you're reading...
Curhat Awami, NII KW9

BLUES NII KW9 (Sebuah Kisah Nyata)

Berapakah usia kita sekarang, sayang? Tak kucium bau teroris di tubuhmu karena memang tak ada keruh air mengalirimu. Di rantau, kita pun tak pernah injak comberan meski kau pilih memburuh-pabrik kontrakan. Paling jauh, kau diperistri seorang dari mereka. Namun tak kulihat jejak membara di mukanya selain sebentang nestapa.

Kalian sama-sama korban, sekadar beda peran. Kau istri, dia suami. Si kurus yang rela melepas karier administrator toko mustahil punya siasat neko-neko. Dia sebatas melepas haus dari gelas yang dihipnosis si culas tak berbelas, sebab di dalamnya tersaji ayat-ayat suci. Sayang, sang dalang hanyalah pedagang topeng berhati jalang, cuma peduli pada perut kenyang.

Lalu kalian jadi kerbau dicocok hidung. Atau linglung tak kuasa keluar kurung. Padahal hidup tak boleh lagi bergantung, mesti terus berlangsung. Maka, apa pun jadilah asalkan tak buntung. Adik sendiri kalian ajak gabung.

Singkat cerita, yang tersisa tinggallah derita. Buat kita semua. Kalian merasakannya meski seolah tak ada apa-apa. Kami pun begitu. Aku, bapak-ibu, adikmu tersisa satu.

Lantas, sampai kapan kita tak pernah lagi bertemu? Bukan fisik, jarak, atau waktu. Tapi sesuatu di hati kita dari satu merah darah yang sama. Takkan bisa kita ingkari adanya.

Malangnya, kita cuma punya tangan-tangan lemah belaka. Hanya ada satu perantaranya. Yang punya kuasa. Tapi kita seperti tak punya negara. Apa Tuhan juakah akhir kepasrahan kita?

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

16 thoughts on “BLUES NII KW9 (Sebuah Kisah Nyata)

  1. Tetap ber-ikhtiar Mas Awam. Tetap terus memantau meski dari jauh.

    Saya & teman2 Mantan NII terus mensosialisasikan ketertutupan NII KW9 NKA MAHAD AZ ZAYTON NIR ROJIM pada masyarakat luas agar makin hati-hati & waspada. Insya Allah makin banyak korban-korban tersadar. Ini salah satu ladang amal sholeh.

    Salam,
    mantan nii
    081328484289
    bahtiar@gmail.com
    http://www.niikw9.wordpress.com
    Pusat Rehabilitasi Korban Teroris NII NKA KW9

    Posted by Mantan nii | Agustus 20, 2010, 10:56 am
  2. Pada akhirnya memang Tuhan yang jadi tambatan terakhir kang🙂
    Btw ini seriusan tentang NII ?

    Posted by Miftahgeek | Agustus 21, 2010, 7:01 pm
  3. tentu tuhan jua akhir pasrah ini…..

    Posted by komuter | Agustus 21, 2010, 7:35 pm
  4. kisah yang gmn to,……
    susah dey d ungkapkan,..

    Posted by Cara beli rumah | Agustus 22, 2010, 3:35 pm
  5. @Mantan NII
    Iya, Mas Bah. Ini sekadar mengurangi sedih aja.

    @Miftah
    Iya, makasih, Mif. Betul ini soal NII-KW9. Yang lebih detailnya ada di posting terdahulu ini:
    https://awamologi.wordpress.com/2009/02/20/korban-nii-dan-pki-siapa-peduli/

    @Komuter
    Betul, terima kasih ya.

    @CBR
    Kisahnya ya antara lain begitu itu. Mungkin yang agak lebih jelas ada di sini:
    https://awamologi.wordpress.com/2009/02/20/korban-nii-dan-pki-siapa-peduli/

    Posted by Awam | Agustus 22, 2010, 7:25 pm
  6. kadang kita harus siap merelakan, menunggu sang kerbau terperosok ke dalam kubangan api. menunggu jera. Meskipun tetap harus berusaha. Sebab negara tak mungkin mengakui eksistensi NIIKW9 yang nyata-nyata telah meresahkan bahkan memecah-belah keluarga.

    Posted by MT | Agustus 24, 2010, 12:33 am
  7. Negara taunya cuma Ma’had Az-Zaytun tok, tanpa embel2 NIIKW9.
    Yeach, mana ada sih bocah yang mau membuang boneka kesayangannya ke tong sampah.

    Posted by MT | Agustus 24, 2010, 12:35 am
  8. ngilu bacanya mas. mereka juga manusia, tapi dikebiri segalanya. sementara mereka yang pura-pura sibuk dengan (katanya) tuags negaranya, dibebaskan menuruti ambisi dan syahwat duniawi….

    Posted by jejak annas | Agustus 24, 2010, 11:32 pm
  9. Ngenes banget bacanya.. seakan cuma punya satu pilihan itu saja untuk hidup. Sy jd makin penasaran sm kisah2 NII KW 9 itu..

    Posted by nonadita | Agustus 26, 2010, 10:30 pm
  10. @MT,
    ya, postingan ini juga bagian dari “pengikhlasan dan tetap berupaya” itu. Sayang memang negara terus saja jadi bocah yang tergantung pada banyak boneka mainan.

    @Jejak Annas,
    makasih bos atas atensinya. Sekalian minta tolong dipantauin tuh markas dan kegiatan mereka di Indramayu.

    @Nonadita,
    iya tuh Dit. Makasih ya. Silakan ditelusuri aja kisah-kisah itu, baik via dunia maya maupun buku-buku terkait. Semoga nanti Dita punya ide untuk bikin gerakan blogger peduli korban Nii-kw9 itu, he he he.

    Posted by Awam | Agustus 27, 2010, 12:18 am
  11. kalau NII nya saya tau, tapi kalau Az Zaytun ternyata bagian dari itu.. saya baru tahu.. dan baru tahu lagi seperti MT bilang, “bocah mana mau melepaskan boneka kesayangannya”.. hm.. “dipelihara”?? (hati2 nulisnya)

    Posted by unggulcenter | September 5, 2010, 12:39 pm
  12. btw, saya heran bagi yang terlanjur masuk, knapa ga “ditabok” aja tuh yang ngajak. Kok kesannya jadi ketakutan dst. emang NII pernah ngebunuh yang nolak?

    Posted by unggulcenter | September 5, 2010, 12:44 pm
  13. Jadi terharu membacanya,…tetapi yakinlah kebenaran hakiki hanya milik Tuhan yang Maha Esa.

    Posted by teguhsasmitosdp1 | September 5, 2010, 1:49 pm
  14. @Bung Unggul
    Kalau mau dibuktikan secara hukum apakah Az-Zaytun (termasuk bos besar Panji Gumilang) bagian dari NII (KW9) ya bisa-bisa sampai kiamat nggak akan terbukti, apalagi yang mesti membuktikan adalah (aparat) negara yang (paling tidak menurut MT) “memeliharanya” atau dalam bahasa awamku “nggak mau tahu” (tidak seperti terhadap terorisme).
    Namun, faktanya, bos Zaytun ya Panji Gumilang dan sebagian besar dana Zaytun diambil dari “penghalalan segala cara” berkedok agama Islam (ya “NII” itu). Nah, dua adikku itu fakta tak terbantahnya dan itu dibenarkan oleh kawan2 eks NII KW9 seperti Mas Bahtiar (Rifai) di atas (komentator pertama).
    Para korban sulit melawan atau keluar dari NII-Zaytun karena sudah dicuci otak dan di-lain-lain-cara-kan sehingga seperti “orang dikebiri” semua potensinya untuk berpikir sehat.
    Ya, kurang lebih demikianlah.

    @Teguhsasmito
    Terima kasih ya.

    Posted by Awam | September 5, 2010, 7:53 pm
  15. wuih.. syerem pak.. untung om saya ngga jadi masukin anaknya ke sana (dari palembang) jadinya masuk penerbangan (saya yang nyariin sekolahnya).

    @Bung Unggul, untuk mendekati para anak didik Al-Zaytun sebagai target “NII”, mereka jelas lebih hati-hati. Sebab, imej bersih dan hebat dari Zaytun tentu tidak boleh dikorbankan sembarangan. Itu jelas tindakan bunuh diri. Mereka lebih leluasa merekrut orang luar (non-peserta didik atau karyawan profesional mereka). Mereka jelas lihat-lihat dulu celah yang dapat dimasuki. Jika memang kalangan internal itu berpotensi untuk dimasuki, ya itu pasti akan dicoba juga. Satu dua jelas ada seperti dapat dibaca di blognya Mas Bahtiar Rifai eks NII-KW9 di atas.

    Posted by unggulcenter | September 6, 2010, 10:41 am
  16. jaringan intelijen eks CSIS/katolik/orba sebelum 89/ali moertopo/bakin

    @Ya, klo intelijen memang bikin runyam jadinya.

    Posted by BLANDHONG | September 18, 2010, 10:45 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: