you're reading...
Unek-unek awam

Kiamat 2012 dan Penyesatan Media

AKU tak ingin sekadar ikut-ikutan latah menggunjingkan perihal kiamat pada 2012 atau apalagi sekadar berebut menonton film 2012 yang coba memvisualisasi geger soal kiamat itu.

Pilihan ini juga bukan lantaran setuju atas sikap MUI Malang yang melarang masyarakat menonton film itu dan menyerukan penarikannya dari peredaran.

Aku hanya ingin menggarisbawahi saja pesan dari buku yang menjadi sumber kehebohan kiamat 2012 dan film tersebut: Mystery of 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities.

Langsung saja, buku yang ditulis oleh Gregg Braden dkk itu salah satunya ingin memesankan bahwa kita mesti arif pada alam dan segenap fenomenanya. Intinya, ya, selamatkan bumi kita ini dan semesta raya, bukan malah merusaknya atau berebut saja untuk kepentingan diri sendiri.

Buku Mystery of 2012… mencoba membahas hitung-hitungan kalender suku Maya yang menyebut bahwa selama 1992–2012 akan terjadi pemurnian total di bumi hingga akhirnya peradaban manusia benar-benar berakhir pada 21 Desember 2012 untuk selanjutnya memulai peradaban baru. Prediksi “kiamat” suku Maya itulah yang secara komprehensif coba dianalisis dan dibahas dari berbagai aspek dan pendekatan dalam buku ini, antara lain dari sisi spiritualitas, simbolisme, ekonomi, ekologi, dan tentu saja ilmu pengetahuan. Buku yang terdiri atas 25 tulisan ilmiah, wawancara, serta eksplorasi sejumlah peneliti itu mencoba menginterpretasikan siklus besar kalender suku Maya menjadi sebuah penemuan (baca: pesan) baru.

Maka, Braden pun bersyukur bila akhirnya buku itu menjadi perhatian khalayak sehingga mendorong mereka untuk berbuat lebih dalam usaha menyelamatkan bumi. “Saya senang orang-orang akhirnya bertanya tentang apa yang seharusnya kita lakukan untuk bumi ini,” ujarnya.

(Demikian sebagaimana dipaparkan dalam rubrik Mirror harian Seputar Indonesia edisi 15 November 2009).

Namun, apa lacur, media (terutama media elektronik/TV) lebih tertarik atas “kehebohan” yang memancing perhatian khalayak daripada menggencarkan penyampaian pesan-pesan positif. Aku ingat betul, lama sebelum pemutaran film 2012 di Tanah Air tercinta ini, beberapa stasiun TV secara khusus menyuguhkan “fenomena kiamat 2012” itu. Namun, isinya cenderung menampilkan sisi kemisteriannya untuk memancing hasrat publik kita yang memang doyan pada hal-hal misterius, takhayul. Hal itu memang tak jauh dari kebiasaan TV-TV kita yang suka menampilkan unsur-unsur klenik ke dalam mata acaranya. Reportase faktual pun bisa tiba-tiba disisipi dengan ramalan paranormal. Padahal, para pemimpin atau direkturnya jelas-jelas orang berpendidikan, warga ilmiah.

Mengapa bisa begitu? Ya, atas dasar alasan apa lagi kalau bukan agar “jualannya” itu laku?

Tentu saja amat sangat berbahaya bila kita, media terutama, hanya mendasarkan diri pada “yang penting laku jualannya”. Akibatnya akan lebih dahsyat daripada sekadar “kiamat versi suku Maya”. Sebab, apa pun akan dihalalkan untuk mencapai tujuan itu. Mau porno kek, klenik kek, amburadul kek, nggak jelas kek, menyesatkan kek (dan kek-kek yang lain), yang penting laku. Bahkan, tak elok pula bila kita sekadar bikin produk (buku misalnya) dengan memanfaatkan momen kehebohan semacam ini agar laris karena biasanya produk semacam itu kurang memperhatikan mutu. Walhasil, manfaatnya akan kurang dapat dirasakan kalau tidak malah menyesatkan.

Nah, kalau media (termasuk para pembuat dan penjual film apa saja, nggak cuma film 2012, atau buku apa saja serta mereka yang berkepentingan dengan film-film dan buku-buku itu) bebal, mestinya masyarakat (publik) cerdas, kritis, minimal tidak ikut-ikutan latah untuk sekadar jadi pengonsumsi segala produknya.

Jika saja publik bisa demikian, rasanya tak perlu sebentar-sebentar ada pengharaman ini itu. Maka, kini, terserah Anda semua, mau nonton film 2012 atau tidak. Yang pasti, kalaupun di dalamnya tak ada pesan kearifan terhadap alam dan segala fenomenanya sebagaimana yang dituju oleh buku Mistery of 2012…, minimal kita mesti bisa menangkap pesan ini: perbanyaklah bekal amal kebaikan sebelum kiamat betul-betul tiba.

UPDATED

Berikut ini ada tulisan menarik soal “kiamat” ini di kolom “Cari Angin” Koran Tempo.  Penulisnya adalah Putu Setia. Ini dia aku kutip lengkap:

Kiamat

Minggu, 23 November 2009 | 00:45 WIB

Putu Setia

Sembilan dari sepuluh orang yang saya wawancarai mengatakan bahwa kiamat itu pasti terjadi. Ini masalah keyakinan. Seorang tak mau menjawab dan menuduh saya mengalihkan perhatian dari isu Bibit dan Chandra, yang kini memasuki masa paling sulit bagi Presiden Yudhoyono.

Sembilan dari sepuluh orang itu juga menyebutkan bahwa kiamat menjadi rahasia Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu kapan terjadinya. “Bagaimana kalau terjadinya besok?” tanya saya. Hampir serempak mereka menjawab: “Jangan Senin besok, kita ingin lihat keputusan apa yang diambil Presiden pada kasus Bibit dan Candra.” Bagaimana kalau 2011? Seseorang menjawab: “Jangan, tahun depan saya ikut pilkada. Kalau saya jadi bupati, kan cuma setahun menjabat, tak balik modal kampanye saya.” Bagaimana kalau kiamat itu terjadi 21 Desember 2012? “Ah, itu takhayul,” kata mereka serempak. “Itu kan versi film yang sudah tak dipercayai oleh para ulama kita.”

Katanya yakin kiamat pasti datang. Katanya rahasia Tuhan yang bisa terjadi kapan saja. Tapi kok mau mengatur sendiri, kapan kiamat itu tidak boleh?

Saya tanya lagi: “Apa yang Anda lakukan seandainya kiamat itu sudah dekat?” Pertanyaan ini tentu konyol. Itu berarti saya pun terjebak pada “ramalan”, padahal kiamat kan rahasia Tuhan. Tapi, karena mereka mau menjawab, ya, kita dengarkan saja.

“Saya mau terbang ke berbagai tempat, ganti pesawat setiap turun di bandara, siapa tahu pas di atas awan kiamat datang, kan saya bisa lihat dari atas,” kata seseorang. “Saya mau beli HP yang bisa untuk Facebook sebanyak-banyaknya, saya kasih teman-teman saya, agar ia segera mengomentari status saya kalau kiamat datang,” kata yang lain. Yang satu lagi, lelaki bertato, menjawab agak lama: “Rasanya ingin memperkosa penyanyi dangdut, kan tak masuk penjara, wong kiamat….”

“Stop,” teriak saya. Meskipun ini bukan mewakili 200 juta penduduk negeri, saya semakin yakin bangsa ini sudah tak lagi religius, tapi konsumtif. Para pemuka agama acap kali berseru, “Hai umat manusia, berbuatlah saleh dan kebajikan, seolah-olah esok adalah hari akhir, hari kiamat.” Kematian itu, kata pemuka agama, harus kita persiapkan. Matilah di jalan Tuhan, matilah pada saat kita sudah melaksanakan segala amal saleh dan melaksanakan semua perintah-Nya.

Dongeng tentang kiamat–termasuk film–estinya menjadi cambuk buat kita agar berlaku saleh dan beramal baik. Imajinasi tentang “hari akhir” berkembang sesuai dengan tingkat pengetahuan. Masyarakat pedesaan di masa lalu melukiskan datangnya kiamat dengan pertunjukan seni yang memukau, misalnya, adegan gunung meletus, laharnya melanda umat manusia. Orang-orang saleh disambar bidadari, diterbangkan ke atas, sehingga tak merasakan pedihnya lahar panas seperti yang dialami orang-orang durjana. Mereka tak melahirkan imajinasi tentang meteor karena tak pernah baca kisah itu.

Kini, di zaman modern, kiamat divisualkan dengan benturan berbagai benda planet yang menimbulkan gempa, tsunami, puting beliung, dan sejenisnya. Bumi porak-poranda, tak ada bidadari karena orang modern tak kenal Ken Subadra, Ken Sulasih, dan bidadari lainnya.

Di masa lalu, ketika tempat ibadah sedikit tapi umat religius, setiap orang seperti diajak berlomba dalam kebajikan begitu kelar menonton “drama” tentang kiamat. Orang berseru: “Ya Tuhan, ampuni hamba, jauhkan hamba dari dosa sebelum hari itu tiba.” Kini, ketika rekaan datangnya kiamat difilmkan, orang berlomba bilang: jangan percaya. Tapi filmnya laris dan yang menonton pun tetap mengunyah popcorn. Kiamat cuma jadi hiburan.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

6 thoughts on “Kiamat 2012 dan Penyesatan Media

  1. kalau sudah dilepas ke publik maka, sebuah produk menjadi hak umum untuk memberikan tafsiran, jadi mungkin saja ada resiko-resiko penolakan yang menurut pembuatnya tak seperti itu yang diharapkan

    @Betul Mas Narno.

    Posted by sunarnosahlan | November 18, 2009, 6:11 am
  2. saya gak percaya mas ama gituan yang penting banyakin ibadah aja

    @Syukurlah klo gitu.

    Posted by and1k | November 18, 2009, 9:34 am
  3. sebuah teknik pemasaran yang canggih dengan memainkan persepsi orang dan rasa penasaran

    @Iya…

    Posted by antokoe | November 18, 2009, 5:42 pm
  4. hehe
    jd pd lucu y

    bijak pada diri
    bijak pada alam
    yuk 3 x

    @Yuk3x.

    Posted by achoey | November 20, 2009, 11:55 am
  5. jadi inget yang bug 2k, yang digembor2in waktu menjelang tahun 2000 dimana umumya penanggalan hanya disingkat 99 untuk tahun 1999 dan menyisakan pertanyaan ketika menjelang tahun 2000 apakah akan me-reset kembali ke hitungan nol atau justru lanjut kehitungan berikutnya, penanggalan maya yang menyatakan 2012 akhir dari penanggalanpun mirip seperti kasus bug 2000, mereka tidak bisa memprediksi penanggalan setelah tahun 2012 karena keterbatasan teknologi yang masih kuno.

    @Mestinya kita jadi tertantang untuk lebih jago dalam soal astronomi dan sejenisnya, bukan sekadar ikut “meramaikan” saja.

    Posted by ontohod | November 23, 2009, 10:24 am
  6. semestinya film itu menjadi salah satu jembatan bagi kita untuk makin mempertebal iman.

    Posted by zenteguh | November 26, 2009, 12:43 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: