you're reading...
Curhat Awami

SYAIR CENTURY (Tak Sampai ke Puncak Sajak)

Baiklah, kita bersepakat dulu, berbagi bolu
saat sampai di tuju. Sebelum itu, bikinlah
apa jua asal meriah, bertanya semau-mau
Dijawab ini itu, beri rabuk lucu-lucu atau
silat akrobat baku tinju tanpa ragu-ragu
–––bila akhirnya awam termangu sendu
biar saja, toh, tak ada guna lagi mereka
buat kita setelah kursi-kursi aman hingga
anak-cucu (tak perlu malu, ini kan negeri 
Melayu, semua bisa dirayu dengan gincu)


Ah, maafkan bila syairku tak merdu. Itu sekadar terpicu kehebatan Pak SBY bikin syair lagu. Sudah tiga album digubah dan dinyanyikan.

Maka, berbekal sejenak menyimak buku Menapak ke Puncak Sajak dari “Penyair Sejuta Puisi” Hasan Aspahani, aku memberanikan diri berpuisi, sekadar curhat dari seorang korban gaduh Century. Hasilnya ya itu tadi, kata-kata tak berarti, mohon dipersori.

Yang jauh lebih berguna justru sejuta kata di buku sang penyair sejuta puisi itu. Ini dia beberapa kukutipkan.

Menurut Aspahani, menulis puisi bisa saja hakikatnya sama dengan menyusun sebuah teori. Tapi teori yang disusun dalam puisi adalah pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dengan kaidah-kaidah perasaan.  “Puisi yang baik adalah sebuah teori kecil. Sebuah rumusan yang indah tentang sesuatu hal.”

Jadi inspirasi puisi juga bisa datang dari keinginan untuk mengetahui atau niat memberi tahu. Kamu perlu memiliki kemauan dan keberanian untuk sedikit mengolah pikir dan rasa, menyelinap ke belakang panggung setiap peristiwa, sekecil atau sebesar apa pun ia. Dan keinginan membangkitkan pertanyaan sendiri dan kemudian merumuskan jawaban bagi pertanyaan itu. Puisi bisa kita jadikan jawaban atau cara menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang juga datang pada diri kita. Penyair yang peka adalah dia yang terus-menerus mengolah batin agar peka atas usikan-usikan peristiwa yang datang sebagai pertanyaan yang minta jawaban.

Namun, ingat, meski puisi bisa dipersamakan dengan sebuah teori, bukan berarti puisi boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang pasti benar, tidak boleh salah. Sebab:

Ini bukan perkara benar atau salah. Lagipula, benar dan salah itu kamu mau  acukan ke mana? Perasaan kita bisakah dibuat batasan benar salahnya?  Mungkin ucapan Multatuli perlu dikutip dalam diskusi kita ini. Apa katanya? Dalam puisi ada kebenaran. Kamu yang tak menemukan kebenaran dalam puisi hanya akan menjadi penyair yang berdiri di luar kebenaran itu.

Tapi puisi bukan sebuah teori yang eksak, yang pasti. Jawabannya atas problem hidup tentu saja tak akan pernah tuntas. Bahkan sebaliknya bisa kembali membangkitkan pertanyaan lain. Tak henti-henti. Tak henti-henti.

Aspahani lalu mempercontohkan kutipan sebait prosa liris dari (buku) Sang Nabi Kahlil Gibran: “… Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri….” Menurut Aspahani, banyak orang yang punya anak, tapi tak ada yang sampai pada kesimpulan seperti ini sebelum Gibran. “Ia seakan menyelesaikan sebuah rahasia tentang hubungan anak dan orang tua yang sesunguhnya. Sebuah rahasia terbuka dan tidak ada yang membantah rahasia itu. Kerja menyair Gibran menjadi tidak sia-sia, bahkan sangat berarti karena kemudian banyak yang diam-diam memedomaninya, menjadikan bahan koreksi untuk bersikap.”

Itulah sebuah rumus atau sebutlah teori baru tentang hubungan anak dan orang tua yang akhirnya jadi khazanah kebenaran di seluruh dunia, simpul Aspahani. “Karena rumusan itu, orang tua bisa bersikap lebih bijak kepada anaknya. Tanpa batasan iman, apa yang dirumuskan oleh Gibran mengandung kebenaran.”

Maka, berpuisilah. Membaca-baca sebanyak mungkin puisi, menikmatinya, menemukan kebenaran di dalamnya, lalu tuliskan puisimu sendiri. Demikian kira-kira pesan Aspahani.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

4 thoughts on “SYAIR CENTURY (Tak Sampai ke Puncak Sajak)

  1. saya selalu tergelitik sehabis membaca puisi disini, teringatkan puisinya Gus Mus yang juga menggelitik, kadang menyentak, lantas membuat kita tersenyum kecut menertawakan diri sendiri

    @Wah, sori kalau bikin Mas Narno jadi geli (tergelitik), he he he. Yang pasti, dalam hal praktik berpuisi, aku masih kalah jauh dari Mas Narno. Salam puisi.

    Posted by sunarnosahlan | Februari 2, 2010, 10:07 am
  2. membuat sebuah puisi apalagi yang mengelitik tidak semua orang mampu, dan puisi juga melatih intuisi kata2 namun tak puisi tak mampu merubah keadaan ,tapi perubahan di mulai dengan membuat puisi

    @Betul, Kawan, minimal puisi bisa mengubahku sehingga hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin. Amin.

    Posted by kawanlama95 | Februari 2, 2010, 11:23 am
  3. century kok jadi puisi…
    tapi tak apalah, bukannya semua peristiwa pada hakekatnya bertautan…

    @Sebenarnya sih pengin bikin Century jadi modal yang melahirkan produk bermanfaat. Tapi kok ya cuma jadi puisi-puisian seperti itu.

    Posted by pecinta indonesia | Februari 2, 2010, 12:22 pm
  4. century berbuah puisi…

    @Ya, begitulah. Soale gak bisa bikin postingan seperti Masfaj hingga peringkat blognya tinggi terus di daftar WP, he he he.

    Posted by masfaj | Februari 2, 2010, 8:46 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: