguh hidup kami seperti sekarat, terasa amat berat. Belum lagi sekian banyak kebutuhan lain mendera-dera hebat bikin hidup kami tambah gawat-darurat.

Cukuplah ini curhatku. Mestinya kalian tahu, paham atas kehidupanku, sehingga tak perlu aku berbanyak-banyak menelanjangi kesengsaraanku. Bila akhirnya aku mendedahkan semua itu, tak lain itu hanya atas keinginan memberikan kunci surga untuk kalian: keawaman, kesengsaraan, kemelaratan atau kemiskinan kami. (“Segala sesuatu ada kuncinya dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin”––HR Ad-Daruquthni dan Ibnu Hiban).

Terima kasih bila hari-hari ini kalian membuai kami dengan angin surga. Mudah-mudahan tak bikin kami masuk angin. Karena itu, kami tetap berharap kalian tak sekadar berbasa-basi kepada kami. Sekadar sebagai pencatat dan pengingat, izinkan kami menorehkan salah satu momen deklarasi kalian (mewakili kalian semua) lewat kata-kata penyair kami.

DEKLARASI BANTAR GEBANG

pada mega-mega yang mengangkasa, kami titip harapan
akan tangis dan derita kami sebagai sampah-sampah di Bantar Gebang
ubahlah kami menjadi pupuk kesuburan!

di sana, di atas gedung-gedung bertingkat
mereka yang membawa tongkat, seolah seorang nabi yang hebat
bila bertemu di jalan dengan kami, merasa jijik dan berjingkat
karena takut celananya yang mahal itu kotor terciprat

lalu kau datang dan hinggap di hati kami
di hati sampah-sampah yang beraroma basi
yang bau dan kotor ini

kau yang menjelma sayap…
malaikatkah dirimu
atau seekor lalat yang hinggap, hisap, lalu pergi
meninggalkan basa yang basi

(puisi Mbah Kuntet Dilaga, 24 Mei 2009)
***

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

11 thoughts on “Capres, Curhat Awam, dan Kunci Surga

  1. waahhh … kereeennn ….

    kok bisa ya “mereka” itu merasa berprestasi n membanggakan “pencapaian”-nya ketika, kenyataannya, kondisi umum yang ada: tingkat ke-merana-an masyarakat itu masih tinggi. hidup pas-pas-an, kalo ada perlu lebih terpaksa ngutang. ah ….

    mana pake ngiklan-ngiklan segala macam biar bisa “menciptakan” kenyataan yang mereka mau di benak masyarakat, tapi kan kita yang mengalami langsung.

    @Ya, begitulah. Makasih Nadya.

    Posted by nadya | Mei 27, 2009, 10:30 am
  2. siapapun presiden berikutnya memang alangkah baiknya kalau melanjutkan hal-hal positif yang telah dilakukan pendulunya dan tentunya lebih meningkat lagi.

    @Moga demikian Mas.

    Posted by sunarnosahlan | Mei 27, 2009, 7:22 pm
  3. untuk sekolah gratis alhamdulillah di tempat saya sudah berjalan … tetapi bukan program pemerintah pusat, apalagi dari programnya para capres … ini hasil dari pemikiran pimpinan daerah sini … dan sudah dia lakukan sejak tahun 2002 sewaktu jadi pimpinan daerah terpencil …

    balik ke topik blog …🙂
    saya hanya melihat ada banyak orang yg begitu gigih dan bersemangatnya serta pintar dan brilian, tetapi bukan para capres atau cawapresnya melainkan mereka para tim sukses mereka … entah dengan maksud apa dibalik itu … semoga saja memang benar-benar demi rakyat bukan kedudukan dan jabatan …

    sama seperti pertanyaan: “apakah browser Internet Explorer tanpa sistem operasi Ms Windows dapat merajai jumlah pemakai browser?”
    maka untuk hal ini menjadi: “apakah para capres-cawapres itu dapat sukses terpilih tanpa tim sukses?”

    @Tim sukses jelas berperan, tapi semoga mereka gak membual. Saya justru tertarik ma model pemimpin daerah yang punya inisiatif bagus itu.

    Posted by nomercy | Mei 27, 2009, 9:07 pm
  4. ck… ck… ck…

    Memang mungkin baru sebatas itu kualitas pemimpin kita. Manakala kesuksesan yang dibahas, buru-buru saling klaim atas kesuksesan itu. (Ingat:Swasembada beras, BLT, BBM turun.. ). Tapi manakala kekurangan yang dibahas, buru-buru cuci tangan atas segala kesalahan. (Ingat: Tragedi Situ Gintung, keruwetan Pemilu Legislatif 2009!).
    Semoga tuhan memberi mereka jalan dan membuka nurani untuk bisa berbuat lebih baik lagi untuk negeri…

    @Ya, semoga begitu Mas Kojeng.

    Posted by kolojengking | Mei 29, 2009, 12:12 am
  5. saya selalu berpendapat ketika para pemimpin itu mengajukan diri (bukan diajukan) untuk memperoleh sebuah jabatan, maka ada yang tidak beres dari mereka. patut dipertanyakan motivasi dibalik pengajuan diri mereka.

    dan saya selalu yakin, pemimpin yang baik itu yang tidak mencalonkan dirinya sendiri dan berkata “innalillahi ..” ketika mereka terpilih.

    @Keknya langka untuk jenis yang kedua itu. Sebenarnya sih, kalaupun gak sampai ber-innalillahi, minimal mereka gak cuma berburu kekuasaan.

    Posted by lightbreath | Mei 29, 2009, 3:38 am
  6. bukannya “prestasi” itu sudah merupakan kewajiban dan mereka sudah mendapatkan haknya? lalu apa lagi yang harus dibanggakan…

    @Iya iya, Mas, setuju banget.

    Posted by masjaliteng | Mei 30, 2009, 11:51 pm
  7. andai calon presiden itu blogger yang bisa diajak kopdar, tentu pesan kita bisa tersampaikan. tapi soal realisasi??? mungkin itu belakangan, kata mereka

    @Kemarin sih ada acara capres ketemu bareng para blogger. Klo gak salah ma Ndoro Kakung dkk. Moga pesan2nya tersampaikan.

    Posted by antown | Mei 31, 2009, 12:14 pm
  8. andai calon presiden itu blogger yang bisa diajak kopdar, tentu pesan kita bisa tersampaikan. tapi soal realisasi??? mungkin itu belakangan, kata mereka mungkin…

    @Idem dengan jawaban sebelum ini.

    Posted by antown | Mei 31, 2009, 12:16 pm
  9. setuju apa kata Antown…
    presiden sekarang pada susah di temuin.
    kalo kata eyang buyut saya, dulu jaman masih sama Soekarno, ketemu beliau tuh gampang banget [secara 1 kota].
    Bodyguard yang jagain ga kaya sekarang…

    @Memang mestinya gak terlalu protokoler dan mudah ditemui untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.

    Posted by shelly | Juni 2, 2009, 8:10 am
  10. semoga yang terbaik bagi indonesia

    @Amin ya rabbal alamin.

    Posted by suwung | Juni 2, 2009, 9:39 pm
  11. mudah-2an aja, kita gg salah pilih pak….
    pak bahtiar…gw lihat masalah malingsia tuh kok belon direspon ya….?
    mending malingsia tuh diganyang aja…*marah*

    @Semoga saja begitu. Duh, respons-ku atau respons negara? Klo dari negara rasanya sih perlu dicari yang jitu, gak bikin keruh tapi efektif menyadarkan negeri jiran itu. Klo dariku, masih harus dirumuskan (untuk jadi postingan)… moga bisa. Tapi, soal Prita vs RS Omni juga seru tuh (meski ini soal lokal domestik).

    Posted by gwgw | Juni 3, 2009, 11:50 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: