you're reading...
Awamologi, NII KW9

Mudik Berseri (Seri 1), Semoga Seru

Blogor, Komunitas Blogger Bogor, bikin lomba posting soal mudik (Lebaran). Maka, tulisan ini pun diniatkan sebagai partisipasi. Tapi, rupanya, perihal mudik ini bisa ditulis dari berbagai segi dan dikaitkan dengan rupa-rupa urusan. Jadi, akan lebih seru kalau dibikin berseri saja. Ini seri satunya.

MUDIK (Lebaran) itu ibadah ataukah hal yang mubah saja atau bahkan mubazir sih? Atau malah haram? Ya, bisa saja haram atau malah lebih seram, tergantung kepada kita dalam memaknai dan melaksanakannya.

Seorang ustaz boleh saja mencela mudik atau bahkan mengharamkannya jika yang ia soroti adalah sisi-sisi buruknya. Namun, jelas ia tidak boleh serampangan sekadar berdasar bahwa di Alquran tidak ada seruan untuk mudik. Memangnya semua hal mesti ada di kitab suci itu? Kan Alquran memang memuat hal-hal yang sifatnya umum saja yang lalu dapat kita perinci sendiri berdasarkan perbandingan dan kaidah-kaidah keagamaan (Islam) yang lain. Paling-paling yang ada seruan untuk hijrah atau untuk menjalin/mempererat silaturahmi atau hal-hal baik lain yang dapat kita tarik dan kaitkan dengan mudik. Namun justru dengan pengaitan seperti itulah aktivitas mudik menjadi bermakna positif dan bernilai pahala sebagai ibadah.

Bisa saja ada sebagian dari kita yang memilih untuk memaksimalkan ibadah Ramadan pada hari-hari akhir puasa semisal dengan beriktikaf daripada untuk mudik. Namun, bila di kampung sana ada sepasang orang tua yang mungkin memang sudah cukup tua menanti-nanti kedatangan kita dengan kerinduan yang begitu rupa lantaran telah lama tak berjumpa dan khawatir tiada kesempatan lagi untuk bersua oleh sebab sewaktu-waktu bisa saja dipanggil Yang Maha Kuasa, jelaslah bahwa mudik menjadi wajib hukumnya. Bisa-bisa jika itu tidak dilaksanakan, kita akan durhaka kepada mereka, orang tua kita. Padahal, dalam kadar tertentu, orang tua berada satu tingkat di bawah Tuhan, bukan? “Ridhallahu waridhal walidain”, keridaan Allah tergantung kepada keridaan kedua orang tua kita. Nah lo, gak bisa main-main nih soal ini. Bisa-bisa kuwalat kita bila mengabaikannya.

Memang sih, hubungan keberbaktian anak kepada orang tua bukan berarti mesti dilaksanakan dalam kondisi yang “menyeramkan” seperti itu, yang mungkin malah sekadar melahirkan suatu keterpaksaan. Sebaliknya, dalam kondisi apa pun, kita mesti tetap ikhlas dalam berbakti. Kita bisa menggunakan “tip-tip awamologi” dalam hal ini.

Bisa jadi, pada kesempatan kali ini, kita sedang berada dalam situasi minim biaya dan waktu untuk mudik. Namun, jangan buru-buru putus asa. Sebab, di zaman kita ini, paket-paket mudik gratis banyak ditawarkan. Bisa pula kita coba cari tahu tetangga atau teman, siapa tahu bisa nebeng atau sekadar nyumbang uang bensin. Jangan malu-malu atau sungkan untuk cari info soal itu, sebab bisa jadi justru banyak tetangga atau teman yang begitu bergairah untuk berbagi, bersedekah menebarkan kesuksesan mereka untuk sesama tanpa bikin kita kecil hati, tetapi malah jadi hepi. Ingat, ini zaman global yang semakin menyadarkan kita tentang pentingnya kolaborasi dalam jejaring sosial yang mengglobal pula. Tak ada lagi era persaingan untuk menang-menangan sendiri. Begitu pula dalam soal waktu. Coba hitung-hitung lagi. Insya Allah masih bisa disiasati ataupun dinegosiasi. Intinya masih banyak cara untuk sampai ke Roma.

Kalaupun tetap tidak bisa untuk mudik pada masa-masa Lebaran, komunikasikanlah dengan bijak kepada orang tua. Jangan bikin mereka kecewa. Mungkin kita bisa menggantinya pada kesempatan lain, tak lama setelah itu. Kalaupun tidak bisa demikian, komunikasi via telepon dengan bicara langsung dengan orang tua mesti lebih intens dan sering dilakukan. Teruslah untuk selalu memberikan penghiburan buat mereka dan membesarkan hati mereka.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam melakoni semua itu adalah selalu libatkan Tuhan di dalamnya. Sebab, Dia juga punya hak untuk kita mudiki. Yang utama malah. Kapan saja dan di mana saja. Bahkan kalaupun kita tidak punya kampung dan atau tidak punya lagi orang tua. Dia-lah tempat abadi mudik kita.

About Bahtiar Baihaqi

Sekadar ingin berbagi, dari orang awam, untuk sesamanya, orang awam pula dan mereka yang prokeawaman.

Diskusi

9 thoughts on “Mudik Berseri (Seri 1), Semoga Seru

  1. kalaupun mudik dinyatakan haram, sangat yakin pasti banyak orang lebih suka melanggarnya. mudik itu kan sudah jadi candu😉 sakau pasti jika tidak dipenuhi 8)

    @Iya, Mas Adi. Aku siap meluncur baca postingan Mas soal itu. Terima kasih dah singgah.

    Posted by Wong Kam Fung | September 6, 2010, 9:25 am
  2. tip tip awamologinya perlu dicoba..

    @Silakan, he3x. Aku juga siap baca serial mudiknya Bung Unggul.

    Posted by unggulcenter | September 6, 2010, 10:32 am
  3. saya belom bikin postingannya ==a

    @Gpp, Mif. Kan masih lama, sampai tgl 15 Sept.

    Posted by Miftahgeek | September 6, 2010, 6:47 pm
  4. Ayuh pada mudik meng Banyumas!!!!

    @Insya Allah, moga-moga tekan ngumah, slamet. Sayange wektune sempit.

    Posted by Maskur® | September 7, 2010, 11:03 pm
  5. iya keren juga tuh mudik rame2🙂

    @Iya, makasih Kang Chan Im.

    Posted by chandra iman | September 8, 2010, 11:23 am
  6. selalu ada yg bisa dipelajari di sini. seri 2 kapan bro?

    Posted by MT | September 12, 2010, 1:17 am
  7. kini saatnya mulai melakukan perjalanan balik ke tempat kerja,
    kembali meninggalkan kampung halaman,
    untuk kembali bekerja demi keluarga,
    semoga bisa semangat kembali bekerja,
    setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa R A M A D H A N . . . . .

    @Iya, Mas. Terima kasih dah berkunjung.

    Posted by isdiyanto | September 17, 2010, 11:35 pm
  8. Mudik memang selalu berkesan
    Hipnoterapi Semarang
    Ijin amankan Pertamax

    Posted by ILYAS AFSOH | Mei 12, 2016, 1:17 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Akhirnya Mudik Juga (Mudik Berseri 3) « Awamologi - September 14, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: