you're reading...
Awamologi

W.S. RENDRA Berpulang “Menggendong” Mbah Surip

Inilah momen keberpulangan paling mengesankan yang saat ini kuhayati. Seorang seniman besar (dan sekian predikat kebesaran yang lain) menghadap Sang Illahi dengan terlebih dulu merangkul dan menerima sejawatnya, seorang seniman kecil Mbah Surip, dalam tanah pemakaman yang sama.

Kamis malam, 6 Agustus 2009, sekitar pukul 22-an sekian, Mas Willy––begitulah kalangan yang dekat dengannya biasa menyapa pemilik nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang belakangan berganti kepanjangannya dengan Wahyu Sulaiman Rendra dengan sama-sama disingkat menjadi W.S. Rendra––memenuhi panggilan Illahi untuk tak kembali. Namun, segenap karya dan kepeduliannya di berbagai wilayah kehidupan tetap lestari di bumi pertiwi ini. Di saat-saat terbaring sakit menjelang berpulang, Rendra pun masih sempat memikirkan masalah bangsa dan rakyat Indonesia.

“Dia (Rendra) salah satu tonggak sejarah kebudayaan dan kesenian. Dia bukan saja budayawan atau seniman, melainkan cara berpikirnya sudah seperti negarawan. Waktu saya ke RS (Kelapa Gading) dia masih bicara tentang bangsa, tentang keprihatinan (terhadap) rakyat. Dia sudah tidak lagi menggubris puisi dan karya-karyanya, tetapi lebih peduli tentang bangsa dan rakyat. Bahkan ia juga tidak setuju dengan neolib,” ungkap Deddy Mizwar, aktor dan sineas Indonesia yang pernah turut mengajukan diri sebagai calon presiden pada Pemilu 2009 demi kebaikan bangsa (Media Indonesia, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Tentu saja yang lebih mengharukanku sebagai penghayat keawaman atau kekaumkecilan adalah kekonsistenan Rendra untuk terus peduli terhadap mereka yang bernasib marginal, pinggiran, atau yang memang dipinggirkan alias tertindas. Tentu saja Rendra mengarahkan saran, kritik, dan protesnya kepada pemerintah atau negara lantaran menurut undang-undang kan “fakir miskin dan anak-anak telantar (mestilah) dipelihara (dirawat dan dipenuhi kebutuhannya oleh) negara”. Namun ia sempat dimasukkan tahanan oleh pemerintah Orde Baru. Meski begitu, hingga akhir hayatnya, Rendra tetap saja tak bisa dilepaskan dari kepeduliannya kepada nasib bangsa dan kaum kecil lemah. Rupanya Tuhan pun “mengabadikan” kiprahnya itu dengan menyatukannya bersama Mbah Surip. Rendra dimakamkan di bagian petak atas, Mbah Surip di petak bawahnya di area Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Bogor. Meski berada di petak bawah, area makam Mbah justru lebih rapi dan rindang lantaran persis berada di bawah pohon jengkol. Kulihat pada nisan kayu yang tertancap di tanah yang masih merah tulisan ini: Urip Achmad Riyanto, bin Soekotjo, lahir Mojokerto, 06-05-1957, wafat 04-08-2009. (Ini sekaligus bisa menjadi ralat atas data-data pada postinganku “Magnet Mbah Surip”).

Jadi, sebenarnya, Rendra lebih mbah daripada Mbah Surip lantaran penyair besar ini dilahirkan pada 1935. Namun bukan cuma rentang usia itu yang pantas diperingati dari seorang Rendra. Apalagi kalau sekadar dengan menyelenggarakan pergelaran kenang-kenangan seperti yang dilontarkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Sebab, ada sekian gagasan besar Rendra yang perlu diwujudkan bangsa ini.

Rendra memang penghayat kehidupan sejati. Dua puluh tiga tahun sebelum wafatnya, ia sudah menulis artikel “Daya Hidup” (1986). Menurutnya, sebelum ada daya ekonomi, politik, sosial, filsafat, agama, ilmu pengetahuan, seni, dan daya-daya lainnya, daya yang pertama dan utama dari manusia adalah daya hidup. Tanpa ada daya hidup, daya-daya lainnya akan lesu, beku, atau bahkan sirna. Mengolah daya hidup menjadi sangat penting dalam membina hidup manusia dan ancaman terhadap daya hidup amat merugikan manusia. “Orang yang menghayati daya hidup akan paham terhadap kematian. Orang yang tidak menyia-nyiakan hidupnya akan lebih paham menghadapi kematian…,” demikian tulis Rendra (dikutip dari opini A.R. Loebis “Burung Merak Itu pun Terbang” di harian Terbit, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Penghayatan atas daya hidup itu rupanya yang membuat Rendra begitu menghargai kehidupan dan peduli atas kehidupan orang banyak, masyarakat dan bangsanya. Kebetulan aku sempat menyimak tulisannya di Media Indonesia, 23 hari sebelum meninggalnya, tepatnya edisi Selasa, 14 Juli 2009 berjudul “Merenungkan Mutu Kebudayaan”. Ada baiknya aku kutipkan beberapa bagiannya (pembuka) berikut ini.
“Membangun kebudayaan pada hakikatnya meningkatkan budi dan daya manusia di dalam mengembangkan mutu dan kesejahteraan hidupnya. Kesejahteraan hidup manusia harus mengandung mutu untuk kepuasan batin dan pikiran. Sebaliknya idealisme mutu harus ada kaitannya dengan kenyataan kesejahteraan.

Kesejahteraan yang diperoleh dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan mana bisa menimbulkan ketenteraman? Mana mungkin kesejahteraan dibangun dengan merusak kehidupan kaum lemah dan memorak-porandakan lingkungan alam?”

Begitulah, dengan menghayati dan menghargai kehidupan, menjalani sepenuh-penuhnya hidup, Rendra jadi waskita tentang hidup dan mati. Rendra tidak hanya mampu membaca zaman. Dia ternyata mampu “membaca” hidupnya sendiri. Sebelum berjumpa Tuhan, tampaknya Rendra telah bersiap diri. Sesaat sebelum kematian Mbah Surip, Rendra meminta keluarganya untuk membersihkan Bengkel Teater, hal yang jarang dimintanya. (Seputar Indonesia, 7 Agustus 2009). Itu semacam pertanda yang, misalnya dalam kepercayaan Jawa, dapat dimaknai sebagai kesiapan untuk menjemput kematian dengan damai, ikhlas. Beberapa pihak bahkan percaya, kemampuan membaca diri dan zaman semacam itu hanya dimiliki orang yang telah menjalani sepenuh-penuhnya hidup.

Yang lebih otentik tentang penghayatan dan penghargaan Rendra atas hidup dan kehidupan tentu saja karya-karya sosial dan karya tulisnya. Dalam sebuah puisinya, Rendra misalnya pernah menuliskan ungkapan seperti ini:

Kemarin dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar
Langit di badan
Bersatu dalam jiwa.

Maka, tak aneh bila Mbah Surip yang mewakili orang kecil dan meninggal pada pagi hari (pukul 10-an) dapat bersanding dalam satu area pemakaman dengan Rendra yang meninggal pada malam hari pukul 22-an dan mewakili orang besar. Rupanya, malam dan pagi, yang besar dan yang kecil telah menyatu dalam penghayatan Rendra, bersatu dalam jiwanya.

Kemudian, enam hari (31 Juli 2009) sebelum wafat (6 Agustus 2009), dari ranjang rumah sakit (Mitra Keluarga Depok), Rendra pun menuliskan larik-larik puisi berikut ini (Media Indonesia dan Koran Tempo, Sabtu, 8 Agustus 2009).

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak napas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal
dan wajar
Aku pengin membersihkan
tubuhku dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan
alam
Aku ingin meningkatkan
pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta pada-Mu

Ya, semoga Tuhan membalas cintamu, penyair besar.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

9 thoughts on “W.S. RENDRA Berpulang “Menggendong” Mbah Surip

  1. mungkin saja penafsiranku salah, puisi kadang adalah isarat sang penulis untuk menjalani suatu hal, yang kadang isarat itu adalah kembali ke asal yang mencitpakan. Sebagaimana yang pernah Chairil Anwar tuliskan tentang pemakaman karet tak lama kemudian beliau menetap di pemakaman itu

    Posted by sunarnosahlan | Agustus 9, 2009, 10:44 am
  2. selamat jalan Mas Willy
    semoga kritis, ketidakbiasaan, dan nalurimu akan selalu menginspirasi dan melahirkan orang-orang sepertimu. Semoga Tuhan memberi tempat terbaik untukmu…

    Posted by zenteguh | Agustus 11, 2009, 12:47 am
  3. Benar2 sahabat sejati ..

    Posted by Ryan | Agustus 12, 2009, 2:11 pm
  4. kematian hal yang pasti dan jelas tapi sering kita lupakan… berbahagialah yang bisa mempersiapkan diri…
    mohon maaf bila ada kesalahan, selamat menunaikan ibadah puasa…

    Posted by masjaliteng | Agustus 20, 2009, 1:17 am
  5. Assalamu’alaikum,
    Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, semoga almarhum WS Rendra dan Mbah surip, diampuni segala dosa dan mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya, amin.
    Kang Bahtiar, Saya mengucapkan selamat menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, mohon dimaafkan, apabila ada kesalahan baik dalam tulisan saya dan atau komentar yang saya berikan selama ini. Mohon maaf lahir batin.
    (Dewi Yana)

    Posted by jalandakwahbersama | Agustus 20, 2009, 11:35 am
  6. selamat jalan guru,

    Posted by aziz | Agustus 20, 2009, 11:41 am
  7. Semoga keduanya diampuni dosanya. Amin.

    Semoga sebentar lagi lahir calon-calon seniman besar Indonesia.

    Posted by Puspita | Agustus 25, 2009, 6:22 pm
  8. persahabatan yg tulus ya pak….., ampe mau meninggal pun masih juga bersahabat…
    semoga beliau-2 diterima di sisiNya…Amin.

    Posted by gwgw | Agustus 26, 2009, 8:02 pm
  9. Benar2 sahabat sejati ..;. All the best!!

    Posted by Kenneth Cole | Agustus 31, 2009, 3:51 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: