you're reading...
Berita Awam

Kau yang Meninggal di KRL, Maafkan Aku

Aku betul-betul linglung mesti melakukan apa ketika kau sekarat di KRL. Padahal kaulah yang memberiku ruang untuk duduk di tengah kereta ekonomi Bogor-Jakarta yang riuh teramat penuh sore itu (kemarin, Minggu, 14 Februari 2010).

Di pojokan gerbong ketiga itu kau tergeletak menghabiskan tiga tempat duduk, kakimu menjuntai. Para penumpang rada menjauh, membuatku tersadar kau memang bermasalah. Rupanya kau tidak sekadar didera kelelahan atau kelaparan. Kali ini kau bukan gelandangan bandel yang suka seenaknya saja tidur di KRL. Kau hanyalah antah-berantah yang entah telah selama apa bertahan dalam segenap keterbatasan. Dengan berbalut pakaian kumal, tubuh kurusmu yang pucat membiru tampak tak kuat menahan sengal-sengalmu.

Dengan kursi lipatku, aku duduk di sampingmu. Membelakangi orang gila pas di pintu sambungan KRL, aku menghadap berkebalikan arah dari laju kereta. Ibu-ibu dan para penumpang lain berusaha menutup hidung. Aku rasa itu karena bau basah kencing yang menggenang persis di kolong bawah pantatmu.

Tak sampai lama aku dibuat termangu karena kau segera menuntaskan ketersengalanmu, mengembuskan napas terakhirmu. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Bapak yang berdiri persis di depan kepalamu mengusap wajahmu, berdoa, berusaha mengatupkan matamu.

Aku berpikir, wah, mesti menunggu sampai Stasiun Kota perjalanan KRL berakhir. Tapi, terlalu lama. Lagipula aku mesti turun sebelum itu, di St. Gondang Dia. Akhirnya kucoba menerobos sesaknya orang-orang menuju masinis di gerbong pertama. Kelamaan pula. Kucoba turun keluar saja begitu KRL berhenti di St. Pondok Cina. Aku berlari menuju gerbong pertama. Kucapai ruang masinis, tapi kereta keburu jalan. Buru-buru aku melompat masuk KRL. Keketuk-ketuk ruang masinis, pintu tak bisa dibuka, mesti turun lagi di St. UI, lalu melapor lewat jendela samping. Berhasil.

Masinis cepat merespons, menyuruh temannya melapor lewat pesawat komunikasi ke bagian informasi stasiun. Dia sendiri berlari bersamaku menuju gerbong ketiga. Benarlah ternyata informasi dariku. Dia pun segera memanggil petugas keamanan untuk mengangkat tubuh yang terbujur itu. Tak cukup satu orang. Dua petugas jaga dipanggil lagi. Di tengah kecanggungan dan kepanikan sekejap, aku sempatkan memfotomu sekenanya sebelum mereka menggotongmu keluar__sayangnya hp jadulku bermasalah, fotomu gak bisa ditransfer (updated, 28/2/2010: eh, dah bisa ding).

Kereta kembali melaju. Kali ini aku memilih naik di gerbong depan setelah tadi coba mengikuti sang masinis. Tak ada lagi pembicaraan. Mungkin memang tak perlu. Dia pun sempat bilang terima kasih kepadaku.

Ah, maafkan aku wahai kau yang meninggal di kereta. Kiranya aku tak memberikan respons yang cukup untukmu sebagai sesama warga KRL. Semoga Tuhan memberimu kebahagian di stasiun kubur persinggahanmu kini.***

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

8 thoughts on “Kau yang Meninggal di KRL, Maafkan Aku

  1. jakarta … jakarta ….😦

    @Iya nih, diriku sudah jadi Jakarta.

    Posted by bahtiar | Februari 15, 2010, 7:58 pm
  2. benar2 artikel yang menyentuh hati mas..

    sekuat tenaga kita berusaha..namun Allah jualah yang menentukan akan seperti itu…

    @Terima kasih. Semoga mampu jadi pengingat bagi diri dan sesama.

    Posted by haniseh | Februari 19, 2010, 11:13 pm
  3. Pria tanpa nama yang meninggal di kereta itu tidak akan pernah mengetahui kisah kematiannya terangkum apik di blog ini. Dan lalu menggerakkan hati pembacanya untuk mendoakannya.
    Semoga Allah SWT mengampuni kesalahannya.amin ya Robbal alamin…

    (setahun sudah saya tidak mampir di blog ini, setelah Ketika Kate Winslet….ah..tak terasa waktu berlalu..)

    @Makasih Mas Bani. Wah, dah setahun ya.

    Posted by BaNi MusTajaB | Februari 27, 2010, 2:57 am
  4. Ah, KRL yang tak berubah. Dan Jakarta yang tetap menyesakkan…..

    @Iya, bos. Termasuk di Kebon Sirih, bikin sesak gak nih?

    Posted by zenteguh | Maret 13, 2010, 12:29 am
  5. Pak Bahtiar.. sangat menyentuh hati, dan memberikan pelajaran berharga mengenai sosial kemanusiaan.. yang kadang, dengan alasan ruwetnya ibukota dan masuknya timbal dari knalpot ke dalam otak serta polusi dan berpacu dengan waktu, semua keadaan seperti sudah biasa. Dan biasa untuk tidak diapa-apakan.. bahkan untuk dikenang.

    @Ya, Bung Unggul. Postingan ini mungkin sekadar upaya untuk sedikit mengelak dari "keruwetan" itu. Makasih atas kunjungannya.

    Posted by Unggulcenter | Maret 19, 2010, 11:51 pm
  6. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

    Ini teh kisah nyata

    Kematian yg kau saksikan.

    @Ya, begitulah. Makasih Bos Achoey.

    Posted by achoey | Maret 21, 2010, 9:47 am
  7. Ceritanya haru kang…😦

    @Iya nih, Kang Dian. Makasih dah nengok.

    Posted by akhdian | Maret 22, 2010, 9:32 pm
  8. sangat menyentuh kang

    innalillahi wainnailaihi rojiun….
    😦

    sayang kita ga pernah ketemu kang padahal saya penggemarmu🙂

    @Ya, innalillah....
    Ah, echa, kan aku dah pernah kasih tanda tangan.

    Posted by echa | Mei 15, 2010, 6:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: