you're reading...
Awamologi

Mbah Surip sang Sahaja Telah Tiada

Tak dapat dimungkiri, Mbah Surip memang telah jadi fenomena lewat lesatan ketenaran dan “hujan rezeki” yang dialaminya dalam bilangan waktu singkat (minus perjalanan hidupnya sebelum itu yang penuh perjuangan). Maka, ia layak mendapatkan predikat sang fenomena. Namun, hingga kemarin pagi (Selasa, 4 Agustus 2009 sekitar pukul 10.30 WIB) saat mengembuskan napas terakhir, Mbah Surip tetaplah sosok sederhana, bahkan bersahaja, penuh rasa syukur. Maka, ia pun pantas dikenang sebagai sang sahaja.

Rupanya, gelimang harta “mendadak” itu tak serta-merta mengubah sikap hidupnya menjadi lupa diri. Sejak semula hingga akhirnya tiada, Mbah Surip tetap konsisten dengan ungkapan “menyegarkan dan menggetarkan” ini: gue nggak ngiler sama harta, gue ngiler kalo tidur miring. Hah hah hah hah….

Kesahajaan atau kesederhanaan itu memang sikap luhur ajaran para nabi. Ia bukan kelemahan atau sesuatu yang layak disepelekan karena dianggap tak punya gengsi. Sikap hidup seperti itu justru merupakan kekuatan yang lahir dari nilai dasar “bukan harta yang menyetir atau menjadi penentu hidup kita, tetapi kitalah yang mesti mampu mengemudikannya”. Perwujudan tiap orang atas hal itu bisa saja tak sama secara teknis, tetapi tentu saja tetap tidak bisa keluar dari lingkup nilai yang mendasarinya itu. Lantas, semua itu mesti dijiwai dengan kebersyukuran. Buah dari ikatan nilai ini, kita tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam konteks dan kondisi apa pun.

Orang-orang demikianlah yang masih bisa berbagi meski tengah merugi. Mereka tak melangkah dengan serakah dan tetap tergerak untuk bersedekah walau hidup susah. Ketika berada di puncak karier tertinggi, mereka tak kehilangan kendali, tak lupa diri, dan tetap peduli. Merekalah orang-orang yang sukses di bidang apa pun tanpa mengeksploitasi dan menepikan orang lain. Mereka tulus dalam kebersamaan dan kebersahajaan.

Menurutku, Mbah Surip telah tumbuh dan sukses dalam konteks seperti itu. Hanya orang-orang dengan jiwa bersahajalah yang dapat mengapresiasi dan merangkul orang lain dengan segala keterbatasannya, baik yang ada pada diri mereka atau diri orang lain, secara tulus. Berbekal sikap sederhana dengan karya-karya lagu sederhana (merakyat), Mbah Surip bisa diterima dengan tangan terbuka oleh segenap anggota masyarakat yang memiliki mekanisme hidup bermasyarakat yang sederhana pula.

Atau dalam pandangan Arswendo Atmowiloto dalam artikelnya bulan Juli lalu di koran Seputar Indonesia, Mbah Surip telah hidup dan dihidupi oleh orang-orang kecil. Mbah telah melahirkan karya yang merakyat lantaran telah ditopang oleh mereka, rakyat kecil. Mereka, persisnya, adalah “Masyarakat ‘miskin’ yang ternyata mempunyai apresiasi tinggi, mempunyai toleransi mengagumkan. Masyarakat atau komunitas yang menampung, mendengarkan, memberi sesuatu ketika lagu itu (karya Mbah Surip) diperdengarkan pada awalnya.”

Hal itu, menurut Arswendo, “Tak berbeda jauh dengan kehidupan para pengamen musik atau pengamen doger atau pengamen penari yang mendapatkan nafkahnya dari warung-warung kaki lima, dari warga di kampung-kampung, menerima pemberian ‘dari yang berkekurangan’, yang bisa menghargai. Bukan dari fasilitas negara, bukan hasil bimbingan proyek khusus. Mbah Surip, sebagaimana para seniman lain, menemukan gagasan kreatif, juga kelangsungan kehidupan seninya, dari masyarakat kecil.”

“Mereka ini sesungguhnya jumlahnya banyak sekali, yang terus berkreasi. Melalui sanggar pas-pasan dengan bentuk perkumpulan lenong atau wayang orang atau keroncong atau apa saja—yang bahkan untuk mencari tempat latihan pun susah karena sering tergusur. Mereka ini tak memiliki lobi, tak punya waktu berbagai antara mencari makan dan berkreasi, tak punya prioritas—dan tak diprioritaskan. Mereka menggendong hidup dan nasibnya sendiri secara full, tanpa gerutu, tanpa malu, tanpa bantuan tunai langsung. Dalam bahasa religius di kalangan mereka, modalnya adalah BLT dalam arti ‘Bantuan Tuhan Langsung’.”

Ya, jadi tak perlu kecil hati untuk hidup dalam kesederhanaan, kesahajaan. Banyak orang-orang sukses yang ditopang oleh orang-orang yang sederhana, orang-orang kecil, orang-orang awam miskin, kok. Memangnya siapa yang memberikan suara terbanyak buat para wakil rakyat terhormat (anggota legislatif) atau orang nomor satu di republik ini (eksekutif)?

Maka, memang pantas seorang presiden memberikan apresiasi atas dirimu, Mbah. Selamat jalan. ‘Kan selalu kukenang kebaikan dan ketulusanmu meski itu “sekadar” berupa “hahahah dan I love you, full”-mu, Mbah. Semoga Allah membalas semua amal baikmu dan mengampuni kekhilafanmu. Amin.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

5 thoughts on “Mbah Surip sang Sahaja Telah Tiada

  1. Kesahajaan yang indah
    Dan kita pun mengenang dengan kenangan indah padanya.

    Posted by achoey | Agustus 5, 2009, 7:00 am
  2. selamat jalan Mbah Surip

    Posted by sunarnosahlan | Agustus 5, 2009, 10:41 am
  3. kesederhanaan dan keceriaannya trus keikhlasan dalam ngejalanin hidup tuh membuat gwgw jadi trenyuh pak…., zuzur gwgw nge-fans ama pribadinya mbah surip, semoga beliau diberi tempat yg layak sisih-Nya

    Posted by gwgw | Agustus 6, 2009, 11:56 am
  4. Mbah Surip, manusia Indonesia sejati yang memberi banyak inspirasi. Sugeng tindak Mbah…

    Posted by zenteguh | Agustus 7, 2009, 3:45 pm
  5. Kemarin dan esok adalah hari ini
    Bencana dan keberuntungan sama saja
    Langit di luar
    Langit di badan
    Bersatu dalam jiwa.

    Posted by Abu Rofi | Agustus 23, 2009, 4:58 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: