you're reading...
Curhat Awami

Polisi Tak Tahu Diri, KPK Dikebiri

OM-ku seorang polisi. Akan tetapi mesti kukatakan bahwa sejak “zaman dahulu kala” dan entah hingga kapan polisi itu memiliki nama yang tercela. Tanya saja rakyat, hampir mustahil menemukan warga bangsa ini yang tak punya catatan tentang ketercelaan polisi.

Maka, aku heran, kok masih saja mereka para polisi itu melakukan perbuatan buruk. Yang teranyar dan hingga hari-hari ini ramai diperbincangkan ya soal kriminalisasi KPK hingga dua petingginya, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, ditahan. Padahal, kalaulah saja semua polisi selama 40 hari berturut-turut tak melakukan keburukan, hal itu tak cukup untuk serta-merta mengubah nama polisi menjadi terpuji.

Tentu, siapa saja yang menyetujui hal buruk itu terus berlangsung atau membiarkannya begitu saja atau justru merestuinya atau apalagi merancangnya, terkutuklah ia. Coba saja jika hal itu dilakukan oleh seorang presiden pilihan rakyat. Sungguh hal itu akan membuat rakyat kecewa.

Kini, mari kita lihat, siapa yang akan memilih menjadi tercela atau terpuji. Yang pasti, kita tak harus menjadi Syech Puji untuk menjadi terpuji atau malah tercela. Mungkin cukup menjadi Pujiono atau Pujiastuti. Oalah, edan tenan lakon “cicak vs buaya (dibekingi gozila)” ini. Bisa jadi ini gara-gara para petinggi dengan amat mudah meraup pundi-pundi lewat “modus Bank Century”.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

25 thoughts on “Polisi Tak Tahu Diri, KPK Dikebiri

  1. para ahli strategi pasti punya banyak cara untuk merancang strateginya.termasuk yg membuat antasari masuk ke penjara.
    jangan jangan ada orang yg sengaja menikahi seseorang untuk di jadikan umpan.ini pasti ide cemerlang menurut mereka.sedangkan semua yg mereka lakukan tak dapat di buktikan.

    Posted by yasir | November 2, 2009, 6:10 am
  2. padahal yang ditahan dulunya juga satu korp, apa karena kelihatan hidupnya berbeda maka dianggap tak level, biarkan merasakan akibat berbeda

    Posted by sunarnosahlan | November 2, 2009, 7:05 am
  3. Cuma yang masih inget dosa yang terpuji…😀

    Posted by Ryan Isra | November 2, 2009, 11:48 am
  4. dengan apa yg kita lakukan
    maka kita kan menjadikan diri kita terpuji atau malah sebaliknya

    kita lihat apa yg kan terjadi selanjutnya
    duhai sahabatku yg lama tak bersua

    Posted by achoey | November 4, 2009, 1:31 pm
  5. Di sini rekaman suara bisa dibantah, di akhirat tangan dan kaki yang bicara.

    Gembong sesungguhnya masih bebas berkeliaran

    Posted by Uchan | November 4, 2009, 8:51 pm
  6. Assalamu’alaikum,
    Kang Bahtiar, apa kabar? Lama nggak kontak. Biar saja Kang mereka berbuat zalim, semua akan kembali pada diri mereka sendiri, mungkin mereka lupa, bahwa Allah Swt Maha Menyaksikan Segalanya. (Dewi Yana) Ohya Kang, bila berkenan, tolong kunjungi blog baru saya ya, http://dakwahdewi.herfia.com

    Posted by jalandakwahbersama | November 7, 2009, 11:56 am
  7. @Buat semua yang dah ikut berpartisipasi di postingan ini, Yasir, Mas Narno, Ryan, Aa Achoy, Uchan, DY, makasih.

    Untuk DY, kutengok-tengok dulu ya blog barunya. Nanti klo aku “punya waktu banyak” (halah sok sibuk aja, padahal sih karena keteter gak bisa bagi waktu plus diperkeruh oleh kemalasan dan kelemahan), baru kusimak lama-lama.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 7, 2009, 10:23 pm
  8. Pak Bahtiar, saya kok setelah nonton tayangan dengar pendapat di DPR malah jadi bingung sapa yang benar.. mana polisi juga sumpah2 segala..

    ini persis sama “awam”nya saya dengan kasus manohara hehehe.. intrik sinetron sekali, bahkan kayak nonton film-film hollywood bertema “conspiracy” atau “enemy of the state” lain..

    mohon pencerahan..

    Posted by unggulcenter | November 7, 2009, 11:42 pm
  9. Kang Unggul (sori pake sapaan wilayah Blogor),
    aku sendiri sebenarnya gak cerah-cerah amat atau bahkan sebenarnya malah keruh atas masalah “sinetron ala Indonesia” ini.
    Mestinya sih segala sesuatunya dibikin jelas secara hukum sehingga tidak memancing orang awam untuk bereaksi salah. Terus terang, aku bikin postingan ini atas dasar “perasaan” saja setelah mengikuti serbasedikit paparan di media mengenai soal ini.

    Nah, secara perasaan diriku hingga saat ini, persentase kebenaran masih lebih besar ada di “kubu” KPK. Entahlah selanjutnya nanti.

    Yang penting sih menurutku bagi orang awam sepertiku, berusaha terus memperpeka diri untuk menangkap kebenaran dari mana pun datangnya. Jadi, kalaupun kedua kubu saling beradu “demi Allah” sekalipun, kita masih bisa jernih dan sabar untuk mendapatkan kebenaran.

    Dengan begitu, semoga diriku terhindar dari sikap seperti Fahri Hamzah (PKS, salah satu Wakil Ketua Komisi III) yang langsung menyimpulkan masalah ini hanya atas dasar keterangan Polri saat dengar pendapat itu, yang dengan jelas menggaransi “kesucian” Polri dan sebaliknya menyudutkan KPK sebagai pihak yang salah.

    Bisa jadi, postinganku ini pun bernada seperti Fahri itu, dalam hal ini langsung menyudutkan Polri. Namun, rasanya, tidak separah simpulan Fahri di forum DPR itu itu. Lagipula, Fahri itu anggota dewan wakil rakyat, sedangkan aku jelas-jelas hanya rakyat awam. Pasti implikasinya berbeda kan? (Halah, emang postingan ini punya implikasi, he he he).

    Duh, maafkan daku Bung Unggul (kali ini pake sapaan Melayu) bila celotehku ini hanya bikin bingung saja lantaran gak jelas. Maklum, orang awam. (Sudah selayaknya kan orang awam selalu diberi permakluman, minimal bila dibandingkan dengan para ahli, para elite, pejabat atau wakil rakyat?)

    Cukup dulu ya. Ayolah, Bung, jangan malu-malu untuk menumpahkan pendapat dan ilmunya di sini.
    Salam.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 8, 2009, 3:08 am
  10. kenyataan itu memiriskan hatiku. betapa jelas pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat selama ini tak pernah berhenti.
    nice post!

    Posted by MT | November 8, 2009, 11:00 am
  11. Kita para semut ini dibuat bingung oleh perilaku cicak, buaya, dan godzila (ini perumpamaan baru untuk siapa ya?).

    Mudah2an semut tak terpengaruh dagelan ini, dan tidak lantas ikutan mengerubungi dan menggigiti salah satunya.

    Semut harus bisa mandiri dan bersatu!

    Salam kenal dari barudak blogor juga nih…

    Posted by asepsaiba | November 8, 2009, 4:27 pm
  12. Sebagai mahasiswa telat informasi, saya kayaknya cukup bilang, “Saya ko awam banget ya masalah kayak ginian”😀

    Semangat Bung Awam..

    Salam Blogor!!

    Posted by Miftahgeek | November 8, 2009, 9:40 pm
  13. @Salam Blogor buat semua warga Blogor.

    @MT, agaknya kita mesti selalu berbesar hati, sabar, waspada, dan terus meneriaki para wakil (anggota dewan) dan pelayan (para pejabat negara) kita agar mereka bisa tahu diri “siapa dan mesti bagaimana mereka”.

    @Asep, kita memang mesti bersatu dan mengingatkan siapa atau kubu mana pun yang berbuat salah. Salam kenal juga, makasih.

    Jelas, KPK pun bukan malaikat. Tapi, memang, selama ini Polri lebih sering jadi setan.

    @Miftah, gpp kok awam, tapi terus rajin menuntut ilmu seperti dirimu saat ini.

    Makasih buat semuanya.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 9, 2009, 1:24 am
  14. Assalamu’alaikum,
    Terima kasih ya.. Kang Bahtiar, sudah menyempatkan berkunjung ke blog baru saya, dan terima kasih juga atas komentarnya. Salam sayang persahabatan selalu…(Dewi Yana)

    Posted by jalandakwahbersama | November 9, 2009, 4:07 pm
  15. saya tidak memahami kerucuhan cicak vs buaya, sayah tidak ingin faham tepatnya, campur tangan narasi media terlalu banyak mempengaruhi fikiran penonton, tapi sayah sangat menikmati tayangannya… sambil tersenyum2 kecil

    dari pengalaman sehari-hari sayah simpulkan kalo sayah 90% benci ‘penegak hukum’..

    Posted by ontohod | November 10, 2009, 11:16 am
  16. @Ontohod,
    waduh, 90%? Gpp-lah masih tersisa 10%.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 10, 2009, 10:54 pm
  17. Hehehe buaya dibekingi Godzilla:mrgreen: aya2 wae..

    Punya prediksi bagaimana akhir kasus ini? Menurutmu bakal terselesaikan nggak?😀

    Posted by nonadita | November 12, 2009, 6:08 am
  18. sabar pak…sabar pak..istighfar..

    Posted by zenteguh | November 13, 2009, 1:16 am
  19. @Nonadita,
    jangankan akhir, alur/proses hukumnya aja susah ditebak.Tapi, soal gozila, bisa jadi memang ada, soale si buaya begitu “malu tak gentar”.

    @Mas Zen,
    masih sabar kok. Tapi, memang mesti sering2 istigfar.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 13, 2009, 8:56 am
  20. sedih…klo hanya karena “dunia” jd sprti ini,
    ga akan dibawa mati…

    eling…eling…

    Posted by masajar | November 13, 2009, 3:01 pm
  21. @Fajar,
    kebanyakan malah yang di-eling-eling itu dunianya, akhiratnya nomor sekian.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | November 13, 2009, 10:47 pm
  22. diskusi di sini menambah pemahamanku

    Posted by MT | November 15, 2009, 9:05 am
  23. buaya atau cicak, semoga yang terjadi sekarang ini hanya satu fase dalam pendewasaan diri negara ini…..

    Posted by komuter | November 16, 2009, 3:50 pm
  24. Polisi tidur aja buat repot, apalagi kalo lagi bangun😀

    Posted by massigit | Juli 4, 2010, 1:13 am
  25. klo dah bicarain polisi, no comment deh.
    ^_^

    Posted by heni | Januari 8, 2011, 10:27 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: