you're reading...
Sok Spiritual

Merapikan Diri menuju Sang DIRI

Mohon maaf kalau judul postingan rada-rada aneh, main “diri-diri”-an. Masalahnya karena aku sendiri dilanda kebingungan tentang diriku sendiri. Niat hati ingin mengakrabkan diri dengan Sang Diri yang menjadi muasal dari keberadaan diri kita. Namun, apa mau dikata, kok malah jadi asyik dengan diri sendiri, terlena, melewatkan komitmen kita dengan Dia. Misalnya, salat jadi telat atau malah terlewat dll.

Namun, biarlah. Aku tidak ingin berpura-pura melenyapkan kebingunganku, kegilisahanku. Sebab, kata Mas Herry Mardian, segala macam silang sengkarut masalah, kebingungan, keresahan atau kegelisahan itu adalah salah satu cara Dia “memanggil” kita agar menoleh, kembali menuju kepada-Nya. Dengan begitu, kita jadi bisa kembali ke trek, menempuh perjalanan diri menuju ke Diri.

Akan tetapi, siapakah diri kita? Nah, itu dia. Itu pertanyaan sulit. Paling tidak, menurut Mas Watung (via Mas Herry), tidak segampang menjawabnya bahwa aku ini si Awam, anak orang kampung, beragama Islam yang meski berpenghasilan pas-pasan tak lantas jadi berangasan mata duitan sampai berangan-angan kecipratan “semacam dana talangan Bank Century”.  Artinya, diri kita ini bukan sekadar “tubuh” kita, dengan merujuk pada segala hal fisikal yang dapat kita lihat dengan mata kepala. Diri kita ini, tentu saja, lebih dari sekadar itu semua. Atau, bisa jadi, itu semua hanya merupakan cermin dari kedirian kita.

Yang “pasti”, setiap diri kita itu unik dengan membawa fungsi/peran/misi keberadaan diri masing-masing, yang berbeda dengan orang lain. Yang untuk itulah kita diciptakan/dijelmakan Tuhan ke dunia ini. Temukanlah itu, misi kita, karena keberadaan diri kita hanya akan diakui (dan diridai) Tuhan bila kita telah memfungsikan dan memerankan diri kita sesuai dengan misi kita masing-masing. Demikian sebagaimana yang dapat kubaca dari penjelasan Mas Herry, baik pada rujukan terdahulu maupun yang ini. Begitu pula menurut Mas Watung (yang kubaca di blog Mas Herry) bahwa tiap orang satu misi.

Masalahnya, bagaimana cara mengenal keunikan diri dan misi kita itu? Wah, aku sendiri belum punya jawaban mantap. Namun, salah satu “kunci” yang bisa kubaca dari uraian Mas-Mas kita itu adalah bahwa setiap orang dimudahkan saat melakukan apa-apa yang menjadi bagian dari misi kita itu sebagaimana yang tertera dalam sabda Rasul SAW dan firman Allah SWT. Berikut ini salah satunya (hadis Nabi Muhammad SAW): “Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)

Meski begitu, hingga saat ini pun aku masih bingung untuk betul-betul sampai pada pengenalan diri dan misiku itu. Namun kan kita nggak boleh putus asa, jadinya ya terus saja dicoba meski hasilnya (sebagaimana pada bagian awal kusebut) kadang malah menjauhi-Nya.

Namun, tadi terpikir, setelah keasyikan mengunduh-unduh lagu-lagu, hasilnya, selain menumpuk, juga mesti ada yang dibuang-buang lagi, disisakan yang “enak-enak” saja. Intinya mesti dirapi-rapikan semua.

Nah, itu dia. Kok, terasa mengasyikkan juga ya pekerjaan merapi-rapikan lagu-lagu itu (mengunduh, memilih-milih dan memilah-milah sambil mendengarkannya). Ya, mungkin itu, pekerjaan merapi-rapikan itu, merupakan bagian dari kedirianku dan misiku. Artinya, aku mesti rutin merapi-rapikan diriku, siapa tahu nanti aku jadi lebih mengenal diriku dan menemukan misiku untuk merapi-rapikan diri sendiri dan diri-diri orang lain. Semoga Sang Diri selalu menyertai diriku dan memberikan rida-Nya. Amin.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

7 thoughts on “Merapikan Diri menuju Sang DIRI

  1. Wah, aku jadi kesindir nih. Kayaknya, makin tua makin belepotan dosa. Padahal, malaikat maut sudah hampir datang menjemput…

    Posted by M Shodiq Mustika | Desember 9, 2009, 2:30 pm
  2. Saya sendiri belum bisa ke level itu, masih hubbud dunya kalo kata orang pesantren.

    Mudah2an tetap selalu di jalan-Nya

    Posted by Uchan | Desember 9, 2009, 7:11 pm
  3. @Mas Shodiq, bukannya malah dah belepotan pahala?
    Tinggal istiqamah aja barangkali.

    @Uchan, jangan suka gitu ah. Dirimu kan maqom-nya dah tinggi.

    Posted by Bahtiar Baihaqi | Desember 10, 2009, 10:36 am
  4. y neh mas awam, saya lagi kehilangan misi saya, jadi hidup kagak nentu gini. T.T

    @Itulah “nikmat” Tuhan yang mesti disyukuri, masih muda sudah terbiasa dengan “pertanyaan-pertanyaan” buat diri dan mengevaluasi diri.

    Posted by Miftahgeek | Desember 10, 2009, 4:40 pm
  5. hanya bisa ikut “Amiinnn…”
    karena saya juga susah untuk mengartikannya tentang diri itu..

    @Amin juga.

    Posted by zenteguh | Januari 8, 2010, 1:15 am
  6. Misi setiap pribadi adalah mengenal akan SANG DIRI-nya, dan melaksanakan tugasnya yang harus memimpin, PERSONIL2 GAIB yg berada didalam tubuh wadah ini..seperti IMAM dan MA’MUM yg sholat di mesjid, begitu lah layaknya SANG DIRI mengendalikan dan memimpin AKAL, PIKIRAN DAN INDRA2 didalam tubuh mesjid nya ini..

    Posted by agus | April 1, 2011, 1:20 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Menjumpai Tuhan via Bacaan « Awamologi - Juli 29, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: