you're reading...
Awamologi

In Memoriam: Kesederhanaan Gesang Mengalirkan Keberkahan

Percayalah, kesederhanaan takkan jadi penghalang untuk memonumentalkan eksistensi manusia. Gesang contohnya.

Meski ia hanyalah seniman keroncong, jenis musik yang tak mencorong, namanya tetaplah kinclong. Hingga akhir hayatnya kemarin (20 Mei 2010) malam (18.10 WIB), ia telah menorehkan diri sebagai seorang maestro atau (menurut Arswendo Atmowiloto) tepatnya seorang empu. Sang empu yang tetap sederhana, prasaja, hingga akhir hidupnya.

Sungguh, gemerlap dunia dan nama besar tak menyilaukan matanya dan tak menjadi tujuan hidupnya. Bukan karena ia tak mampu merengkuhnya, tetapi lantaran ia benar-benar tak silau. Terbukti, dalam hening kebersahajaan, Gesang tak pernah kehilangan semangat untuk menjalani hidup, untuk terus berkarya sebagai manusia merdeka sesuai dengan pilihan hidupnya: keroncong.

Ketika salah satu karyanya, Bengawan Solo, membuatnya meraih ketenaran melintasi batas negara, Gesang tetaplah Gesang sebagaimana sebermula. Ia merupakan pribadi yang utuh, santun, tak pernah meminta, dan terus berkarya. Meski telah menjadi seorang empu, sebagai seniman Gesang tak meminta apa-apa, untuk dirinya atau perlakuan terhadap karya-karyanya. Kalaupun pernah ada keluhan, itu bukan soal penghargaan, melainkan: ”Jangan lupakan keroncong.” Demikian sebagaimana dituturkan Arswendo dalam artikelnya di harian Seputar Indonesia edisi hari ini (21 Mei 2010).

“Selebihnya, ia menjalani kehidupan dengan seadanya seperti ketika menikmati sungai, ketika patah hati––yang lalu melahirkan keroncong Sapu Tangan––, ketika mengagumi perjuangan––lahir keroncong Jembatan Merah––, ketika tersentuh hatinya oleh gadis-gadis yang mengenakan caping di gunung––keroncong Caping Gunung––, ketika risi melihat kemunafikan––keroncong Aja Lamis––, dan ketika merasa tua––keroncong Pamitan,” tulis Arswendo.

Ya, meski karya-karya dan namanya telah “mengalir sampai jauh”, hidup Gesang tetap tak jauh-jauh dari kesederhanaan, termasuk dalam hal apresiasi––ssst, jangan bandingkan dengan “apresiasi” yang diterima para anggota DPR. Namun, syukurlah, Gesang termasuk jenis manusia yang telah mencapai taraf keikhlasan menerima apa pun nasib yang telah digariskan Sang Maha Kuasa.

“Bukankah siapa gadis yang mematahkan cintanya tak pernah keluar dari bibirnya? Bukankah kegembiraan ketika mendengarkan perkutut––bukan jenis perkutut yang koongnya merdu––lebih mengasyikkan (baginya) dibandingkan membicarakan hak cipta karya-karyanya? Bukankah tinggal di kampung Kemlayan atau rumah pemberian di perumnas tak membuatnya berbeda? Bukankah hidup dengan keponakan tak membuatnya menyesali tak mempunyai anak? Bukankah hidup sendirian, sejak tahun 1962 ketika berpisah dari perkawinan singkat, tak melahirkan gosip atau perseteruan? Bukankah seluruh pribadi sang empu merupakan keseluruhan yang utuh? Bukankah nama tambahan Martohartono adalah kewajaran sebagai nama karena menjadi orang tua?” Demikian poin-poin hidup bersyukur Gesang (dan insya Allah bahagia) yang diajukan Arswendo.

Akhir kata, mengutip Arswendo, “Kesederhanaan atau prasaja membuat beliau langka dan karenanya membuat kita semua merasa berutang. Untuk membalasnya.” ***

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

5 thoughts on “In Memoriam: Kesederhanaan Gesang Mengalirkan Keberkahan

  1. Kesederhanaan selalu meninggalkan kesan tersendiri, beliau sungguh bersahaja…

    @Betul, setuju. Terima kasih atas atensinya.

    Posted by engkaudanaku | Mei 21, 2010, 9:50 am
  2. selamat jalan mbah. semoga bengawan solo tetap mengalirkan kejernihan

    @Semoga demikian adanya.

    Posted by sunarnosahlan | Mei 21, 2010, 10:19 am
  3. Innalillah, Gesang udah meninggal kang? Terakhir yang saya tahu dia udah agak baikan kondisinya. Semoga diterima seluruh amal perbuatannya..

    @Betul Mas Miftah, kemarin malam. Amin.

    Posted by Miftahgeek | Mei 21, 2010, 2:04 pm
  4. luwar biyasa mas tulisan jenengan niki …
    seneng kulo mocone …

    uluk salam,
    bahtiar bhi

    @Halah, wong aku cuma ngutip-ngutip kalimatnya Mas Wendo kok. Alaikumsalam.

    Posted by pembaca setia | Mei 21, 2010, 2:12 pm
  5. Semoga Allah membalas semua amal kebaikannya semasa hidup

    Dan semoga kita tetap menjadi pribadi sahaja

    Jadi kapan main lagi ke MJ beserta istri?
    3 Juni 2010 saya nikah😀

    @Amin. Ke MJ, kapan ya, semoga segera ada kesempatan. Soal tanggal 3 Juni, itu hari apa ya, aku kok lupa. Semoga dirimu menikah tidak dengan tanda kutip. :D Menikahlah dengan perempuan salihah.

    Posted by achoey | Mei 22, 2010, 11:48 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: