you're reading...
Menulis/Ngeblog-Awamologi

Hidup Syahid dengan Menulis/Ngeblog

He he he, semula aku mau nulis judul postingan dengan “Mati syahid…”. Tapi karena aku belum ingin mati, maka aku tulislah judulnya jadi seperti di atas: “Hidup Syahid…”.

Sebenar-benarnya sih memang sudah agak lama aku merasakan “kematian” untuk menulis dan ngeblog. Makanya, alhamdulillah banget, hari ini aku bisa terpicu untuk kembali “aktif” menulis/ngeblog (semoga hal ini terus “hidup selama-lamanya”). Tentu saja ini karena Tuhan SWT bermurah hati menuntunku menemukan pemicu.

Ya, tiba-tiba saja aku teringat pada satu nama yang jauh sebelum aku punya blog sudah sering aku simak tulisan-tulisannya. Dialah Mas Bambang Haryanto, Bapak-Presiden Epistoholik Indonesia, yang gairahnya untuk menulis “surat pembaca” dan tulisan-tulisan lain begitu menggelora. Begitu pula dengan aktivitasnya untuk terus “being digital” dengan ngeblog dll.  Memang, baginya, menulis dan membaca itu seperti donor darah. Menurutnya, menulis dan membaca itu lekat sekali kaitannya. Menulis dan membaca itu seperti aktivitas metabolisme dalam tubuh. Dengan menulis, dia merasakan seperti melakukan aksi donor darah. Darahnya disedot secukupnya melalui menulis. Kemudian saat membaca, seolah dirinya memperoleh darah-darah yang baru untuk mengalir di tubuhnya. Karena itu membaca dan menulis membuatnya senantiasa bugar. Demikian penuturan Mas Bambang Haryanto sebagaimana yang ditulis oleh Redaktur Indonesia Buku, Diana AV Sasa.

Alhamdulillah pula, dari Mas BamHar aku jadi menemukan situs bermanfaat yang diredakturi Mba Diana AV Sasa itu. Di situ, selain bisa kubaca cerita soal “donor darah”-nya Mas BamHar, kutemukan pula resensi bagus dan bermanfaat Mba Diana tentang buku kepenulisan dari seorang penulis, Susan Shaughnessy. Buku terbitan Mizan Learning Centre (2004) berjudul “Aku Bisa Menulis! Buku Meditasi untuk Para Penulis” itu memberikan tips-tips bermanfaat untuk membiasakan diri menulis.

Inti pesan dari buku itu yang dapat kupetik dari resensi Mba Diana adalah menulislah secara rutin.  Sebagaimana dikatakan Gerald Brenan, “Hanya dengan menulis setiap pagilah seseorang bisa menjadi penulis. Mereka yang tidak melakukan itu akan tetap menjadi amatir.”

Menurut Susan Shaughnessy, sebagaimana ditulis Mba Diana (yang seterusnya aku kutipkan secara utuh saja, biar afdol), pada dasarnya seorang penulis adalah orang yang menulis. Mereka menulis dalam kondisi apa pun. Tertekan, gembira, jatuh cinta, bersedih, ke dokter gigi, atau ketika tidak sedang melakukan itu semua. Mereka tetap menulis dalam kondisi pemerintahannya digulingkan atau sedang dibangun kembali. Mereka menulis karena mereka menulis.

Susan menambahkan, pemikiran yang ada di hari ini, ide yang siap mengalir hari ini, tak akan bisa dituangkan esok hari. Waktu yang diluangkan untuk menulis tak pernah sia-sia. Seandainya Anda hanya bisa meluangkan waktu selama 20 menit, dan hanya bisa menuliskan satu atau dua kalimat saja, Anda tetap melakukan sesuatu yang penting. Anda telah menuliskannya.

Kemudian Susan mengakhiri dengan kalimat menggugah: Aku akan menulis hari ini. Inilah kesempatanku untuk melakukan apa yang aku katakan ingin aku lakukan.

Susan menuturkan semua itu ketika membahas tentang cinta. Tak ada salahnya cinta menulis. Tapi cinta saja tak cukup untuk menjadi seorang penulis. Kecintaan itu harus diwujudkan dalam keseharian hingga terbukti. Seorang yang cinta menulis harus menulis setiap hari, demikian tulis Susan.

Menulis memang harus menjadi sebuah ritual. Dilakukan di waktu yang sama dan terus menerus. Sekali berhenti maka ia akan berhenti lagi, lagi, dan lagi. Tak ada hari libur yang tak menyenangkan. Dan sekali libur menulis berarti membuang satu kesempatan berharga untuk mencurahkan ide dalam tulisan. Ide itu akan selalu ada dalam kondisi apa pun. Depresi sekalipun.

Bagi Susan, depresi bukan halangan untuk menulis. Memang menulis tak mampu mengusir depresi, tetapi depresi tak perlu melumpuhkan menulis. Ciamik sekali cara Susan membalikan cara berpikir negatif menjadi positif ini. Kebanyakan penulis akan berkata ia sedang tak dapat menulis karena tengah mengalami depresi akibat masalah lain. Susan membalikkan logikanya. Kalimat menggugah yang ditulisnya: “Hari ini aku kembali meneguhkan janji untuk menulis secara teratur, tanpa tergantung suasana hatiku. Aku tahu aku bisa menulis dengan baik dalam kondisi apa pun.”

Menulis dalam segala kondisi. Dibutuhkan keyakinan dan keteguhan niat untuk itu. Alih-alih menulis dalam kondisi apa pun, banyak orang yang ingin menulis tapi berdalih peralatannya tak menunjang, komputernya lambat—atau tak punya—penanya jelek, kertasnya habis, ruangannya tak nyaman, situasinya kurang pas, masih banyak masalah, atau mood-nya belum dapat. Hambatan-hambatan dalam diri itu sebenarnya bisa diatasi dengan sedikit perubahan cara berpikir.

Bukan komputer, pena, kertas, situasi, ruangan, atau mood-nya yang mesti diubah, melainkan kemauan untuk mau menulis dan melakukannya dengan rutin dalam media apa pun. Komputer hanya alat bantu, jika tak ada komputer masih banyak alat tulis lainnya. Marques de Sade, pengarang dari Perancis itu, sebagaimana tergambar dalam film The Quills, sampai menggunakan darah dan kotorannya untuk menulis hanya karena semua alat tulisnya dirampas. Jika Sade saja bisa, maka siapa pun yang ingin menjadi penulis pasti juga bisa mengatasi hambatan kecil semacam itu. Tak perlu menunggu hidup yang layak dan tenang untuk mulai menulis.

Sade memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Menjadi penulis sudah menjadi tujuan dan garis hidupnya. Dengan memiliki tujuan maka penulis akan tahu ke mana ia akan menuju dan untuk apa ia ke sana. Tujuan itu juga bisa dijadikan pelecut semangat kembali jika di tengah perjalanan menggapai tujuan ditemukan hambatan. Ini adalah upaya menjadikan menulis sebagai sebuah tujuan dan cita-cita untuk diraih. Sebagai sebuah ritual, menulis memang harus menjadi aktivitas yang berdedikasi.

Simak apa yang dikutip Susan dari Janet Frame berikut ini: ”Satu-satunya hal yang pasti tentang menulis dan upaya untuk menjadi penulis adalah bahwa menulis itu harus dilakukan, bukan diimpikan atau direncanakan tanpa pernah ditulis, atau dibicarakan, tetapi hanya dengan menulis; inilah fakta menyebalkan dan menyakitkan bahwasanya menulis tidak berbeda dengan pekerjaan lainnya.”

Susan adalah seseorang yang telah memilih menulis sebagai pilihan pekerjaannya. Dengan begitu ia bisa merumuskan tujuan, langkah-langkah, dan strategi untuk mewujudkan pencapaian di setiap tahapnya. Seperti halnya pekerjaan lainnya, Susan juga mengalami kendala dalam menulis. Dan seperti bagaimana orang lain menyelesaikan hambatan dalam pekerjaannya, Susan juga memilih teori dan penyelesaian yang tak jauh berbeda.

Susan sadar betul, sebagai sebuah pekerjaan, menulis juga membutuhkan cara bertahan dari terpaan krisis. Naskah yang selalu ditolak, dokumen naskah hilang, keuangan yang carut-marut, adalah hal lumrah seorang penulis di awal karirnya. Pada titik ini seorang penulis tak boleh menyerah. Keadaan justru seringkali terbalik pada titik ini. Yang perlu dilakukan adalah tetap bekerja teratur setiap hari, meski dengan waktu yang sangat terbatas, dan setia pada tujuan awal. Cita-cita untuk menjadi penulis dan terus menulis. Karena menulis sudah menjadi pilihan pekerjaan.

Dan pekerjaan menulis itu harus dimulai. Segera setelah niat dan cita-cita itu terpatri di hati, sekarang, hari ini, duduklah menghadap meja tulis dan mulai menulis. Tentang apa pun. Tak perlu berpikir. Tulis saja semuanya apa adanya. Jangan lagi ada penundaan. Apa yang ada hari ini akan berbeda dengan esok hari. Setiap hari memiliki kisah dan mimpi yang berbeda.

Lompatan-lompatan pemikiran itu disusun dengan apik dan sederhana dalam buku ini. Buku ini ditulis Susan berdasarkan pengalamannya selama bekerja sebagai penulis. Susan membagi setiap halaman untuk sebuah bahasan yang bisa dibaca secara acak. Di tiap halaman ia mengutip kalimat-kalimat menggugah dari penulis lain yang telah lebih dulu mengalami masa-masa sulit kepenulisan. Kemudian ia membuat perenungannya. Lalu membangun sebuah kalimat untuk membangkitkan semangatnya sendiri. Sebuah motivasi dari dalam diri.

Topik motivasi yang dikembangkan Susan hampir mirip dan berulang. Ini memang sesuai dengan pengalaman kebanyakan penulis. Hambatan yang sama seringkali terulang lagi di masa yang berbeda. Dalam kondisi yang berbeda ini maka penyelesaiannya bisa sama bisa juga berbeda. Susan berusaha menghimpun yang terserak itu hingga siapa saja yang ingin menjadi penulis bisa membaca buku itu. Kapan saja, mulai dari mana saja, tak masalah. Tanpa harus membaca keseluruhan isinya, Susan menghadirkan bacaan yang memang digunakan untuk penenangan penulis yang resah. Untuk itu ia harus ringan dan tak menambah beban.

Demikian itu soal buku Susan via resensi Mba Diana. Lalu, mana soal jihadnya, eh hidup syahidnya?

He he he, sabar, sabar. Soal jihad itu, aku juga mendapatkannya dari tulisan Mba Diana, soal “donor darah” Mas BamHar.  Di situ disebutkan bahwa menulis bagi Mas BamHar bukan sekadar untuk bergaya pamer pengetahuan atau menyehatkan pikiran. Menurutnya, dengan menulis, kita berderma pengetahuan. Akumulasi pengetahuan yang ada pada diri kita bertambah awet dan bertambah banyak ketika kita membagikannya.

Mas BamHar pun jadi ingat wejangan mantan Hakim Agung Bismar Siregar ketika menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (LKT3I) dari Indosat di Jakarta, tahun 1999. Beliau bilang, mengutip perkatan salah seorang ulama klasik (Ibnul Qayim al-Jauziyah), bahwa setetes tinta dari penulis itu lebih mulia dibanding darah yang tercurah dari para syuhada.

Nah, dahsyat kan, dengan menulis (termasuk lewat ngeblog) kita pun bisa hidup syahid?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

8 thoughts on “Hidup Syahid dengan Menulis/Ngeblog

  1. nice post gan😆

    yang jelas dengan ngeblog banya manfaatnya. sip dah

    @Gitu ya, makasih.

    Posted by wahyu am | Desember 7, 2009, 8:16 am
  2. Mantap…

    @Siap, laksanakan… eh makasih. (Ternyata dirimu to, Mogembo. Pa kabar? Alamat link-nya salah tuh).

    Posted by AT | Desember 7, 2009, 10:05 am
  3. Sebuah provokasi dahsyat untuk tetap menulis dan menulis.

    @Iya nih, Mas Rachee, aku lagi males nulis, jadi perlu provokasi terus.

    Posted by racheedus | Desember 8, 2009, 6:25 am
  4. menurut pengalaman saya menulis paling enjoy itu menjelang subuh

    Posted by sunarnosahlan | Desember 8, 2009, 8:08 am
  5. teruslah menulis…………………
    mangtaph

    Posted by echa | Desember 8, 2009, 10:36 am
  6. baca blog ini ga pernah bosan nerusin baca sampai selesai…. mantap kang

    @Kalau saya malah lebih betah menyimak goresan Alif sang Ontohod.

    Posted by ontohod | Desember 17, 2009, 5:02 pm
  7. Assalamu’alaikum..
    minta ijin…saya ambil blog ini jadikan link ya..

    @Silakan, Mas.

    Posted by muhibbuddinku | Juni 17, 2010, 9:50 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Asep Sambodja, bagiku Kau Syahid! (In Memoriam) « Awamologi - Desember 12, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: