you're reading...
Banyumasan

Berlebaran Sastra Banyumas

Pada Ramadan/Syawal tahun ini (1431 H/2010 M) agaknya aku takkan bisa berlebaran di kampung halaman di Banyumas. Paling cuma di Bandung saja sebelum kembali lagi ke Bogor/Jakarta. Namun tak apalah, biarpun jauh di mata, keluarga di kampung tetap dekat di hati.

Lagipula, aku sedikit terobati. Pada Ramadan kali ini, lewat jagat maya, aku menemukan saudara-saudara sedunia maya dari Banyumas atau yang berkaitan dengan Banyumas menerbitkan (posting) tulisan-tulisan soal Banyumas, terutama sastra Banyumas. Terus terang, dulu hingga tamat SMA di Banyumas, aku sama sekali tak mengenal sastra Banyumas selain sosok Ahmad Tohari dan karya-karyanya. Apalagi kehidupan riil bersastra di wilayah kampung halamanku itu.

Awalnya aku menemukan blog milik Nanang Anna Noor (NAN). Blognya bertema utama puisi (dan sastra). Selain memuat puisi-puisi karyanya, blog NAN ini juga memuat link-link atau tautan tulisan-tulisan perihal sastra Banyumas dan karya puisi penyair Banyumas lainnya. Ya, NAN sendiri termasuk penyair Banyumas yang tercatatkan namanya dalam sejarah sastra Banyumas yang ternyata miskin dokumentasi. Nama-nama penyair/sastrawan Banyumas lain yang bisa terlacak pada tulisan-tulisan itu antara lain Bambang Set, Edhi Romadlon, Surya Esa, Haryono Soekiran, Basuki Balasikh, Herman Affandi, Dharmadi, Mas’ut, Badruddin Emce. Bersama NAN, mereka sebagaimana disebut Teguh Trianton dalam tulisannya “Dewan Kesenian dan Jejak Sastra Banyumas” di koran Suara Merdeka edisi 31 Juli 2008, termasuk figur kelas berat yang menjadi kanon sastra Banyumas di zamannya. Sayang, beberapa nama di antaranya berhenti berproses kreatif setelah mengalami masa kejayaan pada era 1980-1990-an.

Terus terang, hingga setamat kuliah pun aku belum mengenal (tepatnya mendengar/membaca) nama-nama mereka selain Bambang Set dan Badruddin Emce. Nama Bambang cukup beken di Banyumas/Purwokerto lantaran dia aktif di radio dan kerap bikin acara-acara off air yang melibatkan banyak khalayak. Namun, aku sendiri hanya tahu sebatas itu. Belakangan, aku sempat mewawancarainya untuk bahan profil buku Apa Siapa Orang Jawa Tengah. Namun, berkaitan dengan soal sastra, aku sekadar bertambah informasi bahwa selain aktif di Dewan Kesenian (Jawa Tengah?), dia juga menulis puisi-puisi dan membacakannya dalam acara nonstop baca puisi.

Lalu Badruddin Emce, mungkin selintas-pintas aku pernah baca namanya di koran-koran nasional sehingga terasa mengiang di telinga sewaktu kutemukan buku puisi karyanya di perpustakaan: Binatang Suci Teluk Penyu (Penerbit Olongia Yogyakarta, 2007). Mengenai ihwal sang penyair, berikut ini kukutip info yang tertulis di halaman akhir buku itu. Badruddin lahir di Kroya, 5 Juli 1962. Esai dan puisi-puisinya dimuat di berbagai media lokal dan nasional, dari Sudirman Pos atau Serayu Gerilya hingga majalah Horison dan koran Republika. Manuskrip puisinya antara lain Ledakan pada Pohon Randu (1999), Pasar Malam Alun-alun Kroya (2001). Alumnus Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) 1988 yang semasa kuliah aktif membantu pementasan teater ini kini bermukim di Kroya, Cilacap, serta tercatat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT).

Tanpa berpretensi menjadi kritikus, menurutku puisi-puisi Badruddin di buku Binatang Suci Teluk Penyu (BSTP) itu layak diapresiasi. Buatku sendiri yang berasal dari sebuah desa di Kecamatan Rawalo, Banyumas, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Cilacap, selain magnet sedaerah dengan sang penyair yang melekatkanku pada buku itu, dari judulnya saja buku tersebut telah mengajak kita untuk mengakrabi alam lingkungan dan masyarakat setempat. Teluk Penyu adalah daerah teluk di Cilacap. Itu termasuk daerah wisata setempat yang terkenal selain Sleko, Benteng Pendem, Nusakambangan, dll. Takkan habis-habis magnetnya bila bicara soal alam dan manusia (termasuk diri sang penyair/aku lirik). Apalagi bila itu dikemas dalam bentuk puisi. BTSP itu juga merupakan judul puisi di buku ini. Apakah ia bicara soal kebinatangan dan kesucian manusia dalam hubungannya dengan sesama dan lingkungannya? Kita simak saja kutipan lengkapnya:

//Dari lubang-lubang ketiadaan berlarian kepiting./Dengan gaya yang dibuat-buat digodanya/setiap yang mikir, setiap yang gampang diguncang sedih./Mengapa kami berdiri di sini, begini? Adakah memajang kami/di depan lubang-lubang seperti ini,/menghalau apa saja yang hendak menjadikannya rumah?/Alangkah bahagia binatang-binatang pantai ini.//Sepasang menara pengawas selalu memaksakan diri untuk melek./Meluangkan waktu sekadar mengiyakan ketiadaan./Kasarnya: kebohongan!//

Tidak mudah menyelami makna puisi di atas. Apalagi, dalam puisi-puisi lainnya, Badruddin dominan memasukkan kelokalan baik berupa penyebutan nama-nama unsur lingkungan atau daerah setempat maupun berupa kata-kata bahasa Jawa Banyumasan, sementara secara keseluruhan dia menulis puisi dalam bahasa Indonesia. Artinya, dia melakukan komunikasi dua dunia bahasa.

Triyanto Triwikromo (TT), cerpenis dan Redaktur Sastra Harian Suara Merdeka, yang memberikan analisisnya pada bagian pembuka buku ini, menyatakan bahwa bisa jadi hampir semua puisi Badruddin merupakan pewartaan “kehilangan sang aku lirik terhadap relasi timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungan”. Bisa jadi pula merupakan pernyataan pedih “rasa kehilangan sang aku lirik terhadap fatwa-fatwa indah masa lalu”. Atau, bagi Faisal Kamandobat (FK) yang juga penyair dari Banyumas, dalam analisisnya pada bagian penutup buku ini, puisi-puisi demikian di buku ini merepresentasikan “kosmos yang retak”. Hal itu lantaran Badruddin, dalam usahanya melakukan komunikasi dunia antar-bahasa, yaitu dunia bahasa Jawa Banyumasan dan bahasa Indonesia, tidak sepenuhnya mematuhi konvensi dunia kedua bahasa. Ia memilih bertahan pada alam personalnya, membangun otonomi khusus dalam kerja estetisnya dan mencipta jarak dengan dunia yang hendak ia puisikan. Personalitas Badruddin pun kerap berdampak pada kerancuan semantis dan metaforis ketika ia berusaha menembus dan membenturkan batas-batas dunia dari dua bahasa itu, sesuai dengan minat pribadinya, tanpa intens melibatkan konvensi makna dua bahasa itu sebagai teman diskusi dalam mencipta puisi-puisinya. Hasilnya, puisi-puisi itu amat kuat merefleksikan keretakan kosmos lewat fragmen-fragmen dan loncatan-loncatan diksi. FK memilih puisi “Jembatan Serayu” untuk menunjukkan hal itu:

//Mengingkari hadirnya ejakulasi, telapak kaki sebelas meter/di atas permukaan laut, lebih gemetar dari buah nyiur tergantung dhuwur,/atau bentang kabel yang dipertahankan dengan tegang//Besi tua tersayang, hari-hari terakhirmu ini bersilangan/keinginan pendukung para calon./Tak setitikpun sisa hawa santai./Tempat terakhir para pengail ambrol ke dasar/menjadi kenang perjumpaan paling pertama.//

Bisa jadi benar penilaian FK itu. Namun tentu saja bisa berbeda bagi pembaca lain. Terbukti, atas puisi yang dikutip terdahulu (“BSTP”), FK (agak berbeda dengan TT) malah menganggapnya sebagai contoh puisi yang “amat dalam dan bersahaja”, serupa dengan puisi Badruddin “Perilaku Malam” berikut ini.

//Dengan gemintang memandamu./Dengan kegelapan melindungimu./Dengan kesunyian menemanimu./Dengan uap mimpi mewangikan kamarmu./Dengan apa malam membuatmu tenang?//Mungkin dengan doa-doaku.//

Seluruhnya ada 30 puisi Badruddin di buku BTSP ini. Bagiku, lokalitaslah yang jadi daya tarik puisi-puisinya. Bahkan, penyair Jaka Cahyana yang turut memberikan pendapatnya pada sampul belakang buku, bilang, “Dunia mitos dari daerah setempat yang mampu ditorehkan dalam alur zaman ini, bagi saya, itu ibarat sekilas cahaya yang dapat membantu kita menemukan kunci yang hilang.” Bisa jadi hasilnya belum memuaskan, sebagaimana dikatakan FK, “Eksperimen Badruddin Emce bermain-main dengan dunia bahasa Jawa dan bahasa Indonesia menghasilkan diksi dan interpretasi yang mengejutkan; meski belum sepenuhnya berhasil, kita menemukan percik kedalaman dan semangat inovasi yang lugas dan unik.” Namun, di sisi lain, hal itu malah memberikan ruang yang kaya untuk interpretasi atau pemaknaan bagi pembaca. Salah satunya dapat disimak dari hasil teropong penyair Dina Oktaviani yang tertulis pada sampul belakang buku ini: “Diksi dan fragmentasi dalam puisi-puisinya membuat saya merasa berhadapan dengan banyak ventilasi, bukan pintu––sikap dewasa yang menyesatkan. Namun patahan-patahan dalam kalimat-kalimatnya itu juga membuatnya tampil sebagai kanak-kanak; yang jujur dan alamiah, yang melihat segala sesuatu dengan mata terbelalak, yang berbicara tentang dan dengan cara yang ia inginkan.”

Demikianlah serbasedikit yang kubaca perihal Badruddin Emce. Ada nama satu lagi penyair Banyumas yang sempat kusimak via dunia maya: Dharmadi.

Lewat  posting tulisan Ryan Rachman di blognya, aku simak pembicaraanya soal kumpulan puisi Aku Mengunyah Cahaya Bulan, 56 Puisi Pilihan (1974–2004) karya Dharmadi. Itu sebuah dokumentasi jejak langkah perjalanan panjang kehidupan seorang Dharmadi yang terlahir di Semarang, 30 September 1948. Jejak yang ditempuhnya selama 30 tahun dalam berkarya dan bergelut di bidang sastra. Buku ketiga kumpulan puisinya setelah Kembali Ke Asal (1999) dan Dalam Kemarau (2000). Buku yang berisikan 56 puisi diawali dengan puisi “Cahaya Hari” (1974) dan diakhiri dengan puisi “Aku Ingin Pulang” (2004).

Menurut Ryan, ke-56 puisi karya Dharmadi ini sebagian besar merupakan penggambaran kejadian-kejadian yang dirasakannya sehari-hari. Ia contohkan puisi “Dalam Sakit” berikut: di ruang operasi/suntikkan pertama/sedikit goyang/suntikan kedua/aku mengembara/sampai di suatu negeri/dalam lapisan salju/mancar cahaya/betapa megah/berjalan-jalan/menyeka marmer putih/di dinding ruangan/kembali ke alam nyata/ada lamat-lamat suara/dalam mata yang masih memberat/selintas wajah istriku/lembut tangannya/menyeka ubunku/instalasi infus/dengan jarum menggigit urat nadiku/mengalirkan cairan di tabung/aku melihat-mu/berenang di dalamnya/dan gelembung udara/dari nafas-mu/menelusup slang plastik/menyusup di denyut jantungku//1994//

Lewat puisi di atas, Dharmadi melukiskan keadaannya saat sakit dan pengalamannya pada saat dioperasi. Momentum-momentum lain yang dia dapatkan juga tak luput ditelurkannya lewat puisi seperti pada puisi “Di Kuburan” (1974), “Di Pendopo TBS” (1995), “Di Sisi Jenasah di Bibir Liang Kubur” (1995), “Sisir Itu Masih Mengurai Rambutku yang Tak Lagi Legam” (1997), “Di Dalam Gerbong” (1999), “Pantai Permisan” (2000), “Menjelang Senja” (2000), dan “Pantai Pasir Putih” (2000). Dalam puisi “Bulan Bulat di Ranjang” (1994), menurut Ryan, tampak bahwa dia sedang menggambarkan pengalaman romantisnya di atas ranjang bersama sang istri dan diuraikan dalam bait …jatuh di tengah ranjang / sprei berbunga-bunga / yang tidur menggeliat pelan …

Berikut ini kita lanjutkan saja menyimak kutipan dan ulasan Ryan atas puisi-puisi Dharmadi di buku Aku Mengunyah Cahaya Bulan (AMCB).  Puisi “Akhirnya Kini Kita Tinggal Berdua”: Akhirnya kini kita tinggal berdua;/Anak-anak sepertinya baru kemarin/Menjadi bagian diri kita/Satu persatu pergi/Menyusuri jaman/Mencari nasibnya/Kita sendiri terus di jalan/Usia menuju tua/Dan akhirnya kini tinggal berdua;/Mengurai dialog dalam bahasa kata/Dengan cahaya hati dan bahasa rasa/Menuliskan huruf-abjad pada syaraf/Menjelma bahasa belaian/Sesekali terucapkan; siapa yang pergi dulu/Di antara kita, saling berebut merasa/Paling banyak salah dan dosa/: kalau sudah begitu sesaat berpandangan/kemudian berangkulan seolah tak ingin perpisahan/sambil saling menyeka airmata//2001-2002//

Tersirat makna sebuah pengalaman sedih pada puisi di atas di mana penyair (aku lirik) sudah tak lagi bersama ketiga anaknya yang mengikuti suami/istri mereka.
Memang, menurut Ryan, tema-tema yang dipuisikan Dharmadi banyak mengenai hal biasa yang kita lihat dengan mata telanjang. Itu dapat dilihat dalam puisi “Gerimis Pagi” (1995), “Sungai-sungai” (1999), “Sajak Batu” (1999-2004), “Sebiji Beringin” (2000), dan “Selembar Daun” (2001).
Lalu puisi “Cahaya Hari” (/hari, taburkan di sini/di pilar-pilar cuaca/cahaya hari/yang serbuk-serbuknya/di kantung langit//1974//) secara singkat menggambarkan suatu keinginan atas sebuah awal yang baik, sebuah awal yang indah dalam menjajaki perjalanan hidupnya dalam berkarya. Sebuah keinginan untuk berumah tangga lagi setelah ditinggal mati oleh istrinya terefleksikan pada puisi “Di Puncak Kemarau” (1999-2000) sebagaimana tertera pada bait terakhir: …aku percaya, aku percaya, pasti engkau akan menidurkanku dengan belaian sambil mendendangkan tembang tentang rahasia malam. Betapa dia sangat kesepian hingga memerlukan seorang sosok perempuan yang dapat mengurus hidupnya dan menemani hari-harinya. Dan kebetulan keinginannya tersebut terlaksana dengan sukses.

Puisi “AMCB” yang dijadikan sebagai judul buku ini: kukekalkan sebutir embun kehidupan/ada selembar daun hatiku kurambatkanfantasi lewat rentang kawat telepon/dan puncak tiang-tiangnya mengitarkan/ke langit dalam malamku/bulan memainkan cahaya/lewat serpihan kabut/menggugurkan suara gaduh/perjalananku/ada yang menimang resah hatiku di sana/betapa nikmat meneguk kedamaian meski sesaat/biarkan aku diam dalam mengunyah cahaya bulan/yang terlempar di sana//1995//

Bagi kritikus Yudiono KS dalam pengantar buku ini, tidak ada kejelasan apa yang hendak dinyatakan sajak itu jika pemahaman dan penafsirannya diurutkan berdasarkan logika. Simbol-simbol yang ada tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Seperti cahaya bulan, suara gaduh, kawat telepon, embun kehidupan. Namun, menurut Ryan, Dharmadi memilih sajak ini sebagai judul buku lantaran ingin membawa pembaca ke dalam dunia tanya yang simbolik sehingga pembaca akan merasakan suatu kenikmatan terhadap rasa penasaran.

Memang, ada puisi “Orang-orang Telah Kehilangan Sunyi” yang merupakan kritik sosial: …malam telah kehilangan sunyi/telah disulap dengan keramaian/malam telah kehilangan sunyi/telah disulap menjadi kenikmatan/malam telah kehilangan sunyi /telah disulap menjadi ajang pengkhianatan…. Namun, secara keseluruhan puisinya adalah puisi-puisi perenungan. Atau, Ryan lebih suka menyebutnya sebagai puisi-puisi romantis. Romantis bukan berarti picisan, tetapi puisi yang menghanyutkan. Buku ini diakhiri dengan puisi “Aku Ingin Pulang” (2004): …aku ingin pulang letih bertualang/terombang-ambing gelombang/gaduh dunia…. Sebuah bait yang menyatakan keinginannya untuk beristirahat setelah menempuh “perjalanan” yang melelahkan.

Ada pula penggunaan klitika “-mu” pada beberapa sajak Dharmadi di buku ini yang mengacu pada Tuhan meski ditulis dengan huruf “m” kecil. Misalnya dalam puisi “Sajak Jarum Jam” (1993) :…jarum jam menyimpan-mu…;Dalam Sakit” (1994): …dari nafas-mu…; dan “Sajak Dua Belasku” (2002): …jadikan aku kakitangan-mu/dalam gerak kehendak-mu…. Mungkin ada pertimbangan khusus sang penyair memilih demikian alih-alih memakai “-Mu” dengan huruf “M” kapital. Bisa jadi juga tidak. Apakah itu menunjukkan bahwa Dharmadi lebih cocok dengan paham manunggaling kawulo gusti? Entahlah.

Hanya saja, agaknya, kesadaran penyair untuk terus mencari dan membumikan Tuhanlah yang melahirkan puisi-puisi demikian. Dalam diskusi buku kumpulan puisinya, Jejak Sajak (2008?), yang diterbitkannya secara mandiri, hal itu diakui sendiri oleh Dharmadi.

Dalam sebuah diskusi di  Kabupaten Kendal, yang dimoderatori Pak Sawali Tuhusetya, Minggu, 24 Agustus 2008, penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, yang kini menetap di Tegal, Jawa Tengah itu mendapatkan pertanyaan bernada gugatan dari Abdul Majid, salah seorang siswa SMA 1 Kendal, “Mengapa Pak Dharmadi masih saja selalu mengangkat tema-tema religius ke dalam puisi? Bukankah tema-tema itu sudah menjadi tema umum yang diangkat oleh para penyair?”

“Saya sedang mencari Tuhan!” Demikian respons balik sang penyair berpenampilan kalem itu. “Sejak kecil saya belum pernah bisa membumikan Tuhan. Didikan keluarga belum sepenuhnya mampu menghidupkan nilai-nilai religius itu ke dalam jiwa dan batin saya. Demikian juga selama proses kepenyairan saya yang telah berlangung lebih dari 30 tahun. Selalu saja Tuhan mengusik kegelisahan saya.”

Itulah yang kubaca dari tulisan Pak Sawali di blognya. Soal “membumikan Tuhan ala Dharmadi” itu, Pak Guru yang blogger piawai tersebut mengajak kita untuk menyimak larik-larik puisi sang penyair berikut ini!

//Kamboja tumbuh di retak-retak sawah ladang/melintas-lintas gagak terbang/sungai meratapi diri/merasa kehilangan arti.//

//gunung kelabu/di puncaknya tak ada lagi/ langit biru//

//matahari tajam menatap bumi/tak henti-henti melelehkan api.//

(Musim Kering)

Meski tak ada kata-kata Tuhan atau kutipan ayat-ayat suci, menurut Pak Sawali, berdasarkan pendalaman rasa dan olah intuisi sang penyair, ada persoalan religi yang sangat kuat terpancar di sana. “Betapa Dharmadi sangat peka dan sekaligus meratapi nasib lingkungan hidup yang (nyaris) mengalami kematian. Gersang dan tandus. Betapa umat manusia selama ini, disadari atau tidak, selalu abai terhadap teks-teks Tuhan yang tampak jelas di depan mata.”

Demikian pula dalam puisi “Rindu Bening Telaga Matamu”: //kurindu bening telaga mata-mu/untuk membasuh muka agar kembali mengenal/wajah asalku//

“Sajak yang pendek, tapi sungguh cerdas dalam mengungkapkan kegelisahan batin sang penyair ketika menghadapi kegamangan hidup hingga lupa mengenal jatidirinya sendiri. Dalam kondisi semacam itu, sang penyair sangat rindu kepada Sang Pencipta,” kata Pak Sawali.

Dari sisi stilistika, menurut Pak Guru yang juga penulis itu, Dharmadi memang tak banyak menggunakan metafor-metafor yang njlimet dan ndakik-ndakik (bombastis). Ia berpuisi dengan polos dan jujur. Diksinya sederhana. Dharmadi juga tak tergoda untuk berbicara tentang tema dan narasi-narasi besar. Ia berbicara tentang persoalan keseharian dalam upayanya membumikan Tuhan dalam makna yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, kiranya mesti kukatan bahwa aku layak berterima kasih kepada NAN (Nanang Anna Noor) dan Ryan yang telah berupaya mendokumentasikan dan menulis perihal sastra Banyumas. Soal geliat kehidupan bersastra di Banyumas, ada baiknya kita simak sendiri tulisan-tulisan Ryan di blognya. Soal puisi-puisi NAN, serbasedikit bisa ditelusuri dari blognya. Menurutku, puisi-puisi NAN itu lebih lekas terengkuh nuansa maknanya dibandingkan misalnya dengan puisi-puisi Badruddin pada BSTP. NAN menamainya dengan “puisi jurnalistik”. Ini contohnya:

Air Laut Membalut Surgaku
(in memoriem levina)

saat tuhan mengulum
air laut
siapa bisa menuduh
tuhan itu kejam

(masih teringat saat gusti eka menjulurkan tangan)
aku takut melempar kamera
was melempar tubuh
keluar sebagai buruh
aku memilh menjadi bangkai
memeluk frame lensa
sambil mengaca
: wow pintu syurga

siapa bertanggung jawab

atas laut yang sembab
atas dosa para juara:
yang menghisap keringat

aku memilih memeluk
tubuh kamera
tanpa kata kata
usai gagal
meraih rasa asin air laut
tubuhku terbalut
kain putih
tuhan menantingku
:tinggalah bersama para sahid

di dalam syurga
kaset mini dv itu kuputar berulang
dalam lcd istri dan anakku tersenyum
melambaikan tangan
pergilah m guntur dengan tenang

purwokerto 260207

Demikian. Semoga bermanfaat buat diriku sendiri dan sesama. Jadi tambah kreatif untuk menulis dan bersastra.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

4 thoughts on “Berlebaran Sastra Banyumas

  1. Tks atas stensinya. Salam kreatif. Sastra tetap merdeka

    Posted by nanang anna noor | Agustus 17, 2010, 8:48 pm
  2. Wah, lebarannya beda dengan rencana lebaran ane yang pengen makan banyak2😀

    Posted by Miftahgeek | Agustus 18, 2010, 9:45 pm
  3. … bencana dan keberuntungan, sama saja
    langit di luar langit di badan, bersatu dalam jiwa.

    Posted by Tim 27 | Agustus 18, 2010, 10:18 pm
  4. lumayan berat….
    sastra….

    Posted by komuter | Agustus 19, 2010, 12:06 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: